Dunia Kampus | Featured | Lawan Covid-19

Pandemi Covid-19 Ancaman Serius Bagi Perguruan Tinggi, Apa yang Harus dilakukan?

29 Mei 2020

SEVIMA.COM – Pertumbuhan di sektor pendidikan tinggi khususnya pada kampus swasta selama 10 tahun terakhir akan mendapat ancaman yang cukup serius dari pandemi Covid-19 ini. Kita tahu bahwa setiap bulan Agustus/ September menjadi awal tahun ajaran baru di semua kampus di Indonesia, baik negeri dan swasta.

Dilansir dari kumparan, penerimaan mahasiswa baru biasanya akan berakhir di akhir Juli atau awal Agustus, notabene hal tersebut tinggal kurang beberapa bulan. Di sisi lain kampus swasta secara khusus yang biasanya sudah gencar sejak Januari untuk melakukan pemasaran pasti mengalami penurunan intensitas program karena pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 ini.

Pandemi Covid-19 Ancaman Serius Bagi Dunia Pendidikan

Melihat hal tersebut akan menjadi tantangan yang cukup serius bagi kampus swasta di Indonesia, tapi tidak terlalu berpengaruh ada kampus negeri, karena berdasarkan penelitian dan pengalaman saya ditemukan bahwa brand awareness dan preference calon mahasiswa atas kampus negeri sangat kuat, disamping nama almamater, tapi juga terkait unsur budaya dan biaya yang dimana hal tersebut tak dapat diberikan oleh kampus swasta secara lengkap.

Setidaknya Ada Tiga Hal yang Akan Menjadi Tantangan

1. Daya Beli Yang Menurun

Diperkirakan masyarakat akan menahan pembelian atas pendidikan tinggi di tengah tahun 2020 ini, karena dampak ekonomi bagi keuangan keluarga akan cukup berpengaruh. Banyak keluarga yang kehilangan sumber penghasilan atau mengalami pengurangan upah/ hasil bisnis. Sedangkan tipe pembayaran biaya perkuliahan adalah lump sum (semua di depan) ada yang beberapa kampus yang bisa dicicil.

Baca juga: 10 Cara Cerdas Menghemat Biaya Operasional Kampus Saat Pandemi Covid-19

Disamping itu keluarga akan wait and see melihat perkembangan penyebaran Virus Covid-19 ini di Indonesia, akan cukup riskan bila anak mereka berkuliah di tengah pandemi yang belum tahu akan kapan mereda dan ditemukan obatnya. Mereka akan banyak berpikir untuk menunggu setahun lagi agar anak mereka berkuliah.

2. Proses Belajar Mengajar yang Berubah

Memang sebelum tahun ajaran baru nanti kampus-kampus sudah menerapkan belajar online, namun pada dasarnya kampus-kampus menggunakan opsi tersebut karena “terpaksa” dan menyangka bahwa sistem pembelajaran akan kembali normal beberapa waktu ke depan.

Melihat perkembangan penyebaran virus tersebut sepertinya seluruh sistem pembelajaran akan mengalami “revolusi super cepat” dalam digitalisasinya, yang sebelumnya hanya menjadi opsi darurat akan berubah menjadi sistem utama dalam proses belajar mengajar. Bisa dikatakan hal tersebut “The New Normal” di sektor pendidikan.

Hal ini akan menjadi tantangan bagi kampus-kampus, karena dalam waktu yang singkat, biaya investasi yang harus digelontorkan, dan proses koordinasi internal yang hanya bisa dilakukan melalui teleconference, telepon dan semacamnya.

3. Biaya Operasional Yang akan Berubah

Dengan menggunakan sistem pembelajaran full online, atau mix learning (50/50) dan implementasi teknologi internet tentu akan berpengaruh pada biaya operasional yang akan menurun (bila diimplementasikan dengan tepat). Hal ini bagus secara operasional namun akan menuntut penyesuaian dari pihak mahasiswa selaku konsumen yang akan meminta potongan biaya dan semacamnya karena banyak fasilitas off line kampus yang tidak digunakan.

Namun walaupun mungkin tiga hal di atas akan menjadi tantangan, saya melihat sektor pendidikan akan menjadi sektor yang dapat bertumbuh secara positif bila dapat mengimplementasikan teknologi digital secara cepat dan tepat. Karena produknya berupa jasa yang dapat dikonsumsi melalui online media. Pertanyaannya, apakah kampus Anda sudah siap menuju full digitalization?

Apa yang Harus Dilakukan Perguruan tinggi?

Tentu yang harus dilakukan perguruan tinggi adalah adaptasi dan Mitigasi dengan memanfaatkan teknologi. Berbicara kelangsungan perguruan tinggi, tentu berbicara bisnis perguruan tinggi dan itu tidak terlepas dari penerimaan mahasiswa baru.

Saat ini teknologi sudah sangat canggih, bisa melakukan penerimaan mahasiswa baru secara online, tes calon mahasiswa secara online, agar nantinya tidak kekurangan mahasiswa di kampus tersebut dan akhirnya mengancam keberlangsungan kampus.

Baca juga: Hadapi New Normal, dengan Update Strategi Pembelajaran Digital

Tidak hanya penerimaan mahasiswa baru, the new normal dalam pelaksanaan pembelajaran di kampus adalah kuliah secara online, kampus harus siap dengan kurikulum baru berbasis digital. Dalam segi dosen atau pegawai kampus akan banyak penerapan absensi online dan lain sebagiannya.

Sebenarnya teknologi adalah senjata utama dalam menghadapi the new normal dalam perguruan tinggi. SEVIMA sebagai partner perguruan tinggi sudah menyiapkan jauh hari untuk menghadapi tantangan ini. Salah satu yang sudah banyak diterapkan di berbagai kampus adalah teknologi Siakad Cloud sebuah sistem informasi yang siap menjadikan perguruan tinggi berbasis digital atau smart campus.

Mulai dari penerimaan mahasiswa baru secara online, pengelolaan akademik, SDM kampus hingga tracer study siap membantu pelaksanaan perguruan tinggi dalam menghadapi the new normal ini. Silahkan Anda cek kelebihan lainnya disini siakadcloud.com

Dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19 memang perlu menjadi perhatian bersama agar tidak mengganggu lalu lintas pendidikan di negeri ini. Dampak ini akan semakin mengancam bila langkah yang diambil tidak optimal sehingga bisa menyebabkan penurunan kualitas pendidikan.

Mengatasi ancaman ini, kita perlu bersinergi dalam rangka tetap fokus mengambil langkah terbaik guna mengamankan keberlangsungan dunia pendidikan. Di masa mendatang boleh jadi ada situasi yang tidak dapat kita prediksi. Namun, dengan tetap saling bersinergi untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan, tujuan untuk meraih pendidikan Indonesia yang lebih maju akan dapat kita capai bersama.

Bagikan artikel ini

Komentar