Mahasiswa dan Dosen Juga Bisa Berperan Aktif Sukseskan Hilirisasi, Ini 3 Tipsnya!
02 Jan 2025
Hari ini - Event Bimtek: Optimalisasi SEVIMA Platform untuk Persiapan PMB Tahun Akademik 2025/2026 Dimulai.
SEVIMA.COM – Tekad yang bulat dalam mendapatkan ilmu terbaik memang patut diacungi jempol. Tak terkecuali Mohammad Zyad Alshurafa, mahasiswa asal Palestina yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Lampung.
Rela berpisah ribuan kilometer dengan orangtuanya, hampir membuatnya menyerah dan balik ke Palestina. Ditambah melihat kenyataan bahwa rumahnya di Jalur Gaza luluh lantak akibat serangan militer. Namun, mimpi orangtua untuk melihatnya sukses, membuatnya tetap bertahan di sini.
“Orangtua saya sangat menaruh harapan besar kepada saya agar bisa memperoleh pendidikan dan karir yang bagus di Indonesia. Maka dari itu, saya bertekad untuk tetap semangat belajar dan memantapkan hati untuk mengikuti magang Kampus Merdeka di SEVIMA, Surabaya,” jelas Mohammad dalam bahasa Indonesia yang fasih saat Penyambutan Mahasiswa Magang dari Universitas Lampung, Rabu (09/02) di Gedung SEVIMA Surabaya.
Kedatangan Mohammad di Indonesia memang bukan sebuah kebetulan. Ini berawal saat Ia mendapatkan informasi terkait beasiswa tersebut. Pihak kampus pun menyambut hangat. Wakil Rektor Bidang Kerjasama Universitas Lampung, Prof. Suharso, menyatakan bahwa kehadiran Mohammad di Universitas Lampung bisa mempromosikan persahabatan antar bangsa.
“Kedatangan Mohammad dan kelima rekannya sangat kami nantikan. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Makanya kita carikan dana untuk beasiswa, dan kita dukung Mohammad dan kawan-kawannya,” ungkap Prof. Suharso.
Kedatangan Mohammad di tanah air dipenuhi dengan tekad yang kuat. Terbukti, dirinya berhasil mendapatkan IPK 3,8. Tentunya ini bukan sebuah usaha yang mudah baginya. Mohammad pun memaparkan strateginya untuk tetap berprestasi, berikut adalah strateginya.
Bahasa menjadi penghalang Mohammad untuk belajar di Indonesia. Kondisi ini tak membuatnya menyerah. Justru Ia semakin semangat mengikuti pelatihan bahasa di pusat pelatihan.
“Saya menyiasati dengan tekun belajar bahasa di pusat pelatihan bahasa. Setelah paham, akhirnya saya praktikkan dalam kegiatan perkuliahan dan percakapan sehari-hari,” tuturnya.
Meski rumahnya hancur lebur dan keluarganya masuk rumah sakit akibat serangan militer di Gaza, tak lantas membuatnya menyerah. Pesan orangtua untuk menuntaskan studi menjadi penyemangat utama untuk tetap bertahan.
“Saat rumah hancur dan keluarga saya masuk rumah sakit, rasanya ingin pulang saja. Namun saya selalu ingat pesan orangtua untuk mengubah nasib keluarga dan bisa menuntaskan pendidikan sarjana,” kata mahasiswa yang sedang belajar Ilmu Komputer ini.
Walaupun kondisi perang di kampung halaman tak membuatnya tenang. Tapi Mohammad tetap meluruskan niatnya untuk memenuhi harapan orangtuanya.
“Saat saya sudah mulai memahami Bahasa Indonesia dan tidak terkendala komunikasi, akhirnya saya bisa mempelajari mata kuliah seperti algoritma hingga matematika. Tak disangka nilai saya hampir seluruhnya A (sempurna),” tutur mahasiswa magang di SEVIMA tersebut.
Kondisi di Palestina memang sedang berkecamuk. Namun semangat Mohammad yang membara putut diapresiasi. Harapan Mohammad dengan kemampuannya saat ini bisa membawa perubahan dan kemajuan pendidikan di negaranya.
“Meski Palestina sedang berjuang, saya sangat yakin jika nasib kita bisa membaik. Salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah dengan menguasai ilmu pengetahuan ini. Dengan kemampuan yang saya miliki saya harap bisa mengubah nasib bangsa saya menjadi maju dan berkembang,” tutupnya.
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami