34 Hari Lagi - Sebelum Event Webinar: Strategi Sukses DIgitalisasi Pendidikan Tinggi di Kalimantan Dimulai.

Selengkapnya
Kontak Kami

Dunia Kampus • 04 Nov 2020

STIKES Banyuwangi di Masa Pandemi Covid-19

Penulis: Suwarni Aswad
STIKES Banyuwangi

Artikel ini Masuk dalam 15 Besar “Kompetisi Menulis SEVIMA #revolutionizeEducation” 

Tujuh bulan berlalu, Sejak Maret 2020 ketika Pemerintah Negara Indonesia menyatakan Virus Corona atau yang dikenal dengan Covid-19 telah masuk  ke Negara Indonesia dengan diawali oleh dua pasien positiv virus corona di Depok,  Jawa Barat.  Seperti yang sudah kita ketahui, virus ini menular  dengan sangat cepat melalui percikan dahak (droplet) yang kemudian menginfeksi saluran pernapasan dari infeksi ringan hingga berat seperti pneumonia dan dapat mengakibatkan kematian. Virus Covid-19 telah menyebar hampir ke seluruh dunia hingga menyebabkan Pandemi Global.

Pandemi Covid-19 berdampak sangat besar kepada banyak sektor negara, baik dari sektor ekonomi, sektor kesehatan, sektor sosial budaya, sektor tenaga kerja maupun sektor pendidikan. Semua negara, bahkan pemerintah indonesia telah melakukan berbagai upaya mengatasi penyebaran pandemi ini dengan meredam dampak – dampak yang ditimbulkan, namun penyebaran virus corona di indonesia tetap melaju tinggi. Pencegahan dimulai dengan penerapan himbauan seringnya mencuci tangan, menggunakan masker hingga menjaga jarak  (Physical Distancing) dari siapapun. Tetap dirumah (Stay at home) hingga Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) pun telah diberlakukan.

Dari sektor pendidikan, Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah sigap sedari awal mengambil langkah untuk melaksanakan pendidikan secara daring (dalam jejaring) atau pendidikan jarak jauh guna mencegah penyebaran covid-19 dikalangan pendidikan mulai jenjang pendidikan PAUD hingga Perguruan Tinggi dengan memanfaatkan teknologi cyber atau internet.

Hal ini menjadikan perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Lebih tepatnya menjadi revolusi pendidikan (Revolutionize Education) di era baru. Siap atau tidak siap, Kemendikbud mengambil langkah mewajibkan seluruh lembaga pendidikan dari jenjang Paud hingga Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta melaksanakan pembelajaran jarak jauh  secara serentak dengan memanfaatkan teknologi cyber atau internet  (online) dan melarang pembelajaran tatap muka (offline) guna menekan penyebaran virus corona.

Berdasarkan Ombudsman Republik Indonesia,  Revolutionize Education ini berkaitan erat dengan Revolusi Industri 4.0 yang dapat digunakan untuk mendukung pola belajar dan pola berpikir serta menciptakan inovasi dan kreatifitas para peserta didik guna mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan kompetitif. Revolusi Industri 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan proyeksi teknologi modern Jerman 2020 yang diimplementasikan melalui peningkatan teknologi manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan strategis, dan lain sebagainya. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan kehadiran robot, teknologi artificial intelligence ( AI ), machine learning, biotechnology, Internet of Things ( IoT) serta driverless vehicle.

Pendidikan di era revolusi industri 4.0 menggambarkan berbagai cara dan metode  dalam mengintegritaskan teknologi cyber sepenuhnya dalam pembelajaran dengan harapan mampu merespon segala kebutuhan revolusi industri dalam situasi saat ini. Bahkan Dirjen PendidikanTinggi ( Dikti ) sudah mempromosikan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sudah sejak lama, namun mengalami kesulitan yang cukup signifikan karena masih banyak sekali perguruan tinggi yang belum memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran blended learning dimana pembelajaran di mediasi oleh teknologi komputer.

Tetapi dengan adanya pandemi covid-19, membuat revolusi yang luar biasa dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, dimana semua kalangan baik pendidik maupun peserta didik terpaksa memanfaatkan teknologi dengan diterapkannya pembelajaran secara jarak jauh. Pandemi Covid-19 benar benar telah menjadi alasan Revolutionize Education.

Bahkan di kampus kami, STIKES Banyuwangi, yang merupakan salah satu kampus kesehatan di wilayah kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur, bukan saja menerapkan teknologi hanya dalam pembelajaran, tetapi juga dalam pelayanan dan operasional perguruan tinggi ketika kota Banyuwangi mengalami lonjakan pasien positif yang sangat tinggi hingga bertanda zona merah.

Mengacu pada surat edaran Bupati Banyuwangi saat itu, semua lembaga pendidikan di Kota Banyuwangi harus melaksanakan BDR alias Belajar dari rumah. Seluruh aktivitas perkantoran pun juga melaksanakan bekerja dari rumah atau Work From Home ( WFH ).  Kegiatan belajar dari rumah dan bekerja dari rumah berlansung dengan memanfaatkan teknologi cyber agar seluruh kegiatan dan komunikasi tetap berjalan dengan baik.

STIKES Banyuwangi telah memiliki infrastruktur ICT yang cukup kompeten sehingga kegiatan pembelajaran dan pelayanan kampus secara daring dan luring ini tidak menyulitkan. Para civitas akademika dan mahasiswa hanya perlu melakukan pembiasaan dalam melakukan segala aktivitas secara online melalui media HP atau laptop. Hanya saja, kekurangan dalam penerapan kegiatan ini adalah tidak adanya batasan waktu.

Jauh sebelum pandemi melanda, seluruh operasional akademik mahasiswa sudah berjalan menggunakan sistem akademik kampus yang kami sebut dengan SIA. SIA dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Mulai kegiatan pendaftaran mahasiswa baru, pengurusan Kartu Rencana Studi ( KRS ) dan Kartu Hasil Studi ( KHS ) mahasiswa, input nilai, pengurusan surat cuti dan aktif kuliah. Transaksi pembayaran biaya kuliah juga ditransaksikan secara online bahkan tanpa harus transaksi ke bank. Pembayaran dilakukan melalui virtual account yang sudah dimiliki masing masing mahasiswa dimana virtual account tersebut sudah include pada sistem akademik dan bisa ditransaksikan lewat mobile banking maupun ATM . Sehingga civitas akademika maupun mahasiswa sudah memahami berbagai proses pembelajaran dan pelayanan secara online.

Bagi calon mahasiswa baru, pihak kampus pun melakukan proses penyeleksian secara online namun tetap sesuai prosedur seleksi penerimaan mahasiswa baru di Stikes Banyuwangi.  Calon mahasiswa bisa mendaftar secara online melalui sistem akademik Pendaftaran, mereka bisa mendaftar dari rumah masing masing. Setelah pendaftaran berhasil, kemudian akan diproses seleksi melalui 3 tahap tes yakni Test Potensi Akademik, Psikotes dan Tes Kesehatan . Seleksi mahasiswa baru dilaksanakan dalam 4 gelombang.

Kampus juga melakukan pengenalan lingkungan kampus atau yang biasa disebut dengan Program Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru secara daring melalui  video conference, video virtual tentang lingkungan kampus dan live streaming. sehingga para mahasiswa baru bisa mengetahui isi dari kampus STIKES Banyuwangi.

Sedangkan perkuliahan yang biasanya dilaksanakan secara konvensional dengan tatap muka, dilaksanakan secara daring dan luring dengan memanfaatkan beberapa platform ICT yang dimiliki. Para pendidik atau dosen menggunakan media aplikasi Edlink dalam proses pembelajaran. Aplikasi ini menjadi perantara antara mahasiswa dan dosen dalam berbagi informasi, materi perkuliahan, modul dan pemberian tugas. Platform ini juga sudah dilengkapi dengan video conference, kuis interaktif dan sudah terintegrasi dengan sistem akademik kampus. Setiap mahasiswa dan dosen sudah memiliki akun Edlink masing – masing sehingga memudahkan mereka dalam berinteraksi dan berkomunikasi layaknya seperti tatap muka di dalam kelas meski sebenarnya terpisah jarak yang sangat jauh. Presensi mahasiswa cukup dengan smartphone dan QR code danjadwal perkuliahan yang juga dinotifikasi setiap waktu.

Dalam beberapa kegiatan lain seperti diskusi, rapat atau pertemuan – pertemuan, selain Edlink,  seluruh civitas akademika dan mahasiswa juga memanfaatkan media conference seperti Zoom, Microsoft Teams, Google Meet,dan Whatsapp. Untuk pengumpulan berkas dan formulir yang mendesak terkadang menggunakan Google Form.  Hal ini juga memudahkan para  mahasiswa yang sudah pulang ke kampung halaman sejak diberlakukan pembelajaran dari rumah. Karena baik area asrama maupun kos mahasiswa telah dikosongkan untuk mencegah penyebaran virus.

Pembelajaran dan pelayanan daring/luring mampu berjalan secara efektif, dengan kerjasama seluruh civitas akademika, dosen dan mahasiswa. Hanya saja beberapa kendala terjadi setelah beberapa bulan pelaksanaan, yakni tentang pembiayaan kuota internet oleh mahasiswa. Mahasiswa STIKES Banyuwangi terdiri dari berbagai kalangan, seperti halnya dari kalangan tidak mampu maupun kalangan mampu. Mengingat pentingnya kuota internet bagi mahasiswa agar pembelajaran jarak jauh tetap berjalan dan melihat latar belakang ekonomi mahasiswa, maka kampus memberikan kebijakan sumbangan subsidi setiap bulan untuk pembelian kuota internet. Dan syukurlah bahkan sekarang pemerintah pun sudah menurunkan subsidi kuota belajar bagi seluruh peserta didik dan dosen. Hal ini meringankan kebutuhan akan kuota internet yang saat ini hampir selalu digunakan oleh seluruh kalangan pendidikan di indonesia.

Disamping itu, sebagai langkah – langkah pencegahan penyebaran virus corona, unit Sumber Daya Manusia di kampus, juga menerapkan monitoring Self Assestment dengan menggunakan media Google Form . Self Assesment ini wajib diisi dalam setiap pekan guna memonitor kesehatan seluruh mahasiswa dan civitas akademika  untuk mencegah penyebaran Covid-19 apabila sewaktu – waktu keadaan new normal pembelajaran kembali dibuka. Kalaupun new normal akan dibuka pihak kampus juga telah menyiapkan protokol kesehatan yang cukup ketat, dengan pemberlakuan wajib rapid test untuk semua mahasiswa dari luar kota, pemakaian face shield dan masker, jaga jarak dan penyediaan tempat cuci tangan di segala sudut pintu masuk.

Langkah – langkah yang telah diterapkan merupakan revolusi yang mampu mendukung kegiatan belajar mengajar tetap berjalan secara maksimal. Kegiatan belajar mengajar seperti ini juga menjadi kesadaran (awareness) terhadap era Revolusi Industri 4.0 yang akan membawa perubahan pada cara masyarakat dalam bekerja, berinteraksi, dan bertransaksi.  Di Indonesia, Revolutionize Education  sendiri akan berjalan efektif dan maksimal dengan dukungan dari banyak pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan peserta didik itu sendiri dalam situasi dan kondisi apapun. Kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan demi kemajuan dan kecerdasan anak bangsa.

 

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

Artikel Sebelumnya Upaya Tenaga Pendidik dalam Proses Akselerasi Pendidikan di Masa Pandemi Artikel Selanjutnya Terpaksa Disrupsi Karena Pandemi
×