Info Sentra Vidya Utama | Lomba Artikel

Upaya Mendidik Calon Dokter di Era Digital

Penulis: Thareq Barasabha

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Era digital telah menjadi kehidupan sehari-hari kita. Aneh rasanya jika saat ini kita menemukan seseorang berusia produktif yang tidak mengenal ponsel cerdas, transportasi online, e-commerce, atau minimal social media. Anak-anak di zaman ini, yang kerap disebut generasi alpha, bahkan dikatakan telah menjadi digital native. Mereka tidak lagi perlu banyak diajari tentang bagaimana mengoperasikan fitur-fitur pada ponsel cerdas. Berbagai aspek dalam hidup kita telah terdigitalisasi: uang, foto, bacaan, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Era revolusi industri 4.0 yang juga disebut sebagai disruption era benar-benar mendisrupsi dunia. Tidak hanya menghancurkan tatanan cara kerja sebelumnya dari berbagai jenis bisnis dan lapangan kerja, tapi juga gaya hidup manusia.

Terlebih lagi di masa pandemi COVID-19, era digital semakin diperkuat eksistensinya. Pandemi menjadi disruptor yang sesungguhnya, memaksa kita untuk secara cepat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan drastis yang terjadi dalam hidup. COVID-19 telah berpartisipasi dalam mengubah cara pandang kita dan cara kita menjalani kehidupan, baik itu sekolah, bekerja, makan, berpergian, bahkan merubah cara kita berlibur. Banyak hal yang awalnya dilakukan secara fisik, berganti menjadi secara digital. Dari luring (di luar jaringan internet), menjadi daring (di dalam jaringan internet). Kehidupan digital seolah sulit untuk dipisahkan dari keseharian. Seolah tiada hari tanpa menggunakan gawai yang dimiliki. Internet telah menjadi kebutuhan dasar rumah tangga, setara dengan listrik, air, dan gas. Pandemi menuntut kita untuk, mau ataupun tidak mau, belajar menggunakan teknologi digital.

Era 4.0 dan pandemi telah membuat kita telah menyesuaikan diri dengan era digital. Era digital telah menjadi zona nyaman kita. Tidak perlu mandi dan buru-buru pergi, cukup beberapa klik dan kita sudah hadir dalam suatu pertemuan, tentu saja secara virtual. Tidak perlu cari barang yang ingin dibeli ke sana ke mari, cukup beberapa klik dan menunggu, barang itu akan diantarkan ke rumah kita. Teknologi digital telah memanjakan kita. Tetapi, siapkah kita dengan revolusi industri berikutnya? Disrupsi berikutnya? Era 5.0 sudah di depan mata. Era di mana aktivitas fisik dan virtual sudah samar sekali batasnya. Beberapa negara maju sudah sampai di sana. Salah satu contoh paling mudah, kita lihat saja Metaverse, dunia virtual yang bahkan bisa dibeli wilayahnya. Bukan tidak mungkin, suatu saat berbagai hal yang awalnya kita jalani secara fisik atau secara digital, nanti akan dilakukan secara virtual melalui “dunia baru” seperti Metaverse.

Sektor kesehatan, sebagai salah satu sektor penunjang kebutuhan pokok hidup manusia, tentu juga tidak luput dari disrupsi tersebut. Pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang, termasuk dokter, harus menjalani isolasi mandiri di kediaman masing-masing. Fasilitas pelayanan kesehatan harus membatasi jumlah kunjungan, sementara masyarakat pun diimbau untuk tidak datang kecuali untuk kasus-kasus yang sifatnya darurat. Hal ini mendorong bertumbuhnya platform-platform penyedia layanan telemedicine di Indonesia. Selain itu, kehadiran pandemi COVID-19 juga menjadi stimulan bagi perkembangan banyak teknologi di bidang Kesehatan. Mulai dari vaksin, alat kesehatan, dan inovasi digital. Bahkan seminar-seminar kedokteran yang awalnya membutuhkan biaya dan usaha besar untuk registrasi dan hadir di lokasi kini bisa diakses secara gratis, cukup dari gawai yang kita miliki. Ini merupakan suatu blessing in disguise. Aktor-aktor utama di sektor Kesehatan, termasuk dokter, perlu memanfaatkan kesempatan dan peluang ini dengan baik.

Dokter di era digital memerlukan kompetensi tambahan dibandingkan dengan dokter pada zaman sebelumnya. Dalam Standar Nasional Pendidikan Profesi Dokter Indonesia (SNPPDI) terbaru yang dipublikasikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia pada tahun 2019, dinyatakan bahwa lulusan fakultas kedokteran di Indonesia perlu menguasai literasi revolusi industri 4.0 yang mencakup literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Literasi data yang dimaksud yaitu pemahaman untuk membaca, menganalisis, serta menggunakan data dan informasi (termasuk big data) dari dunia digital. Literasi teknologi yang perlu dipahami oleh seorang dokter yaitu cara kerja mesin serta aplikasi teknologi berupa coding, artificial intelligence, dan engineering principle. Selain itu, alumni fakultas kedokteran juga perlu memahami literasi manusia, yaitu hal-hal terkait dengan humaniora, komunikasi, serta desain.

Sebagai seorang dosen di fakultas kedokteran yang mempelajari ilmu kedokteran dan ilmu teknik, saya telah berupaya agar para mahasiswa siap untuk menjadi dokter di era 5.0, zaman yang akan mereka temui ketika mereka lulus kuliah nanti. Saya perlu mengajarkan kepada mereka tentang apa saja perubahan zaman yang mungkin terjadi dan bagaimana klien yang kira-kira akan mereka hadapi nanti. Selain memotivasi mahasiswa untuk memahami literasi data dan literasi teknologi. Hal ini mungkin senada dengan petuah dari Sang Khalifah Kelima, Ali bin abi Thalib RA, yang pernah saya baca yaitu:

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

Saya bersyukur sebagian mahasiswa tertarik untuk berkolaborasi dengan mahasiswa lain lintas disiplin ilmu untuk mengerjakan proyek pengembangan prototype teknologi kesehatan. Saya juga bersyukur karena beberapa mahasiswa bahkan berhasil membentuk startup berbasis teknologi Kesehatan. Untuk mendidik calon dokter di era digital ini, saya memilih untuk berbeda dari dosen-dosen lain yang mengajarkan hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, saya juga mengajari mahasiswa beberapa hal-hal yang belum terjadi, namun mungkin akan terjadi di masa depan. Karena saya tahu, mereka perlu bersiap untuk itu.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar