Lomba Artikel

Digitalisasi Kampus Solusi Terhadap Persoalan Daya Tampung Perguruan Tinggi

Penulis: Dr. Waode Rustiah, S.Si., M.Si
Kampus: Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Ruang interaksi manusia dalam dunia nyata terasa semakin sempit, hal ini berdampak kepada melonjaknya harga lahan terutama di kota-kota besar. Kampus kampus yang umumnya berlokasi di kota kota besar tentu sangat merasakan kondisi ini. Imbasnya juga akan sampai pada meningkatnya biaya kuliah yang harus ditanggung oleh mahasiswa, utamanya mahasiswa pada kampus swasta, yang pembiayaannya lebih banyak bertumpu pada sumber pendanaan dari mahasiswa. Kampus yang kecil tentu daya tampungnya juga kecil, sementara populasi penduduk yang akan menikmati kesempatan pendidikan tinggi semakin hari semakin meningkat.

Sebenarnya di era digitalisasi ini ruang interaksi bisa diciptakan atau dipindahkan dari ruang fisik ke ruang maya. Dimana mahasiswa dan dosen tidak perlu hadir di ruang kelas untuk menciptakan proses belajar mengajar, Kampus tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk membeli tanah 7 x 7, agar bisa menyulap 1 buah ruang kelas, yang mana harga di perkotaan sudah mencapai puluhan juta per meternya. 

Covid 19, sebenarnya telah memberikan pengalaman yang baik bagaimana digitalisasi pembelajaran dijalankan. Tentu dalam kondisi darurat dan pandemic, persiapan yang dilakukan begitu minim, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, tapi semua dapat berjalan dengan baik dimana terbukti bahwa digitalisasi mampu menggantikan proses belajar tatap muka. Apalagi jika digitalisasi ini memang didesain dengan sengaja dan bukan karena kondisi kedaruratan semesta, maka akan bisa dibayangkan betapa digitalisasi akan membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.

Digitalisasi memungkinkan bagi kampus-kampus untuk melakukan ekspansi dan perluasan jangkauan pelayanan bukan hanya pada satu wilayah geografis tertentu, tapi dapat menembus batas. Dan tentu saja akan memberikan solusi terhadap mereka yang berada di wilayah yang jauh dari perkotaan. 

Sebagaimana dimaklumi bahwa keberadaan kampus-kampus berada di kota-kota besar, sehingga anak-anak yang berada di pelosok akan kesulitan untuk mengakses atau melanjutkan pendidikan karena jika mereka harus kuliah di kota-kota besar, mereka harus menyiapkan biaya ekstra untuk biaya hidup (living cost) selama mereka kuliah.

Bayangkan jika digitalisasi kampus diwujudkan pada hampir semua Perguruan Tinggi, maka anak-anak yang berada di pelosok tetap akan bisa menikmati pendidikan tinggi, tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.

Lebih positifnya lagi, mereka akan lebih konsentrasi dan komitmen untuk membangun kampung halamannya. Pengalaman selama ini, mahasiswa yang berasal dari kampung setelah mencapai gelar sarjananya, umumnya tidak mau lagi pulang kampung, karena sudah terkontaminasi dengan kehidupan perkotaan yang glamor dan hedonis. lebih tragis lagi, anak anak dari kampung yang datang ke kota harus mengalami kejutan budaya (cultural shock). Mereka yang tidak kuat, bahkan anak dari kampung harus merelakan dirinya terjebak dalam pola hidup yang negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, dan lain-lain, karena mereka telah kehilangan kontrol dari kedua orangtuanya

Digitalisasi akan membawa perubahan besar, dalam pemerataan insan-insan cendekia, dan tentu saja biayanya jauh lebih murah, tapi lebih berkemajuan, dan mahasiswa tidak harus kehilangan jati diri. Mereka yang anak desa tidak perlu menjadi kekota-kotaan karena harus meninggalkan kampung selama kurang lebih 4 tahun.

Digitalisasi kampus pula, sangat mungkin dan mempercepat interaksi global. Seorang mahasiswa maupun dosen tidak harus mengeluarkan biaya tinggi untuk terlibat dalam dialog dan pembelajaran dengan pakar-pakar dari seluruh dunia, jika infrastruktur digital sudah tertata dengan baik. Kelas-kelas internasional, yang mahasiswanya berasal dari lintas negara, jauh lebih mudah diwujudkan. Tentu saja harus ditopang dengan kemampuan komunikasi internasional.

Tapi semua ini akan lebih baik lagi jika didukung kebijakan dari pemerintah untuk memberikan ruang untuk digitalisasi pembelajaran sebagai satu alternatif pendidikan tinggi, termasuk peningkatan infrastruktur digitalisasi di seluruh pelosok negeri, sehingga semua anak dapat menikmati pendidikan tinggi, yang berkualitas, berkemajuan, murah, tanpa harus kehilangan jati diri, dan berpotensi besar untuk menjadi SDM yang akan memajukan wilayah-wilayah terluar dan terpinggirkan, menuju Indonesia Emas.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar