Lomba Artikel

Perubahan Teknologi dan Pilihan Dunia Pendidikan untuk Beradaptasi…atau Mati

Penulis: Michael Seno Rahardanto

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Alam semesta tempat kita hidup ini beroperasi menggunakan parameter-parameter yang konstan. Artinya, di sudut manapun di alam semesta ini, nilai parameter tersebut selalu sama. Ethan Siegel, fisikawan kondang, memprediksi setidaknya ada 26 konstanta yang mendasari beroperasinya alam semesta ini. Beberapa konstanta yang paling populer misalnya kecepatan cahaya (299.792.458 meter per detik) dan  tetapan gravitasi (6,67 x 10 -11 Nm 2). 

Stephen Covey, penulis buku laris Seven Habits of Highly Effective People, mengatakan bahwa ia mengobservasi ada 3 konstanta dalam hidup manusia: Perubahan, Pilihan, dan Prinsip (Change, Choice, Principle).  Meskipun Covey bukan seorang fisikawan, namun teori-teori fisika aras utama—relativitas umum & mekanika kuantum—mendukung apa yang dikatakannya. Alam semesta ini terus bergerak dan berubah. Perubahan merupakan hakikat alam semesta, bahkan hingga tataran subatomik. Dalam dimensi ruang dan waktu, segala sesuatu berubah. Itulah hukum alam.

Dalam menghadapi perubahan, manusia memiliki pilihan untuk merespons. Pilihan juga merupakan konstanta, karena pilihan selalu ada. Dihadapkan pada perubahan, manusia tidak bisa tidak memilih. Seandainya pun manusia memutuskan tidak bertindak apa-apa, itupun juga pilihan! Apapun pilihan yang diambil manusia, selalu ada konsekuensi. Lagi-lagi hukum alam berperan di sini: Selalu ada reaksi untuk setiap aksi. Setiap pilihan akan mendatangkan konsekuensi yang spesifik. 

Perubahan teknologi merupakan salah satu konstanta yang pasti dihadapi manusia sepanjang usia alam semesta. Manusia tidak bisa menolak atau menyangkal perubahan itu. Penolakan, penyangkalan, atau pengabaian terhadap perubahan akan membawa kondisi yang dalam fisika disebut sebagai entropi (kekacauan dan kemunduran).

Perubahan teknologi memungkinkan terjadinya realitas baru yang sulit dibayangkan hanya beberapa tahun sebelumnya. Salah satu contohnya adalah teknologi komputer. Komputer-komputer awal, yang dibentuk sekitar tahun 1940-an, memiliki ukuran raksasa. Sebagai contoh, ENIAC, salah satu komputer pertama di dunia yang dirancang tahun 1943, memiliki ukuran sebesar 167.2255 m2 dan bobotnya lebih dari 25 ton. Komputer tersebut (yang fungsinya adalah mesin hitung) memiliki 17.468 tabung vakum, yang harus diperbaiki setiap dua hari sekali. Mesin tersebut mampu mengeksekusi 5000 perintah per detik. Sebagai perbandingan, iPhone 13—telepon genggam yang diluncurkan Apple tahun 2021—mampu mengeksekusi lebih dari 25 miliar instruksi per detik, dan bobotnya hanya sekitar 170 gram. Bagi orang-orang yang hidup di era 1940-an, sulit dibayangkan bahwa komputer akan berevolusi menjadi sedemikian kecil dan ringan, namun realitanya itulah yang terjadi. 

Contoh lain: Apollo Space Module—modul untuk membawa astronot ke bulan—yang diluncurkan Amerika Serikat ke ruang angkasa tahun 1966, memiliki 4 kilobyte memori di sistem komputer pengendalinya. Sebuah telepon genggam modern, dengan berat kurang dari 6 ons, memiliki ribuan kali memori lebih banyak dari yang dimiliki Apollo Space Module!

Perbandingan lain lagi: Sebuah flashdisk 256 gigabyte, yang ukurannya sepanjang ibu jari orang dewasa, mampu memuat data yang sama dengan 213.000 disket (floppy disk) berukuran 5 ¼  inchi. Seandainya disket sebanyak itu diletakkan berjajar, panjangnya mencapai 28,5 km.

