10 Hari Lagi - Sebelum Event Webinar Executive Forum: Strategi Sukses Memimpin Kampus dan Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di Jawa Dimulai.

Selengkapnya
Kontak Kami

Opini • 22 Feb 2024

Opini: OBE Lahir Demi Alumni Berjaya di Dunia Kerja

Erna SEVIMA

Penulis : Gede Surya Mahendra, S.Pd., M.Kom. (Dosen Sistem Informasi, Universitas Pendidikan Ganesha)

“Buat apa saya belajar Jaringan Komputer ya, Pak? Saya kan ingin jadi Programmer?” tanya salah satu mahasiswa di tengah senda guraunya bersama saya di salah satu pojok kantin. “140-an SKS itu apakah saya pergunakan semua di dunia kerja kah, Pak?” sambungnya lagi. Kalau ini zaman dulu, saya mungkin akan ikut termenung. Namun saya tersenyum dan menepuk bahunya, “Tenang, ini jaman kurikulum OBE”.

Kami bercerita mengenai kurikulum OBE, kurikulum Outcome Based Education, yang menjadi solusi dari tekanan administratif bagi dosen dan mahasiswa. Dampak, peluang dan tantangan dari kurikulum OBE menjadi pembahasan yang seru untuk diperbincangkan. Kurikulum OBE yang memiliki kecenderungan untuk menekankan pada outcome bukan lagi pada seberapa banyak materi yang harus diselesaikan pada mata kuliah. Hal ini memberikan dampak kepada mahasiswa untuk memberikan hasil terbaiknya di setiap mata kuliah. Hasil tersebut juga unik bagi setiap mahasiswa, berbeda-beda penyajiannya sesuai dengan ciri khasnya mereka masing-masing.

Menyadarkan mahasiswa bahwa setiap mata kuliah memiliki dampak, manfaat dan kebergunaannya pada dunia kerja, menjadi awal mula pembicaraan di mata kuliah. Mahasiswa akan menyadari seberapa penting pencapaian setiap mata kuliah bagi masa depannya. Kurikulum OBE menyebabkan 140-an SKS itu bukanlah beban yang harus dibawa oleh mahasiswa, tapi suatu set kemampuan yang akan menjadi keunikan tersendiri bagi mahasiswa itu. “Kalau perusahaan tahu, kamu pintar di bahasa pemrograman plus jaringan komputer, tentu saja kamu yang akan jadi kandidat utama untuk diterima kerja, kan?” Mahasiswa saya pun menangguk, tersenyum dan setuju dengan komentar saya.

Kurikulum OBE memberikan peluang bagi mahasiswa untuk dapat mengatur set kemampuan yang dimilikinya lebih optimal bagi masa depan yang mereka inginkan. Mahasiswa di tiap mata kuliah yang ditawarkan pada kurikulum OBE memiliki tujuan jelas, tujuan untuk mencapai outcome apa pada tiap mata kuliahnya. Kurikulum OBE memiliki keunggulan dibanding kurikulum tradisional yang menekankan kurikulum yang sama dari waktu ke waktu, namun kurikulum OBE menekankan pada update dan pembaruan terus menerus bagi skill yang dibutuhkan mahasiswa untuk dapat masuk pada industri kerja. Kondisi ini menjadikan setiap mata kuliah selalu relevan bagi tuntutan industri.

Kurikulum tradisional yang mencapai kepuasannya ketika seluruh isi materi dalam silabusnya tersampaikan berubah pada Kurikulum OBE yang mengusahakan mahasiswa mampu mencapai outcome yang diharapkan. Kurikulum tradisional yang hanya mampu memberikan nilai A, B, C saja, di Kurikulum OBE selain memberikan nilai, juga mampu memberikan output tambahan bagi mahasiswa. Artikel jurnal ilmiah, produk, bahkan hak kekayaan intelektual merupakan contoh dari sekian jenis luaran yang mampu dicapai mahasiswa yang akan berdampak pada kualitas lulusan. Tambahan luaran tersebut juga menjadi portfolio bagi mahasiswa melamar kerja, dan menjadi pembeda unggul dari kompetitornya.

Penilaian pada kurikulum OBE juga berbeda dari kurikulum tradisional dimana OBE lebih menekankan pada tingkat output yang ditentukan, makin tinggi makin baik dampaknya. Mahasiswa yang mampu mencapai luaran tambahan berupa artikel jurnal ilmiah akan memiliki tingkat pencapaian berbeda sesuai dengan akreditasi target jurnalnya. Pencapaian akhir itu juga tidak serta merta memunculkan output tersebut. Kurikulum OBE sangat ramah pada penilaian berbasis proses. Contohnya, untuk mencapai artikel jurnal ilmiah, mahasiswa dapat dinilai pada prosesnya membuat abstrak mendapatkan proses 10%, menyelesaikan pendahuluan mendapatkan proses 30%, menyelesaikan metodologi mencapai proses 50%, menyelesaikan hasil dan pembahasan mencapai proses 70%, menyelesaikan dokumen artikel ilmiah mencapai proses 90% hingga melakukan submisi artikel jurnal ilmiah mencapai 100%. Tiap proses pencapaian target dalam kurikulum OBE menjadi momen yang sangat berharga dan membanggakan.

Kurikulum OBE memiliki penilaian pada tingkat pengetahuan mahasiswa dan juga tingkat keahliannya. Dua hal tersebut sangat penting bagi mahasiswa dalam mencapai pekerjaan yang diinginkannya. Dosen memiliki peran penting, tidak hanya dalam menyampaikan materi, namun juga mampu mengarahkan mahasiswa untuk dapat menguasai pengetahuan dan keahlian. Dosen juga harus mampu mengekstraksi pengetahuan dan keahlian mahasiswa dalam sebuah luaran, makin terkuantifikasi makin baik. Mahasiswa yang tumbuh berkembang dengan kurikulum OBE, tentu saja akan memiliki set pengetahuan dan keahlian yang lebih baik dibandingkan kurikulum tradisonal. Pembiasaan pembelajaran berbasis outcome, bersinergi lurus dengan tagihan industri yang juga berbasis hasil. Mahasiswa ketika bekerja akan mampu beradaptasi dengan kondisi industri dan menjadi semakin matang dalam menapaki dunia setelah kuliah. “Calon orang sukses nih saya ya, Pak” tutup mahasiswa saya dengan penuh canda, tapi optimisme terdapat di tatapan matanya. Semoga generasi emas Indonesia bersinergi dengan baik dengan Kurikulum OBE.

Artikel ini sebelumnya telah terbit di Kumparan.com

Tags:

kurikulum obe obe Sevima sevima platform

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

×