Dunia Kampus

Cara Optimalkan Blended Learning Untuk Pembelajaran di Era New Normal

SEVIMA.COM – Berbagai upaya terus dilakukan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi Covid-19 ini. Banyak hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali seperti sedia kala.

Selama ini, berbagai perguruan tinggi di Indonesia sangat mengandalkan pembelajaran secara online. Sehingga pembelajaran secara offline terpaksa harus ditanggalkan karena wabah ini. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah mulai memikirkan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar agar bisa berkembang dengan baik. 

Salah satu metode pembelajaran yang sedang digodok saat ini adalah metode pembelajaran blended learning. Metode pembelajaran blended learning bisa dikatakan sebagai salah satu metode yang tepat dimana menggabungkan metode pembelajaran secara offline dan online. 

Dikutip dari kanal Youtube Uwes Anis Chaeruman, beliau mengungkapkan bawah adanya metode pembelajaran blended learning ini bisa saling melengkapi satu sama lain. Yang mana pembelajaran ini akan saling melengkapi satu sama lain sehingga bisa memperbaiki sistem dan metode pendidikan di Indonesia yang lebih baik. 

“Adanya pembelajaran blended learning ini sebenarnya digunakan untuk saling memperbaiki fungsi pembelajaran secara offline dan online. Sehingga keduanya bisa saling melengkapi untuk membentuk pembelajaran di Indonesia yang lebih baik,” terang Uwes. 

Baca juga: Apa Perbedaan Blended learning dan Hybrid Learning?

Kerangka kuadran pembelajaran

Kerangka kuadran pembelajaran ini merupakan pola pembelajaran yang bisa diterapkan saat ini. Untuk itu, agar bisa lebih dikenal dekat dengan generasi milenial, pembelajaran ini dikenal sebagai pembelajaran zaman now. 

Uwes mengenalkan pola pembelajaran ini menjadi empat kuadran. Adapun aktivitas pembelajaran tersebut antara lain tatap ruang belajar tatap muka (live-synchronous learning), ruang belajar tatap maya (virtual synchronous learning), ruang belajar mandiri (self-directed Asynchronous Learning), dan ruang belajar kolaboratif (collaborative asynchronous learning).

1. Ruang belajar tatap muka (live-synchronous learning

Pada ruang belajar ini merupakan proses pembelajaran yang terjadi secara bersamaan, atau biasa dibilang sebagai pembelajaran tatap muka. Seluruh kegiatan belajar mengajar diadakan dalam satu ruang yang sama. Namun, saat ini kegiatan belajar ini belum bisa diadakan. 

2. Ruang belajar tatap maya (virtual synchronous learning)

Ruang belajar tatap maya, merupakan pembelajaran yang dilakukan dalam waktu bersamaan namun berada dalam ruang yang berbeda. 

3. Ruang belajar mandiri (self-directed Asynchronous Learning)

Sedangkan pembelajaran mandiri atau biasa dikenal dengan self-directed Asynchronous Learning merupakan belajar mandiri yang bisa dilakukan oleh mahasiswa di mana saja dan kapan saja sesuai dengan kondisi dan kecepatan belajar masing-masing. 

4. Ruang belajar kolaboratif (collaborative asynchronous learning)

Sedangkan ruang belajar 4 merupakan proses dan kegiatan belajar mengajar yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Yang mana bisa didapat dari narasumber lain. 

Baca juga: LMS yang Cocok untuk Blended Learning di Perguruan Tinggi

Penerapan blended learning

Dengan menerapkan blended learning ini, diharapkan mampu untuk mengoptimalkan pembelajaran dengan baik. Sehingga capaian pembelajaran bisa tercapai dengan baik. Blended learning sendiri diketahui memiliki 4 model, yaitu rotation model, flex model, a la carte model, dan enriched virtual model. 

Pembelajaran yang dilakukan dengan model rotation model dan flex model ini lebih banyak dilakukan di kampus. Namun berbeda dengan pembelajaran a la carte model dan enriched virtual model lebih banyak mengacu pada pembelajaran secara online.  Untuk menerapkan pembelajaran seperti ini harus memperhatikan kondisi dan situasi dari kampus masing-masing. 

Dengan demikian, pembelajaran menggunakan blended learning bisa diaplikasikan agar proses kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan baik. Harapannya, adanya metode ini dapat membawa perubahan yang maksimal bagi pendidikan di Indonesia. 

Bagikan artikel ini

Komentar