Pencarian Kategori "Featured"


SEVIMA.COM – Terkait dengan kegiatan yang terhambat karena Covid-19 ini, ternyata membawa dampak yang cukup signifikan terhadap dunia pendidikan. Salah satunya adalah adanya behavior baru yang muncul di kalangan para pelajar. Terlebih lagi penggunaan teknologi yang cukup signifikan membuat perubahan yang terjadi semakin terasa. Semua urusan yang biasanya dilakukan secara tatap mata, sekarang harus dilakukan melalui dunia maya. Kegiatan seperti inilah yang tidak secara langsung akan merubah perilaku dari generasi sekarang. Dewasa ini, generasi muda pada usia 16-24 tahun biasanya lebih dikenal dengan istilah Gen Z. Dilansir dari beberapa studi, bahwa generasi ini memiliki perbedaan dengan generasi-generasi sebelumnya. Maka dari itu, untuk menyelaraskan antara pemikiran dan kurikulum pendidikan di kampus, para panitia PMB wajib untuk mengetahui hal-hal tersebut. Kebiasaan apa saja yang biasa dilakukan oleh mereka? Berikut adalah ulasan menarik seputar Gen Z. 1. Kebiasaan para Gen Z yang sangat melek teknologi Tumbuh dan berkembang di situasi dan kondisi yang serba modern, membuat para generasi ini sangat melek terhadap teknologi. Banyak dari mereka yang sangat mengusai teknologi dengan baik. Ditambah lagi dengan adanya wabah yang sedah melanda hampir seluruh negeri ini, membuat kemampuan mereka di bidang teknologi bisa semakin meningkat. Untuk itu, pihak kampus harus menyiapkan teknologi yang relevan agar proses kegiatan belajar mengajar di masa yang akan datang bisa dimudahkan. 2. Terkenal dengan generasi yang kerja keras, pragmatis dan cerdas Tidak heran lagi kalau generasi Z ini dikenal sebagai generasi yang sangat pekerja keras dan inovatif. Bisa dipastikan bahwa dari generasi inilah akan muncul ide-ide yang sangat brilian. Tidak hanya itu, generasi Z juga dikenal sebagai generasi yang cerdas dan pragmatik. Banyak aktivitas atau habit yang mungkin akan berubah menjadi lebih baik melalui generasi ini. Baca juga: Pandemi Covid-19 Ancaman Serius Bagi Perguruan Tinggi, Apa yang Harus dilakukan? 3. Lebih memprioritaskan dunia kerja Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi Z ini cenderung mementingkan karir mereka di masa mendatang. Bagi mereka memiliki suatu pekerjaan harus dipikirkan mulai mereka lulus kuliah. Bisa dikatakan bahwa generasi ini cenderung mengambil pekerjaan paruh waktu sembari mereka menamatkan studi di dunia perkuliahaan. Maka dari itu, pihak kampus juga harus memikirkan hal-hal seperti ini agar kegiatan perkuliahan bisa dijalankan dengan lancar. 4. Kurang menyukai kuliah full time Karena mindset mereka lebih memprioritaskan dunia kerja, maka bisa dipastikan bahwa mereka  kurang menyukai perkuliahan full time. Banyak dari mereka yang akan melakukan kegiatan perkuliahan dan pekerjaan secara bersama-sama. Jadi bisa diperkirakan bahwa mereka lebih menyukai perkuliahan dengan sistem online. Sehingga mereka bisa melakukan kegiatan perkuliahan dan kerja secara bersamaan. Baca juga: Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB Online), Daftar Kuliah Cukup dari Rumah 5. Lebih menyukai blended learning Hidup di era yang serba modern dan canggih, membuat generasi Z lebih menyukai metode blended learning dalam perkuliahan. Yang dimaksud blended learning disini adalah pendekatan yang dilakukan melalui metode online, namun tidak meninggalkan metode belajar mengajar di dalam kelas. Sehingga pihak kampus wajib memperhatikan  penggunaan teknologi sangat digemari oleh generasi ini. 6. Sangat menyukai metode diskusi melalui LGD Metode pembelajaran yang digunakan oleh generasi sekarang rupanya tidak bisa disamakan lagi. Dikenal dengan generasi yang sangat […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Pertumbuhan di sektor pendidikan tinggi khususnya pada kampus swasta selama 10 tahun terakhir akan mendapat ancaman yang cukup serius dari pandemi Covid-19 ini. Kita tahu bahwa setiap bulan Agustus/ September menjadi awal tahun ajaran baru di semua kampus di Indonesia, baik negeri dan swasta. Dilansir dari kumparan, penerimaan mahasiswa baru biasanya akan berakhir di akhir Juli atau awal Agustus, notabene hal tersebut tinggal kurang beberapa bulan. Di sisi lain kampus swasta secara khusus yang biasanya sudah gencar sejak Januari untuk melakukan pemasaran pasti mengalami penurunan intensitas program karena pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 ini. Pandemi Covid-19 Ancaman Serius Bagi Dunia Pendidikan Melihat hal tersebut akan menjadi tantangan yang cukup serius bagi kampus swasta di Indonesia, tapi tidak terlalu berpengaruh ada kampus negeri, karena berdasarkan penelitian dan pengalaman saya ditemukan bahwa brand awareness dan preference calon mahasiswa atas kampus negeri sangat kuat, disamping nama almamater, tapi juga terkait unsur budaya dan biaya yang dimana hal tersebut tak dapat diberikan oleh kampus swasta secara lengkap. Setidaknya Ada Tiga Hal yang Akan Menjadi Tantangan 1. Daya Beli Yang Menurun Diperkirakan masyarakat akan menahan pembelian atas pendidikan tinggi di tengah tahun 2020 ini, karena dampak ekonomi bagi keuangan keluarga akan cukup berpengaruh. Banyak keluarga yang kehilangan sumber penghasilan atau mengalami pengurangan upah/ hasil bisnis. Sedangkan tipe pembayaran biaya perkuliahan adalah lump sum (semua di depan) ada yang beberapa kampus yang bisa dicicil. Baca juga: 10 Cara Cerdas Menghemat Biaya Operasional Kampus Saat Pandemi Covid-19 Disamping itu keluarga akan wait and see melihat perkembangan penyebaran Virus Covid-19 ini di Indonesia, akan cukup riskan bila anak mereka berkuliah di tengah pandemi yang belum tahu akan kapan mereda dan ditemukan obatnya. Mereka akan banyak berpikir untuk menunggu setahun lagi agar anak mereka berkuliah. 2. Proses Belajar Mengajar yang Berubah Memang sebelum tahun ajaran baru nanti kampus-kampus sudah menerapkan belajar online, namun pada dasarnya kampus-kampus menggunakan opsi tersebut karena “terpaksa” dan menyangka bahwa sistem pembelajaran akan kembali normal beberapa waktu ke depan. Melihat perkembangan penyebaran virus tersebut sepertinya seluruh sistem pembelajaran akan mengalami “revolusi super cepat” dalam digitalisasinya, yang sebelumnya hanya menjadi opsi darurat akan berubah menjadi sistem utama dalam proses belajar mengajar. Bisa dikatakan hal tersebut “The New Normal” di sektor pendidikan. Hal ini akan menjadi tantangan bagi kampus-kampus, karena dalam waktu yang singkat, biaya investasi yang harus digelontorkan, dan proses koordinasi internal yang hanya bisa dilakukan melalui teleconference, telepon dan semacamnya. 3. Biaya Operasional Yang akan Berubah Dengan menggunakan sistem pembelajaran full online, atau mix learning (50/50) dan implementasi teknologi internet tentu akan berpengaruh pada biaya operasional yang akan menurun (bila diimplementasikan dengan tepat). Hal ini bagus secara operasional namun akan menuntut penyesuaian dari pihak mahasiswa selaku konsumen yang akan meminta potongan biaya dan semacamnya karena banyak fasilitas off line kampus yang tidak digunakan. Namun walaupun mungkin tiga hal di atas akan menjadi tantangan, saya melihat sektor pendidikan akan menjadi sektor yang dapat bertumbuh secara positif bila dapat mengimplementasikan teknologi digital secara cepat dan tepat. Karena produknya berupa jasa yang dapat dikonsumsi […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Datangnya Covid-19 di seluruh belahan dunia memang benar-benar membawa dampak yang sangat luar biasa. Tak terkecuali perubahan drastis yang terpaksa harus dilakukan oleh setiap perguruan tinggi. Banyak perubahan dan strategi baru yang harus dipikirkan, terlebih wabah ini membuat seluruh kegiatan terpaksa harus dihentikan secara mendadak. Namun, perubahan yang mendadak ini tidaklah mudah untuk dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi, mungkin saja masih banyak yang belum bisa menemukan rencana terbaik yang akan diterapkan di tengah situasi yang sangat tidak kondusif seperti ini. Hal ini rupanya sangat perlu diperhatikan agar tidak membawa dampak yang kurang baik. Untuk itu, dukungan dari luar agar proses belajar mengajar di dalam perguruan tinggi memang benar-benar sangat diperlukan. Di tengah situasi yang seperti ini, kami tergugah untuk memberikan support kepada para akademisi agar dapat menemukan rencana terbaik pasca pandemic ini. Maka dari itu, sebagai bentuk kepedulian dengan pendidikan di negeri tercinta, SEVIMA bekerjasama dengan LITHAN Academy Singapore mengajak seluruh dosen dan perguruan tinggi untuk mengikuti “Webinar on Future Ready University in 90 Days”. Kapan Webinar on “Future Ready University in 90 Days” ini akan dilakukan? Webinar on Future Ready University in 90 Days akan diadakan pada tanggal 28 Mei 2020. Dimulai pukul 15.00 (waktu Singapura) hingga 17.30 (waktu singapura) kalau di Indonesia (14.00-16.30). Untuk itu, jangan lupa untuk menandai kalender anda untuk mengikuti kegiatan ini. Apa saja yang bisa anda dapatkan dalam kegiatan ini? Dalam proses kegiatan ini tentunya akan membahas tentang rencana terbaik yang bisa anda terapkan untuk perguruan tinggi anda. Selain itu, para pembicara juga akan mengulas tentang manfaat media digital yang merupakan satu-satunya kunci agar seluruh kegiatan di dalam dunia pendidikan tetap terlaksana dengan baik. Selain itu, pembahasan menarik lain juga akan disampaikan dalam seminar ini, salah satunya membahas tentang keberadaan media digital bisa dikolaborasikan dengan metode pembelajaran pedagogi dalam proses belajar mengajar. Seperti yang kita tahu, pembelajaran pedagogi memang sudah dikenal dengan belajar adalah bekerja, bekerja adalah belajar. Disini para pemateri juga akan mengulas lebih detail mengenai pembelajaran pedagogi ini. Siapa saja pembicara yang akan mengisi “Webinar on Future Ready University in 90 Days”? Akademisi Professor Claire Ozanne, Vice Provost, Academic Partnerships and International, University of Roehampton, London UK Bharat Agarwal, President of Vishwakarma University, India. Dr Lily Chan, CEO & Vice Chancellor of Wawasan Open University, Malaysia. Sandy Darmowinoto, Vice Rector OF President University, Indonesia. Pimpinan EdTech Giridhar Nayak,         CEO & Founder of SAMBAASH. Jan Lambrechts,       CEO & Founder of EPITOME. Leslie Loh,                 CEO & Founder of LITHAN Academy. Dengan menghadirkan para pembicara yang professional tersebut, tentunya anda akan mendapatkan masukan dan metode pembelajaran agar bisa sukses dalam menghadapi seluruh kegiatan pendidikan kedepan. Sangat menarik bukan? Pengalaman dan ilmu tersebut tentunya tidak bisa anda dapatkan di tempat lain. Jadi, sudahkah anda siap untuk mendapatkan ilmu baru dari para ahli? Bagaimana cara pendaftarannya? Untuk mengikuti kegiatan ini, anda bisa langsung mendaftarkan diri disini GRATIS: https://bit.ly/Sevima-Reg Tentunya anda akan mendapatkan ilmu yang bisa langsung diterapkan di perguruan tinggi anda dengan tepat. Sebelum terlambat, mari lakukan perubahan terbaik pada dunia pendidikan bersama-sama. Kalau buka anda, […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – New normal adalah istilah yang digunakan dalam berbagai keadaan lain untuk menyiratkan bahwa sesuatu yang tidak biasa atau belum pernah dilakukan sebelumnya. telah menjadi biasa. New normal bukanlah istilah baru, Istilah new normal muncul lebih dari dua dekade yang lalu, saat setelah krisis keuangan tahun 2007-2008 dan kemudian setelah resesi global pada tahun 2008-2012. New Normal dalam Dunia Pendidikan Belakangan ini, disebabkan pandemi Covid-19, istilah new normal kembali muncul dalam konteks yang lebih luas, seperti; ekonomi, politik, kehidupan sosial, pendidikan dan kebiasaan sehari-hari di masyarakat awam. Mulai dari hal yang paling sederhana, seperti pemakaian masker, membersihkan tangan setiap kali setelah menyentuh pegangan pintu atau tombol ATM, menempatkan petugas pengukur suhu tubuh di pintu-pintu masuk pusat perbelanjaan dan kantor-kantor, hingga hal-hal yang kompleks seperti bekerja dari rumah dan seminar online. Baca juga: Penting! Ini 7 Tips Mengajar Dari Mendikbud Di Masa Pandemi Covid-19 Dalam konteks pendidikan, disadari atau tidak, “new normal” telah mulai terjadi secara global sejak pandemi Covid-19. Kegiatan belajar mengajar yang bisanya dilaksanakan secara tatap muka secara langsung, dimana pendidik dan peserta didik hadir secara fisik di ruang-ruang kelas dan tempat-tempat belajar, kini digantikan dengan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik (e-learning) baik secara singkron ataupun secara nir-sinkron. E-learning nir-sinkron dapat dilakukan secara dalam jaringan (daring) maupun secara luar jaringan (luring). Pada pembelajaran daring, pendidik dan peserta didik pada waktu yang sama berada dalam aplikasi atau platform internet yang sama dan dapat berinteraksi satu sama lain layaknya pembelajaran konvensional yang dilakukan selama ini. Sedangkan pada pembelajaran luring, pendidik melakukan pengunggahan materi melalui web, mengirim lewat surat elektronik (e-mail) ataupun mengunggahnya melalui media sosial untuk kemudian dapat diunduh oleh peserta didik. Dalam cara luring, peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri tanpa terikat waktu dan tempat. Di sisi lain, e-learning secara singron hanya dapat terjadi secara daring. Meskipun pada kenyataannya, kegiatan belajar mengajar secara e-learning telah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi dari sejak lama, namun cara pembelajaran seperti ini adalah kesadaran (awareness) terhadap era Industrial Revolution 4.0, era yang membawa perubahan pada cara manusia dalam bekerja, berinteraksi dan bertransaksi. Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 di Tengah Covid-19 Dalam perspektif pendidikan, istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan sebagai implikasi dari Industrial Revolution 4.0 adalah Education 4.0, untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi di era Industrial Revolution 4.0 baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Education 4.0 merupakan inovasi dunia pendidikan di era Industrial Revolution 4.0, dianya merupakan sebuah jawaban dari pertanyaan “bisakah kita melakukan?”. Baca juga: Tantangan Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0 Education 4.0 dapat dilihat sebagai sebuah respons kreatif di mana manusia memanfaatkan teknologi digital, open sources contents dan global classroom dalam penerapan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), flexible education system, dan personalized learning, untuk memainkan peran yang lebih baik di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, new normal pembelajaran secara e-learning bukanlah jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi adaptasi dari sebuah kondisi yang semua orang “terpaksa” melakukannya. Sejak dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 oleh Mendikbud dan diberlakukan beberapa hari kemudian, seluruh kegiatan […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Universitas PGRI Madiun (Unipma) menjadi salah satu deretan kampus yang konsisten berhasil mengirimkan pelaporan ke PDDikti secara complete 100%. Tentu, untuk bisa sampai titik tersebut bukan pekerjaan mudah, UNIPMA membutuhkan perjuangan keras. PDDikti sendiri adalah kependekan dari Pangkalan Data Perguruan Tinggi, yaitu Kumpulan Data penyelenggaraan pendidikan tinggi seluruh perguruan tinggi yang terintegrasi secara nasional. Setiap Perguruan Tinggi mengirimkan laporan per Semester melalui FEEDER PDDikti. PDDikti mempunyai peranan sangat penting, karena data yang tercantum dalam PDDikti merupakan kumpulan data penyelenggaraan Pendidikan Tinggi seluruh Perguruan Tinggi yang terintegrasi secara nasional. Pangkalan data ini menjadi salah satu instrumen pelaksanaan penjaminan mutu (BAN-PT). Perjuangan Menggabungkan Data 3 Kampus dalam Waktu 6 Bulan Pada tahun 2016/17 UNIPMA sudah mempunyai sistem informasi sendiri, namun hanya dapat digunakan untuk internal kampus dan itu belum memenuhi kebutuhan pelaporan ke PDDikti, seperti disampaikan oleh Pak Gilang Primayoga, S.Kom selaku Kepala USIJ saat wawancara online dengan tim SEVIMA. “Kami sebelumnya sudah punya SIAKAD sendiri namun belum mendukung dalam pelaporan PDDikti”. Apalagi saat itu UNIPMA telah melakukan merger tiga kampus yaitu; IKIP PGRI MADIUN, STT DHARMA ISWARA, dan STIE DARMA ISWARA, dan Tim IT diminta untuk menggabungkan data 3 kampus dalam waktu 6 bulan, padahal kampus besar aja butuh 3 tahun untuk menggabungkan data. Tentu tugas yang cukup berat bagi Tim IT untuk mengumpulkan data yang valid untuk dilaporkan. “Kami dituntut menggabungkan data dalam waktu 6 bulan saat itu, padahal kampus besar aja butuh 3 tahun untuk menggabungkan data. Apalagi dilakukan dengan cara manual pasti sangat berat, intinya saat itu kami belum menemukan solusi”. Tutur Pak Gilang. Berjuang Memberi Pelayanan Terbaik Sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang, dengan mahasiswa yang terus bertambah, Universitas PGRI Madiun (Unipma) membutuhkan sistem yang dapat membantu untuk meningkatkan pelayanan dan memudahkan dalam pelaporan PDDikti. “Saat itu kami bingung harus bagaimana, akhirnya menghubungi teman dan bertemu dengan SEVIMA. Seumpama kalau kita mau egois membuat SIAKAD sendiri, pasti butuh waktu lama, mungkin 1-2 tahun baru akan selesai, lalu kapan kita akan laporan yang bagus, kapan sosialisasinya dan lain-lain.” ungkap pak Gilang. “Lalu tim IT mengajukan ke pimpinan untuk masalah SIAKAD kita serahkan kepada SEVIMA dan sosialisasi akan dilakukan oleh tim IT, sehingga bisa menghemat waktu, dan tim IT bisa lebih fokus yang lain.” lanjut Gilang. Untuk itu Universitas PGRI Madiun (Unipma) mengimplementasikan Sistem Informasi Akademik SEVIMA siAkad Cloud dan ProFeeder untuk menunjang kegiatan akademik dan memudahkan pelaporan ke PDDikti. Sekarang, tiap pelaporan sudah tinggal kirim saja karena data mulai rapi dengan menerapkan siAkad Cloud dari SEVIMA. Itulah perjuangan Universitas PGRI Madiun (Unipma) menjadi salah satu deretan kampus yang konsisten berhasil mengirimkan pelaporan ke PDDikti secara complete 100%. Bagaimana dengan kampus anda, ingin meningkatkan pelayanan akademik dan pelaporan PDDikti 100%? Yuk bergabung dengan siAkadcloud.com

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Hai sobat Sevima, kita tahu penggunaan tanda tangan sudah tidak bisa dilepaskan dari keseharian kita. Bagaimana tidak, tanda tangan memiliki berbagai fungsi penting bagi kita semua seperti untuk membuktikan identitas, menjaga integritas suatu surat atau dokumen, atau untuk melakukan koreksi pada suatu surat/ dokumen sebagai bukti disetujuinya perubahan tersebut. Nah, seiring dengan perkembangan teknologi, tanda tangan pun ikut mengalami perkembangan dan transformasi. Transformasi dari tanda tangan biasa kini bisa berbentuk tanda tangan digital. Tanda tangan digital tidak hanya digunakan untuk perusahaan, kini sudah masuk ke dunia pendidikan tinggi.  Beberapa perguruan tinggi gunakan tanda tangan digital Banyak perguruan tinggi di Indonesia yang telah memanfaatkan tanda tangan digital untuk mendukung tata kelola perguruan tinggi yang lebih baik. Kita tengok beberapa perguruan tinggi yang sudah menerapkan tanda tangan digital ini; a. Pertama di Indonesia, ITB Terbitkan Ijazah Digital b. UNNES Sosialisasikan Digital Signature Dan masih banyak lagi tentunya, apalagi di situasi pandemi Covid-19 ini, tanda tangan dari rumah sangat memudahkan. Lalu, mengapa perguruan tinggi Anda harus menggunakan tanda tangan digital? Berikut adalah 10 alasannya; 1. Meningkatkan kepuasan civitas kampus Prosedur sistem yang ribet-ribet di kampus anda akan banyak berkurang dengan tanda tangan digital/elektronik ini. Seperti di ITB yang dimudahkan dalam ijazah digital, atau Unnes juga bisa digunakan untuk tanda tangan dari rumah (working from home) di masa pandemi ini. Oleh karena itu, kepuasan semua pihak meningkat. 2. Lebih hemat waktu Kampus anda bisa memangkas waktu yang dibutuhkan untuk pencetakan dokumen, pemindaian dokumen yang telah ditandatangani, penyimpanan dokumen, hingga proses pengiriman dokumen oleh pihak ketiga. Dari tempat Anda berada di mana pun, Anda bisa tetap menandatangani dokumen dan langsung mengirimkannya kembali melalui surel dalam hitungan menit. Waktu yang dihemat juga dapat digunakan untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi dengan cara yang lebih efisien. Teknologi ini juga meniadakan risiko kehilangan dokumen. Saat ini, pencarian kembali berkas menjadi lebih mudah. Baca juga: Strategi Kampus Menghadapi Wabah Covid-19 3. Lebih hemat biaya Perguruan tinggi anda tidak perlu lagi menganggarkan budget khusus untuk membeli kertas, pulpen, tinta printer, hingga biaya ekspedisi dan penyimpanan. Selama Anda memiliki smartphone atau komputer yang terkoneksi ke internet, penandatanganan dan pengiriman dokumen bisa dilakukan tanpa biaya tambahan. 4. Ramah lingkungan (penghijauan) Saat ini, pemanasan global adalah masalah yang menjadi perhatian semua orang. Jika menggunakan tanda tangan digital, berbagai perguruan tinggi menjadi semakin ramah lingkungan dengan menghemat banyak kertas dan menggunakan sedikit bahan habis pakai. 5. Sah di mata hukum Legalitas tanda tangan digital di Indonesia sudah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Republik Indonesia No 11 Tahun 2008 Pasal 11 Ayat 1 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE). Peraturan ini menjelaskan bahwa tanda tangan digital berfungsi sebagai alat autentifikasi dan verifikasi dalam transaksi elektronik. Tanda tangan digital bisa digunakan untuk menunjukkan persetujuan penanda tangan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang ditandatangani dengan tanda tangan digital. Dengan kata lain, tanda tangan digital memiliki kekuatan dan akibat hukum yang sah selayaknya tanda tangan manual. Baca juga: Adapt or Die, Ini 7 Inovasi Perguruan […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Di tengah maraknya wabah Covid-19 yang merebah di seluruh dunia, termasuk di bumi pertiwi membawa dampak tersendiri di dunia pendidikan. Terlebih pada tanggal 2 Mei kemarin, Indonesia seharusnya memperingati hari pendidikan nasional. Namun, seperti yang kita tahu, peringatan hari pendidikan tersebut sedikit berbeda dari biasanya. Saat memperingati hari pendidikan tersebut, Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Makarim memberikan tips mengajar untuk para pengajar di Indonesia. Berikut ulasannya. 7 Tips Mengajar Dari Mendikbud Di Masa Pandemi Covid-19 1. Jangan stress Memang tidak mudah menghadapi masa yang tidak menentu kapan berakhir, masa dimana penuh kebingungan. Untuk itu, Mas Menteri menyarankan untuk mencoba metode baru yang bisa membuat metode pengajaran lebih efektif. Pada dasarnya, keluar dari zona nyaman memang sangat diperlukan. Selain untuk mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman juga mampu memberikan tantangan tersendiri bagi yang melakukannya. Hal ini bisa diterapkan bagi para pengajar di Indonesia, mencoba mencari cara baru untuk mendapatkan pengajaran metode terbaik memang sangat diperlukan. 2. Mencoba untuk membagi kelompok belajar menjadi kelompok kecil-kecil Biasanya, melakukan penyampaian materi terhadap siswa dilakukan di dalam kelas. Satu guru bertugas untuk menerangkan secara langsung tentang semua materi di depan kelas. Namun, di tengah wabah seperti ini, kegiatan tersebut harus dihentikan. Untuk mengganti cara tersebut para pengajar bisa melakukan pengajaran dengan sistem kelompok kecil. Sehingga dapat membuat sistem belajar mengajar lebih efektif. Selain itu, belajar dalam sistem kelompok kecil juga dapat mengantisipasi kemampuan siswa yang tidak sama. Baca juga: Anti Boros Kuota! Ini Rekomendasi Perkuliahan Online yang Hemat 3. Mencoba untuk project based learning Group project assignment diharapkan para peserta mampu bertanggung jawab tentang tantangan dan kolaborasi mereka untuk bertanggung jawab terhadap tugas mereka. Siswa mampu mengampu apa yang sudah menjadi tugas mereka dan dapat terealisasikan dengan baik. Dalam sistem project based learning ini bisa dikaitkan dengan pembagian kelompok kecil. Sehingga siswa mampu bekerja sama dengan teman satu kelompoknya. Harapanya, dengan melakukan pembagian kelompok kecil ini siswa juga dapat termotivasi dari teman-temannya yang lain. 4. Alokasikan waktu yang lebih banyak bagi yang tertinggal Tidak menutup kemungkinan banyak siswa yang juga tertinggal di pelajaran. Banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar kegiatan sekolah sehingga dapat menyebabkan siswa tersebut tertinggal. Tidak hanya itu, ketertinggalan materi di sekolah juga disebabkan oleh kemampuan siswa yang kurang. Untuk itu, peran serta orangtua dalam pembelajaran ini juga sangat dibutuhkan bagi para pelajar. Dengan membagi waktu untuk mengajar secara rata, guru dan orangtua diharapkan bisa berkolaborasi untuk mengejar ketinggalan para siswa tersebut. 5. Fokus terhadap waktu yang paling penting Selain melakukan eksperimentasi pada alokasi waktu. Pengajar juga bisa membagi konsep-konsep dasar yang tertinggal. Menggaris bawahi materi yang paling penting inilah diharapkan dapat membantu siswa agar mampu mengejar ketertinggalan mereka di sekolah.  Selain itu, dengan melakukan hal ini, diharapkan siswa juga dapat sukses dalam menghadapi kemampuan yang sudah mereka miliki. 6. Saling interaksi dengan sesama guru Siapa bilang guru tidak butuh melakukan tukar pikiran terhadap sesama guru. Di masa yang serba membingungkan seperti ini hal itu sangat dibutuhkan. Guru disarankan meminta bantuan sesama guru untuk memberikan timbal balik dalam metode pembelajaran […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat hampir seluruh kampus close down sejak pertengahan Maret 2020. Baru kali ini kampus benar-benar menghadapi ketidakpastian. Untuk itu institusi pendidikan pun dituntut untuk melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dalam jaringan (daring). Perkuliahan Online High or Low Bandwidth Internet Nah, dalam perkuliahan online kita mengenal perkuliahan online yang high bandwidth internet dan low bandwidth internet. Bandwidth internet adalah jumlah konsumsi transfer data yang dihitung dalam satuan waktu bit per second (bps). Jadi kalau ada beberapa mahasiswa atau dosen mengeluhkan kuliah online menguras kuota internet, iya itu mereka menggunakan perkuliahan high bandwidth internet. Kuliah online high bandwidth itu biasanya proses pembelajaran menggunakan video conference (ViCon) atau dikenal pembelajaran online synchronous (serempak) atau menonton media pembelajaran berupa video yang tentu memakan banyak kuota. Kalau low bandwidth bisa menggunakan grup untuk penyampaian materi atau tugas dll, biasa dikenal asynchronous (tidak serempak) dengan menggunakan LMS. Tips dari Dosen ITS Agar Kuliah Daring Tak Menguras Kantong Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan rekomendasi agar pembelajaran daring efisien dan tidak menguras kantong untuk biaya akses internet. Menghemat pengeluaran untuk belajar daring sangat dibutuhkan, terutama mengingat banyak kampus yang menerapkan kuliah daring hingga akhir semester genap ini. Syamsul mengatakan, bahwa idenya ini berangkat dari banyaknya keluhan yang disampaikan mahasiswa dan dosen dalam perkuliahan daring. Utamanya, kendala dengan video conference (ViCon) sebagai media pembelajaran. “Pembelajaran melalui ViCon ini dirasa banyak menguras kuota internet,” ujar dosen Departemen Teknik Fisika tersebut dikutip dari laman ITS, Jumat, 3 April 2020. Untuk memvalidasi hal tersebut, Syamsul menjelaskan perhitungan kasar yang dibuatnya. Umpamanya, mahasiswa mengambil 20 satuan kredit semester (SKS) dalam satu semester, dalam satu bulan, mahasiswa tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 66,67 jam untuk pembelajaran. Satu jam tersebut diibaratkan membutuhkan kuota internet 1 GB seharga Rp3.820. “Maka, mahasiswa tersebut bisa menghabiskan sekitar Rp 254 ribu per bulannya,” paparnya. Baca juga: Cegah Corona, Beberapa Kampus Ternama Gunakan EdLink Untuk Kuliah Online Doktor bidang teknologi pendidikan tersebut merasa, nominal tersebut cukup mahal untuk ukuran mahasiswa, terlebih yang memiliki kesulitan ekonomi dalam situasi tanggap darurat seperti saat ini. “Belum lagi bila mahasiswa harus belajar dengan Learning Management System (LMS) yang harus menjelajah dunia maya untuk mengerjakan tugas dari dosen, pasti biaya yang dibutuhkan akan bertambah,” timpalnya. Dengan ini, Syamsul menyarankan, untuk diberlakukan pengalihan biaya operasional instansi pendidikan yang tidak terpakai menjadi bantuan subsidi pulsa bagi mahasiswa yang membutuhkan untuk koneksi pembelajaran daring. “Mengacu pada hal ini, sudah terbit surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 302/E.E2/KR/2020 sebagai landasan kebijakan anggaran bagi perguruan tinggi,” ungkapnya. Tim Ahli Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini selanjutnya menjelaskan, dalam pembelajaran daring dikenal dua mode, yakni synchronous (serempak) dengan menggunakan ViCon dan asynchronous (tidak serempak) dengan menggunakan LMS. “Efektifnya untuk pembelajaran penuh secara daring mengkombinasikan 40 persen mode serempak dan 60 persen mode tidak serempak,” usulnya. Nah kabar baiknya, semua model pembelajaran high or low bandwidth Internet sudah ter-cover di Learning Management System (LMS) SEVIMA EdLink, yang sudah digunakan banyak perguruan tinggi di Indoneisa. Tinggal pengguna, mau menggunakan […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Di tengah wabah Covid-19 yang belum mereda ini, mengatur keuangan memang sangat diperlukan agar tidak terjadi pailit. Terlebih sistem keuangan di dalam dunia pendidikan. Meliburkan seluruh program kegiatan dan proses belajar mengajar memang membuat perubahan. Kondisi seperti ini membuat pihak pengelola keuangan harus dengan sigap melakukan pengaturan pada biaya operasional kampus. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar semua sistem keuangan dapat dikelola dengan baik. Berikut adalah cara yang bisa anda lakukan untuk menghemat biaya operasional kampus. 1. Periksa kondisi keuangan Hal yang paling utama anda lakukan adalah melakukan pemeriksaan kondisi keuangan di dalam kampus. Pastikan seluruh pemasukan dan pengeluaran yang ada di kampus anda sudah terkontrol dengan baik. Jangan lupa untuk selalu melakukan pencatatan keuangan dari semua unit yang ada di kampus anda. 2. Periksa status aset dan hutang Tidak menutup kemungkinan kalau suatu lembaga memiliki pinjaman atau pengeluaran yang tak terduga lainnya. Kewajiban yang harus anda lakukan untuk melakukan pengelolaan keuangan ini adalah dengan memeriksa status asset dan riwayat pinjaman yang kampus anda miliki. Dengan demikian, anda bisa memastikan melakukan penghematan biaya tersebut dengan baik. 3. Perhatikan dan buat laporan arus kas secara berkala Nah, memerhatikan dan membuat laporan arus kas memang harus dilakukan. Selain untuk mengamati arus keuangan, anda juga bisa memastikan untuk memotong beberapa anggaran yang hendaknya bisa dipotong untuk keperluan lain. Sehingga melakukan penghematan bisa anda lakukan dengan cepat dan mudah. 4. Buatlah business plan baru Situasi yang seperti ini memang membuat semua pihak harus membuat plan ekstra. Setidaknya anda harus membuat research untuk membuat business plan yang baru. Tujuannya agar semua keuangan dan transaksi yang kampus anda lakukan dengan stakeholder bisa dijangkau dan diatur dengan baik. Baca juga: 7 Strategi Kampus Optimalkan Penerimaan Dana Mahasiswa Melalui Bantuan Dana Pendidikan saat Covid-19 5. Lakukan manajemen risiko Bukan keuangan namanya bila tidak memerhatikan manajemen risiko. Dalam situasi yang seperti ini anda harus dengan leluasa mengelola keuangan dengan baik. Beberapa ketidakpastian pasti akan muncul dalam situasi seperti ini. sehingga, dengan melakukan manajemen risiko dengan baik, anda akan dengan mudah mengelola ketidakpastian tersebut dari ancaman yang ada. 6. Ganti promosi kampus ke digital Kebiasaan lama yang biasa dilakukan oleh kampus untuk melakukan promosi dengan memasang backdrop, poster, atau baliho di pinggir jalan. Namun, seiring dengan wabah Covid-19 ini, semua orang menghabiskan waktu mereka di dalam rumah. Dengan demikian, melakukan promosi kampus seperti biasanya akan kurang efektif. Sehingga, anda bisa menggantinya dengan via digital agar promosi yang anda lakukan bisa sampai ke masyarakat. 7. Alihkan dana pembelajaran ke pembelajaran daring Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan di dalam kelas, kini dirubah dengan kegiatan belajar mengajar dengan sistem daring. Tidak heran bila anda harus mengalihkan keuangan yang biasa digunakan untuk pembelajaran di dalam kelas dan digantikan ke pembelajaran daring. Dengan demikian, sistem dana operasional anda akan tersalurkan dengan baik. 8. Alihkan dana pengembangan sarana prasarana Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan di dalam kampus, kali ini harus dilakukan di rumah masing-masing selama wabah Covid-19 ini. Tentunya, kegiatan yang dilakukan di dalam lingkungan kampus ini juga membutuhkan biaya operasional untuk […]

Baca Selengkapnya »

SEVIMA.COM – Beberapa bulan ini, kita telah menyaksikan betapa virus corona ini memberikan dampak buruk dan benar-benar merubah semua sistem yang telah direncanakan oleh semua pihak, tak terkecuali dari dunia pendidikan.   Pandemi COVID-19 ini mengharuskan perguruan tinggi menyusun strategi yang berbeda untuk menghadapinya, berbagai solusi keuangan selama pandemi virus corona dilakukan untuk mengantisipasi hal buruk lainnya yang bisa saja terjadi ke depan. Bantuan dana pendidikan yang biasanya disalurkan untuk kegiatan belajar mengajar serta sarana prasarana di lingkungan kampus, kini harus membanting setir ke rencana lain agar seluruh kegiatan operasional kampus tidak terganggu. Berikut 7 strategi kampus untuk mengoptimalkan penerimaan dana mahasiswa dari bantuan dana pendidikan. 1. Pengelolaan terhadap bantuan untuk mahasiswa bidik misi Seperti yang kita ketahui, program bidik misi memang sudah direncanakan dengan baik dan detail oleh pemerintah kita. Program ini ditujukan kepada para mahasiswa yang kurang mampu dengan memberikan dana pendidikan dan uang saku setiap bulannya. Dengan adanya Pandemi COVID-19 ini, banyak kampus yang sudah merencanakan untuk memberikan bantuan kepada mahasiswa bidik misi saat mengikuti kelas online. Bantuan tersebut berupa bantuan pulsa saat menjalankan kelas online ini. Pemberian subsidi pulsa kepada mahasiswa bidik misi ini diterapkan di Universitas Hasanuddin Makassar. 2. Pengelolaan sarana prasarana untuk kelas online Karena melakukan physical distancing, seluruh perguruan tinggi di Indonesia melakukan program kelas online. Dengan adanya kelas online ini, perguruan tinggi harus memperbaiki sarana prasarananya terutama di dalam jaringan dan aplikasi yang digunakan untuk proses belajar mengajar. Maka dari itu, sebagian bantuan dana pendidikan disalurkan untuk memperbaiki sarana prasarana ini. Harapannya, meskipun menjalankan kegiatan kelas online, namun materi yang disampaikan kepada mahasiswa tetap optimal.   3. Bantuan pengelolaan kuota jaringan internet untuk mahasiswa dan dosen Kelas online membuat seluruh mahasiswa dan dosen harus menyisihkan keuangan ekstra untuk pembelian kuota internet. Karena menggunakan video konferensi dalam penyampaian perkuliahan, jadi kuota yang dibutuhkan juga tidaklah sedikit. Kejadian ini membuat beberapa perguruan tinggi ikut serta memberikan subsidi pulsa atau paket data kepada mahasiswa dan dosennya. Seperti yang diterapkan di Universitas Gadjah Mada, kampus ini memberikan bantuan sebesar Rp50 ribu- Rp150 ribu kepada para mahasiswa dan dosen di seluruh fakultas. 4. Pengoptimalan terhadap kebersihan dan kesehatan kampus Adanya pandemi yang sedang terjadi di Indonesia, mengharuskan perguruan tinggi untuk mengalihkan beberapa bantuan dana pendidikan untuk peningkatan kebersihan dan kesehatan kampus. Kampus menyediakan beberapa spot untuk cuci tangan, pembagian hand sanitizer, makanan bersih, dan tentunya perawatan ekstra kebersihan lingkungan kampus. 5. Bantuan evakuasi untuk mahasiswa yang berasal dari luar negeri Karena ini pandemi, kita pun tidak tahu kapan pandemi ini akan segera berakhir. Maka dari itu, salah satu kebijakan kampus adalah memulangkan beberapa mahasiswanya yang berasal dari luar negeri. Hal ini bertujuan agar mahasiswa yang berada di perantauan agar bisa memutuskan rantai Covid-19 ini. Seperti yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya Malang, sebanyak 48 mahasiswa dari Malaysia dipulangkan ke negeri asalnya. Selain itu, tujuan UB memulangkan mahasiswa dari Malaysia merupakan suatu bentuk persetujuan terhadap salah satu permohonan dari kedutaan Malaysia untuk memulangkan mahasiswa yang berasal dari negara tersebut. 6. Penyaluran dana bagi mahasiswa yang berdampak dari Covid-19 Pandemi Covid-19 ini […]

Baca Selengkapnya »