Lomba Artikel

CIVITAS AKADEMIK HARUS AGILE

Penulis: Lia Jamilah Syukrimiyati

Institut Pertanian Bogor (IPB)

Agile adalah pola pandang (mindset) dan cara kerja (framework atau metode), agile menekankan pada sistem yang mudah menerima perubahan dan beradaptasi dengan cepat. Poin pentingnya, agile dapat memberikan ruang besar untuk civitas akademik mampu mengambil keputusan dengan cepat, dengan kualitas dan prediksi yang baik, dan meningkatkan potensi dalam menangani setiap perubahan dengan baik. Kita hidup di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang penuh guncangan perubahan disertai ketidakpastian dan situasi yang semakin kompleks. VUCA disebut membuat kita fragile, tetapi fragility akibat VUCA dapat kita konversi menjadi agility.

Agility adalah kelincahan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan sehingga kita dapat beradaptasi dan bertahan dengan segala perubahan zaman. Kemampuan seseorang untuk bergerak cepat (tangkas, lincah). Pada awalnya konsep ini erat kaitannya dengan kegiatan atletik, kemudian diadopsi menjadi lebih menyeluruh di berbagai lini kehidupan. Agility membuat seseorang mampu berpikir, memecahkan masalah, dan kreatif di tempat kerja. Agility pun juga mengacu pada kecerdasan emosi dan intelektual seseorang.

Empat nilai Agile, diantaranya : 1) Interaksi dan Individu lebih penting daripada proses dan alat, proses dan alat yang hebat tidak akan berfungsi baik jika personal tim tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya, interaksi dan komunikasi antar tim diperlukan untuk menghindari konflik yang bisa membuat proses pengembangan tidak berjalan efektif. Maksudnya kita dalam bekerja lebih mengutamakan orang-orang dalam tim dan interaksinya diantara mereka. 2) Perangkat lunak yang berfungsi lebih penting daripada dokumentasi yang lengkap, perangkat lunak yang berfungsi baik dan berhasil mengirimkannya kepada pengguna akan lebih penting nilainya daripada dokumen untuk mendeskripsikan suatu produk. Maksudnya kita dalam bekerja lebih mengutamakan hasil kerja daripada dokumen dan cenderung memberatkan dalam penyusunannya. 3) Kolaborasi dengan klien lebih penting daripada negosiasi kontrak, kita harus melibatkan klien dalam proses pengembangan perangkat lunak, untuk menghindari sistem yang tidak sesuai dengan permintaan klien, dengan terus berkomunikasi dengan klien, kesalahpahaman dapat diminimalisir. Maksudnya dalam bekerja kita mengutamakan kolaborasi daripada mengotak-ngotakan diri. 4) Respons terhadap perubahan lebih penting daripada mengikuti rencana, perubahan dapat terjadi kapan saja, permintaan perubahan bisa datang dari mana saja. Selain itu, tekonologi akan semakin berkembang sehingga perubahan dapat terus terjadi. Maksudnya dalam bekerja kita harus lebih flekxible, beradaptasi terhadap perubahan daripada fokus pada rencana. Empat nilai agile ini lebih banyak mengenai cara berfikir kita. Agile memang membuat pekerjaan menjadi terselesaikan lebih cepat, tapi bukan berarti tim yang bekerja cepat menjadi indikator keberhasilan dari penerapan agile. 

Mengapa civitas akademik harus menerapkan agile. Agile menjadi jembatan yang menghubungkan civitas akademik dengan inovasi dan transformasi. Mengawali inovasi dengan pemikiran kita tidak tahu segalanya akan membuat kita bersiap untuk menghadapi perubahan yang tidak ada habisnya. Adanya iterasi dalam proses agile membuat civitas akademik lebih cepat beradaptasi dengan perubahan. Keuntungan berada di tim yang agile adalah setiap anggota tim bisa menelusuri apa saja yang sudah dikerjakan oleh anggota tim lainnya dan berapa waktu yang diperlukan untuk mengerjakan task tersebut. Transparansi tersebut memberikan efek positif yakni apabila ada anggota tim yang butuh bantuan maka anggota lain bisa berinisiatif untuk menawarkan bantuan. Hal seperti itulah yang membuat tim bisa meningkat produktivitasnya.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar