Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
SEVIMA.COM – Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Mandiri merupakan program pengembangan dari program MBKM yang diusung oleh Kemendikbud. Program ini dikembangkan dengan tujuan agar kampus dapat ikut aktif mengembangkan program MBKM sesuai kebijakan dan regulasi kampus masing-masing.
Meski berpotensi membantu mahasiswa, program MBKM Mandiri ini belum dipraktikkan dengan baik di beberapa kampus. Untuk menghasilkan kegiatan mahasiswa yang maksimal, ada beberapa hal yang kampus perlu mempertimbangkan praktiknya.
Bagaimana praktik baik MBKM Mandiri yang dapat dengan hasil maksimal? Berikut pembahasannya.
Semua Mata Kuliah (MK) konversi MBKM sebaiknya diletakkan pada kategori MK non-inti. Ini bertujuan agar para siswa mendapatkan pembelajaran dasar di awal perkuliahan. Di sisi lain, mahasiswa juga bisa lebih kuat dari aspek teori dan praktik.
Untuk mengimplementasikan konversi MBKM diletakan pada mata kuliah non inti, maka perguruan tinggi perlu mengakui SKS yang sesuai untuk konversikan agar Capaian Pembelajaran Lampau (CPL) tercapai secara maksimal.
Pada webinar yang membahas praktik baik MBKM Mandiri Mengenal Sinergi Kurikulum dengan tema Inisiasi MBKM Mandiri di Tahun 2024 pada Selasa, (16/01) Bagus Jati Santoso, Ph.D, Kasubdit Pengembangan Akademik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya) menjelaskan bahwa bentuk perhitungan SKS setidaknya 75% dari 144 SKS merupakan mata intinya. Terjemahan sejenisnya dapat diperhitungkan sebagai SKS konversi MBKM.
“Program Sarjana memiliki MK inti ada sekitar 108 SKS (75%) dari 144 SKS. MK inti ini wajib dicapai oleh mahasiswa, tanpa mendengarkan apapun, nah sisa SKS dapat dikonversikan menjadi SKS MBKM,” jelasnya.
Selain itu, bagi prodi yang merupakan rumpun sosial, biasanya lebih banyak menambahkan praktik MBKM. Hal ini disebabkan atas implementasi ilmu yang dapat dipelajari secara langsung.
Beda dengan rumpun saintek. Ilmu saintek cenderung lebih kompleks dan sangat kaku untuk dilakukan tanpa teori. Terlebih lagi bagi rumpun saintek khususnya bidang kesehatan. Tidak disarankan untuk melakukan praktik tersebut.
Baca juga:
Meletakkan mata kuliah inti pada awal semester (semester 6 ke atas) akan memudahkan mahasiswa fokus pada teori. Dengan begitu di akhir semester bisa menjalankan program MBKM yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
“Ketika Mata Kuliah inti diletakkan di awal semester, maka akan memudahkan mahasiswa fokus pada teori di awal. Sehingga di akhir semester bisa menjalankan program MBKM yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurut penuturan Bagus, saat ini perguruan tinggi banyak yang menempatkan profesor atau guru besar untuk mengajar di awal semester. Ini tentunya sangat penting untuk membentuk motivasi siswa sejak awal. “Diharapkan pada awal semester, CPL sudah tercapai dan membentuk karakter siswa sesuai dengan bidangnya seperti akuntan, engineering, dan sastrawan.”
Kebebasan yang diberikan kepada mahasiswa untuk menentukan kegiatan di akhir semester dapat berdampak pada persiapan terkait keterampilan, hubungan, dan pengetahuan sebelum masuk ke dunia kerja. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan masanya di dunia kerja.
“Program studi dan perguruan tinggi sepakat untuk memberikan kebebasan mahasiswa untuk memilih aktivitas di 2-3 semester akhir perkuliahan dengan syarat bahwa mereka telah lulus MK inti dapat dimanfaatkan untuk program MBKM,” ujar Bagus menjelaskan tentang syarat penyelenggaraan kegiatan mahasiswa di akhir semester.
Tentunya, kebebasan mengikut program MBKM mandiri ini dengan pertimbangan bahwa CPL telah diselesaikan di awal semester. Hal ini relevan dengan poin 2 agar mata kuliah inti yang sesuai dengan CPL dapat diletakkan pada awal semester .
Tren industri bergerak dengan sangat cepat semenjak hadirnya teknologi. Maka perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dan mempersiapkan lulusan dengan kurikulum yang memperbarui 2 tahun sekali agar pembelajaran tetap adaptif dan relevan.
“Perguruan tinggi perlu hingga wajib untuk memperbarui struktur kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan tuntutan zaman. Contohnya di ITS, kami memutuskan bahwa mahasiswa boleh mengambil kegiatan di luar kampus setelah menempuh perjalanan 5-6 semester, dan keputusan ini cukup adaptif dan membuat mahasiswa menjadi agile ,” jelas Bagus.
Itu tadi informasi lengkap mengenai praktik baik MBKM Mandiri di perguruan tinggi yang dapat Anda implementasikan. Bagi Anda yang membutuhkan sistem akademik yang mendukung kegiatan MBKM, kunjungi SEVIMA Platform atau hubungi kami di sini .
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi