Liputan Media

Cegah Ijazah Alumni Gagal Dipakai CPNS

Dijelaskan lebih lanjut oleh Apriliyani selaku Kepala Bagian Riset SEVIMA dan salah satu pembicara, website pengecekan tersebut bisa berjalan karena adanya sistem aplikasi milik Kemdikbud bernama PDDIKTI Feeder. Pada sistem tersebut, kampus harus melakukan pelaporan secara berkala tentang semua aktivitas perkuliahan sehingga dapat diakses masyarakat.

Namun sayangnya, masih banyak civitas kampus belum memahami seputar sistem ini. Sehingga tak jarang ada mahasiswa atau aktivitas perkuliahan yang tak tercatat, dan berimbas pada ijazah tidak bisa terbit maupun kegagalan para alumninya ketika melamar kerja dan CPNS.

Baca juga : Cara Instalasi Feeder PDDikti Lengkap Dari Awal [Terbaru]

Untuk menghindari hal tersebut, terlebih lagi menjelang pendaftaran CPNS seperti saat ini, pada Sabtu (20/03), SEVIMA menggelar “Belajar Bareng PDDIKTI Feeder Mulai dari Nol”. Acara ini diikuti 500 Operator dan Dosen se-Indonesia yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA secara daring.

“PDDIKTI Feeder merupakan hal yang sangat penting bagi perguruan tinggi. Dengan menggunakan PDDIKTI Feeder ini perguruan tinggi bisa melakukan pengolahan data penting, antara lain melakukan validasi nasional ijazah, PIN dan SIVIL, data SISTER dan SIM TENDIK, persyaratan beasiswa dan KIP, proses akreditasi BAN PT/LAMP, penjaminan mutu, penelitian dan jurnal, hingga proses UJIKOM untuk prodi kesehatan dan kebutuhan verifikasi lain para alumni seperti mengikuti CPNS dan mencari pekerjaan.” Ujar April.

Tiga Cara Masukkan Data ke PDDIKTI Feeder

Tiga pembicara dihadirkan oleh SEVIMA untuk mengupas tuntas diskusi ini: Firin Handayani dan Sasna Salsabila selaku Tim Teknis SEVIMA, serta Apriliyani selaku Kepala Bagian Riset SEVIMA.

Dalam penjelasannya, Firin mengungkapkan tiga tahap sederhana mengisi data: mengunduh aplikasi PDDIKTI di Website Kemdikbud, hubungkan sistem akademik dengan internet, lalu lakukan sikronisasi secara berkala.

“Agar proses pelaporan bisa berjalan dengan lancar, pastikan Anda sudah mengunduh seluruh aplikasi mulai dari versi 3.2 hingaa versi 4.0 melalui http://pddikti-admin.kemendikbud.go.id/. Setelah itu lakukan generate prefill untuk melakukan sinkronisasi data, “sebut Firin.

Poin kedua yaitu koneksi antara sistem akademik dengan internet, disebut oleh Sasna adalah yang paling sulit. Karena tidak jarang masih banyak dosen yang mengumpulkan datanya secara manual. Misalnya ditulis di kertas atau menggunakan excel.

Untuk mempermudah pelaporan, Sasna merekomendasikan penggunakan sistem akademik yang berbasis online. Jadi nilai sinkronisasi terkompilasi dalam sistem tersebut dan bisa dengan mudah disinkronisasi ke PDDIKTI Feeder.

“Ada banyak sistem akademik online yang sudah tersedia di kampus-kampus, maupun bisa didownload di internet. Misalnya Gofeeder Community yang bersifat gratis dan sudah dipakai kurang lebih 2.000 kampus se-Indonesia,” lanjut Sasna.

Jangan Menunda Pelaporan

Dalam melakukan tiga langkah tersebut, Apriliyani merekomendasikan pelaporan dilakukan mengikuti dua tahapan. Yaitu pada Checkpoint 1 (di awal perkuliahan hingga maksimal dilakukan 2 bulan sejak perkuliahan dimulai), dan Checkpoint 2 (di akhir perkuliahan hingga maksimal dua bulan setelah perkuliahan selesai).

Kenapa checkpoint ini penting? Menurut April, kegagalan mengisikan data sesuai dengan waktu tersebut akan berimbas pada pekerjaan administrasi tambahan berupa keharusan minta izin ke Kemdikbud untuk mengisikan data. Selain itu, bisa juga timbul kecurigaan bahwa data yang diisikan fiktif karena pelaporan tidak dilakukan di masa perkuliahan.

“Kegiatan pelaporan harus dilakukan terus menerus setiap semester. Jika pada semester ganjil, deadline nasionalnya jatuh pada tanggal 30 April. Sedangkan pada semester genap akan berakhir pada tanggal 30 Oktober. Semoga dengan cara-cara ini, pelaporan kampus lancar dan para alumni diberi kesuksesan dalam CPNS maupun proses administrasi apapun yang memerlukan legalitas ijazah dan transkrip nilai ,” pungkas April. (*)

Bagikan artikel ini

Komentar