Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
Perguruan Tinggi | Strategi & Tata Kelola
08 Dec 2020
SEVIMA.COM – Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) dewasa ini sudah menjadi aplikasi wajib bagi perguruan tinggi. Kita mengetahui perguruan tinggi dengan kegiatan akademik yang begitu komplek tentu membutuhkan sistem yang dapat diandalkan dan membantu memudahkan manajemen kampus dalam mengelolanya.
Pegembangan sebuah sistem informasi akademik di perguruan tinggi memang sangat penting namun pengerjaannya juga membutuhkan usaha yang tidak main-main, harus mempunyai persiapan yang matang dan SDM yang mampu. Tidak semua kampus mampu mengembangan SIAKAD sendiri.
Pengadaan Sistem Informasi Akademik yang memberikan manfaat bagi kampus tentunya bukan tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang sering dihadapi oleh kampus diantaranya:
Permasalahan utama dan umum yang ditemui universitas ketika ingin memiliki software Sistem Informasi Akademik sendiri adalah biaya yang relatif besar, SDM atau teknisi yang belum memadai, infrastruktur dan jaringan internet yang belum stabil, dan software yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Biaya pengadaan Sistem Informasi Akademik tidak sedikit. Untuk pengadaan aplikasi akademik atau pendaftaran online, universitas perlu mengeluarkan biaya mencapai ratusan bahkan miliaran rupiah. Hal ini tentunya menjadi bahan pemikiran universitas-universitas yang ingin memiliki sistem informasi sendiri, terlebih universitas yang masih berada dalam skala kecil dengan jumlah mahasiswa yang juga masih terbatas.
Dalam pengadaan Sistem Informasi Akademik di sebuah universitas, dibutuhkan pula SDM yang memadai, baik dari kuantitas maupun kualitas. SDM ini berperan dalam pembangunan infrastruktur dan melakukan pemantauan. Teknisi harus selalu siap sedia dalam melakukan perawatan terhadap sistem dan melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan. Jumlah dan kualitas SDM yang tidak memadai akan mempengaruhi kinerja sistem informasi yang berjalan.
Masalah ketiga adalah infrastruktur dan jaringan internet yang tidak stabil. Permasalahan ini terkait dengan permasalahan sebelumnya yaitu dana dan SDM. Pembangunan infrastruktur dan perawatannya yang tidak maksimal dapat berdampak terhadap infrastruktur yang kurang stabil dan mengganggu arus perputaran informasi yang ada di dalamnya. Jaringan internet menjadi syarat utama agar sistem ini berjalan dengan lancar. Jika jaringan terganggu dan tidak stabil maka dapat dipastikan sistem informasi juga akan terhambat.
Masalah terakhir yang ada dalam pengadaan sistem informasi adalah ketidaksesuaian sistem informasi dengan kebutuhan kampus. Kebanyakan sistem informasi akademik masih belum bisa memenuhi semua kebutuhan kampus. Sistem harus memperhatikan permasalahan yang ada, bagaimana tampilannya, apa saja yang akan ada di dalamnya, dan mengedepankan kemudahan operasional bagi karyawan kampus.
Pengembangan Sistem Informasi Akademik secara Proyek membutuhkan dana investasi yang cukup besar. Kedepannya juga perlu direncanakan anggaran untuk biaya pemeliharaan infrastruktur, dan biaya untuk pengembangan aplikasi.
Permasalahan pengadaan sistem informasi ini saling terkait satu sama lain. lalu adakah solusi untuk semua permasalahan tersebut? Tentu saja ada. Saat ini telah berkembang sistem informasi terintegrasi berbasis Cloud yang dapat menyesuaikan kebutuhan kampus dan menghilangkan semua poin permasalahan yang ada di atas.
Dengan menggunakan sistem informasi berbasis Cloud, pembangunan infrastruktur dilakukan secara virtual. Pusat penyimpanan dan perputaran informasi akan ada di dalam awan. Oleh karena itu, biaya pembangunan infrastruktur dapat dihapus dari daftar pengeluaran. Layanan cloud ini biasanya menggunakan sistem berlangganan. Universitas hanya melakukan pembayaran untuk biaya berlangganan saja. Berikut studi kasus anggaran penggunaan Cloud vs Non-Cloud.
| TIDAK | Awan | Harga | Infrastruktur Biaya Non-Cloud | Harga |
| 1 | Server Xeon E5 8Gb + RAID 1 Penyimpanan Redundan | 2.000.000 | Server Xeon E3 8GB + 2x HDD 1 TB | 25.000.000 |
| 2 | + Smart-UPS Online dengan Sistem Pemulihan Bencana | UPS 2000va | 9.000.000 | |
| 3 | + Koneksi Internet Redundan 24/7, 100 Mbps (1:1) | Koneksi internet dedicated minimal 1 mbps (hanya untuk server) | 2.000.000/miliar | |
| 4 | + Pusat Data dengan Keamanan Tinggi & Gas Halon | Server AC Ruang | 4.000.000 | |
| 5 | + Redundansi Daya dengan SLA 99% | Sekat Ruang Server (lebih disukai kaca) | 7.000.000 | |
| 6 | + Dukungan 24 jam | Perangkat Server Jaringan (firewall/switch) | 3.000.000 | |
| 7 | Tenaga Pendukung Infrastruktur | 4.000.000/miliar | ||
| 8 | Peralatan Pengaman Kebakaran/apar | 35.000.000 | ||
| 9 | Rack server kalau tidak ada menaikkan lantai | 12.000.000 | ||
| 10 | OS windows server (jika pakai windows) | 13.500.000 | ||
| 11 | Biaya pengaturan awal | 4.000.000 | ||
| Biaya Awal | 2.000.000 | Biaya Awal | 113.500.000 | |
| Kecuali Cadangan jika terjadi kerusakan dalam 4 tahun | ||||
| 1 | Cadangan Harddisk 1 TB | 1.500.000 | ||
| 2 | Biaya upgrade memori tambahan 8GB | 1.500.000 | ||
| 3 | Total biaya tambahan jika terjadi kerusakan lain? | 3.000.000 | ||
| 4 | Pelatihan SDM secara teknis (CDCP: (Certified Data Center Professional)) | 13.000.000 | ||
| 5 | CAL untuk Windows jika butuh windows | 3.500.000 | ||
| TOTAL | 0 | TOTAL | 22.500.000 | |
| Biaya yang dikeluarkan setelah 4 tahun | ||||
| 1 | Server Xeon E3 8GB + 2x HDD 1 TB | 25.000.000 | ||
| 2 | UPS 2000va | 9.000.000 | ||
| 3 | Koneksi internet dedicated minimal 1 Mbps (hanya untuk server) | 96.000.000 | ||
| 4 | Server AC Ruang | 4.000.000 | ||
| 5 | Perangkat Server Jaringan (firewall/switch) | 3.000.000 | ||
| 6 | Tenaga Pendukung Infrastruktur | 192.000.000 | ||
| 7 | Peralatan Pengaman Kebakaran/apar | 35.000.000 | ||
| 8 | Perawatan AC & ruangan | 4.800.000 | ||
| 10 | Pemeliharaan UPS (ganti accu 2 thn sekali) | 8.000.000 | ||
| Biaya Total selama 4 tahun | 92.000.000 | Biaya Total selama 4 tahun | 376.800.000 | |
| Total Biaya 4 tahun dan setup awal | 496.300.000 | |||
Layanan Cloud bertujuan untuk mewujudkan sistem informasi akademik yang ekonomis, lancar dan mudah . Mengedepankan kebutuhan dan kemudahan universitas serta mendukung seluruh kegiatan akademik yang ada di dalamnya.
Mungkin alasan ini yang menjadikan kampus ramai – ramai menggunakan Cloud. Tidak mengharuskan berinvestasi server dengan beban pemeliharaan yang tidak sedikit. Pendekatan pay-as-you-go akan memberikan kontrol penuh pada pengguna untuk melakukan scale up dan scale down sesuai kapasitas keperluan ganda. Bayangkan saja harga sebuah software Siakad + SERVER, pasti Cloud lebih hemat 10 kali lipat. Bagaimana, sangat hemat bukan?
SEVIMA telah menyiapkan Sistem Informasi Akademik berbasis Cloud sesuai kebutuhan perguruan tinggi, Anda bisa cek manfaat dan menyesuaikan kebutuhan disini: siakadcloud.com dan gofeedercloud.com
Diposting Oleh:
Fadhol SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi