Perguruan Tinggi | Strategi & Tata Kelola
Lima Tahun Tergerus, Mahasiswa Baru Universitas Peradaban Melonjak 39,7 Persen: Ini Resep Rektornya
27 Oct 2026
Perguruan Tinggi | Strategi & Tata Kelola
12 Sep 2022
Penulis: Michael Seno Rahardanto
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
SEVIMA.COM – Alam semesta tempat kita hidup ini beroperasi menggunakan parameter-parameter yang konstan. Artinya, di sudut manapun di alam semesta ini, nilai parameter tersebut selalu sama . Ethan Siegel, fisikawan kondang, memperkirakan setidaknya ada 26 konstanta yang mendasari berfungsinya alam semesta ini. Beberapa konstanta yang paling populer misalnya kecepatan cahaya ( 299.792.458 meter per detik ) dan tetapan gravitasi ( 6,67 x 10 -11 Nm 2).
Stephen Covey, penulis buku laris Seven Habits of Highly Effective People , mengatakan bahwa ia mengobservasi ada 3 konstanta dalam hidup manusia: Perubahan, Pilihan, dan Prinsip ( Change, Choice, Principle ). Meskipun Covey bukanlah seorang fisikawan, namun teori-teori fisika aras utama—relativitas umum & mekanika manipulasi—mendukung apa yang dikatakannya. Alam semesta ini terus bergerak dan berubah . Perubahan merupakan hakikat alam semesta, bahkan hingga tataran subatomik. Dalam dimensi ruang dan waktu, segala sesuatu berubah. Itulah hukum alam.
Dalam menghadapi perubahan, manusia mempunyai pilihan untuk merespons. Pilihan juga merupakan konstanta, karena pilihan selalu ada. Menghadapi perubahan, manusia tidak bisa tidak memilih. Seandainya pun manusia memutuskan untuk tidak bertindak apa-apa, itupun juga pilihan! Apapun pilihan yang diambil manusia, selalu ada konsekuensinya. Lagi-lagi hukum alam berperan di sini: Selalu ada reaksi untuk setiap aksi. Setiap pilihan akan mendatangkan konsekuensi yang spesifik.
Perubahan teknologi merupakan salah satu konstanta yang pasti dihadapi manusia sepanjang usia alam semesta. Manusia tidak bisa menolak atau menyangkal perubahan itu. Penolakan, penyangkalan, atau pengabaian terhadap perubahan akan membawa kondisi yang dalam fisika disebut sebagai entropi (kekacauan dan ringkasan).
Perubahan teknologi memungkinkan terjadinya kenyataan baru yang sulit dibayangkan hanya beberapa tahun sebelumnya. Salah satu contohnya adalah teknologi komputer. Komputer-komputer awal, yang terbentuk sekitar tahun 1940-an, memiliki ukuran raksasa. Misalnya, ENIAC, salah satu komputer pertama di dunia yang dirancang tahun 1943, memiliki ukuran sebesar 167.2255 m 2 dan bobotnya lebih dari 25 ton. Komputer tersebut (yang fungsinya adalah mesin hitung) memiliki 17.468 tabung vakum, yang harus diperbaiki setiap dua hari sekali. Mesin tersebut mampu mengeksekusi 5000 perintah per detik. Sebagai perbandingan, iPhone 13—telepon genggam yang diluncurkan Apple tahun 2021—mampu mengeksekusi lebih dari 25 miliar proses per detik, dan bobotnya hanya sekitar 170 gram. Bagi orang-orang yang hidup di era 1940-an, sulit dibayangkan bahwa komputer akan berevolusi menjadi sedemikian kecil dan ringan, namun kenyataannya itulah yang terjadi.
Contoh lain: Apollo Space Module—modul untuk membawa astronot ke bulan—yang diluncurkan Amerika Serikat ke ruang angkasa tahun 1966, memiliki memori 4 kilobyte di sistem komputer pengontrolnya . Sebuah telepon genggam modern, dengan berat kurang dari 6 ons, memiliki ribuan kali memori lebih banyak dari yang dimiliki Apollo Space Module!
