8 Hari Lagi - Sebelum Event Webinar: Strategi Sukses Mengelola Administrasi Keuangan Sekolah & Yayasan Pendidikan Dimulai.

Selengkapnya
Kontak Kami

Dunia Kampus • 13 Oct 2023

Cara Menyusun Kurikulum Berbasis OBE untuk Menunjang Kegiatan MBKM

Liza SEVIMA

SEVIMA.COM – Peluncuran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah membawa perubahan  untuk memerdekakan mahasiswa dalam menentukan jalur pendidikannya. Program MBKM dirancang agar lulusan memiliki softskill dan hardskill yang relevan dengan dunia kerja. 

Adanya MBKM ini, selaras dengan tujuan kurikulum Outcome Based Education (OBE) yang berfokus bahwa pencapaian pembelajaran tidak hanya di materi namun juga outcome. Lalu, bagaimana menyusun kurikulum OBE berbasis MBKM agar efektif?

Baca juga: Apa Itu OBE, Penerapan dan Penilaiannya?

Tahap Perencanaan 

Mekanisme penyusunan kurikulum berbasis OBE akan dirancang mengikuti kebijakan universitas, fakultas, dan analisis SWOT pada evaluasi program studi. Rancangan kurikulum OBE harus selaras dengan Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang didukung oleh keragaman bentuk pembelajaran. 

Mahasiswa diberikan fasilitas untuk menempuh studi dalam 3 semester. Maka pemenuhan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang ditetapkan Program Studi (Prodi) akan sama namun  dengan bentuk kegiatan pembelajaran yang berbeda. Rujukan dari merancang CPL untuk kurikulum dilakukan dengan penelusuran tracer study atas kebutuhan pasar dari lulusan. 

Sehingga, perumusan kurikulum akan disesuaikan dengan hasil profil lulusan akan dapat menjadi acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran sesuai capaian pembelajaran. Lalu data akan diolah oleh tim pengembangan kurikulum. Melalui data ini, tim pengembang kurikulum dapat memetakan kegiatan MBKM yang relevan dengan kebutuhan industri dan kajian ilmu program studi.

Tahapan Penyusunan Dokumen Kurikulum

Tahapan Penyusunan Dokumen Kurikulum

Tahap Pelaksanaan

Pada tahap implementasi sesuai dengan yang diatur dalam SN-Dikti pada pasal (14) dan konversi SKS diatur pada pasal (19). Pemilihan bentuk pembelajaran dalam aktivitas belajar mahasiswa pada mata kuliah dapat digunakan untuk mengestimasi waktu belajar yang akan dihitung bobotnya pada sks mata kuliah. 

Bentuk pembelajaran satu SKS serta kegiatan proses dan estimasi waktu pembelajaran

Bentuk pembelajaran satu SKS serta kegiatan proses dan estimasi waktu pembelajaran

Program MBKM yang terdiri dari berbagai bentuk adalah wujud pembelajaran SCL yang esensial. Bentuk pembelajaran tersebut memberikan mahasiswa tantangan dan kesempatan dalam mengembangkan kreativitas dan kepribadian. 

Kebijakan MBKM bertujuan untuk mendorong mahasiswa mendapatkan pengalaman  belajar dan berbagai kompetensi di luar program studi di luar kampus. Maka hal ini selaras dengan prinsip kurikulum OBE yang menilai mahasiswa melalui outcome yang  didapatkan mahasiswa. 

Hak Belajar Mahasiswa Program Sarjana (S) dan Sarjana Terapan (ST)

Hak Belajar Mahasiswa Program Sarjana (S) dan Sarjana Terapan (ST)

Untuk mewujudkan kurikulum OBE berbasis MBKM, maka ada 4 hal yang diperhatikan:

  1. Fokus pada pencapaian CPL
  2. Pemenuhan hak belajar selama 3 semester dengan kompetensi tambahan yang selaras dengan dengan CPL Prodi. 
  3. Implementasi MBKM mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan profil atau ruang lingkup pekerjaan.
  4. Kurikulum yang dirancang bersifat fleksibel dan mampu beradaptasi dengan IPTEKS (scientific vision) dan tuntutan bidang pekerjaan (market signal).

Proses implementasi kurikulum akan berpusat pada mahasiswa atau Student Centered Learning (SCL). Artinya SCL dimaksudkan sebagai CPL yang diraih melalui pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, kebutuhan, dan mengembangkan kemandirian mahasiswa dalam menemukan pengetahuan. 

Tahap Monitoring dan Evaluasi

Perubahan kurikulum akan didasari oleh beberapa hal yakni perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, kebutuhan pengguna lulusan, dan hasil evaluasi keberlanjutan. Pada tahap evaluasi kurikulum bertujuan untuk perbaikan continue melalui dua tahap yakni formatif dan tahap sumatif. 

Evaluasi formatif akan memperhatikan tingkat tercapainya CPL. Tingkat tercapainya CPL akan dilakukan melalui ketercapaian CPMK dan Sub-CPMK yang ditetapkan oleh prodi pada awal semester untuk kurikulum OBE berbasis MBKM ini dirancang. 

Ada beberapa metode evaluasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kurikulum antara lain

  1. Model Evaluasi Formatif-Sumatif 
  2. Model Evaluasi Dikrepansi Provus 
  3. Model Evaluasi Daniel Stufflebeam’s CIPP (Context, Input, Process, Product) 
  4. Model Evaluasi Empat Level Donald L. Kirkpatrick

Berdasarkan rujukan Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi MBKM menggunakan model Evaluasi Dikrepansi Provus. Metode ini melakukan evaluasi dengan membandingkan capaian kinerja mutu unsur yang dievaluasi dengan standar yang telah ditetapkan. Maka, concern yang perlu dipertimbangkan jika terjadi kesenjangan cukup besar. Sehingga dapat diputuskan apakah dibutuhkan perbaikan kinerja mutu standar atau kinerja mutu tersebut dianggap selesai dalam proses evaluasi.

 

Mekanisme Evaluasi Model Evaluasi Dikrepansi Provus

Mekanisme Evaluasi Model Evaluasi Dikrepansi Provus

Penyusunan kurikulum OBE berbasis MBKM fokus pada berbagai kegiatan yang digunakan untuk mencapai CPL sesuai dengan profil alumni. Monitoring dan evaluasi pada saat implementasi menjadi faktor penting apakah kurikulum akan berhasil atau tidak. Itu tadi informasi penyusunan kurikulum OBE berbasis MBKM. Cek artikel terbaru lainnya seputar perguruan tinggi dan sistem informasi di SEVIMA.COM.

Tags:

kurikulum obe

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

×