Berita | Dunia Dosen | Dunia Kampus | Tips & Trik

Rasionalisasi Perkembangan Kurikulum di Era MBKM

SEVIMA.COM– Perkembangan kurikulum di program Merdeka Belajar Kelas Merdeka (MBKM) memang perlu perubahan yang cukup signifikan di dalam sebuah perguruan tinggi. Perubahan tersebut dibentuk dengan tujuan agar setelah mengikuti program MBKM tersebut, mahasiswa bisa mendapatkan hasil sesuai yang relevan. 

Selama mengikuti kegiatan MBKM, mahasiswa akan mendapatkan nilai dari kegiatan yang diikuti. Maka dari itu, kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa tak bisa sembarangan. Misalnya saja dalam pemilihan tempat magang, mahasiswa harus selektif dalam memilih. 

“Untuk mendapatkan nilai dan hasil kegiatan yang bermanfaat, mahasiswa harus memilih tempat magang yang tepat. Output yang didapatkan saat di tempat magang tersebut harus seimbang,” ujar Assoc.Prof. Wahyudi Agustiono, Ph.D dalam Webinar SEVIMA tentang Strategi Menyusun Kurikulum dan Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) di Era Kampus Merdeka pada Kamis (13/01) lalu. Bersama 36 Rektor dari PTN dan PTS se-Indonesia turut hadir dalam Live Zoom ini untuk mendiskusikan materi bersama para narasumber.

Agar mendapatkan hasil dari kurikulum yang memadai tersebut, dosen wajib membangun kurikulum yang memadai. Kurikulum tersebut sangat penting untuk membantu mahasiswa lebih mendapatkan hasil yang maksimal. 

Baca juga: Tips Sukses Magang Kampus Merdeka Anti “Zonk”

Tips Terapkan RPS Kurikulum MBKM

Wahyudi menambahkan, bahwa dalam melakukan penyusunan kurikulum MBKM harus memperhatikan beberapa hal. Tujuannya agar kurikulum tersebut bisa diserap dan diaplikasikan sebaik mungkin oleh para mahasiswa.

1. Menyiapkan kegiatan mahasiswa yang relevan

Agar program MBKM di perguruan tinggi bisa berjalan dengan lancar, maka dosen harus menyiapkan kegiatan mahasiswa yang relevan. Kegiatan tersebut disarankan agar membentuk mahasiswa yang lebih memiliki pengalaman yang maksimal. 

“Terdapat kedelapan program MBKM yang sangat relevan bagi kegiatan mahasiswa. Dari kedelapan program tersebut perguruan tinggi wajib memberikan hak kepada mahasiswa untuk memilih program tersebut. Namun tentunya juga disertai dengan arahan yang terbaik,” tegas Wahyudi. 

2. Mengetahui konsep pembuatan kurikulum

Dalam program kampus merdeka, terdapat hak mahasiswa selama 3 semester untuk studi di luar prodi. Ini harus disadari oleh setiap dosen agar proses pembentukan kurikulum disesuaikan dengan program ini. 

“Panduan tersebut akan sangat membantu untuk pembuatan kurikulum. Terlebih untuk membentuk kurikulum MBKM yang cocok di perguruan tinggi,” ujar Wahyudi. 

Baca juga: Tips Terapkan RPS Kurikulum MBKM, Untuk Meningkatkan Kualitas Lulusan

3. Meningkatkan hardskill dan softskill mahasiswa

Agar lulusan bisa mencetak hasil yang bagus dan maksimal, perguruan tinggi harus menyiapkan berbagai macam kegiatan yang bisa menunjang mahasiswa di dunia kerja melalui kedua experiential learning tersebut. 

“Melalui kegiatan MBKM, dosen bisa membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan mereka, baik secara soft skill maupun hardskill. Dengan kedua kemampuan tersebut, mahasiswa akan menjadi lebih siap mengembangkan potensinya dengan baik,” ungkapnya. 

4. Memahami perubahan SKS

Dalam program MBKM, dosen harus memahami tentang perubahan definisi SKS. SKS di sini dapat diartikan sebagai jam kegiatan yang akan dilakukan mahasiswa. 

“SKS dalam program MBKM akan mengacu pada daftar kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa. Hasil dari kegiatan tersebut kemudian akan ditransfer menjadi nilai mahasiswa,” ujarnya. 

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar