Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
25 Sep 2023
SEVIMA.COM – Pengembangan kurikulum di perguruan tinggi kerap menjadi sebuah tantangan baru bagi para civitas akademi kampus. Pengaplikasian kurikulum di perguruan tinggi ini akan memudahkan perguruan tinggi membentuk sumber daya manusia (SDM) yang mampu sesuai dengan kebutuhan industri.
Baru-baru ini muncul istilah Outcome Based Education (OBE ) sebagai kurikulum baru di perguruan tinggi. Lalu, apa bedanya kurikulum OBE dengan kurikulum sebelumnya? Bagaimana penerapan penerapan OBE di perguruan tinggi? Simak di bawah ini ya.
Baca juga: Bagaimana Konsep dan Penilaian Outcome Based Education (OBE)?
Outcome Based Education (OBE) merupakan kurikulum yang mengacu pada outcome . Sehingga tidak hanya materi saja yang harus diterapkan di kelas, namun juga mempersiapkan bagaimana lulusan ( outcome) yang telah dibekali kemampuan untuk menghadapi dunia kerja.
Ketika kampus menerapkan kebijakan OBE , artinya kampus tersebut juga ikut mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Jadi melalui penerapan program ini, perguruan tinggi akan lebih siap memproyeksikan lulusannya bisa bersaing di dunia global.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat akan memunculkan gambaran baru di dunia pendidikan. Lulusan ( outcome ) dituntut untuk lebih adaptif dengan kebutuhan dunia kerja. Nah, melalui kurikulum OBE ini, perguruan tinggi akan lebih mudah menjembatani lulusan mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Kurikulum OBE dirancang untuk menciptakan lulusan sesuai kebutuhan industri.
Sebelum mengenal istilah kurikulum OBE , kita pasti sering kali cukup familiar dengan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Lalu apa bedanya?
Menurut penjelasan dari Assoc. Prof Wahyudi Agustiono, Ph.D pada Webinar SEVIMA pada (01/09) lalu, sebenarnya kedua kurikulum ini hampir sama. Namun kurikulum OBE lebih adaptif dan dapat diakui di dunia kerja
“Antara kriteria KKNI dan OBE sebenarnya hampir sama. Bedanya, kompetensi pada kriteria KKNI harus lebih distandarisasi. Sedangkan pada kriteria OBE standarnya lebih adaptif. Sehingga kriteria OBE lebih bisa diakui di dunia kerja,” paparnya.
Perbedaan keduanya bisa dilihat dalam proses belajar mengajar di kelas. Pada kurikulum lama, dosen biasanya menyiapkan seluruh materi sebelum mengajar di kelas. Namun, saat menggunakan kurikulum OBE , dosen lebih memikirkan kompetensi apa yang dimiliki oleh siswa. Dari kompetensi siswa itulah, dosen dapat memikirkan materi dan metode apa yang perlu diterapkan kepada siswa. Sehingga, saat mahasiswa lulus nanti sudah memiliki kemampuan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Asosiasi. Prof Wahyudi juga menyampaikan bahwa kurikulum OBE merupakan kurikulum KKNI yang sudah dievaluasi. Tahapan yang ada pada kurikulum KKNI memiliki peran sebagai tahapan dasar (bahan dasar) untuk membuat kurikulum OBE .
“Jika diteliti lebih dalam, kurikulum OBE ini sebenarnya adalah kurikulum KKNI yang sudah dilakukan evaluasi,” tegasnya.
Dalam kurikulum OBE ini 3 poin yang akan dilakukan proses evaluasi, antara lain:
1. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) atau Course Outcome
Pada tahapan ini, yang akan dievaluasi adalah kompetensi yang dimiliki siswa setelah mengampu mata kuliah yang diikuti. Biasanya, proses ini akan diadakan setiap semester (UAS), pertengahan semester (UTS), atau saat pembahasan materi selesai (Kuis). Namun, idealnya adalah setelah menyelesaikan semester. Jadi, nilai CPMK ini akan dapat digunakan untuk mengukur CPL akhir siswa.
2. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) atau Hasil Program
Hasil Program adalah evaluasi pencapaian siswa saat lulus. Evaluasi ini dilakukan dengan mengidentifikasi, mengumpulkan, dan mempersiapkan data yang dicapai saat siswa lulus. Dengan CPL ini bisa digunakan untuk mengetahui kompetensi dari lulusan perguruan tinggi.
Transkrip CPL tidak berupa mata kuliah yang dipelajari, namun menunjukkan kemampuan lulusan dan dilengkapi juga dengan laporan dalam bentuk visual. Misalnya dengan menggunakan spider chart , sehingga data yang disajikan lebih informatif.
3. Tujuan Pendidikan Program (PEO)
Evaluasi ini dilakukan kepada lulusan setelah beberapa tahun. Fungsinya untuk melakukan evaluasi kompetensi lulusan dalam karir dan kehidupan. Pada tahun pertama setelah lulus, biasanya akan digunakan untuk penilaian IKU. Lanjut di tahun kedua, proses evaluasi dilakukan untuk memenuhi tracer study. Sedangkan jangka waktu empat hingga lima tahun digunakan untuk berputar.
Saat ini, SEVIMA Platform telah mengakomodir mulai dari kurikulum manajemen OBE hingga menghasilkan laporan portofolio lulusan yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk akreditasi unggul maupun akreditasi internasional. Jika perguruan tinggi Anda ingin menerapkan implementasi OBE, yuk segera implementasikan SEVIMA Platform. Segera hubungi kami untuk diskusi lebih lanjut mengenai kebutuhan kampus Anda melalui 082261610404 .
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi