Berita & Artikel

Kompetisi Menulis

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Revolusi Pendidikan STIE Cendekia Karya Utama Semarang

Penulis: Yudho Purnomo  STIE Cendekia Karya Utama Semarang Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Kondisi Pandemi membuat semua manusia segera mengambil kebijakan untuk bisa bertahan hidup,memutus penularan Covid-19 dengan social distancing hingga diterapkannya new normal. Pandemi ini berdampak ke segala bidang salah satunya bidang pendidikan. Pembelajaran daring ini mempengaruhi rancangan pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka di kampus. Pembelajaran daring menuntut dosen harus menentukan media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mahasiswa. STIE CendekiaKU (Cendekia Karya Utama) tetap berkomitmen menyelenggarankan pembelajaran daring dengan tanpa mengurangi mutu dari pembelajaran dan mutu lulusan, apa yang sebelumnya biasa dilakukan secara tatapmuka tetap bisa dilaksanakan tanpa mengurangi mutu dari pembelajaran. Perlu diketahui media pembelajaran merupakan salah satu saluran atau alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi materi yang mampu mendukung proses pembelajaran. Seiring perkembangan teknologi STIE CendekiaKU menggunakan berbagai media pembelajaran diantara WhatsApp group, Zoom Meeting, Google Classroom, Google Meet, Google Hangout dan sebagainya. STIE CendekiaKU (Cendekia Karya Utama) tetap berkomitmen membekali mahasiswa dengan pendidikan keahlian Logistik yang menjadi keahlian andalan di STIE CendekiaKU. Pelatihan Logistics Administrative Officer (LAO) dilaksanakan selama 2 bulan yang sertifikat nya diakui  oleh ASEAN. Pelatihan LAO dilakukan sebelum pelaksanaan  program mahasiswa praktek kerja (PRAJA) dengan standar protokol kesehatan, setelah melalui pendidikan LAO mahasiswa diharapkan sudah memiliki bekal kemampuan secara teori dan praktik sehingga secara mahasiswa siap terjun ke dunia kerja dan harapannya setelah lulus langsung siap kerja. PRAJA merupakan kurikulum yang dapat membantu mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja dan data kuantitatif maupun kualitatif sebagai bahan mahasiswa menyelesaikan skripsinya. Sehingga mahasiswa STIE CendekiaKU tidak berlama-lama dalam menyelesaikan skripsi dan juga sudah siap kerja sekaligus memiliki keahlian LAO. Perlu digaris bawahi bahwasanya apapun jenis media pembelajarannya tidak akan menjamin keberhasilan dalam proses pembelajaran, jika dosen dan mahasiswa tidak dapat memanfaatkannya dengan baik.

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Perguruan Tinggi dengan Revolutionize Education di Era New Normal

Penulis: Widodo STIKES Notokusumo Yogyakarta Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Revolutionize Education atau Revolusi Pendidikan di Perguruan Tinggi adalah revolusi gaya belajar para mahasiswa dan revolusi gaya mengajar oleh para dosen. Semenjak masa pandemi yang dimulai pada bulan Februari 2020 berdampak banyak perubahan di tatanan perguruan tinggi terutama dalam menerapkan pembelajaran yang kondusif dan dapat mencapai target pembelajaran yang akan dicapai. Sistem pendidikan yang dulunya dilakukan secara luring harus beralih ke sistem daring. Seorang professor pendidikan dari Harvard University, Howard Gardner, mengenalkan delapan jenis kecerdasan; kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan jasmani-kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Delapan jenis kecerdasan tersebut menghasilkan jawara-jawara di bidangnya masing-masing, sebut saja Goenawan Muhammad ataupun K.H. Abdullah Gymnastiar dengan kecerdasan linguistiknya, Albert Einstein ataupun pakar telematika Roy Suryo dengan kecerdasan logika-matematikanya, Affandi ataupun Basuki Abdullah dengan kecerdasan visual-spasialnya, Melly Goeslow ataupun Dhani Ahmad dengan kecerdasan musikalnya, Susi Susanti ataupun Dedy Mizwar dengan kecerdasan jasmani-kinestetiknya, Purdhi E. Chandra ataupun Andy F. Noya dengan kecerdasan interpersonalnya, Eleanor Rosevelt dengan kecerdasan intrapersonalnya, dan sebut juga Prof. Hembing dengan kecerdasan naturalisnya. Tetapi ironisnya, segala perbedaan latar belakang dari jenis kecerdasan-kecerdasan yang cemerlang tersebut harus diukur dengan sebuah alat yang sama di bangku pendidikan kita, nilai matematis dan linguistis. Seakan-akan para olahragawan, musisi, pelukis, ahli matematika, pemasar, orator, arsitek, penulis, akuntan, ahli hukum, politisi, ahli permata, juru masak, dokter dan programmer komputer yang berprestasi cemerlang semuanya punya bakat yang sama. Maka perlu adanya penilaian yang objektif dalam mendukung terciptanya revolusi pendidikan di era pandemi dengan keterlibatan aktif mahasiswa di dalam perkuliahan. Masing-masing manusia memiliki rangkaian otak dan kemampuan yang berbeda-beda, preferensi yang tidak sama satu dengan lainnya, sehingga manusia juga akan menerima informasi, menyimpan pengetahuan, dan mengambilnya kembali dengan cara yang berbeda-beda, ringkasnya setiap manusia masing-masing memiliki gaya belajar dan memahami sesuatu secara berbeda. Ketika preferensi gaya belajar yang berbeda-beda tersebut difasilitasi hanya dengan satu model kelas tradisional – mahasiswa harus duduk tegak dan diam, belajar hanya dengan mendengar dan membaca, dan dituntut memahami permasalahan dengan satu cara yang dosen ajarkan sehingga tentu saja menyebabkan beberapa hal yaitu membatasi kreatifitas mahasiswa untuk mencari ilmu pengetahuan secara mandiri. Oleh karenanya di masa pandemi ini dengan menggunakan SEVIMA, mahasiswa tetap terfasilitasi dalam belajar dan dapat eksplore lebih jauh mengenai kebebasan dalam belajar sehingga bisa dipastikan tidak terjadi akibat yang fatal pada pribadi anak apabila dapat memanage waktu belajar dengan baik selama daring, terutama yang memiliki preferensi gaya belajar berbeda seperti saat ini, timbulah kecemasan, frustasi, kebosanan, ketegangan, dan penurunan motivasi mahasiswa. Oleh karena itu perlu dukungan penuh dosen dalam menciptakan kelas yang kreatif (umpan balik) antara mahasiswa-dosen dan sebaliknya. Maka mutlak revolusi pendidikan dalam hal gaya belajar diperlukan. Untuk mendukung atmosfer ketertarikan mahasiswa dalam perkuliahan  “tidak mungkin akan ada inovasi penting dalam pendidikan apabila tidak berpusat pada sikap dosen, keyakinan, asumsi, perasaan, yang membentuk atmosfer dalam lingkungan belajar; yang menentukan kualitas pendidikan”. “Bukan mahasiswa yang harus memikul tanggung jawab sepenuhnya dalam belajar, melainkan dosen dan keterlibatan IT  yang mempunyai tanggung jawab dalam mengidentifikasi