Pelaporan PDDikti

Pernah Pelaporan PDDikti Secara Manual, Sekarang Otomatis, Oleh: Anggraeni Pratiwi (Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung)

Cerita: Anggraeni Pratiwi – Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung
Cerita ini Terpilih Menjadi 15 Finalis dalam Lomba Sharing Operator SEVIMA

Pandemi Covid-19 di Indonesia pada triwulan pertama sedikit membawa hikmah untukku, kala itu kehamilan memasuki usia 22 weeks atau sekitar 5 bulan membuatku dianjurkan untuk full work from home. Hari–hari yang saya lalui dengan bekerja di rumah membuatku memiliki lebih banyak “Me Time”, ya sekedar scroll kebutuhan bayi di marketplace atau nonton drama Korea. Tentu saja semua kulakukan ketika semua pekerjaanku sudah beres.

Namaku Anggra, hampir 5 tahun aku bekerja sebagai pegawai tidak tetap di STP Bandung, banyak suka dan duka yang aku rasakan. Sejak awal masuk, aku terbiasa berkutat dengan data mahasiswa bersama dua orang temanku (oleh sebab itu kita sering dipanggil dengan julukan “Charlie Angels” hahaha). Seiring bertambahnya kebutuhan administratif PDDikti, aku mengerjakan pelaporan PDDikti secara manual dengan langsung menginput data-data ke feeder. Mulai dari perbaikan pelaporan 12 periode, mulai dari periode 20121 sampai dengan 20182 secara manual, iya MANUAL diinput ke dalam feeder. Berasa kena durian runtuh waktu awal pindah job desc.

Pada semester 2 di tahun 2018, STP Bandung memutuskan untuk menggunakan SiakadCloud, salah satu platform garapan PT. Sevima, platform ini sangat membantuku karena bisa melakukan sinkronisasi data ke feederdengan menggunakan aplikasi profeeder. Bener-bener bisa dibilang start from zero, aku mengerjakan pelaporan ini dengan bermodalkan “sok tahu” mengutak-atik plus tanya sana-sini. Bisa dibilang, aku paling rajin nanya ke Mbak Dewi, Mba Rani dan Mas Pras, ya… aku lebih rajin chat mereka daripada pasangan mereka (peaceeee!!!). Plonga-plongo, itu dua kata yang paling cocok menggambarkan kondisiku saat itu. Pepatah malu bertanya sesat di jalan nampaknya berlaku, yaps aku bertanya dar A sampai Z mengenai Siakad dan Profeeder, siang malam kujalani demi pelaporan 100% wkwkwkwk.

Hari perkiraan lahirku di akhir Juli, artinya cuti aku berlangsung sampai dengan akhir Oktober, yang notabene adalah penutupan pelaporan periode 20192. Tiba saatnya aku mengajukan surat cuti melahirkan, aku titipkan pengajuan itu kepada temanku Nourma untuk dapat dibantu prosesnya dan Nourma juga yang menjadi penggantiku selama cuti.

Walaupun status cuti melahirkan, aku tetap intens melaporkan progres pelaporan PDDikti dan laporan kerja harian ke Ibu Nining, Kepala Sub Bagian KKS di STP Bandung. Aku pun melakukan koordinasi dengan Nourma baik melalui chat, video call bahkan bertemu langsung. Aku memang typical suka mencicil daripada harus menjalani system kebut semalam untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi siang malam rela aku habiskan untuk menyelesaikan pekerjaanku ini.

Memasuki pertengahan Juli, tiba-tiba aku merasakan kontraksi yang lumayan intens, bergegaslah suami mengantarkanku ke Rumah Sakit. MasyaAllah ternyata sudah pembukaan 2, perasaan makin campur aduk dag dig dug. Antara belum siap melahirkan (karena maju 2 minggu dari perkiraan) dan tanggungan pekerjaan yang aku rasa masih belum bisa aku selsesaikan.

Akhirnya… keesokan harinya dokter memutuskan aku untuk segera dibawa ke ruang bersalin karena pembukaannya sudah bertambah. Hal pertama yang paling kuingat adalah “LAPTOP JANGAN SAMPE LUPA DIBAWA”, dan terakhir yang kuingat adalah aku sempat melaporkan posisi pelaporan PDDikti yang sudah 87% per 15 Juli 2020. Keesokan harinya, kamis 16 Juli dini hari pukul 02.00, putra pertamaku lahir dengan sehat, alhamdulillah… welcome my baby boy..hampir aja di kasih nama Sevima Profeederio hihi

#pejuangPDDikti
#SharingBerhadiahSEVIMA

Bagikan artikel ini

Campuspedia
Instagram
Komentar
[gs-fb-comments]