Kontak Kami

Strategi Penguatan Pengabdian kepada Masyarakat dan KKN Internasional untuk Dampak Sosial dan Jangkauan Global

Dana pemberdayaan dunia mengalir ke Indonesia setiap tahun, kampus Anda hanya jadi penonton di negeri sendiri.

USAID, JICA, GIZ, dan Uni Eropa membiayai program pemberdayaan masyarakat di Indonesia dengan nilai jauh di atas seluruh hibah pengabdian pemerintah untuk kampus. Hampir semuanya jatuh ke LSM dan lembaga asing. Kampus tidak dilirik bukan karena dosennya kurang pintar. Kampus tidak dilirik karena belum pernah dipercaya memegang proyek dan laporan dananya belum memenuhi standar donor. Jalur dalam negeri juga sesak. Pada 2023 dari 6.854 proposal pengabdian hanya 897 yang dibiayai atau satu dari delapan.

Ilham Dary Athallah menyebut pengabdian lintas negara sebagai diplomasi yang dijalankan kampus dan bukan kementerian, sekaligus ekspor keahlian ke pasar bantuan pembangunan dunia.

Tiga hal membuat buku ini berbeda. Pertama, ia tidak berhenti menyemangati kampus agar mendunia melainkan membedah mesin administrasinya dari cara membuka sumber dana sampai melapor dengan standar yang dipercaya donor. Kedua, sisi sulitnya tidak disembunyikan karena tiap donor punya aturan pertanggungjawaban sendiri yang tidak bisa dipelajari semalam, ditambah garis tipis antara pengabdian sungguhan dan jalan-jalan berbungkus pengabdian. Ketiga, ia membuka pintu dana yang jarang dibahas buku lain yaitu filantropi Islam, dengan zakat nasional Rp40,5 triliun dan dana zakat UNHCR yang menolong 474 ribu pengungsi di 22 negara. Buktinya kampus kita sendiri, dari IAIN Langsa yang menerjunkan mahasiswa bersama UNHCR untuk pengungsi Rohingya sampai UIN Antasari yang membawa KKN ke Malaysia.

Satu dosen bersemangat bisa membuka pintu. Begitu ia pindah, pintu itu tertutup dan nomor mitranya ikut pergi di ponselnya.

KKN kampus Anda berhenti di desa sebelah, pintu ke luar negeri ternyata lebih murah dari dugaan.

Buku ini membuka dengan kebiasaan yang tidak pernah dipersoalkan. Dharma ketiga dikerjakan seperti tugas sampingan di desa terdekat setelah urusan akademik utama tuntas. Masalah yang paling membutuhkan kampus tidak berhenti di batas kecamatan. Pengungsi, krisis iklim, dan daerah rawan pangan tidak mengenal batas negara.

Tiga krisis dibedah dan ketiganya saling mengunci. Dana tidak sebanding dengan ambisi program. Dampak mati di satu siklus karena cara mengukurnya belum mengakar. Kampus terkurung di luar ekosistem pengabdian dunia yang berlimpah metode dan jaringan.

Peluangnya disusun bertingkat sesuai isi kantong kampus. KKN Internasional ditempatkan sebagai pintu paling murah dan paling terbukti lewat tiga koridor Asia Tenggara yaitu Malaysia, Thailand Selatan, dan Kamboja. Tangga berikutnya berupa kolaborasi dengan lembaga PBB, riset bersama, dan bantuan teknis lintas negara. Ada pula jalur yang hampir tidak dilirik yaitu berbuat untuk dunia tanpa perlu terbang ke mana pun lewat beasiswa dan penerimaan mahasiswa dari negara terdampak krisis seperti langkah UIN SMH Banten bagi mahasiswa Palestina.

Mesin kerjanya dibongkar sampai kebiasaan harian LPPM yaitu memburu peluang dana sepanjang tahun, menulis proposal yang layak menang, dan merawat donor sampai program diperpanjang. Jebakan waktunya diperingatkan keras. Kalender semester tidak pernah tunduk pada tahun anggaran donor.

Urusan visa, izin, dan keselamatan mahasiswa dibahas tanpa diromantisasi. Penutupnya menawarkan lima prasyarat yang mengubah pengabdian internasional dari keberuntungan satu dosen menjadi kapasitas tetap kampus. Langkah pertamanya tidak menunggu sistem yang sempurna.

Kategori: Pendidikan Ekspor Jasa
1Personal Info
2Kebutuhan
3Terkirim
Iklan 1
Iklan 2
Iklan 3