Lomba Artikel

Implementasi Model Pembelajaran E-Task in Learning (ETiL) untuk Generasi Milenial di Perguruan Tinggi

Penulis: Sri Restu Ningsih

STMIK Indonesia Padang (STMIKINDONESIA)

Abstrak

Untuk mencapai lulusan yang berkompetensi dan mampu bersaing maka perlu didukung media atau model pembelajaran yang relevan sesuai abad 21 dan era revolusi industri 4.0. Pembentukan karakter siswa dalam proses pendidikan harus menjadi perhatian agar dapat mencapai keunggulan dalam persaingan abad 21. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model pembelajaran di Perguruan Tinggi dalam mewujudkan generasi milenial dengan berpedoman pada teknologi digital pembelajaran. Metode yang digunakan dalam pengembangan model pembelajaran ini adalah model ADDIE yang merupakan salah satu model untuk mendesain dan mengembangkan model pembelajaran. Penelitian ini menghasilkan sebuah model pembelajaran yang diharapkan dapat memotivasi siswa dalam belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa di Perguruan Tinggi. 

PENDAHULUAN

Teknologi digital mencerminkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga terdapat perbedaan kualitas pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Revolusi digital ini telah mengubah peran semua pemain dalam kancah pembelajaran. Infrastruktur dan fasilitas perangkat teknologi pembelajaran yang memadai pada suatu daerah, memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan daerah yang tidak memiliki fasilitas pendukung yang belum memadai dalam penggunaan teknologi.

Ilmu pengetahuan  diperoleh tidak hanya di dalam kelas, namun dapat diperoleh di mana saja selama ada perangkat teknologi digital. Pembelajaran pada abad ke 21, siswa tidak hanya fokus pada hasil belajar, namun harus mampu meningkatkan keterampilan seperti penalaran ilmiah, kepemimpinan, dan komunikasi. 

Perkembangan teknologi yang sangat pesat, telah membawa inovasi yang dapat memainkan peran penting dalam pendidikan, dalam hal ini kemajuan teknologi menyentuh berbagai aspek kehidupan individu (W. Stone & Baker-Eveleth, 2013). Perkembangan arus teknologi informasi dan komunikasi abad 21 menuntut adanya perubahan dalam proses pendidikan, karena sebagian besar pekerjaan yang biasa dilakukan manusia pada saat ini telah dilakukan oleh mesin-mesin dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih,. Perubahan dari teknologi canggih tersebut mengakibatkan terjadinya distruption. Dalam proses pendidikan, sebuah inovasi pembelajaran harus menjadi perhatian utama, agar peserta didik dapat mencapai keunggulan dalam persaingan abad 21. 

Penerapan teknologi dalam bentuk web dan mobile aplikasi telah digunakan dalam pembuatan aplikasi pendidikan (Engel et al., 2021). Untuk itu pemerintah dituntut agar lebih responsive untuk bisa menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan masyarakat yang selalu update. Dalam hal ini penggunaan aplikasi digital dalam pembelajaran telah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi (Sefriani et al., 2022). Seiring dengan perkembangan zaman, kemampuan penguasaan teknologi digital sangat dibutuhkan. (Chan & Zhang, 2019). Teknologi digital mencerminkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga terdapat perbedaan kualitas pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Revolusi digital ini telah mengubah peran semua pemain dalam kancah pembelajaran.

Proses pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses yang sistematis, karena terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan, yaitu pendidik, peserta didik, bahan ajar dan lingkungan yang saling terhubung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Belajar adalah proses kognitif untuk mencapai pengetahuan, dan teknologi adalah bagian dari proses pembelajaran. Dapat diartikan bahwa teknologi digunakan seperti alat lain dalam proses pendidikan (Aparicio et al., 2016). Banyak jenis pembelajaran baru yang sebagian besar pemahamannya lebih dalam tentang disiplin yang dikombinasikan dengan kecerdasan emosional, pemikiran kritis, dan kreativitas (S. R. Ningsih et al., 2022).

Peserta didik perlu meningkatkan sistem dalam proses belajar mengajar dengan menyediakan sumber daya dan kegiatan yang bermanfaat bagi siswa melalui penggunaan teknologi (Bousbahi & Alrazgan, 2015). Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif, digunakan perangkat pembelajaran yang disusun dan disesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan oleh pengajar (Candra et al., 2020).

Model pembelajaran merupakan pola yang selalu dijadikan pedoman dalam pembelajaran di kelas dan tutorial untuk dosen di universitas. Model pembelajaran harus mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, meliputi tujuan pembelajaran, lingkungan dan pengelolaan kelas (S. Ningsih et al., 2019). Penelitian ini membuat sebuah model pembelajaran bagi generasi milenial di perguruan tinggi untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam belajar. Dengan adanya inovasi dalam model pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa dalam belajar, terutama bagi generasi milenial pada abad 21 yang diharuskan dapat memahami teknologi yang semakin canggih, khusunya dalam pembelajaran.

METODE

Model pembelajaran E-Task in Learning (ETiL) ini merupakan model pembelajaran yang ditujukan pada generasi milenial di perguruan tinggi. Dengan menggunakan aplikasi pembelajaran ini diharapkan generasi milenial dapat berkompetensi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan teknologi yang ada dalam media pembelajarannya. Metode pengembangan dari model pembelajaran ini menggunakan model ADDIE yang langkah-langkahnya dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini : 

Gambar 1. Model ADDIE

Sumber : (S. R. Ningsih et al., 2022)

Pengembangan model ADDIE terdiri dari 5 langkah pengembangan, yaitu:

  1. Analisis. Pada tahap analisis ini dilakukan identifikasi masalah yang terdapat dalam pembelajaran, kurikulum dan tujuan pembelajaran, analisis kebutuhan pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran, pengetahuan yang ada dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan media pembelajaran dilakukan.
  2. Rancangan. Tahap ini untuk memverifikasi pemecahan masalah dan merancang aplikasi model pembelajaran yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran.
  3. Pengembangan. Pada tahap pengembangan ini untuk membangun dan memproduksi serta memvalidasi penerapan model pembelajaran yang telah dirancang. Proses ini memakan waktu yang cukup lama dan rumit, karena setelah aplikasi pembelajaran dibangun, aplikasi tersebut akan direview terkait dengan persiapan dan pengembangan produk. Pengembangan media pembelajaran ini merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas model pembelajaran yang dihasilkan, sehingga pada tahap ini diperlukan kompetensi dan keahlian yang kompleks.
  4. Pelaksanaan. Pada tahap ini dilakukan penerapan model pembelajaran ETiL yang telah dibangun dan dikembangkan. Aplikasi model pembelajaran ini diterapkan pada mahasiswa sebagai generasi milenial di perguruan tinggi pada semua mata kuliah. Hasil akhir dari tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran ETiL berbasis web sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran.
  5. Evaluasi. Pada tahap evaluasi ini adalah melakukan proses penilaian kualitas produk pengembangan sebelum atau sesudah penerapan model pembelajaran ETiL yang dikembangkan, apakah masih terdapat kelemahan atau kekurangan yang perlu diperbaiki. Tahap evaluasi ini diarahkan untuk mengumpulkan informasi tentang seberapa berhasil model pembelajaran ini dapat bekerja dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model pembelajaran E-Task in Learning (ETiL) ini muncul karena masih banyaknya pendidik yang menggunakan metode konvensional dalam proses pembelajarannya. Hal ini menjadikan siswa tidak ada minat dalam belajar dan tidak termotivasi dalam pembelajaran, sehingga muncullah model-model pembelajaran yang nantinya dapat menambah minat siswa dalam belajar. Salah satunya adalah dengan model pembelajaran ETiL ini. Adapun bentuk atau konsep dari model pembelajaran ini dapat digambarkan sebagai berikut :

           

 

                Gambar 2. Konsep Model ETiL

Dari Gambar 2 dapat dijelaskan konsep dari model ETiL ini adalah (1) Metode kelas konvensional yang biasa digunakan dirobah paradigmanya menjadi kelas online, terutama dalam penugasan mahasiswa. (2) Mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar (Group Investigation), (3) Mahasiswa diberikan tugas kelompok secara online, (4) Mahasiswa berdiskusi dengan kelompoknya dalam aplikasi model ETiL, (5) Mahasiswa mengupload tugas yang telah diberikan oleh Dosennya. Dalam aplikasi model pembelajaran ini, mahasiswa dapat melihat nilai dari tugas yang telah dikumpulkan.

KESIMPULAN

Model pembelajaran yang selalu dijadikan pedoman dalam pembelajaran di kelas dan tutorial untuk dosen di universitas, harus mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, meliputi tujuan pembelajaran, lingkungan dan pengelolaan kelas. Menanggapi tantangan penguasaan kompetensi abad 21 untuk menyesuaikan dengan literasi baru era revolusi industri 4.0 agar mahasiswa dapat memiliki daya saing global dengan penguasaan literasi digital untuk meningkatkan aktivitas belajar, maka pendidik harus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal ini bertujuan agar pembelajaran lebih optimal dan mengarah pada prinsip pembelajaran yang membiasakan mahasiswa bekerja dalam proses belajar untuk mencapai satu kemampuan menyesuaikan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat. Hasil dari penelitian berupa model pembelajaran ETiL, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar mahasiswa sebagai generasi milenial di perguruan tinggi. Dengan adanya model-model pembelajaran yang inovatif diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam belajar dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

 

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar