Berita

Prita Kemal Gani – Kartini Hebat LSPR, Siap Menyongsong Pembelajaran Tatap Muka

SEVIMA.COM – Di balik besarnya lembaga pendidikan tinggi London School of Public Relations – Jakarta (LSPR – Jakarta), ada sosok Kartini hebat di belakangnya. Ia adalah Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR.

Wanita kelahiran 23 November yang berjiwa entrepreneur ini, merintis lembaga pendidikan hubungan masyarakat pada 1 Juli 1992 dalam bentuk kursus. Hal ini ia lakukan karena melihat kondisi nyata masih minimnya lulusan dari komunikasi ataupun Public Relations yang siap terjun ke dunia profesional. Maka dari itu, lembaga kursus ini adalah sebuah ‘training school’ agar lulusan dirasa lebih mampu untuk terjun ke dunia profesional.

Setelah berjalan selama 10 tahun, lembaga tersebut pun diresmikan menjadi STIKOM The London School of Public Relations – Jakarta, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan bergengsi dan juga terbaik di bidang komunikasi. Kini, LSPR juga telah naik status menjadi Institut Ilmu Komunikasi.

Berkat perhatiannya yang kuat di bidang Public Relations, Prita Kemal Gani pun kerap dianugerahi berbagai penghargaan bergengsi. Salah satunya sebagai ASEAN People’s Award di tahun 2015 yang diberikan di sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur.

Ini Kisah Perjuangan Pembentukan LSPR

LSPR berkembang pesat, Prita mengenang awal mula LSPR berdiri. Berbekal pengalaman sebagai ahli humas di perusahaan pusat kebugaran dan cita-cita menjadi guru, Prita membuka kursus singkat humas pada 1992.

Sarjana Humas dari London City College of Management ini mulai dengan menyewa ruangan kecil di Jakarta. Prita mengusahakan pengajaran bertaraf internasional. Ia juga mengajak kenalan asingnya untuk mengajar.

Ketika krisis ekonomi menerpa pada 1998, Prita kehilangan para tenaga asing ini. Ia memutar otak dan mencari tenaga pengajar dari Filipina. Mendapat gelar magister administrasi bisnis di Filipina, Prita mengungkapkan orang Filipina berkualitas dalam bidang humas. Saat bersamaan, kondisi rupiah yang anjlok membuat banyak orang tua Indonesia kesulitan menyekolahkan anak ke luar negeri.

Setahun berlalu, krisis belum selesai. Titik terang datang kala pemerintah memberi kesempatan kepada lembaga pendidikan Indonesia untuk mengurus izin menjadi sekolah tinggi atau universitas. Pada 1999, nama STIKOM-LSPR terbentuk.

“Saat itu, keran seperti terbuka. Banyak yang mendaftar di LSPR hingga kami buka 3 shift dan menyewa tempat baru. Kami pindah beberapa kali sampai bisa punya gedung dan menambah gedung seperti sekarang,” sambung Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia 2011-2014 ini.

Kini, Menyiapkan Pembelajaran di Era New Normal

Setelah hampir setahun pemerintah membatasi masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah, pada bulan Juni mendatang menjadi masa transisi menuju era kenormalan baru atau New Normal.

London School Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute kini juga tengah mempersiapkan sejumlah protokol belajar-mengajar untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan mahasiswa, pengajar, serta para karyawannya.

LSPR sendiri memiliki 5.000 mahasiswa, 325 staf, dan 260 orang pengajar. Hal ini tentu tidak mudah bagi LSPR untuk mengaturnya.

“Tidak mudah untuk membuat semua orang tiba-tiba berubah. Oleh karena itu, kami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan hal ini sejak awal. Pada saat WFH (work from home), kami juga harus berpikir kreatif untuk merancang strategi dalam menghadapi pandemi ini,” ujar Founder & CEO LSPR Communication & Business Institute Prita Kemal Gani.

LSPR akan kembali mengadakan kelas offline pada masa pelonggaran PSBB dan New Normal. Akan tetapi kelas ini hanya dapat diikuti mahasiswa dengan jumlah separuhnya.

Jika dalam kondisi normal, per kelas mencapai 36 mahasiswa, maka pada masa ini, LSPR hanya mengizinkan 18 mahasiswa atau separuhnya yang dapat mengikuti kelas offline. Mahasiswa akan digilir untuk masuk ke kelas tersebut.

Selebihnya, mahasiswa dapat mengikuti kelas dari rumah. Meski mengikuti kelas online, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana suasana kelas.

“Jadi, kami menggunakan alat atau teknologi dimana mahasiswa di rumah dapat melihat dan mendengar langsung semua kegiatan di dalam ruangan kelas kampus. Dengan demikian, class experience bisa mereka dapatkan meski mengikuti dari rumah,” terang Prita.

Selain itu, durasi di dalam kelas pun tidak bisa selama seperti dalam kondisi normal. Artinya, jika dulu dalam sehari ada tiga shift, maka sekarang LSPR membuatnya dalam 6 shift. Setiap shift-nya memang memiliki waktu yang pendek.

Strategi dan protokol kesehatan tersebut juga telah disosialisasikan kepada mahasiswa, dosen, dan staf kampus LSPR melalui website resmi kampus, serta media sosial seperti Youtube dan instagram.

“Bahkan, kami juga punya Tim Gugus Covid-19, yang kami sudah persiapkan betul untuk menangani mereka yang terdeteksi terinfeksi Covid-19,” tutup Prita.

Ditulis oleh tim LSPR Jakarta

Bagikan artikel ini
TAGS :
Berita

Komentar