Berita & Artikel

Kompetisi Menulis

Nov

13

2020

...
Event | Kompetisi Menulis
Selamat! Inilah Pemenang Kompetisi Menulis SEVIMA 2020

SEVIMA.COM – Hallo Rekan SEVIMA! Siapa yang disini udah nungguin pemenang lomba Kompetisi Menulis SEVIMA? Pada 8 Oktober 2020 hingga 31 Oktober 2020 kemarin, SEVIMA mengadakan Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation 2020, dengan tema “Revolusi seperti apa yang dilakukan kampus Anda di masa pandemi ini?”. Terima kasih bagi para peserta lomba yang sudah mendaftar dan mengirimkan artikel tentang pengalaman #revolutionizeEducation di perguruan tinggi masing-masing. Dalam Kompetisi Menulis ini, SEVIMA mendapatkan banyak cerita menarik, seru dan inspiratif yang membuat Tim Juri pusing untuk memilih mana artikel terbaik. Pemenang Kompetisi Menulis SEVIMA 2020 Tim juri pun sempat berdebat sengit untuk menentukan siapa yang berhak menyandang gelar juara. Banyaknya artikel yang ditulis dengan sangat kreatif dan menarik, membuat penilaian kompetisi menulis kali ini dirasa sangat ketat. Dengan melalui penilaian meliputi kesesuaian tema, gaya penulisan artikel (alur, diksi, dan tata bahasa), kualitas artikel peserta (meliputi materi dan nilai manfaat tulisan), serta pendukung artikel (tata letak dan gambar tambahan), akhirnya tim juri berhasil memilih 15 semifinalis terbaik, hingga terpilih 5 pemenang. Dan inilah pemenang Kompetisi Menulis SEVIMA 2020 Juara 1 Nama: Sidiq Harim Instansi: UGM Yogyakarta Judul Artikel: ACADEMIC BLOGGING: MENEROBOS BATAS RUANG KELAS Link artikel: https://sevima.com/academic-blogging-menerobos-batas-ruang-kelas/ Juara 2 Nama: Panji Wijonarko Instansi: UTA ’45 Jakarta Judul Artikel: Revolusi Pendidikan di Kampus Merah Putih Link Artikel: https://sevima.com/revolusi-pendidikan-di-kampus-merah-putih/ Favorit 1 Nama: Aqilah Nurul Khaerani Latif Instansi: Institut Teknologi Bandung Judul Artikel:Tantangan Akademisi ITB Beradaptasi dengan E-Learning sebagai Sistem Pembelajaran Utama Link Artikel: https://sevima.com/revolusi-pendidikan-di-kampus-merah-putih/ Favorit 2 Nama: Nita Linuria Instansi: Akper Bunda Delima Bandar Lampung Judul Artikel: Habis Pandemi Terbitlah Revolusi Edukasi Link Artikel: https://sevima.com/habis-pandemi-terbitlah-revolusi-edukasi/ Favorit 3 Nama: Relly Margiono Instansi: STMKG Tangerang Judul Artikel: Revolusi Akademik dan Budaya Organisasi Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Link Artikel: https://sevima.com/revolusi-akademik-dan-budaya-organisasi-sekolah-tinggi-meteorologi-klimatologi-dan-geofisika-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19/ Terimakasih Rekan SEVIMA Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti Kompetisi Menulis SEVIMA 2020. Semoga SEVIMA tetap mampu memberikan pelayanan terbaik untuk anda. Karena anda adalah prioritas kami. Terima kasih atas artikel inspiratif serta ide-ide kreatif yang muncul di setiap Artikel. Sekali lagi, Kami ucapkan selamat kepada para pemenang ya. Bagi yang belum beruntung, jangan khawatir! Anda masih bisa menikmati beberapa kompetisi yang lain. Sampai jumpa di kompetisi SEVIMA yang lain! 🙂 Salam, Tim SEVIMA

Nov

05

2020

...
Event SEVIMA | Kompetisi Menulis
Selamat! Berikut 15 Besar Finalis Kompetisi Menulis SEVIMA

SEVIMA.COM – Bulan Oktober lalu, SEVIMA dengan sukses telah mengadakan kegiatan kompetisi menulis untuk rekan SEVIMA terutama bagi para akademisi kampus di Indonesia. Dengan mengangkat tema Revolusi yang dilakukan kampus selama masa pandemi, kompetisi menulis kali ini berlangsung dengan sangat kompetitif. Menariknya lagi, para peserta yang berpartisipasi mengikuti kompetisi yang satu ini berasal dari berbagai macam kampus di Indonesia. Kompetisi menulis SEVIMA kali ini bermaksud agar rekan SEVIMA tetap bisa menuangkan ide cemerlang mereka dalam bentuk artikel meskipun di tengah wabah pandemi Covid-19. Meskipun kondisi tidak begitu memungkinkan, namun dengan adanya kegiatan ini diharapkan agar para akademisi kampus masih berpikir aktif dan kritis. Bagaimana sih proses seleksi dan pengumuman kompetisi menulis SEVIMA? Nah, sesuai dengan jadwal pengumuman semifinalis yang telah ditentukan, hari ini kami membawa kabar gembira untuk para rekan SEVIMA yang telah mengikuti perlombaan ini. Setelah menimbang dan menilai dari hasil karya rekan-rekan, tim juri dari kompetisi menulis SEVIMA telah berhasil memutuskan 15 besar semifinalis terbaik. Banyaknya artikel yang ditulis dengan sangat kreatif dan menarik, membuat penilaian kompetisi menulis kali ini dirasa sangat ketat. Dengan melalui penilaian meliputi kesesuaian tema, gaya penulisan artikel (alur, diksi, dan tata bahasa), kualitas artikel peserta (meliputi materi dan nilai manfaat tulisan), serta pendukung artikel (tata letak dan gambar tambahan), akhirnya tim juri berhasil memilih 15 semifinalis terbaik. Selamat kepada 15 finalis terpilih Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation Sidiq Harim/ Sosiologi UGM Juniar Candra/STEI Al-Furqon Prabumulih Rica Wijayanti/STKIP PGRI Bangkalan Arif Hidayat/LPP Yogyakarta Nita Linuria/Akper Bunda Delima Bandar Lampung Panji Wijonarko/UTA 45 Jakarta Hasrat Effendi Samosir/UIN Sumatera Utara Aqilah Nurul Khaerani Latif/ITB Relly Margiono/STMKG Tangerang Yudho Purnomo/STIE Cendekia Karya Utama Semarang Widodo/STIKES Notokusumo Yogyakara Hari Aspriyono/Universitas Dehasen Bengkulu Elita Endah/STIKES Banyuwangi Suwarni Aswadi/ STIKES Banyuwangi Indri Sudanawati/UIN Sunan Ampel Surabaya Lalu, kapan pengumuman pemenang utama dan favoritnya? Setelah penetapan 15 besar semifinalis kompetisi menulis artikel SEVIMA, Tim Juri masih terus melakukan penilaian untuk menentukan pemenang utama dan favorit. Nah, buat rekan SEVIMA yang masih lolos di tahap ini, tunggu pengumuman selanjutnya pada 13 November 2020 mendatang, ya! So, stay tune! Pemenang akan diumumkan melalui Website dan akun media sosial SEVIMA. Jadi jangan lupa follow juga akun media sosial SEVIMA. – Website SEVIMA: https://sevima.com/ – Instagram: https://www.instagram.com/sevima_official/ – Facebook: https://www.facebook.com/SentraVidyaUtama/ Dan bila ada pertanyaan terkait kompetisi ini, silakan hubungi panitia kompetisi, via email: komunitas@sevima.com

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
ACADEMIC BLOGGING: MENEROBOS BATAS RUANG KELAS

Penulis: Sidiq Harim Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  “Not all classrooms have four walls” —anonim Era digital membuka ruang revolusi pendidikan, Covid-19 mengakselerasikannya. Saat ini kita semua sedang berada dalam sebuah eksperimen besar, mencoba cara baru belajar dan mengajar baik secara metode maupun teknik pembelajaran. Kita mengalami masa dimana transisi ke platform daring bukan lagi pilihan, tapi menjadi suatu keharusan akibat adanya physical distancing. Tengah berlangsung revolusi pendidikan yang menerobos dinding-dinding ruang kelas. Saya dan beberapa kolega dosen menginisiasi inovasi metode pembelajaran untuk salah satu matakuliah kami yang kami beri judul “Academic Blogging”. Inisiasi ini kami mulai sejak 2019 di bawah bendera Revolusi Industri 4.0. Pandemi Covid-19 memaksa program ini untuk tetap berjalan. Semoga dengan sharing pengalaman di sini dapat menambah referensi pembaca yang sedang mencari ide untuk Revolutionize Education. Apa itu Academic Blogging? Academic blogging adalah sebutan inovasi pembelajaran daring yang istilahnya kami ambil dari The Digital Scholar karya Martin Weller (2011). Dengan istilah ini, kami mendesain metode belajar yang mengintegrasikan antara teori dan praktik, ilmiah dan populer, belajar dan bekerja, perguruan tinggi dan industri. Mahasiswa diajarkan tentang teori sesuai Silabus, lalu praktik menulis sebagai kontributor konten di blog akademik yang disediakan oleh dosen pengampu. Gagasan mengenai blog akademik sebenarnya bukan hal baru. Beberapa akademisi telah mengampanyekan pemanfaatan ruang online untuk pendidikan, termasuk academic blogging. Kami mengadopsi gagasannya sebagai dukungan untuk memperbanyak konten bermutu di ruang online. Jika laman website tidak didominasi oleh konten yang bermutu, maka konten lain yang akan mengisi. Sayangnya, kita memerlukan sebuah virus untuk benar-benar terlibat dalam gerakan ini. Saat ini, konten pendidikan berekspansi di kanal-kanal Youtube, Instagram, Blog dan sebagainya. Covid-19 memang dibenci, tapi disisi lain ada gunanya juga. Anyway, kita kembali ke metode Academic blogging sebagai revolusi pembelajaran. Bagaimana menerapkannya? Penerapan Metode Academic Blogging Metode yang kami terapkan sangat simpel. Di paruh semester awal, mahasiswa mempelajari teori sesuai Silabus. Proses ini dilakukan bisa di ruang kelas atau secara daring. Di paruh kedua, mahasiswa membuat karya yang bisa di upload di blog akademik. Karya yang dibuat oleh mahasiswa bisa dalam bentuk tulisan, podcast, video, gambar atau lainnya sesuai minat dan kemampuan yang hendak dikembangkan mahasiswa. Karya itu harus berangkat dari pengetahuan yang sudah dipelajari di paruh semester awal. Academic blogging menggunakan website yang didesain oleh pengampu sebagai platformnya. Dosen pengampu menyiapkan websitenya, mahasiswa mengisi kontennya. Keduanya sama-sama belajar. Dosen pengampu tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga manajer website dan editor konten yang menyeleksi konten mana yang layak diterbitkan, mana yang perlu direvisi, mana yang ditolak. Dengan ini, dosen belajar mengelola sebuah platform digital dan mahasiswa belajar untuk bekerja sebagai kontributor konten. Apa kelebihannya bagi peserta didik dan pendidik? Peningkatan skill manajemen blog dan konten kreator Kontribusi konten berkualitas di platform digital Meninggalkan kekhawatiran terhadap tren digitalisasi Cara belajar ini diorientasikan untuk membantu peserta didik menangkap peluang-peluang kerja ke depan yang didominasi oleh wacana digitalisasi. Konten kontributor jangan dipahami dalam arti sempit, seperti pekerjaan di digital agency atau jadi Selebgram atau Youtuber. Konten kontributor adalah menghasilkan […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Penerapan Aplikasi SEVIMA pada STEI Al-Furqon Selama Pandemi Covid-19

Penulis: Juniar Candra Dosen STEI Al-furqon Prabumulih Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Al-Furqon Prabumulih berdiri pada Agustus tahun 2016 dan mulai melaksanakan perkuliahan pada tahun 2017. Sebagai kampus baru, STEI Al-Furqon masih mengalami banyak keterbatasan terutama dalam sistem pengelolaan dan pelaksanaan perkuliahan, hal ini disebabkan minimnya SDM, dan informasi-informasi mengenai pengelolaan dan manajemen lembaga. Sekitar tiga tahun sudah kegiatan perkuliahan dilaksanakan dengan berbagai macam kendala, namun civitas akademik tetap bisa mengatasi setiap kendala yang dihadapi.  Namun ketika pademi Covid-19 mulai terjadi terutama di kota Prabumulih tempat kampus STEI Al-Furqon berada. Maka diambil kebijakan secara cepat, dan semua kebijakan kampus disesuaikan dengan pemerintah yaitu bekerja, belajar, dan ibadah di rumah. Hal ini menjadi masalah baru di tengah kendala-kendala yang ada.  Apa saja kebijakan yang diterapkan selama pandemi Covid-19?  Ketika kebijakan diambil dan diterapkan, yaitu pertama, kebijakan perkuliahan via WA, muncul masalah kejenuhan mahasiswa, dosen tidak dapat maksimal menyampaikan materi, dan mahasiswa merasa tidak mendapatkan ilmu. Kedua, Kebijakan  melarang mahasiswa melakukan pembayaran perkuliahan ke kampus dan diarahkan melalui bank dan fasilitasnya, hal ini berdampak pendapatan kampus merosot turun disebabkan mahasiswa khawatir untuk datang ke bank. Ketiga, Kebijakan perencanaan persiapan akreditasi dilakukan melalui rapat dari rumah, kendala yang muncul adalah sistem pengorganisasian tugas dan manajemen dokumen akreditasi menjadi sulit. Dengan adanya kendala dan masalah yang muncul dampak dari kampus baru ditambah efek pandemi corona di bidang pendidikan. Maka Kepengurusan lembaga STEI Al-Furqon Prabumulih mengambil kebijakan Revolutionize Education, yaitu penerapan aplikasi/ fitur-fitur layanan SEVIMA dalam peningkatan mutu manajemen kampus dan sistem akademik. STEI Al-Furqon Prabumulih sendiri telah melakukan kerjasama dengan SEVIMA sebelum meluasnya pandemi ini, yaitu di awal maret 2020 pihak kampus telah datang ke kantor SEVIMA untuk melakukan pelatihan. Tujuan awalnya adalah untuk menyelesaikan kendala-kendala sebagai kampus baru dengan cara Revolutionize Education pada sistem layanan akademik, pelaporan PDDIKTI, dan keuangan. Dengan Penerapan aplikasi/ fitur-fitur layanan SEVIMA, yaitu Gofeeder untuk rencana dan hasil perkuliahan, Edlink untuk perkuliahan, Financial Cloud untuk manajemen keuangan, dan Akreditasi Cloud untuk perencanaan dan persiapan akreditasi. Namun, Penerapannya baru dapat dilakukan di bulan Juni, disebabkan kendala-kendala teknis. Keputusan kerjasama ini bagaikan anugrah dari Allah bagi STEI Al-Furqon, dimana STEI Al-Furqon dapat segera beradaptasi dengan keadaan sehingga masalah-masalah yang muncul saat pandemi yang dialami STEI Al-Furqon diatas dapat diatasi. Kemudian STEI Al-Furqon juga mendapat respon positif karena telah berhasil melaksanakan kegiatan akademik dengan baik, dan juga telah menambah kepercayaan dan kebanggaan bagi semua civitas akademik bahwa kampus STEI Al-Furqon akan mampu menjaga kualitas perkuliahan dan kedepan akan mampu bersaing di era industri 4.0.

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Perubahan Paradigma Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Rica Wijayanti Dosen STKIP PGRI Bangkalan Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Pandemi Covid-19 yang terjadi pada seluruh kawasan di berbagai negara memberikan dampak perubahan yang sangat besar. Hal ini juga dialami oleh perguruan tinggi kami yang juga mengadakan berbagai revolusi khususnya pada proses pembelajaran. Awalnya kami sebagai perguruan tinggi swasta kecil merasakan kebingungan untuk mengubah paradigma pembelajaran pada mahasiswa kami karena adanya kondisi Covid-19. Perubahan paradigma yang terjadi yaitu  proses pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka atau luring dan banyak didominasi oleh peran dosen sekarang berubah menjadi pembelajaran melalui media online atau daring dan lebih didominasi oleh mahasiswa. Perubahan awal memang sulit terlebih kendala utamanya adalah mahasiswa kami yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah kesulitan fasilitas dan biaya untuk membeli paketan kuota. Selain itu, kawasan rumah mahasiswa kami yang berada di pelosok pedesaan juga menjadi polemik adanya perubahan ini. Namun, alhamdulillah satu per satu kesulitan ini dapat teratasi oleh perguruan tinggi kami. Kesulitan  tentang biaya pembelian kuota dapat diatasi dengan adanya bantuan kuota internet dari pemerintah sehingga mahasiswa tidak perlu bingung mengeluarkan biaya untuk membeli paketan kuota internet. Adanya bantuan kuota internet dari pemerintah membuat kami lebih mudah melakukan proses pembelajaran di perguruan tinggi kami dengan menggunakan berbagai jenis media pembelajaran yang berbasis teknologi diantaranya yaitu grup Whatssap, Google Meet, dan Zoom. Selain itu, kemudahan juga kami dapatkan setelah perguruan tinggi kami mendapatkan bantuan dana hibah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga kami bisa mulai menggunakan Learning Management System (LMS). Proses pembelajaran dengan LMS sangat mempermudah bagi penggunanya baik itu dari segi dosen maupun mahasiswa. Adanya LMS juga bisa meningkatkan interaksi antara dosen dan mahasiswa sehingga masa pandemi Covid-19 dengan perubahan paradigma pembelajaran sudah tidak menjadi kendala bahkan berdampak positif bagi kami karena dosen dan mahasiswa kami dapat menggunakan berbagai media pembelajaran berbasis teknologi sesuai dengan era industi 4.0 yang mulai berkembang di negara-negara maju khususnya di Indonesia. Berikut ini adalah contoh link LMS yang saya gunakan ketika proses perkuliahan masa pandemi Covid-19. Selain menggunakan LMS, kami juga mengkombinasikan proses pembelajaran dengan media virtual lainnya yang dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep materi yang kami sampaikan. Bukan terhenti sampai disini saja usaha kami agar pandemi ini tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap akademik mahasiswa kami, kami juga membuat berbagai video pembelajaran sebagai bantuan tutor kepada mahasiswa dalam memahami konsep perkuliahan sehingga walaupun masa pandemi proses pembelajaran dapat berjalan seperti biasa. Untuk proses pembimbingan skripsi di kampus kami masih menggunakan proses bimbingan 2 arah yaitu secara daring dan luring. Proses bimbingan dilakukan secara luring jika mahasiswa memang membutuhkan komunikasi secara langsung dengan dosen pembimbing. Pembimbingan secara luring di perguruan tinggi kami tetap menerapkan protokol kesehatan sehingga dilakukan dengan aman.

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Pendidikan Vokasi di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis: Arif Hidayat Dosen Politeknik LPP Yogyakarta Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Masa pandemi membuat seluruh sektor untuk berpikir keras bagaimana semua proses tetap bisa berjalan untuk memenuhi capaian atau target. Begitu juga dengan Politeknik LPP  yang merupakan penyelenggara pendidikan di bidang vokasi. Dengan kondisi seperti ini banyak keputusan strategis yang kami lakukan di masa pandemi ini baik dalam bidang pelayanan dan proses pembelajaran Bahkan kami menyebutnya sebuah revolusi pendidikan (Revolutionize Education). Kami mempelajari banyak platform, media dan software untuk menunjang revolusi ini.  Menganalisis dengan sangat teliti kelebihan dan kekurangan masing-masing platform, seperti Google Classroom, Edmodo, Edlink untuk bisa kita implementasikan baik ke mahasiswa maupun dosen. Dan menyakinkan pihak manajemen untuk mau berinvestasi untuk menjalankan revolusi pendidikan ini. Setelah melalui waktu yang cukup panjang, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan Edlink sebagai platform utama dalam proses pembelajaran.  Permasalahan tidak selesai sampai disitu kami menggunakan kanal Youtube sebagai media sosialisasi ke mahasiswa. Setelah itu masalah terbesar berikutnya adalah bagaimana memacu kreativitas dosen untuk mau menggunakan Edlink dan membuat media pembelajaran yang menarik. Manajemen mensupport dengan membuatkan studio mini yang menelan biaya hampir 200 juta untuk digunakan dosen untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan menarik agar mahasiswa tidak bosan. Akan tetapi memberikan pengertian ke dosen itu ternyata jauh lebih susah dibandingkan dengan memberikan pengertian ke mahasiswa, banyak komentar negatif (susah, ribet, dll).  Paradigma yang ada di dosen adalah mengajar online adalah mengonlinekan kebiasaan mereka mengajar dikelas dengan menjelaskan dengan metode klasikal akan tetapi dengan media online. Jadi paradigma tersebut yang terus kami upayakan agar bisa berubah dengan cara memberikan pelatihan, memberikan contoh, pemanfaat fitur yang ada di Edlink, membuatkan user guide bahkan sampai menyiapkan reward and punishment untuk dosen. Selain itu penggunaan sistem informasi akademik yang terintegrasi sangat membantu, dimana mahasiswa tidak perlu datang ke kampus untuk melakukan pembayaran tagihan, mahasiswa bisa melakukan konsultasi KRS secara online dengan dosen pembimbing akademik. Yang sekarang masih menjadi bottle neck adalah bagaimana menyelenggarakan praktikum keahlian yang tidak mungkin dilakukan secara daring. Apalagi kami Politeknik Politeknik LPP  bergerak dibidang vokasi yang memang dituntut mahasiswa kami untuk mahir dalam bidang skill terapan yang dibutuhkan dalam dunia industri. Hal ini kami siasati dengan membuat praktikum menjadi kelompok kecil dan dilaksanakan setelah UAS. Selain itu program magang kerja kami juga belum bisa berjalan dengan kondisi pandemi seperti ini. Hal ini kami sepakati dengan skenario mahasiswa melakukan pengabdian masyarakat di daerah masing-masing dengan tema yang sudah disetujui oleh pihak kampus. Semoga kondisi ini segera membaik dan kita semua dapat mengambil pelajaran penting dari kondisi yang terjadi sekarang.

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Habis Pandemi Terbitlah Revolusi Edukasi

Penulis: Nita Linuria  Dosen Akper Bunda Delima Bandar Lampung Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” Sebelum terjadinya pandemi, Revolusi  Industri  4.0 menuntut  Perguruan Tinggi melakukan penyesuaian dalam menerapkan Pendidikan Era Revolusi 4.0. Peserta didik, pendidik, serta tenaga pendidik dituntut menyesuaikan diri dan memanfaatkan Pendidikan Era Revolusi 4.0 dengan memanfaatkan teknologi informasi serta dapat  mengimplementasikannya. Tentunya banyak hambatan  pada saat mengimplementasikannya dari sarana dan prasarana yang kurang memadai. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dunia digital, serta sebagian peserta didik mungkin berada di daerah terpencil atau bahkan tidak memiliki laptop/smartphone sebagai salah satu media pembelajaran. Pandemi yang mewabah  memaksa Perguruan Tinggi  menerapkan Pendidikan Era Revolusi  4.0, khususnya Perguruan Tinggi kami. Akademi Keperawatan Bunda Delima merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Wilayah Lampung, tentunya karena merupakan PTS bidang kesehatan, di masa pandemi harus menjadi role model setidaknya untuk lingkungan sekitar. Pada masa pandemi mahasiwa tetap aktif bersosialisasi Gerakan 3M (memakai masker,mencuci tangan, dan menjaga jarak). Tidak hanya dengan bersosialisasi bahkan mahasiswa kami pun menghasilkan produk seperti masker, hand sanitizer yang dibagikan pada warga sekitar, mahasiswa memanfaatkan media sosial untuk melakukan sosialisasi.  Secara tidak langsung pandemi memacu mahasiwa untuk berpikir kreatif dan inovatif, pada tahap ini sebenarnya  mahasiswa  sudah melakukan revolusi edukasi #revolutionizeEducation terhadap masyarakat baik secara luar jaringan (luring) maupun dalam jaringan (daring). Bagaimana dengan revolusi edukasi di kampus? Mahasiswa dan dosen  mempunyai tantangan untuk melakukan perkuliahan secara online, dan mengapa saya sebut tantangan? Sebelumnya kampus kami belum pernah melakukan perkuliah secara online, pandemi yang mewajibkan physical distancing tidak ada pilihan lain, perkuliahan harus tetap berlangsung. Pada saat itu dosen memanfaatkan platform pembelajaran online, jadi tidak ada ketentuan aplikasi yang dipakai oleh dosen. Seperti kita ketahui Perguruan Tinggi wajib melakukan pelaporan melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, ketidakseragaman aplikasi yang dipakai oleh dosen, tentunya akan sulit pada saat pelaporan, maupun pengarsipan akademik. Perguruan Tinggi  pun dituntut melakukan revolusi teknologi kampus, kampus kami memilih satu platform pembelajaran  yang wajib digunakan untuk perkuliahan online, dimana platform pembelajaran ini dirasakan paling tepat dan lengkap yaitu Sevima Edlink. Sevima Edlink merupakan aplikasi yang dikhususkan untuk dunia pendidikan dalam membatu dosen menghemat waktu, menjaga kelas tetap teratur, dan meningkatkann komunikasi dengan mahasiswa. Dengan aplikasi Edlink mahasiswa dan dosen dapat melakukan perkuliahan online dimanapun dan kapanpun. Fitur yang terdapat pada Edlink tersebut sangat lengkap dimana aktivitas pembelajaran, laporan perkuliahan (presensi, nilai perkuliahan) langsung terintegrasi dengan sistem informasi akademik. Dengan tampilan kekinian mahasiswa pun sangat  nyaman dalam penggunaan aplikasi Edlink. Bagaimana tidak, presensi mahasiswa pun cukup dilakukan melalui smartphone. Bisa juga melakukan video conference, kuis interaktif, jadwal perkuliahan yang diingatkan dengan notifikasi, sharing,dan diskusi online. Pada masa pandemi kampus kami benar-benar melakukan revolusi edukasi, beralih dari sistem luring menjadi daring. Hal ini merupakan perubahan besar pada sistem akademik, tentunya perubahan ini  berdampak sangat positif untuk kemajuan kampus kami kedepannya. Habis pandemi terbitlah revolusi edukasi #revolutionizeEducation2020.  

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
KKN DR KS Sebagai Solusi Pengabdian Masyarakat dalam Mengaplikasikan Ilmu di kalangan Mahasiswa UIN Sumatera Utara di Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Dr. Hasrat Efendi Samosir, MA. Dosen UIN SU, Pembimbing KKN DR KS  kelompok 120 Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Atmosfir dunia akademik tidak hanya menggeluti ilmu pengetahuan, namun juga dituntut untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam dunia kampus dikenal Tri Dharma perguruan Tinggi sesuai dengan Undang-Undang Perguruan Tinggi yang dikeluarkan pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional. Tri Dharma PT tersebut meliputi, dharma pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiganya harus sejalan, linier dan simultan sebagai sebuah sistem yang teritegrasi dan saling melengkapi. Aspek pendidikan/pengajaran akan berkembang melalui riset atau peneltian, sedang pendididikan/pengajaran dan penelitian tersebut baru bermanfaat atau ada nilai kegunaannya jika dilakukan pengabdian kepada masyarakat yang bersumber atau berbasis pendidikan/pengajaran dan penelitian tersebut. Model pengabdian masyarakat yang populer di dunia akademi di kalangan mahasiswa adalah melalui kegatan KKN (Kuliah Kerja Nyata), di UIN Sumatera Utara (dulu IAIN Sumatera Utara), menjadi sebuah kewajiban bagi mahasiswa, sedangkan dosen berperan sebagai pembimbing lapangan (DPL). KKN ini dibuat dua bentuk yakni, KKN Mandiri dan Kolektif. Sebelum diadakan KKN, maka dilaksanakan survey lapangan terkait kesediaan masyarakat dalam menerima peserta sebagai lokasi, pengenalan kultur setempat dan kersajama dengan pemerintah desa yang dijadikan lokasi KKN. Model ini lazim dan sudah terlaksana sedemikian rupa dan memiliki panduan yang lengkap dan jelas. Akan tetapi munculnya penyakit yang melanda dunia secara global (pandemi) Covid-19 menyebabkan model KKN konvensional yang berlaku selama ini harus dimodifikasi dan dicarikan terobosan inovatif dan solutif agar kegiatan akademi tetap berjalan dan produktif walau musibah global sedang melanda. Pandemi Covid-19 yang mengharuskan setiap orang untuk mencuci tangan, menjaga jarak sosial dan fisik, meningkatkan imun tubuh dan mengurangi kontak langsung menuntut mahasiswa dan dosen untuk lebih stay at home (tetap di rumah), sementara tuntutan akademi mewajibkan dilaksanakan KKN sebagai bentuk pengabdian masyarakat. KKN DR KS yang disingkat dari (Kuliah Kerja Nyata Di Rumah dan Kerja Sosial) menjadi sebuah ide brilian dan visioner sebagai solusi menghadapi pandemi Covid-19 disatu sisi dan program KKN sebagai amanah kurikulum disisi lain. Model KKN DR KS ini diawali dengan pembekalan yang disampaikan Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN SU Prof. Dahlia Lubis, MA, Ph.D dan kepala Pusat penelitian Prof. Dr Pagara Hasibuan, MA serta tim sekretariat IT Pusat Pengadian Masyarakat Riyandri, MuD dengan menjelaskan langkah-langkah dan standart operasional prosedur sesuai buku pedoman KKN DR KS yang sudah disusun dan dirumuskan dengan berbagai masukan dan penyempurnaan. KKN DR resmi dilepas Rektor UIN SU Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag diikuti 4618 mahasiswa secara daring tanggal 13 Juli 2020. Sebuah pembekalan melalui daring diikuti peserta terbesar melalui media IT termasuk live streaming youtube di https//youtu.be/kwtc2idNIVE dan diumumkan secara resmi melalui jejaring media sosial baik bagi dosen pembimbing maupun mahasiswa sebagai peserta. Mahasiswa dituntut untuk melaksanakan program dengan membuat video hasil penelitian dan ide karya ilmiah yang dimiliki untuk dipublikasi secara luas kepada publik melalui video youtube, jurnal online dan media cetak. Setiap mahasiswa harus membuat masing-masing minimal 3 karya peneltian kelompok dan tugas individu berupa jurnal atau tulisan di media online dan cetak. Sebagai dosen pembimbing saya memberikan petunjuk teknis […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Tantangan Akademisi ITB Beradaptasi dengan E-Learning sebagai Sistem Pembelajaran Utama

Penulis: Aqilah Nurul Khaerani Latif Staf Peneliti Pusat Perencanaan dan Pengembangan ITB Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Kilas balik di awal kemunculan pandemi Covid di Indonesia. Lock down bagi dunia pendidikan menjadi kebijakan yang mutlak, bahkan sampai hari ini, dimana kita telah melalui kurang lebih 8 bulan pasca covid di Indonesia. Bagaimana kita harus beradaptasi? Melalui E-learning. Apakah efektif? Ini menjadi tantangan para akademisi di dunia. e-learning yang dilakukan sebelum wabah covid 19. Salah satu dosen ITB yang berada di Canada dan mahasiswa di ruang multimedia SAPPK ITB melakuka proses pembelajaran menggunakan e-learning ITB E-learning di sejumlah universitas bergengsi Indonesia bukanlah hal yang baru. Fasilitas tersebut telah ada beberapa tahun sebelum wabah covid 19 menyebar ke Indonesia. Dimulai perubahan paradigma pada tahun 2010 dimana staf pengajar bukan lagi sebagai sumber pengetahuan melainkan menjadi fasilitator. Hal ini didasari pada peningkatan kualitas pendidikan dengan mendorong peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran. E-learning menjadi salah satu tools yang digunakan. Hal serupa terjadi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejak tahun 2016, ITB meluncurkan management learning system (LMS) untuk menunjang proses pembelajaran melalui daring. E-learning ITB mengacu pada platform berbasis model dengan menerapkan konstruktivism pedagogi yang mana pembelajaran melalui e-learning bertujuan untuk membangun keaktifan dan daya kritis peserta didik. Akan tetapi, sampai Februari 2020, e-learning dinilai belum efektif dikarena masih sebagai tools alternatif. Penggunanya masih berkisar ribuan orang. Wabah Covid 19 di pertengahan Maret 2020 memaksa proses pembelajaran 100% melalui e-learning. Bagi ITB, kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas e-learning yang awalnya hanya menampung ribuan pengguna, sekarang menjadi jutaan pengguna. Tidak dipungkiri, terkadang perubahan besar membutuhkan kondisi yang memaksa seperti halnya Edunex (LMS yang dikembangkan ITB). Pengembangkan LMS baru ini dibuat agar lebih mudah digunakan dan dapat melayani jutaan pengguna. Edunex baru digunakan secara serentak sejak Mei 2020 oleh ratusan dosen pionir yang mengikuti program “Pemutakhiran Bahan Kuliah ITB” dan ribuan mahasiswa peserta kuliah dan ujian. LMS ini juga dilengkapi video tutorial agar mudah diaplikasikan ke pengguna akun. Contoh fitur merancang proses pembelajaran di E-Learning ITB Dulunya, e-learning diposisikan sebagai ruang kelas alternatif. Ini menjadi solusi para akademisi yang sedang berada di luar negeri sehingga telekonferensi menjadi akrab digunakan. Namun, pembelajaran beralih ke e-learning seiring penyebaran covid 19 yang meluas. Saat ini, e-learning bukan saja sebagai penganti ruang kelas, juga sebagai pengganti sistem pembelajaran utama. Fitur – fitur e-learning mulai dikembangkan untuk mengelola kelas secara menyeluruh seperti pembuatan video ajar, pengunggahan materi pembelajaran dan silabus, pengunggahan materi tugas (individu dan kelompok), kuis, dan ujian, pengisian nilai mahasiswa, serta penjadwalan tata muka perkuliahan berbasis virtual. Secara umum, terdapat 7 (tujuh) keunggulan LMS Edunex ITB yaitu 1. Expandability, sehingga dapat mengakomodasi fitur-fitur baru yang spesifik untuk keperluan program-program studi tertentu yang sedang disiapkan. 2. Compatibility, dimulai dengan kemudahan salin-tempel rumus Microsoft Equation dan embed video YouTube. 3. Interactivity, yaitu adanya alat komunikasi antara dosen dan para mahasiswanya, baik yang synchronous vicon maupun yang asynchronous forum. 4. Seamless integration, yaitu integrasi data kelas, dosen, mahasiswa, serta fitur single sign on […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Revolusi Akademik dan Budaya Organisasi Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

 Penulis: Relly Margiono Dosen STMKG Tangerang Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  I. Latar Belakang Dunia pendidikan di Indonesia sedang mengalami perubahan yang sangat drastis. Perubahan drastis ini terutama diakibatkan adanya pandemi Covid-19 yang menuntut setiap satuan pendidikan tidak melakukan proses belajar mengajar sebagaimana biasanya. Melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) bernomor: 03/KB/2020, 612 Tahun 2020, HK.01.08/Menkes/502/2020, 119/4536/SJ mengharuskan kegiatan belajar mengajar secara luring hanya dapat dilakukan di daerah yang merupakan zona hijau dan kuning dari keterpaparan pandemi covid-19. Selain dari zona hijau dan kuning, pembelajaran harus dilakukan secara daring atau Belajar Dari Rumah (BDR). Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), merupakan sekolah kedinasan di bawah koordinasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menanggapi kagawatdaruratan pandemi Covid-19, Kepala BMKG melalui edaran bernomor : INS.1/KB/III/2020, INS.2/KB/III/2020 dan INS.3/KB/III/2020 memberikan arahan tentang proses kerja pegawai BMKG dalam penyesuaian kondisi pandemi. Menanggapi edaran tersebut, Ketua STMKG melalui surat edaran TU.00.00/384/KSTMKG/III/2020 memerintahkan untuk civitas akademika STMKG menggunakan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam melaksanakan perkuliahan. Pada penerapan pembelajaran jarak jauh, STMKG memiliki beberapa alternatif dalam pelaksananya baik berupa kegiatan belajar mengajar, ujian dan bahkan wisuda. Selain daripada itu, organisasi kemahasiswaanpun mengalami transformasi digital yang menuntut kreativitas dari mahasiswa. Hal yang terpenting lainya adalah telah terjadi perubahan budaya organisasi yang signifikan di STMKG seperti metode rapat online, prosedur administrasi, dan kegiatan eksternal yang dilaksanakan berbeda dari pada biasanya. Pada tulisan kali ini, penulis akan menyampaikan tentang upaya STMKG dalam menghadapi Covid-19 dari sisi adaptasi teknologi pembelajaran dan perubahan budaya kampus dan tentunya dalam hal Revolutionize Education. II. Adaptasi Teknologi Pembelajaran STMKG di Masa Pandemi Covid-19 STMKG sebagai sekolah kedinasan tentu harus menghasilkan lulusan sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) di level 6 dan selaras dengan Standar Nasional Perguruan Tinggi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020. Untuk menuju kepada hal tersebut, STMKG harus tetap menjalankan proses bisnis belajar mengajar walau dalam kondisi pandemi. Oleh karena itu, serangkaian adaptasi teknologi dilakukan yaitu dengan menggunakan tools seperti Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) dan seperangkat sistem informasi lainya. Gambar 1. Sistem Informasi Akademik (SIMAS) STMKG. Administrasi pembelajaran STMKG di masa pandemi menggunakan Sistem Informasi Akademik yang disebut sebagai SIMAS (Gambar 1). Melalui SIMAS, baik dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi secara virtual dan tidak terkendala oleh jarak dan waktu. Sebagai contoh, dosen dapat melakukan absensi mahasiswa melalui SIMAS dengan menggunakan QR code, dan dapat melakukan interaksi tanya jawab melalui forum kelas yang terdapat pada SIMAS. Selain daripada itu, dosen juga dapat memberikan materi pembelajaran melalu SIMAS dan dapat memberikan tugas melalui sarana tersebut. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah, seluruh catatan pembelajaran terdokumentasi dengan baik melalui metode ini, sehingga proses penjaminan mutu tetap dapat dilakukan. Pada proses belajar mengajar, dosen STMKG diwajibkan melakukan interaksi virtual tiga kali sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) dan tiga kali setelah UTS. Hal ini dilakukan agar […]