Lomba Artikel

Teknologi & Merdeka Belajar Kurikulum Merdeka (MBKM) Di Poltekkes Kemenkes Surakarta

Penulis: Endang Sri Wahyuni, MPH 
Dosen Kampus : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Seiring dengan perkembangan transformasi digital pada era revolusi industry 4.0 yang semakin pesat saat ini, maka dunia pendidikan juga harus mampu menyesuaikan diri dengan arus perkembangan teknologi yang ada. Lahirnya education 4.0 merupakan wujud penyesuaian pendidikan dari pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Education 4.0 ditengarai menjadi salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan dunia dengan mengusung konsep self-directed learning dan long-life learning. Akan tetapi, hal ini membawa tantangan kontekstualisasi tersendiri bagi insan pendidikan untuk mampu memformulasikan sistem dan strategi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. 

Salah satu usaha untuk mendukung proses perubahan yang ada adalah dengan melakukan revolusi sistem pendidikan konvensional menjadi sebuah gerakan Merdeka Belajar. Yang mana hal tersebut juga diikuti dengan adanya penyesuaian kurikulum yang ada. Gerakan Merdeka Belajar Kurikulum Merdeka (MBKM) merupakan suatu pendekatan yang memberikan kebebasan kepada setiap elemen pendidikan untuk mampu menjadi agen perubahan pendidikan dengan mengoptimalkan teknologi dan sumber yang ada, sehingga dapat menciptakan peserta didik yang mampu berpikir kritis, logis, dan kratif. Adanya perubahan sistem pendekatan belajar ini, perlu dukungan dari beberapa faktor, diantaranya: tenaga guru/dosen inovatif, perangkat ajar yang sesuai, strategi pengajaran yang tepat, dan lingkungan belajar yang mampu meningkatkan motivasi belajar.

Bagi Pendidikan Tinggi Vokasi (PTV), MBKM memberikan tantangan tersendiri termasuk Poltekkes Kemenkes Surakarta yang merupakan salah satu PTV yang mencetak ribuan tenaga kerja kesehatan dengan berbagai spesifikasi profesi setiap tahunnya. Tantang utama dalam penerapan MBKM ini adalah bagaimana menyeimbangkan kemampuan kompetensi lulusan terkait dengan keterampilan teknis (hard skills) dan keterampilan nonteknis (soft skills), sebagai bekal lulusan agar mampu bersaing saat terjun ke masyarakat. Poltekkes Kemenkes Surakarta mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menerapkan model pembelajaran Blended Learning yang didukung oleh cyber university. 

Cyber university merupakan lingkungan kampus yang sebagian besar sumber dayanya berbasis digitalisasi teknologi sehingga mampu mewujudkan pendidikan tinggi yang mampu mencapai tingkat World Cass University. Hal tersebut dapat dilihat dari penerapan e-learning dalam sistem pembelajarannya. Pemanfaatan teknologi melalui berbagai platform pendidikan juga tidak kalah penting dalam mendukung proses pembelajaran yang berlangsung. Sehingga, dengan adanya platform pembelajaran ini sangat mendukung program blended learning yang diterapkan.

Blended Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mengkombinasikan model pembelajaran tradisional/tatap muka (off-line) dan jarak jauh/daring (on-line) menggunakan berbagai media virtual yang ada. Di Poltekkes Kemenkes Surakarta, model pembelajaran tatap muka diterapkan pada saat penyampaian materi perkuliahan terutama terkait dengan teori tentang pelaksanaan praktik maupun materi penting yang dirasa efektif jika hanya disampaikan secara tatap muka.

Aktivitas MKBM yang dilaksanakan secara tatap muka lainnya meliputi:

1) pelaksanaan magang atau praktik kerja yang dalam hal ini adalah praktik klinik di lahan praktik, sehingga hal ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan teori yang telah didapatkan kepada pasien/klien;

2) kuliah kerja nyata tematik yang berupa program magang di masyarakat untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan yang ada dengan menggunakan pendekatan interprofesi dan lintas program. Kegiatan ini lebih dikenal dengan istilah One Tim One Family Community Intership Program Interprofessional Education and Collaboration (OTOF CIPIPEC). Pada kegiatan ini, mahasiswa antar profesi (kebidanan, keperawatan, fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara, akupuntur, dan jamu) berkolaborasi dalam satu tim kerja menangani permasalahan kesehatan pada satu keluarga;

3) pertukaran pelajar dalam tingkat internasional dilaksanakan secara periodik dan berkesinambungan, sebagai contoh: adanya mahasiswa dari negara Austria, Canada, dan Amerika yang melaksanakan praktik klinik bersama mahasiswa Indonesia di lahan praktik baik di rumah sakit, klinik, maupun rehabilitasi bersumberdaya masyarakat;

4) dalam hal penelitian kolaborasi antara dosen dan mahasiswa juga rutin dilaksanakan setiap tahunnya dengan tujuan agar terjadi transfer knowledge dan skills penelitian maupun penyelesaian kasus-kasus spesifik di masyarakat;

5) adanya bimbingan dalam kegiatan kewirausahaan yang dikelola oleh mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan kemahasiswaan; dan

6) pelaksanan projek kemanusiaan yang bertujuan untuk mengasah kepekaan sosial, rasa tanggung jawab, dan kepemimpinan.  Sedangkan kegiatan pembelajaran MKMB yang dilaksanakan secara daring/ online learning berupa kegiatan: 1) pembelajaran sinkron maya yang dilakukan dengan menggunakan media virtual untuk menyampaikan materi perkuliahan; 2) asinkron independent, dimana mahasiswa belajar secara mandiri/self learning dengan mobile untuk mengakses segala materi yang diperlukan; dan 3) asinkron kolaboratif yang dapat dilakukan dengan cara dosen membagi kelas menjadi menjadi beberapa kelompok belajar, kemudian memfasilitasi proses diskusi dan presentasi kelompok tersebut.

Dalam hal ini, mahasiswa melaksanakan proses diskusi baik secara mandiri maupun dengan pendampingan dosen. Sedangkan sarana penunjang pembelajaran diperoleh mahasiswa dari modul, buku ajar, akses video youtube, dan website sumber belajar pendukung lainnya. Dengan adanya proses pembelajaran terstruktur dan kompleks tersebut, diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan dalam berpikir secara kritis dan radiks sehingga mampu menjawab tantangan society 5.0.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar