Kompetisi Menulis

ACADEMIC BLOGGING: MENEROBOS BATAS RUANG KELAS

Penulis: Sidiq Harim
Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

“Not all classrooms have four walls” —anonim

Era digital membuka ruang revolusi pendidikan, Covid-19 mengakselerasikannya. Saat ini kita semua sedang berada dalam sebuah eksperimen besar, mencoba cara baru belajar dan mengajar baik secara metode maupun teknik pembelajaran. Kita mengalami masa dimana transisi ke platform daring bukan lagi pilihan, tapi menjadi suatu keharusan akibat adanya physical distancing. Tengah berlangsung revolusi pendidikan yang menerobos dinding-dinding ruang kelas.

Saya dan beberapa kolega dosen menginisiasi inovasi metode pembelajaran untuk salah satu matakuliah kami yang kami beri judul “Academic Blogging”. Inisiasi ini kami mulai sejak 2019 di bawah bendera Revolusi Industri 4.0. Pandemi Covid-19 memaksa program ini untuk tetap berjalan. Semoga dengan sharing pengalaman di sini dapat menambah referensi pembaca yang sedang mencari ide untuk Revolutionize Education.

Apa itu Academic Blogging?

Academic blogging adalah sebutan inovasi pembelajaran daring yang istilahnya kami ambil dari The Digital Scholar karya Martin Weller (2011). Dengan istilah ini, kami mendesain metode belajar yang mengintegrasikan antara teori dan praktik, ilmiah dan populer, belajar dan bekerja, perguruan tinggi dan industri. Mahasiswa diajarkan tentang teori sesuai Silabus, lalu praktik menulis sebagai kontributor konten di blog akademik yang disediakan oleh dosen pengampu. Gagasan mengenai blog akademik sebenarnya bukan hal baru. Beberapa akademisi telah mengampanyekan pemanfaatan ruang online untuk pendidikan, termasuk academic blogging.

Kami mengadopsi gagasannya sebagai dukungan untuk memperbanyak konten bermutu di ruang online. Jika laman website tidak didominasi oleh konten yang bermutu, maka konten lain yang akan mengisi. Sayangnya, kita memerlukan sebuah virus untuk benar-benar terlibat dalam gerakan ini. Saat ini, konten pendidikan berekspansi di kanal-kanal Youtube, Instagram, Blog dan sebagainya. Covid-19 memang dibenci, tapi disisi lain ada gunanya juga. Anyway, kita kembali ke metode Academic blogging sebagai revolusi pembelajaran. Bagaimana menerapkannya?

Penerapan Metode Academic Blogging

Metode yang kami terapkan sangat simpel. Di paruh semester awal, mahasiswa mempelajari teori sesuai Silabus. Proses ini dilakukan bisa di ruang kelas atau secara daring. Di paruh kedua, mahasiswa membuat karya yang bisa di upload di blog akademik. Karya yang dibuat oleh mahasiswa bisa dalam bentuk tulisan, podcast, video, gambar atau lainnya sesuai minat dan kemampuan yang hendak dikembangkan mahasiswa. Karya itu harus berangkat dari pengetahuan yang sudah dipelajari di paruh semester awal.

Academic blogging menggunakan website yang didesain oleh pengampu sebagai platformnya. Dosen pengampu menyiapkan websitenya, mahasiswa mengisi kontennya. Keduanya sama-sama belajar. Dosen pengampu tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga manajer website dan editor konten yang menyeleksi konten mana yang layak diterbitkan, mana yang perlu direvisi, mana yang ditolak. Dengan ini, dosen belajar mengelola sebuah platform digital dan mahasiswa belajar untuk bekerja sebagai kontributor konten.

Apa kelebihannya bagi peserta didik dan pendidik?

  • Peningkatan skill manajemen blog dan konten kreator
  • Kontribusi konten berkualitas di platform digital
  • Meninggalkan kekhawatiran terhadap tren digitalisasi

Cara belajar ini diorientasikan untuk membantu peserta didik menangkap peluang-peluang kerja ke depan yang didominasi oleh wacana digitalisasi. Konten kontributor jangan dipahami dalam arti sempit, seperti pekerjaan di digital agency atau jadi Selebgram atau Youtuber. Konten kontributor adalah menghasilkan konten yang berkualitas, bermutu, disampaikan secara terbuka, dan mendapat peluang untuk ditanggapi langsung oleh publik, sebagaimana kita blogging atau bermedia sosial. Dengan begitu mahasiswa memperoleh pengalaman dan skill masa depan tanpa takut terancam oleh tren digitalisasi.

Menghasilkan konten yang berkualitas dan bermutu di blog akademik juga nantinya bisa dimanfaatkan sebagai portofolio mahasiswa. Apa yang sudah dihasilkan oleh mahasiswa terekam di website karena karakteristik platform yang merekam otomatis konten yang masuk. Mahasiswa bisa memanfaatkan konten yang dibuatnya sebagai karya untuk diceritakan ketika cari kerja. Pertanyaan HRD soal pengalaman kerja bisa dijawab dari sini.

Revolusi pendidikan semakin jadi tuntutan di tengah derasnya arus digitalisasi dan ketidakpastian global. Menerobos dinding ruang kelas bisa dimulai dengan cara sederhana, termasuk dengan academic blogging. Sekarang ini, kendala teknis menerapkan digitalisasi pembelajaran bukan jadi penghalang. Konsultan dan pengembang teknologi informasi di sektor pendidikan bisa mengawal inisiasi akademisi merevolusi proses pengajaran yang menerobos batas-batas ruang kelas.

Bagikan artikel ini

Komentar