kekuatan gaya […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Revolusi Salah Satu Kampus Swasta di Bengkulu di Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Hari Aspriyono Universitas Dehasen Bengkulu Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Tahun 2020 hampir selesai, 10 bulan telah berlalu dengan penuh warna warni kehidupan di negeri ini. Pandemi Covid-19 telah menjadi aktor yang memaksa perubahan di berbagai bidang seperti bidang kesehatan, ekonomi dan juga pendidikan. Dunia pendidikan telah mengalami perubahan besar dengan adanya Pandemi Covid-19. Sekolah dan kampus yang dulu ramai, terlihat sepi di masa pandemi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang No. 20 Tahun 2003). Dalam pendidikan terdapat proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang selama ini mayoritas diselenggarakan dengan sistem tatap muka antara pengajar dengan siswa, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Namun sekarang semuanya berubah, dengan adanya Pandemi Covid-19 proses pembelajaran tatap muka harus dikurangi karena pertimbangan faktor kesehatan dan pencegahan penularan virus corona (covid-19). Karena pentingnya kesehatan dan pendidikan, maka keduanya harus tetap berjalan dan tidak boleh salah satu ditinggalkan. Generasi masa depan Indonesia harus sehat dan kuat. Generasi Indonesia harus cerdas dan berwawasan luas untuk menghadapi kehidupan di masa depan. Universitas Dehasen atau lebih dikenal dengan sebutan UNIVED adalah salah satu perguruan tinggi swasta di Provinsi Bengkulu. Sebagian besar mahasiswanya adalah warga Provinsi Bengkulu yang berasal di berbagai daerah mulai kota sampai pelosok desa. Diawal masa pandemi covid-19 dan pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (PJJ), berbagai masalah ditemukan, khususnya dalam proses pembelajaran di kampus ini. Semua itu karena perubahan proses pembelajaran yang begitu cepat, sehingga kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sangat dirasakan. Hal ini karena banyak faktor, mulai dari kebijakan perguruan tinggi, infrastruktur teknologi, Sumber Daya Manusia, dan juga kurikulum yang memang belum dipersiapkan untuk pembelajaran jarak jauh. Tentu masalah-masalah tersebut tidak bisa hanya dikeluhkan melainkan perlu adanya revosuli dari pihak universitas untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan Revolutionize Education. Revolusi yang dilakukan oleh Universitas Dehasen adalah dengan mengambil langkah cepat untuk berkoordinasi di level pimpinan universitas untuk membuat kebijakan dan konsep terkait dengan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), peningkatan kualitas infrastruktur teknologi, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) baik Dosen maupun Tenaga Kependidikan untuk memberikan layanan pendidikan dan administrasi yang memadai di masa pandemi covid-19. Dengan kebijakan dan konsep yang disiapkan oleh pihak universitas, maka semua pelaksana pendidikan di dalam universitas akan memiliki panduan yang jelas dalam pelaksanannya. Strategi yang dilakukan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah dengan memanfaatkan portal e-learning kampus yang dapat diakses melalui url : https://elearning.unived.ac.id dan Google Classroom untuk pelaksanaan pembelajaran secara asinkron. Pemanfaatan Zoom dan Google Meet untuk pelaksanaan pembelajaran secara sinkron maupun untuk keperluan seminar proposal dan sidang skripsi mahasiswa. Selain itu Dosen juga diwajibkan untuk berkomunikasi dengan mahasiswa dalam hal penggunaan teknologi untuk pembelajaran daring, mengingat mahasiswa yang tinggal di berbagai daerah, terkadang tidak terjangkau jaringan internet. Untuk itu Dosen harus kreatif dalam hal pemanfaatan teknologi, seperti penggunaan grup di media sosial atau aplikasi chating seperti Whatsapp atau Telegram. Penyajian […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Upaya Tenaga Pendidik dalam Proses Akselerasi Pendidikan di Masa Pandemi

Penulis: Elita Endah STIKES Banyuwangi Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Pada akhir tahun 2019 tepatnya di bulan Desember, dunia dikejutkan dengan sebuah virus yang sangat membahayakan bagi kesehatan tubuh manusia, yaitu Virus Corona atau yang dikenal dengan Covid-19. Virus ini muncul pertama kali di kota Wuhan, Provinsi Hubei, RRC. Pada manusia, Virus Corona menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang cukup berbahaya dan memiliki akibat yang fatal jika tidak segera diobati. Selain itu, penularan Covid-19 ini juga tergolong cepat. Negara yang terpapar Virus Corona ini sudah tembus hingga 200 negara, salah satunya adalah Indonesia . PANDEMI virus korona (Covid-19) yang terjadi di Tanah Air sejak Maret lalu menimbulkan dampak bagi berbagai sektor, termasuk pendidikan tinggi. Untuk mencegah agar penyebaran virus tidak menyebar di lingkungan perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak awal telah sigap merespons kondisi ini dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 Pada Satuan Pendidikan. Akibatnya, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta terpaksa meniadakan kegiatan belajar mengajar di kampus dan mengalihkannya menjadi pembelajaran jarak jauh. Berdasarkan survei yang dilakukan Kemendikbud pada akhir Maret hingga awal April 2020, 98% perguruan tinggi di seluruh Indonesia telah menjalankan pembelajaran daring. Padahal sejak tahun 2000 pemerintah sudah mempromosikan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, tapi susah sekali. Sedikit sekali perguruan tinggi yang memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran blended learning. Tapi pada masa pandemi ini dalam waktu hanya satu minggu tiba-tiba 8 juta mahasiswa menggunakan pembelajaran daring. Ini merupakan revolusi khususnya dibidang pendidikan yang luar biasa sekali. Pandemi ini memaksa kita semua untuk melakukan hal tersebut. Dalam menyampaikan bahan kuliah, materi pembelajaran, maupun asesmennya dan juga daya serap mahasiswa tidak berkurang. Ini suatu hal yang kita dapatkan dari pandemi ini , ternyata dalam memanfaatkan teknologi kita bisa, Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran daring juga masih ada kendala yang ditemui mahasiswa selama menjalani pendidikan jarak jauh (PJJ), di antaranya jaringan internet yang tidak stabil dan membutuhkan kuota internet yang cukup besar, terutama saat harus melakukan video conference bersama tenaga pendidik. Untuk mengatasi masalah tersebut, baik Ditjen Dikti Kemendikbud maupun pihak perguruan tinggi telah melakukan sejumlah up Pandemi Covid-19, memaksa belajar dari rumah menjadi kenyataan saat ini. Keterpaksaan untuk melakukan pembelajaran daring sudah harus terjadi. Sekalipun bukan bagian dari industri dalam artian memiliki motif utama untuk meningkatkan profit, tetapi pendidikan sedikit banyak harus bisa juga mengikuti perubahan model bisnis yang terjadi di dunia industri. Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang mendorong perguruan tinggi untuk bisa semakin menghubungkan dirinya dengan kebutuhan dunia industri menjadi contoh keniscayaan, bahwa pendidikan tidak bisa kalis atas revolusi industri yang terjadi. Keterpaksaan yang terjadi karena pandemi Covid-19, dimana proses  pembelajaran mengharuskan menghilangkan tatap muka dan ruang-ruang kelas mampu menjadi akselator pendidikan, aya seperti memberikan subsidi pulsa untuk mahasiswa. Pandemi Covid-19, memaksa belajar dari rumah menjadi kenyataan saat ini.keterpaksaan untuk melakukan pembelajaran daring sudah harus terjadi. Sekalipun bukan bagian dari industri dalam artian memiliki motif utama untuk meningkatkan profit, tetapi pendidikan sedikit banyak harus bisa juga mengikuti perubahan model bisnis yang terjadi di dunia industri. Penerapan Kerangka Kualifikasi […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
STIKES Banyuwangi di Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Suwarni Aswad STIKES Banyuwangi Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Tujuh bulan berlalu, Sejak Maret 2020 ketika Pemerintah Negara Indonesia menyatakan Virus Corona atau yang dikenal dengan Covid-19 telah masuk  ke Negara Indonesia dengan diawali oleh dua pasien positiv virus corona di Depok,  Jawa Barat.  Seperti yang sudah kita ketahui, virus ini menular  dengan sangat cepat melalui percikan dahak (droplet) yang kemudian menginfeksi saluran pernapasan dari infeksi ringan hingga berat seperti pneumonia dan dapat mengakibatkan kematian. Virus Covid-19 telah menyebar hampir ke seluruh dunia hingga menyebabkan Pandemi Global. Pandemi Covid-19 berdampak sangat besar kepada banyak sektor negara, baik dari sektor ekonomi, sektor kesehatan, sektor sosial budaya, sektor tenaga kerja maupun sektor pendidikan. Semua negara, bahkan pemerintah indonesia telah melakukan berbagai upaya mengatasi penyebaran pandemi ini dengan meredam dampak – dampak yang ditimbulkan, namun penyebaran virus corona di indonesia tetap melaju tinggi. Pencegahan dimulai dengan penerapan himbauan seringnya mencuci tangan, menggunakan masker hingga menjaga jarak  (Physical Distancing) dari siapapun. Tetap dirumah (Stay at home) hingga Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) pun telah diberlakukan. Dari sektor pendidikan, Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah sigap sedari awal mengambil langkah untuk melaksanakan pendidikan secara daring (dalam jejaring) atau pendidikan jarak jauh guna mencegah penyebaran covid-19 dikalangan pendidikan mulai jenjang pendidikan PAUD hingga Perguruan Tinggi dengan memanfaatkan teknologi cyber atau internet. Hal ini menjadikan perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Lebih tepatnya menjadi revolusi pendidikan (Revolutionize Education) di era baru. Siap atau tidak siap, Kemendikbud mengambil langkah mewajibkan seluruh lembaga pendidikan dari jenjang Paud hingga Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta melaksanakan pembelajaran jarak jauh  secara serentak dengan memanfaatkan teknologi cyber atau internet  (online) dan melarang pembelajaran tatap muka (offline) guna menekan penyebaran virus corona. Berdasarkan Ombudsman Republik Indonesia,  Revolutionize Education ini berkaitan erat dengan Revolusi Industri 4.0 yang dapat digunakan untuk mendukung pola belajar dan pola berpikir serta menciptakan inovasi dan kreatifitas para peserta didik guna mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan kompetitif. Revolusi Industri 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan proyeksi teknologi modern Jerman 2020 yang diimplementasikan melalui peningkatan teknologi manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan strategis, dan lain sebagainya. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan kehadiran robot, teknologi artificial intelligence ( AI ), machine learning, biotechnology, Internet of Things ( IoT) serta driverless vehicle. Pendidikan di era revolusi industri 4.0 menggambarkan berbagai cara dan metode  dalam mengintegritaskan teknologi cyber sepenuhnya dalam pembelajaran dengan harapan mampu merespon segala kebutuhan revolusi industri dalam situasi saat ini. Bahkan Dirjen PendidikanTinggi ( Dikti ) sudah mempromosikan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sudah sejak lama, namun mengalami kesulitan yang cukup signifikan karena masih banyak sekali perguruan tinggi yang belum memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran blended learning dimana pembelajaran di mediasi oleh teknologi komputer. Tetapi dengan adanya pandemi covid-19, membuat revolusi yang luar biasa dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, dimana semua kalangan baik pendidik maupun peserta didik terpaksa memanfaatkan teknologi dengan diterapkannya pembelajaran secara jarak jauh. Pandemi Covid-19 benar benar telah menjadi alasan Revolutionize Education. Bahkan di kampus kami, STIKES Banyuwangi, yang merupakan salah satu kampus kesehatan di […]

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Terpaksa Disrupsi Karena Pandemi

Penulis : Indri Sudanawati Rozas, M.Kom Staf Pengajar Prodi Sistem Informasi UIN Sunan Ampel Surabaya Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  #revolutionizeEducation Kalau kita bicara tentang disrupsi maka sudah cukup lama sebenarnya terminologi ini muncul di permukaan. Namun sayang sebagian orang masih enggan, entah karena enggan belajar, atau karena merasa disrupsi ini merepotkan, atau karena takut tersingkirkan. Tentu saja banyak alasan dari masing-masing sudut pandang. Dan pandemi merubah semuanya. Suka tidak suka, terpaksa ataupun bahagia, semua manusia masuk ke dalamnya. Ya, mau tak mau dunia terjun juga ke digital era. Para orang tua yang dulu menjauhkan gadget dari anaknya, sekarang dengan sukarela memberikan waktu kepada anaknya untuk bergadget ria. Ya karena ini adalah ruang belajar mereka. Tentu saja dibutuhkan kontrol dan pengawasan yang jauh lebih cekatan agar anak-anak tetap fokus belajar dibandingkan dengan bermain dan bersenang-senang. Di sisi yang lain para guru juga terpaksa ber-evolusi. Sebagaimana kita tahu, jika dulu platform YouTube hanya menjadi tempat menyenangkan bagi orang-orang yang memang menginginkan eksistensi dan keterkenalan, maka kini hampir semua orang yang berprofesi menjadi guru dan dosen menjadi youtuber dadakan. Tak terkecuali saya yang tadinya tak pernah membayangkan, ternyata saya akan menjadi youtuber juga pada masanya. Saya, adalah produk kolonial yang terpaksa mengikuti zaman. Kuliah melalui daring memaksa saya untuk merekam video materi, dan akhirnya untuk kali pertama saya mendengarkan suara milik sendiri, yang kemudian saya sadari jauh dari kategori merdu sekali. Pengalaman yang sungguh penuh arti. Bukan hanya masalah kendala suara tentu saja. Karena ini hambatan receh saja. Ada hal yang jauh lebih krusial untuk dipikirkan oleh para guru dan dosen yang kini namanya mulai berkibar. Bahwa dengan membuka diri dalam platform YouTube, para guru dan dosen harus memastikan bahwa materi yang ia berikan memang sesuai dengan standar kebenaran keilmuan yang diterima secara global. Mengapa demikian? Tentu saja, jika dulu ada seorang dosen atau guru melakukan kesalahan dengan mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai standar kebenaran keilmuan, maka belum tentu itu bisa diketahui (karena mahasiswanya juga tidak mengerti). Maka kini yang menjadi audience dari video yang ia unggah bukan hanya murid atau mahasiswa yang duduk di kelasnya, namun seluruh penduduk dunia dari level pendidikan apapun juga. Dan inilah yang menurut saya inti dari revolusi pendidikan. Di mana sekarang semua pengajar di seluruh dunia akan terawasi secara global. In case ada sebuah kesalahan yang fatal dalam sebuah video pengajaran, saya yakin para netizen tak akan segan untuk meninggalkan komentar untuk meluruskan. Di satu sisi hal ini mungkin terlihat memalukan bagi pemilik konten, apalagi komentar tersebut pasti terbaca oleh murid/mahasiswa yang bersangkutan. Tetapi sebenarnya ini adalah kontrol yang dibutuhkan agar kebenaran tetap menjadi kebenaran. Agar pendidikan memang mengajarkan hanya sesuatu yang benar, sesuai standar keilmuan global. Menurut saya inilah berkah dari pandemi yang sesungguhnya. Bukan begitu, pembaca? Sehingga, jika saya ditanya: siapa yang menjadi pemrakarsa utama dari disrupsi di seluruh dunia? Jawaban saya tegas sekali: pandemi.  

Nov

04

2020

...
Kompetisi Menulis
Revolusi Pendidikan di Kampus Merah Putih

Penulis: Panji Wijonarko Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation”  Senin pagi itu, langit terlihat sangat cerah, matahari dengan mudah menyinari bumi, khususnya  sebuah gedung 8 lantai di utara Jakarta. Dengan kombinasi warna merah dan putih di temboknya,  membuat gedung tersebut terlihat sangat ikonik. Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, atau bisa  disebut dengan UTA’45 Jakarta merupakan kampus swasta tertua di Indonesia. Salah satu kampus  nasionalis yang berlandaskan Pancasila, kampus merah putih yang selalu berkomitmen untuk  memajukan pendidikan di Indonesia.  Pagi itu merupakan hari pertama perkuliahan awal semester. Seperti biasa, kelas pertama di mulai  pukul 08.00 pagi, di Ruang Loket Perkuliahan, terlihat dosen yang sedari pagi bersiap memulai  perkuliahan awal untuk mengambil map absensi dan Berita Acara Perkuliahan (BAP). Tapi, ada yang  berbeda di hari itu, Loket perkuliahan tidak lagi memberikan map absensi dan BAP ke dosen, mereka  hanya memberikan dosen sebuah pouch berisi remote proyektor, spidol dan penghapus. Dosen pun  bertanya, “bagaimana nanti cara kami melakukan absensi mahasiswa dan menulis BAP?” Dengan  tenang, petugas loket memberikan penjelasan, “Bapak/ Ibu, mulai semester ini, kita sudah beralih ke  sistem yang baru bernama SIAKAD CLOUD, di mana nanti bapak bisa langsung mengabsenkan  mahasiswa/i bapak lewat siakad, atau bapak juga bisa mengarahkan mahasiswa untuk melakukan  absensi secara mandiri menggunakan scan barcode langsung dari aplikasi mobile phone mereka karena siakad juga dapat diakses melalui versi mobile phone android”. “Untuk BAP, Bapak/ Ibu bisa  langsung mengisi bap di dalam siakad, dan sebagai kelengkapan perkuliahan, RPS MK yang bapak/ ibu  ampu semua sudah tersedia di SIAKAD, dan bisa langsung di unduh. Bapak dosen pun tersenyum  hangat dan berkata, “baik, nanti mohon saya dipandu ya, sepertinya sistem yang saat ini sangat  menarik”. “Siap pak”, jawab sang petugas tak kalah antusias.  Mendekati Ujian Tengah Semester, di waktu dan tempat yang berbeda, sebuah ruang yang tadinya  selalu ramai dikunjungi mahasiswa untuk memenuhi kewajiban administrasi kuliah, terlihat agak  lenggang. Hmm, tidak seperti biasanya. Iseng saya bertanya ke petugas, “tumben nih, biasanya antrian  sudah panjang di tanggal segini?”. “Sekarang sistemnya sudah baik pak, mahasiswa bisa langsung  bayar biaya kuliah menggunakan virtual account, tagihannya pun lengkap ada di siakad mahasiswa,  jadi mereka gak perlu datang ke kampus hanya untuk bayaran, apalagi sedang pandemic seperti ini.  Saya tersenyum hangat mendengar hal tersebut, dalam hati saya berbicara, “baik, berarti sistem  sudah berfungsi dan bisa digunakan dengan baik oleh user”.  Pandemi Covid 19 membuat pendidikan di Indonesia harus survive, seluruh proses pembelajaran mau  tidak mau dilaksanakan lewat jarak jauh. UTA’45 Jakarta sudah menerapkan budaya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan modus ganda  (blended), sejak tahun ajaran 2017, sehingga proses adaptasi di pandemi ini menjadi tidak begitu  berat. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang sudah terintegrasi dengan sistem  akademik seperti edlink.id sangat membantu proses pembelajaran jarak jauh untuk dilakukan secara  maksimal. Integrasi kelas kuliah (jadwal, peserta, pengajar) ditambah dengan fitur materi, tugas dan  conference sangat mempermudah dosen dalam melakukan proses pembelajaran tanpa mengurangi  mutu dari pembelajaran itu sendiri. Pendidikan itu penting, bahkan tanpa bangku dan kelas, pendidikan harus tetap bisa berjalan.  Tema […]

Okt

07

2020

...
Event SEVIMA | Kompetisi Menulis
Ayo Ikuti! Kompetisi Menulis Artikel Pendidikan Berhadiah 5 Juta Rupiah!

SEVIMA.COM – Pandemi yang tengah mewabah saat ini tidak jadi penghalang buat tetap produktif dan mengasah daya pikir kreatif. Apalagi buat rekan-rekan yang ingin menuangkan ide brilian melalui menulis karya ilmiah. Ada kabar baik untuk para akademisi Perguruan Tinggi di Indonesia, saat ini SEVIMA mengadakan Kompetisi Menulis #revolutionizeEducation 2020, dengan tema “Revolusi seperti apa yang dilakukan kampus Anda di masa pandemi ini?” Jadi, rekan-rekan boleh menuliskan terkait apapun yang dilakukan untuk perguruan tinggi anda dalam mengatasi pandemi seperti; revolusi teknologi kampus, revolusi budaya kampus, cara-cara baru, tips dan trick atau boleh juga sharing strategi yang digunakan kampus anda saat ini. Makin penasaran? Yuk simak info jadwal kompetisi dan ketentuannya berikut ini ya! Tema: “Revolusi seperti apa yang dilakukan kampus Anda di masa pandemi ini?” Peserta: Kompetisi ini terbuka bagi semua akademisi Perguruan Tinggi di Indonesia Jadwal Kompetisi: – Pengumpulan Artikel: 8 – 31 Oktober 2020 – Penjurian: 1 – 3 November 2020 – Pengumuman Juara: 4 November 2020 Ketentuan Kompetisi: 1. Kirim atau tulis artikel melalui Website SEVIMA, caranya: Buka web Sevima.com lalu klik ‘Tulis Artikel’ yang ada di pojok kanan atas Bila sudah terdaftar, Anda akan masuk ke dashboard. Namun, bila belum, silakan daftar membuat akun dulu untuk bisa mengirim artikel Setelahnya masuk dashboard, Pilih menu Pos > Tambah Baru yang ada di kiri atas untuk bisa menuliskan artikel Anda Bila artikel sudah selesai, pilih ‘Kirim untuk Evaluasi’ sebelah kanan Artikel Anda telah terkirim dan siap untuk diseleksi. 2. Panjang tulisan yang dikirim minimal 400 kata, dengan menggunakan tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar 3. Setiap artikel yang dikirimkan wajib menyertakan keyword Revolutionize Education 4. 20 Tulisan terpilih akan ditayangkan di Website Sevima.com. Link artikel akan dibagikan kepada peserta untuk dipromosikan di media sosial masing-masing 5. Tulisan disertai minimal satu foto atau gambar pendukung di dalam artikel 6. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 karya 7. Tulisan merupakan karya original, tidak plagiat, dan belum pernah ditampilkan di media lain 8. Jangan lupa, konfirmasi keikutsertaan Anda melalui email: komunitas@sevima.com, dengan subjek: Kompetisi Menulis Sevima_Nama_Asal Kampus *NB: Jadwal & ketentuan bisa berubah sewaktu-waktu, sesuai kesepakatan panitia. Hadiah: Akan dipilih dua pemenang utama (berdasarkan penilaian juri internal) dan dua pemenang favorit (berdasarkan voting dan view terbanyak di website). – Juara I: Uang tunai 2 juta rupiah + merchandise SEVIMA + E-certificate – Juara II: Pemenang II: Uang tunai 1,5 juta rupiah + merchandise SEVIMA + E-certificate – Juara Favorit I: Uang tunai sebesar 750 ribu rupiah + merchandise SEVIMA + E-certificate – Juara Favorit II: Uang tunai sebesar 750 ribu rupiah + merchandise SEVIMA + E-certificate Pemenang akan diumumkan melalui Website dan akun media sosial SEVIMA pada 4 November 2020 dan penyerahan hadiah akan dilakukan setelah pengumuman pemenang. Jadi jangan lupa follow juga akun media sosial SEVIMA. – Website SEVIMA: https://sevima.com/ – Instagram: https://www.instagram.com/sevima_official/ – Facebook: https://www.facebook.com/SentraVidyaUtama/ Yuk, rekan-rekan SEVIMA, mari ikuti kompetisi ini. Sebagai upaya untuk sama-sama bergerak mengoptimalkan revolusi pendidikan di Indonesia! Dan bila ada pertanyaan terkait kompetisi ini, silakan hubungi panitia kompetisi, via email: komunitas@sevima.com