Perbandingan lain lagi: Sebuah flashdisk 256 gigabyte , yang ukurannya sepanjang ibu jari orang dewasa, mampu memuat data yang sama dengan 213.000 disket ( floppy disk ) berukuran 5 ¼ inchi. Seandainya piringan sebesar itu diletakkan berjajar, panjangnya mencapai 28,5 km.
Jelas bahwa kemajuan teknologi mampu meningkatkan efisiensi, sekaligus meningkatkan potensi produktivitas. Merupakan keniscayaan bahwa manusia harus menetapkan pilihan dalam menghadapi perubahan teknologi yang pesat itu. Manusia, terlepas dari segala akalnya dan kehendak bebasnya, tidak bisa melawan hukum alam. Manusia justru akan hancur bila nekad melawan hukum alam ( kita tidak bisa pernah melanggar hukum; kita hanya bisa melanggar diri kita sendiri melawan hukum ). Sayangnya, sejarah dipenuhi contoh-contoh seperti itu.
Salah satu contoh yang sangat terkenal adalah kekecewaan dinasti Blockbuster. Pada akhir tahun 90-an, Blockbuster adalah raja dalam industri penyewaan video di dunia. Jumlah cabangnya di Amerika saja ada sekitar 9000, dan jumlah karyawannya mencapai 84.000. Jumlah pelanggannya luar biasa—mencapai 65 juta pelanggan di seluruh dunia. Tidak ada yang membayangkan perusahaan sebesar itu bisa runtuh. Namun kemudian perkembangan teknologi memunculkan layanan video streaming seperti Youtube dan Netflix, yang dapat diakses konsumen secara lebih mudah, praktis, dan murah. Blockbuster, yang ngotot mempertahankan pola penyewaan dan penjualan video secara fisik, bangkrut hanya dalam waktu 10 tahun, dengan membawa hutang lebih dari 900 juta dolar.
Gambar Kiri: Floppy disk 5 ¼ inci Kanan: USB Flashdrive
Alam semesta bekerja berdasarkan hukum. Kita boleh-boleh saja menyangkal hukum-hukum itu, tapi kita tidak bisa melepaskan diri darinya. Seseorang mungkin saja menyangkal adanya gravitasi, namun ketika ia meloncat dari atap rumahnya, ia tetap jatuh ke bawah. Seseorang mungkin saja menolak beradaptasi dengan kemajuan teknologi, namun ia pasti akan menanggung konsekuensinya, karena kemajuan teknologi merupakan bagian dari konstanta yang lebih besar lagi, yaitu Perubahan. Manusia tidak bisa menolak perubahan.
Institusi pendidikan tinggi merupakan salah satu dari segelintir ciptaan manusia yang bisa bertahan lebih lama dari peradaban. Pernyataan ini tidak mengada-ada. Universitas Oxford sudah ada sejak 1096; lebih tua usianya dari peradaban Inca .
Institusi pendidikan mampu bertahan sedemikian lamanya, karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Nyaris bukanlah manusia yang menyangkal pentingnya dan perlunya memperoleh pendidikan yang memadai.
Namun demikian, institusi pendidikan dan segenap masyarakat juga dihadapkan pada Perubahan (sebagai sebuah konstanta); tidak terkecuali perubahan teknologi.
Sebelum tahun 2020, saya yakin, hanya segelintir orang di Indonesia yang membayangkan bahwa civitas akademika Indonesia akan mampu melaksanakan proses belajar-mengajar secara penuh, dari awal hingga akhir semester, dalam jaringan. Toh, kondisi pandemi membuat kita mampu melakukannya, dan dengan cara yang semakin lama kian efektif. Seperti kata pepatah, kita bisa karena biasa, dan kita biasa karena awalnya dibuat .
Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu keniscayaan dalam pendidikan modern. Menolak beradaptasi dengan teknologi berarti, dalam istilah fisika, memilih entropi (kemunduran). Ciri khas dunia postmodern , yang merupakan perubahan paradigma akibat kemajuan teknologi dan pergeseran nilai-nilai sosial, menuntut civitas akademika bertindak ibarat peselancar (Morgan, 1988). Para peselancar tidak memiliki kendali atas ombak, namun harus beradaptasi terus menerus mengarungi ombak tersebut. Dengan cara itulah, ombak sebesar apapun, dapat dilalui dengan selamat. Demikian pula, para pendidik tidak memiliki kendali atas pesatnya perubahan teknologi, namun mereka bisa terus beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Penguasaan teknologi menjadi salah satu kunci beradaptasi dan berkembang di era ini.
Memparafrase tulisan Peter Vaill (1991), para pendidik perlu bekerja lebih cerdas , bukan lebih keras (sebagian pendidik yang saya kenal sudah bekerja sangat keras; saya sulit membayangkan mereka menuntut bekerja lebih keras lagi!). Bekerja lebih cerdas artinya mencari cara-cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan atau prestasi yang sama (Vaill, 1991). Pencapaian bantuan ini sangat mungkin diperoleh dengan teknologi.
Bila demikian, pertanyaannya, apakah teknologi seperti yang memungkinkan peningkatan efisiensi dan kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia? Jawaban yang jelas dan pasti adalah teknologi informasi dan teknologi digital. Teknologi informasi memungkinkan pengelolaan, penyimpanan, dan penyebaran informasi dalam tataran yang secara eksponensial lebih efektif dan efisien dibandingkan cara-cara kuno. Dipadukan dengan teknologi digital, teknologi informasi memungkinkan penyebaran informasi dalam tataran yang tidak terbayangkan satu dekade sebelumnya. Misalnya, Kindle (piranti elektronik untuk membaca buku, yang diproduksi Amazon) memiliki daya tampung 1400 buku. Sebuah unit Kindle memiliki berat sekitar 400 gram. Di sisi lain, berat rata-rata satu buku hardback adalah 142 gram . Tiga buku dengan jumlah halaman 150 memiliki bobot sekitar 1 kilogram 5 . Dengan kata lain, Kindle—yang bisa dimasukkan dengan mudah ke tas ransel—memiliki daya tampung sekitar 1 ton buku!
Banyak contoh lainnya. Aplikasi video real-time seperti Zoom dan GoogleMeet memungkinkan terlaksananya diskusi interaktif secara maya, dengan jumlah partisipan hingga ribuan orang, tanpa terkendala jarak dan waktu. Lalu ada juga platform edukasi terintegrasi, seperti SEVIMA, yang menjadi pelopor dalam sistem informasi akademik di Indonesia. Platform seperti SEVIMA memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas pendidikan, mulai dari membantu pembayaran keuangan mahasiswa secara online , membantu mempercepat alur administrasi persuratan di universitas, hingga mempermudah proses pelaporan akreditasi universitas.

Gambar Tampilan layar laman SEVIMA (diambil dari https://sevima.com)
Kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi digital, merupakan bagian perubahan yang harus diemban institusi pendidikan tinggi. Nyatanya, pemanfaatan teknologi informasi digital secara bijak telah membantu mempermudah proses belajar mengajar dan mendukung karir pendidik di banyak institusi. Oleh karena itu, institusi pendidikan tinggi harus berani beradaptasi dengan perubahan teknologi dan memanfaatkan daya ungkit teknologi informasi digital. Pemanfaatan platform terintegrasi seperti SEVIMA, misalnya, memiliki potensi untuk efisiensi sumber daya seperti waktu dan uang.
Tentu saja, pemanfaatan teknologi tanpa disertai prinsip yang tepat, berisiko membawa lebih banyak mudharat daripada maslahat. John Naisbitt pernah mengingatkan bahwa semakin tinggi sentuhan teknologi, semakin tinggi pula harusnya sentuhan kemanusiaan. Penggunaan teknologi, dalam bentuk apa pun, harus disertai dengan prinsip-prinsip yang telah terbukti tidak berlaku pada zaman, seperti kejujuran, kerja keras, integritas, empati, kerjasama, dan prinsip-prinsip baik lainnya. Teknologi informasi digital bisa memberikan informasi, namun tidak bisa memberikan pengetahuan. Proses diseminasi dan internalisasi pengetahuan tetap merupakan tugas dan tanggung jawab umat manusia. Teknologi adalah instrumen yang menjadikan proses diseminasi dan internalisasi pengetahuan tersebut berjalan semakin efektif dan efisien.
Diposting Oleh:
Fadhol SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi