Dunia Kampus | e-learning

Blended Learning, Solusi Pembelajaran di Era New Normal

17 Juni 2020

SEVIMA.COM – Pasca terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tanggal 20 Mei 2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, sebagai awal dimulainya masa new normal (kenormalan baru).

Sejumlah Kementerian/Lembaga negara telah menindakalnjutinya dengan sejumlah peraturan yang diberlakukan untuk wilayah dan lingkungan pekerjaannya, termasuk untuk aktivitas perekonomian, keagamaan dan Aparatus Sipil Negara.

Sementara untuk dunia pendidikan seperti yang diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menetapkan Tahun Akademik 2020/2021 di perguruan tinggi tetap dimulai pada Agustus 2020. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa pembelajaran di jenjang pendidikan tinggi ini tetap dilaksanakan secara daring. Baca: Pembelajaran di Perguruan Tinggi Masih Harus Dilakukan Daring

Blended Learning, Solusi Pembelajaran di Era New Normal

Salah satu metode pembelajaran yang cocok digunakan untuk saat ini adalah metode blended learning. Blended Learning adalah pola pembelajaran campuran antara pembelajaran di kelas (face to face) dan online (webinar, LMS). Namun untuk saat pandemi ini yang digunakan adalah metode online dengan memanfaatkan multimedia baik sinkron (synchronous) dan asinkron (asynchronous).

Apa itu pembelajaran sinkron?

Contoh online learning sinkron adalah obrolan online dan konferensi video. Setiap alat pembelajaran real-time, seperti pesan instan yang memungkinkan mahasiswa dan dosen untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dengan segera, adalah pembelajaran sinkron. Daripada belajar sendiri, mahasiswa yang mengikuti pembelajaran sinkron dapat berinteraksi dengan mahasiswa lain dan dosen mereka selama pelajaran berlangsung.

Baca juga: Cegah Corona, Beberapa Kampus Ternama Gunakan EdLink Untuk Kuliah Online

Manfaat utama pembelajaran sinkron adalah bahwa hal ini memungkinkan siswa menghindari perasaan terisolasi karena mereka berkomunikasi dengan orang lain selama proses belajar. Namun, pembelajaran sinkron tidak begitu fleksibel dalam hal waktu karena mahasiswa harus menyisihkan slot waktu tertentu untuk menghadiri sesi pengajaran langsung atau belajar online pada waktu yang sebenarnya (real-time). Jadi mungkin tidak ideal bagi mereka yang sudah memiliki jadwal sibuk.

Apa itu pembelajaran asinkron?

Pembelajaran asinkron di sisi lain bisa dilakukan bahkan saat mahasiswa atau dosen sedang offline (tidak aktif). Kursus dan komunikasi yang disampaikan melalui web, email dan pesan yang diposting di forum komunitas adalah contoh sempurna dari e-learning asinkron. Dalam kasus ini, mahasiswa biasanya akan menyelesaikan mata kuliah mereka sendiri dan sekadar menggunakan internet sebagai alat pendukung, bukannya menjelajah secara online hanya untuk kelas interaktif.

Seorang mahasiswa mampu mengikuti kurikulum dengan kecepatan mereka sendiri tanpa harus khawatir tentang masalah penjadwalan. Ini mungkin merupakan pilihan sempurna bagi pengguna yang senang bersantai dalam setiap rencana pelajaran dalam kurikulum, dan lebih memilih untuk mencari topik sendiri.

Namun, bagi mereka yang kurang memiliki motivasi untuk mengerjakan tugas sendiri mungkin merasa tidak mendapat manfaat signifikan dari pembelajaran asinkron. Pembelajaran asinkron juga dapat menyebabkan perasaan terisolasi, karena tidak ada lingkungan pendidikan/pembelajaran interaktif yang nyata.

Baca juga: Hadapi New Normal, dengan Update Strategi Pembelajaran Digital

Pelaksanaan Blended Learning di Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi seharusnya cenderung lebih mudah beradaptasi dengan blended learning, karena mahasiswa sudah menggunakan pola belajar mandiri, beda dengan siswa sekolah.

Dalam pelaksanaanya blended learning rekan-rekan perlu meramu blended learning di masing-masing institusi pendidikan, karena implementasi blended learning pasti berbeda-beda karena harus student-oriented, sesuai kebutuhan. Fokusnya adalah penyediaan materi dan panduan yang jelas.

Posisi multimedia dalam blended learning bukan tujuan, tapi cara mencapai tujuan. Untuk memudahkan pembelajaran yang dirasa sulit ketika disampaikan secara langsung.

6 Manfaat Multimedia dalam Blended Learning :

a. Animasi mempermudah pemahaman mahasiswa
b. Simulasi meningkatkan kreativitas mahasiswa
c. VR/AR/MR Meningkatkan engagement belajar mahasiswa
d. AI-Based multimedia mempercepat penguasaan mahasiswa
e. Multimedia Gamifikasi membuat mahasiswa ketagihan belajar
f. Proses Evaluasi (Tes/Ujian) berjalan efektif dan menyenangkan dengan berbagai metode seperti: Gamifikasi, social media, AR/VR/MRMR, IOT Big Data, Expert System, Machine Learning.

Itulah beberapa pembahasan terkait pembelajaran menggunakan metode blended learning di masa pandemi. Adanya pandemi Covid-19 ini memaksa kita melangkah lebih cepat dalam hal inovasi pembelajaran. Untuk perguruan tinggi yang ingin memulai menerapkan blended learning bisa menggunakan SEVIMA EdLink yang sudah banyak digunakan perguruan tinggi di Indonesia. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa melakukan aktifitas normal kembali.

Bagikan artikel ini

Komentar