Jelas bahwa kemajuan teknologi mampu meningkatkan efisiensi, sembari meningkatkan potensi produktivitas. Merupakan keniscayaan bahwa manusia harus menetapkan pilihan dalam menghadapi perubahan teknologi yang pesat itu.  Manusia, terlepas dari semua akalnya dan kehendak bebasnya, tidak bisa melawan hukum alam. Manusia justru akan hancur bila nekad melawan hukum alam (we can’t never break the law; we can only break ourselves against the law). Sayangnya, sejarah dipenuhi contoh-contoh seperti itu. 

Salah satu contoh yang sangat terkenal adalah kejatuhan dinasti Blockbuster. Pada akhir 90-an, Blockbuster adalah raja dalam industri penyewaan video di dunia. Jumlah cabangnya di Amerika saja ada sekitar 9000, dan jumlah karyawannya mencapai 84.000.  Jumlah pelanggannya fantastis—mencapai 65 juta pelanggan di seluruh dunia. Tidak ada yang membayangkan perusahaan sebesar itu bisa runtuh. Namun kemudian perkembangan teknologi memunculkan layanan video streaming seperti Youtube dan Netflix, yang bisa diakses konsumen secara lebih mudah, praktis, dan murah. Blockbuster, yang ngotot mempertahankan pola penyewaan dan penjualan video secara fisik, bangkrut hanya dalam waktu 10 tahun, dengan membawa hutang lebih dari 900 juta dolar.

perubahan Teknologi dan Pilihan Dunia Pendidikan untuk Beradaptasi…atau Mati

Gambar Kiri: Floppy disk 5 ¼ inchi  Kanan: USB Flashdrive

Alam semesta bekerja berdasarkan hukum. Kita boleh-boleh saja menyangkal hukum-hukum itu, tapi kita tidak bisa melepaskan diri darinya. Seseorang boleh saja menyangkal adanya gravitasi, namun apabila ia meloncat dari atap rumahnya, ia tetap jatuh ke bawah. Seseorang boleh saja menolak beradaptasi dengan kemajuan teknologi, namun ia pasti akan menanggung konsekuensinya, karena kemajuan teknologi merupakan bagian dari konstanta yang lebih besar lagi, yaitu Perubahan. Manusia tidak bisa menolak Perubahan. 

Perubahan teknologi dalam pendidikan tinggi

Institusi pendidikan tinggi merupakan salah satu dari segelintir ciptaan manusia yang bisa bertahan lebih lama dari peradaban. Pernyataan ini tidak mengada-ada. Universitas Oxford sudah ada sejak 1096; lebih tua usianya dari peradaban Inca

Institusi pendidikan mampu bertahan sedemikian lamanya, karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Nyaris tidak manusia yang menyangkal pentingnya dan perlunya memperoleh pendidikan yang memadai.

Namun demikian, institusi pendidikan beserta segenap civitasnya juga berhadapan dengan Perubahan (sebagai sebuah konstanta); tak terkecuali perubahan teknologi.

Sebelum tahun 2020, saya yakin, hanya segelintir orang di Indonesia yang membayangkan bahwa civitas akademika Indonesia akan mampu melaksanakan proses belajar-mengajar sepenuhnya, dari awal hingga akhir semester, dalam jaringan. Toh, kondisi pandemi membuat kita mampu melakukannya, dan dengan cara yang semakin lama kian efektif. Seperti kata pepatah, kita bisa karena biasa, dan kita biasa karena awalnya dipaksa

Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu keniscayaan dalam pendidikan modern. Menolak beradaptasi teknologi berarti, dalam istilah fisika, memilih entropi (kemunduran). Ciri khas dunia postmodern, yang sarat perubahan paradigma akibat kemajuan teknologi dan pergeseran nilai-nilai sosial, menuntut civitas akademika bertindak ibarat peselancar (Morgan, 1988). Para peselancar tidak memiliki kendali atas ombak, namun harus beradaptasi terus-menerus mengarungi ombak tersebut. Dengan cara itulah, ombak sebesar apapun, dapat dilalui dengan selamat. Demikian juga, para pendidik tidak memiliki kendali atas pesatnya perubahan teknologi, namun mereka bisa beradaptasi terus-menerus terhadap perubahan tersebut. Penguasaan teknologi menjadi salah satu kunci beradaptasi dan berkembang dalam era ini.

Memparafrase tulisan Peter Vaill (1991), para pendidik perlu bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras (sebagian pendidik yang saya kenal sudah bekerja sangat keras; saya sulit membayangkan mereka dituntut bekerja lebih keras lagi!). Bekerja lebih cerdas artinya mencari cara-cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan atau prestasi yang sama (Vaill, 1991). Pencapaian ini sangat  mungkin diraih dengan bantuan teknologi. 

Bila demikian, pertanyaannya, teknologi seperti apakah yang memungkinkan peningkatan efisiensi dan mutu pendidikan, khususnya di Indonesia? Jawaban yang jelas dan pasti adalah teknologi informasi dan teknologi digital. Teknologi informasi memungkinkan pengelolaan, penyimpanan, dan penyebaran informasi dalam tataran yang secara eksponensial lebih efektif dan efisien dibandingkan cara-cara kuno. Dipadukan dengan teknologi digital, teknologi informasi memungkinkan diseminasi informasi dalam tataran yang tidak terbayangkan satu dekade sebelumnya. Sebagai contoh, Kindle (piranti elektronik  untuk membaca buku, yang diproduksi Amazon) memiliki daya tampung 1400 buku. Sebuah unit Kindle memiliki berat sekitar 400 gram. Di sisi lain, berat rata-rata satu buku hardback adalah 142 gram. Tiga buku dengan jumlah halaman 150 memiliki bobot sekitar 1 kilogram5. Dengan kata lain, Kindle—yang bisa dimasukkan dengan mudah ke tas ransel—memiliki daya tampung sekitar 1 ton buku!

Banyak contoh lainnya. Aplikasi video real-time seperti Zoom dan GoogleMeet memungkinkan terlaksananya diskusi interaktif secara maya, dengan jumlah partisipan hingga ribuan orang, tanpa terkendala jarak dan waktu. Lalu ada juga platform edukasi terintegrasi, seperti SEVIMA, yang menjadi pelopor dalam sistem informasi akademik di Indonesia. Platform seperti SEVIMA memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas pendidikan, mulai dari membantu pembayaran keuangan mahasiswa secara online, membantu mempercepat alur administrasi persuratan di universitas, hingga mempermudah proses pelaporan akreditasi universitas.

Gambar Tampilan layar laman SEVIMA (diambil dari https://sevima.com)

Kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi digital, merupakan bagian perubahan yang harus diemban institusi pendidikan tinggi. Nyatanya, pemanfaatan teknologi informasi digital secara bijak telah membantu mempermudah proses belajar-mengajar dan menunjang karier pendidik di banyak institusi. Oleh karena itu, institusi pendidikan tinggi harus berani beradaptasi dengan perubahan teknologi dan memanfaatkan daya ungkit teknologi informasi digital. Pemanfaatan platform terintegrasi seperti SEVIMA, sebagai contoh, memiliki potensi untuk efisiensi sumberdaya seperti waktu dan uang. 

Tentu saja, pemanfaatan teknologi tanpa disertai prinsip yang tepat, berisiko membawa lebih banyak mudharat daripada maslahat. John Naisbitt pernah mengingatkan bahwa semakin tinggi sentuhan teknologi, semakin tinggi pula harusnya sentuhan kemanusiaan. Penggunaan teknologi, dalam apapun bentuknya, harus disertai prinsip-prinsip yang telah terbukti tidak lekang oleh zaman, seperti kejujuran, kerja keras, integritas, empati, kerjasama, dan prinsip-prinsip baik lainnya. Teknologi informasi digital bisa memberikan informasi, tapi tidak bisa memberikan pengetahuan. Proses diseminasi dan internalisasi pengetahuan tetap merupakan tugas dan tanggungjawab umat manusia. Teknologi adalah instrumen  yang menjadikan proses diseminasi dan internalisasi pengetahuan tersebut berjalan makin efektif dan efisien.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar