Lomba Artikel

Optimalisasi, Masifikasi dan Akselarasi Transformasi Digital Perguruan Tinggi untuk Menyokong Kebijakan MBKM

Penulis: Redhitya Wempi Ansori 
Dosen: Universitas Nahdlatul Ulama Blitar (HAMZANWADI)

Gaung dari riuhnya teknologi begitu menggema dan menyasar sendi-sendi kehidupan manusia. Hiruk-pikuk dari gema itu begitu masif menginternalisasi segala sektor. Gema paling kuat dirasakan di sektor pendidikan, karena pendidikan menjadi ihwal fundamental transformasi segala aspek. Hal tersebut didasari oleh mandat yang diemban pendidikan sebagai ruang penerapan, pengembangan, dan penemuan keilmuan untuk kemaslahatan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan harus gesit merespon kemajuan dan perkembangan zaman. Termasuk merespon dengan cepat teknologi dan mendayagunakannya untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar. 

Pendidikan merupakan sektor strategis untuk merespon perubahan, termasuk merespon akselerasi transformasi digital dalam mengubah sistem analog menjadi sistem yang berbasis digital. Pendidikan terutama di perguruan tinggi membutuhkan itu sebagai ancangan untuk berdaya saing dengan perguruan tinggi lain di tingkat global. Perguruan tinggi sebagai entitas yang mengakomodasi ruang pengembangan intelektual harus menjadi pelopor literasi teknologi yang mumpuni, agar tujuan muruah pendidikan di tingkat perguruan tinggi mencapai predikatnya, yaitu mampu berdaya saing di kancah internasional dan menjadi world class university

Hal sebaliknya yang perlu diantisipasi, jika perguruan tinggi lambat mengikuti perkembangan akan rentan tercerabut dari akarnya atau dalam terminologi teknis terkena disrupsi. Terkait disrupsi ada hipotesis yang cukup mencengangkan dunia perguruan tinggi. Prof. Clayton Christensen penggagas teori disrupsi pernah membuat prediksi pada tahun 2014 yang mengakibatkan para civitas akademika perguruan tinggi kelimpungan. Prof. Christensen memprediksi 50 persen dari seluruh Universitas di Amerika Serikat akan bangkrut dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan.

Tentu prediksi yang dilakukan Prof. Christensen tidak serampangan dan asal berpendapat. Prof. Christensen dalam membuat prediksi sudah barang tentu menggunakan

indikator yang terukur. Prediksi tersebut didasari oleh terobosan inovasi teknologi pembelajaran yang canggih dengan adanya MOOCs (Massive Online Open Courses). Hal tersebut berdampak signifikan pada geliat perguruan tinggi, sehingga mendisrupsinya tanpa ampun. 

Peringatan Prof. Christensen tersebut perlu diindahkan dengan meresponnya dengan cepat dan tepat. Agar hal tersebut, tidak menjadi kesalahan usang yang berulang dalam pengelolaan perguruan tinggi yang acap kali terjebak pada pola Businnes as Usual. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan penulis dengan rekan dosen yang mengajar di universitas swasta didapati fakta serupa terkait dengan pengelolaan kampus dengan pola lama yang cenderung usang.

Termasuk di dalamnya sistem administrasi masih manual. Seharusnya, di era digital yang menawarkan keserbamudahan dengan kecenderungan efektif dan efisien, hal yang manual dan punya kecenderungan membuat gemuk administrasi sudah harus diubah secara total demi memberi pelayanan prima kepada mahasiswa.

Namun, tampaknya yang berbau manual dan berkecenderungan human error masih menjadi bagian esensial di dalam sistem pelayanan beberapa kampus swasta di Indonesia. Sistem birokrasi yang gemuk nan rumit masih mengakar tunggang hingga menyebar ke sektor-sektor pelayanan publik di bidang pendidikan.

Temuan berdasarkan observasi yang dilakukan terkait permasalahan birokrasi yang gemuk adalah, ketika mahasiswa selesai melalukan pembayaran semester di Bank. Mahasiswa masih harus ke kampus lagi untuk melakukan validasi kepada admin kampus. Validasi dilakukan sebagai bukti bahwa mahasiswa sudah membayar dan berhak mengikuti kuliah.

Hal semacam itu tentu sangat merepotkan mahasiswa, serta tidak efektif dan efisien. Kalau sistem semacam itu terjadi pembiaran dan berjalan secara kontinyu tinggal tunggu waktu kampus tersebut terkena disrupsi dan gulung tikar.  Hal itu masih menyoal tataran administrasi, lalu bagaimana dengan proses belajar-mengajar di kelas?  Patut dicurigai juga cara dosen mengajar. Inovasi dosen mengajar disanksikan, sehingga yang disampaikan berkecenderungan usang dan tidak relevan. 

Celakanya, beberapa perguruan tinggi di Indonesia masih banyak yang terkait dengan yang lapuk, usang, dan tidak relevan macam itu. Terutama dampak pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia per Februari 2020 hingga akhir tahun 2021. Kejadian itu membuat gegar bukan kepalang.

Dampak signifikan terjadi pada kampus-kampus swasta yang belum memiliki infrastruktur digital yang memadai, sehingga kebanyakan sistem administratifnya mengandalkan pelayanan temu. Akibatnya, pelayanan administrasi perguruan tinggi tersebut menjadi terkendala ketika ada pandemi yang membatasi temu. 

Perlu strategi jitu dan implementatif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas. Salah satu alternasi solusi adalah mengoptimalkan, memasifkan, dan mengakselarasi transformasi digital seluruh aspek di perguruan tinggi tanpa terkecuali. Hal tersebut digunakan untuk mengantisipasi kampus agar tidak terdisrupsi oleh zaman yang semakin terkepung dengan sistem digitalisasi.  Bak Gayung bersambut dengan adanya tuntutan perkembangan zaman tersebut, PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA) merespon dengan cepat, tepat, dan jitu untuk memberikan layanan terkait pengembangan sistem informasi manajemen terintegrasi. 

Dilsansir dari laman web sevima.com, sevima menjadi terdepan dalam menggawangi penyedia jasa konsultan dan pengembang teknologi informasi sejak tahun 2004. Bak ramalan yang terkabul, SEVIMA menjadi solusi taktis untuk bersinergi dengan gegap gempita tuntutan digitalisasi pada zaman ini. Oleh sebab itu, masalah-masalah kampus yang ditemukan berdasarkan observasi dan wawancara untuk studi awal tulisan ini dapat diatasi dengan bergabung segera dengan SEVIMA.

Sevima memberikan layanan pengubahan sistem yang gemuk menjadi efektif dan efisien melalui transformasi digital. Hal tersebut berefek  memberi kemudahan kepada para stakeholder perguruan tinggi yang selama ini bekerja lembur hingga larut malam karena semua dikerjakaan secara manual. Belum lagi potensi human error lebih signifikan daripada kerja menggunakan bantuan platform menajamen operasional akademik yang sudah teruji dan dapat diandalkan milik SEVIMA.

Meneroka Permasalahan dan Alternatif Solusi Universitas Nahdlatul Ulama Blitar untuk Menyongsong World Class University 

Di era keberlimpahan (abudance) membuat segalanya terbuka, termasuk di dalamnya akses keterbukaan informasi yang mengerucut ke ranah kompetinsi yang semakin bebas, tetapi sangat kompetitif (ketat). Oleh sebab itu, perlu persiapan yang matang untuk merespon fenomena itu. Begitu pun, perguruan tinggi harus mampu membuat terobosan yang solutif agar tidak digulung oleh fenomena keberlimpahan ini. Era keberlimpahan disebut juga era free atau bebas karena limpahnya. 

Keberlimpahan ini perlu dikelola dengan baik. Pengelolaan baik perlu Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Sumber Daya Manusia yang mumpuni perlu diproses dalam suatu wadah akademik yang proper dan representatif. Rangkaian-rangkaian tersebut merupakan proses yang korelatif.

Berkenaan dengan rangkaian proses tersebut, pada poin terakhir terkait dengan wadah akademik yang proper dan representatif perlu menjadi titik tekan. Perguruan Tinggi di Indonesia berkelas dunia atau yang masuk dalam kriteria World Class University masih bisa dihitung dengan jari. Jarinya pun hanya jari tangan kanan saja. Belum melibatkan jari tangan kiri. Artinya, masih sangat sedikit. 

Dilansir dari Sindonews.com Indonesia hanya berhasil menempatkan empat perguruan tingginya pada peringkat top 500. Pemeringkatan itu dirilis oleh QS WUR pada tahun 2022. Hal tersebut belum terlalu menggembirakan untuk perguruan tinggi Indonesia karena belum mencapai target.

Tentunya, hal itu merepresentasikan kualitas perguruan tinggi Indonesia, sehingga berkorelasi dengan Sumber Daya Manusianya. Padahal, Sumber Daya manusia ini merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian yang digunakan untuk pemeringkatan perguruan tinggi di dunia tersebut. Salah satu aspek indikatornya adalah terkait employer reputation yang diperoleh dari survey untuk menilai lulusan dari perguruan tinggi tersebut.  

Sumber Daya Manusia kini masih dihadapkan pada persoalan-persoalan elementer terkait dengan harkat hidup (pekerjaan). Berdasarkan SW Update di Indonesia penggangguran terbuka dengan penyumbang lulusan pendidikan tinggi masih cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan lemahnya inovasi dan lemahnya daya kompetitif Sumber Daya Manusia Indonesia yang berada pada usia produktif. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap daya saing bangsa dari segala aspek, termasuk di dalamnya berpengaruh terhadap pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi lain di dunia. 

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 begitu jelas mengamanatkan bahwa pendidikan tinggi bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Ada dua poin yang bisa disoroti dari amanat Undang-Undang tersebut. Poin pertama, terkait pengembangan ilmu pengetahuan.

Pengembangan ilmu pengetahuan bisa direalisasikan dengan adanya kualitas pendidikan yang memadai dari segi kualitas pengajaran dan terpenuhinya sarana prasana fisik maupun sarana prasarana digital. Poin kedua, terkait dengan teknologi. Teknologi menjadi poin krusial, teknologi harus menjadi nyawa di setiap kegiatan pembelajaran di pendidikan tinggi.

Perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang berkembangnya embrio-embrio teknologi yang nantinya bisa digunakan secara praktis  di masyarakat. Kedua poin tersebut implikasi praktisnya adalah lulusan yang berkualitas dan punya daya saing, sehingga lulusannya bisa terserap ke dunia kerja. 

Permasalahan di atas sebenarnya tidak bisa diklaim sepihak dengan lemahnya daya inovasi dan daya kompetitif semata. Ada faktor lain, seperti kurang proaktifnya universitas tempat mahasiswa yang bersangkutan kuliah untuk membantu mahasiswa yang sudah lulus untuk mengakses lowongan pekerjaan.

Atau, informasi lowongan pekerjaan yang disampaikan kampus kepada mahasiswa tidak bisa tersebar secara makro ke seluruh civitas akademika kampus tersebut. Hal tersebut karena kampus masih menggunakan cara lama dalam memberikan informasi lowongan pekerjaan. Dengan cara ditempel di mading-mading kampus atau hanya diunggah di media sosial kampus. Hal tersebut tidak efektif dan efisien karena tidak terintegrasi. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Sevima punya solusi jitu. Dilansir https://karirlink.id/ Sevima memiliki program menarik yang layak diakomodasi oleh universitas-universitas di Indonesia untuk mencapai akreditasi dari unsur employer reputaion. Sevima KarirLink ini merupakan program terintegrasi yang dapat memberi kemudahan untuk mengakses lowongan pekerjaan.

Keuntungan dari Sevima KarirLink tersebut bisa didapat dari bergabagai peruntukan. Kemudahan untuk mahasiswa dapat memperbaharui CV semudah seperti semudah update status. Selain itu, bisa mengakses infromasi mengenai lowongan pekerjaan terbaru. Kemudahan untuk perusahaan, dapat menemukan bakat-bakat atau talenta terbaik dari berbagai Universitas yang kualifikasinya sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan. Kemudahan untuk universitas dapat melakukan tracer study alumni yang bisa digunakan untuk kepentingan akreditasi. 

Meneroka upaya perguruan tinggi di Indonesia untuk mencapai World Class University perlu menjadi bahan kajian intensif, agar arah untuk menuju peringkat yang diidealkan tersebut menjadi terukur. Oleh sebab itu, perlu menilik indikator utama dan indikator kinerja perguruan tinggi menurut QS WUR yang dipaparkan dalam tabel sebagai berikut:

Berdasarkan tabel di atas ada empat indikator utama yang masing-masing terdapat persentase yang berbeda-beda. Presentase yang paling tinggi berada pada poin kualitas riset dengan persentase 60 persen. Kualitas riset tersebut masih dibagi ke dalam poin indikator, yaitu reputasi akademik dan sitasi riset per fakultas.

Reputasi akademik ini diperoleh dari survei yang diselenggerakan oleh Top Universities yang mengumpulkan  lebih dari 130.000 pendapat ahli pendidikan tinggi tentang kualitas pengajaran dan pendidikan di universitas tersebut. Sementara itu, sitasi per fakultas diperoleh dari pengukuran kualitas penelitian dari suatu universitas menggunakan matrik citation per faculty. Penghitungannya diperoleh dari jumlah kutipan suatu universitas per lima tahun. Sumber sitasi dan kutipan berasal dari penyimpanan data jurnal terbesar di dunia yang disebut dengan Elsevier Scopus Database

Selain itu, pertimbangan penting untuk menjadi World Class University adalah akreditasi perguruan tinggi. Akreditasi adalah patokan terukur untuk menilai kampus tersebut memiliki kelayakan untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi atau tidak. Saat ini BAN PT maupun LAM punya standar yang tinggi untuk menilai perguruan tinggi bisa terakreditasi.

Sistem akreditasi dengan IAPT 3.0 dan IAPS 4.0 membuat kampus yang masih belum tertib administrasi atau sistem administrasinya masih manual, siap-siap untuk pusing. Tuntutan BAN PT atau saat ini akreditasi melalui Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) menuntut untuk tertib administratif agar lebih mudah menyusun borang akreditasi. 

Hal di atas masih dalam tataran akreditasi oleh lembaga akreditasi secara nasional. Padahal, untuk indikator World Class University tidak cukup akreditasi nasional. Perguruan tinggi dan jurusan harus terakreditasi internasional. Dilansir Kompas.com Prof. Harjanto Prabowo Rektor Binus University mengatakan “Akreditasi internasional merupakan syarat mutlak yang harus dicapai perguruan tinggi untuk menjadi World Class Univeristy.”

Hal tersebut perlu menjadi catatan khusus bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat bersaing di tingkat global. Lebih lanjut, Prof. Harjanto menyampaikan “Akreditasi internasional merupakan sebuah pengakuan terhadap universitas yang memiliki desain dan kemampuan mencetak lulusan berdaya saing tinggi secara internasional.

Berkaitan dengan tuntutan akreditasi yang semakin kompleks, perlu didukung pengadministrasian secara digital agar memudahkan para taskforce akreditasi menyusun borang. Akreditasi dengan dokumen fisik berjajar di ruang asesmen lapangan untuk era akreditasi saat ini tidak terlalu efektif.

Apalagi, ketika pandemi covid-19 melanda Indonesia. secara praktis kegiatan akreditasi dilakukan secara daring. Bayangkan betapa ribet dan repotnya perguruan tinggi yang tidak siap dengan digitalisasi dokumen-dokumen yang dibutuhkan ketika akreditasi. Sudah barang tentu, hal tersebut menyulitkan taskforce dan kemungkinan untuk tidak terakreditasi cukup tinggi.

Oleh sebab itu, digitalisasi dokumen-dokumen untuk penunjang laporan akreditasi menjadi hal krusial. Terkait dengan digitalisasi dokumen untuk kemudahan akreditasi, SEVIMA memiliki fitur yang membantu perguruan tinggi untuk mengorganisasi segala bentuk kebutuhan akreditasi dalam satu sistem terintegrasi. Nama sistemnya adalah Sevima Akreditasi Cloud. 

Pola yang acap kali membudaya dan secara kontinyu berulang-ulang dilakukan perguruan tinggi yang masih menggunakan sistem manual yaitu, lembur ketika menyongsong akreditasi. Belum lagi masalah dokumen yang hilang atau belum dikerjakan. Akhirnya,  dokumen tersebut dikarang dadakan dengan berbagai penyesuaian yang hampir pasti membuat asesor curiga dan kerap memunculkan masalah. Masalah-masalah tersebut tentu bisa diminimalisasi secara optimal dengan menggunakan sistem yang terintegrasi secara digital.

Sevima melalui fitur akreditasi cloud memberi lima manfaat di antaranya sebagai berikut persiapan akreditasi lebih mudah, fitur terintegrasi dengan Neo Feeder, pengumpulan data mudah, dokumen terorganisasi dengan baik, simulasi penilaian akreditasi untuk meninjau kekurangan tiap-tiap kriteria. Hal tersebut tentunya mempermudah karena bisa meminimalisasi  risiko perguruan tinggi atau prodi menjadi tidak terakreditassi. 

Optimalisasi, Masifikasi, dan Akselarasi Digital Universitas Nahdlatul Ulama Blitar untuk Mendukung Kebijakan MBKM 

Optimalisasi, masifikasi, dan akselarasi merupakan tiga kata kunci yang perlu dicermati dengan saksama untuk bisa dijadikan acuan fundamental perguruan tinggi dalam merespon digitalisasi dengan cepat. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa dalam judul artikel ini dengan tiga kata kunci itu dijabarkan secara berurutan. Pembaca akan bertanya-tanya, kenapa sudah dioptimalkan, dimasifkan lagi, terus dipungkasi dengan akselarasi? Untuk menjawab pertanyaan itu cukup mudah, karena penulis ingin memberi titik tekan (emphasis) bahwa memang digitalisasi di segala sektor di perguruan tinggi itu penting dan mendesak. 

Di era keserbamudahan dengan timang-timang teknologi dan digitalisasi, menjadi sangat naif apabila perguruan tinggi masih bertahan dengan sistem lama yang cenderung merepotkan. Terutama dalam hal administrasi dan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini yang perlu menjadi fokus perguruan tinggi. Belajar-mengajar di perguruan tinggi yang masih menggunakan cara lama dengan pola behaviorisme, seperti dosen menjadi sosok yang serba tahu, memegang kendali, dan menjadi center point.

Sedangkan, mahasiswa menjadi pendengar pasif, penerima apa pun yang dijejalkan dosen kepadanya, mahasiswa hanya mencatat apa yang disampaikan dosen, tanpa ada umpan balik berupa respon. Cara-cara klasik seperti itu harus diminimalisasikan dalam pola pembelajaran di era sekarang. Perlu ditekankan ya, diminimalkan, bukan dihilangkan sama sekali. Karena, pola klasik macam itu tetap punya kebermanfaatan untuk membangun karakter mahasiswa. 

Hal di atas masih terkait dengan pola belajar-mengajar di kelas. Hal tersebut belum menyentuh teknis belajar-mengajar di era sekarang yang cukup komplek. Di era sekarang ini begitu masif menggunakan cara belajar daring, kemudian muncul lagi belajar dengan sistem bauran (blended learning).

Masalah pembelajaran dengan sistem dalam jaringan (online) maupun blended membuat perguruan tinggi yang belum memiliki platform pembelajaran repesentatif untuk mengakomodasi cara belajar kekinian tersebut dapat dipastikan kelimpungan. Oleh sebab itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan Learning Management System yang proper untuk menghadapi subjek belajar era generasi Z. 

Masalah kurangnya fasilitas infrastruktur digital di perguruan tinggi menjadi masalah krusial di era timang-timang teknologi dan digitalisasi ini, sehingga perguruan tinggi masih menggunakan cara lama dalam belajar-mengajar mengalami guncangan luar biasa. Dampaknya dirasakan langsung oleh mahasiswa. Mahasiswa menjadi seperti katak dalam tempurung dan dampak iringannya adalah mahasiswa mengalami learning loss.

Perguruan tinggi yang masih minimal infrastuktur digitalnya harus segera berbenah untuk menyongsong era baru dunia pendidikan yang lebih menekankan pada sistem siber. Sistem siber ini begitu digandrungi karena efisien dan efektifnya. Sistem tersebut tidak membatasi ruang dan waktu, semuanya berkelanjutan, integratif dan tidak parsial. Hal tersebut tampak pada gambar di atas bahwa pendidikan bisa diakses di mana pun dengan sistem tatap layar (online). Pembelajaran secara daring bisa dilakukan dengan cara Synchronous dan Asynchronous

Vindisari Yunizha memaparkan bahwa Synchronous dan Asynchronous merupakan penyelenggaraan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Namun, keduanya memiliki perbedaan. Synchronous adalah model pembelajaran daring yang penyelenggaraannya dilakukan pada waktu yang terjadwal. Pembelajaran daring ini dilakukan dengan komunikasi langsung. Media pembelajaran yang digunakan meliputi video call, virtual meeting, chatting, dan lain-lain. Hal ini memungkinkan dosen dan mahasiswa memiliki interaksi dalam waktu bersamaan.

Sementara itu, asynchronous adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring, tetapi dosen dan mahasiswa tidak dapat saling berkomunikasi secara langsung. Proses pembelajaran Asynchronous menekankan pada belajar sendiri dengan tugas dan materi yang bisa diakses secara mandiri tanpa kehadiran pemateri. Pola Synchronous dan Asynchronous tersebut jika dipresentasikan dalam visualiasi diagram tampak sebegai berikut:

Mengutip dari Uwes yang dimuat dalam laman Sevima.com bahwa komunikasi sinkron ini dibagi menjadi dua. Pertama, ruang belajar tatap muka (live-Synchronous learning). Ruang belajar tatap muka mengakomodasi proses pembelajaran yang terjadi secara bersamaan di ruang yang sama dengan cara luring atau belajar dengan temu. Kedua, ada ruang belajar tatap maya (virtual syncronous learning) ruang belajar tatap maya pembelajaran dengan cara daring di ruang yang berbeda dan bertemu secara maya melalui tatap layar.

Lebih lanjut, terkait dengan komunikasi asinkron Uwes juga membagi menjadi dua model. Pertama, ruang belajar mandiri (self-directed asyncronous learning) adalah cara belajar mandiri yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan menyesuaikan pada kemampuan dan kondisi tiap-tiap mahasiswa terkait dengan kecepatan pemahaman dan kemampuan memahami materi. Kedua, Ruang belajar kolaboratif (collaborative asynchronous learning adalah proses kegiatan belajar-mengajar yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja, dengan memperluas sumber informasi dari mana saja. 

Bak gayung bersambut, sinergi antara tuntutan zaman yang begitu berkembang pesat tanpa bisa dikendalikan dengan kebijakan Kemendikbudristek begitu klop. Kemendikbudristek dengan menelurkan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka begitu mewadahi dan mengakomodasi dengan baik proses teknologi dan digitalisasi ini.

Tampaknya, Pak Joko widodo mengangkat Mas Menteri Nadiem Makariem sebagai Kemendikbudristek sudah dengan penuh pertimbangan matang. Mas Nadiem yang begitu high tech menjadi jawaban atas dunia pendidikan saat ini. Mas Nadiem begitu menyadari sejak awal bahwa perkembangan dunia saat ini, secara otomatis juga mempengaruhi perkembangan manusianya. Tentu, hal tersebut harus diiringi dengan perkembangan aspek pendidikan yang proprosional dan representatif untuk saat ini. Dilansir dari Yuswohadi.com Mas Nadiem Makariem menyadari betul bahwa sasaran didik adalag kaum millenial atau generasi z, sehingga perilaku belajarnya berbede dengan generasi sebelumnya. 

Anak didik di era sekarang ini lebih highly mobile dan app-dependent mereka begitu bergantung dengan jaringan internet. Dengan begitu membentuk karakter mereka yang lebih menyukai self learner daripada digurui dan diceramahi. Generasi ini lebih suka belajar mandiri melalui laman-laman yang ingin mereka pelajari. Tipe mereka adalah melek visual (visually-literate).

Oleh sebab itu, mereka lebih suka belajar melalui video-video tutorial, melalui permainan-permainan online, maupun dari augment reality), sehingga generasi ini agak anti dengan model belajar satu arah yang hanya mendengar. Selain itu, mereka juga melek data. Generasi Z adalah generasi yang piawai dalam berselancar di google dengan mengulik data, memproses data, dan menganalis informasi untuk digunakan sebagai pengetahuan mereka.

Hal di atas perlu diimbangi dan diiringi dengan pola belajar yang disesuaikan dengan cara mereka. Pendidikan mesti responsif dengan pengembangan dan perkembangan. Oleh sebab itu, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka hadir di tengah-tengah hiruk pikuk revolusi industri 4.0 dan society 5.0. MBKM merupakan kebijakan yang bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai keilmuan sebagai bekal mengarungi hidup.

Program ini begitu kompatibel dengan laju pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Perkembangan IPTEK banyak mengubah berbagai hal yang dulu dirasa usang diganti dengan yang baru, yang dulu tidak efektif diganti dengan yang efektif, yang dulu manual diganti otomatisasi.

Contoh sederhana dalam hal lapangan pekerjaan. Banyak lapangan pekerjaan hilang, tapi sebaliknya berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Hal itu karena pengaruh teknologi 4.0 yang menghasilkan kompetensi baru, sekaligus mendisrupsi kompetensi lama yang tak relevan lagi. Hal itu karena banyak pekerjaan diganti dengan robot dan Artificial Intelligence. Fenomena tersebut menuntut dunia pendidikan tinggi melakukan transformasi dalam praktik pendidikan dan pengajaran agar dapat menghasilkan lulusan yang responsif terhadap tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat. 

Ditjen Diktiristek menyambut hal tersebut dengan meluncurkan empat aplikasi dan satu fasilitas pada Bulan Januari Tahun 2022 lalu. Yang dilakukan Ditjen Diktiristek terkait akselarasi digital perguruan tinggi tersebut layak diapresiasi dan segera dimanfaatkan untuk mendukung daya saing universitas Indonesia di tingkat global.

Prof. Nizam sebagai pelaksana tugas Ditjen Diktiristek menuturkan bahwa peluncuran empat aplikasi dan fasilitas tersebut sebagai dukungan terhadap akselarasi kemajuan Artificial Intellegence (AI) untuk memberikan transparansi pelayanan, sehingga seluruh lembaga perguruan tinggi di Indonesia dapat mengakses layanan ini secara terbuka. Lebih lanjut, Dikti AI Centre ini juga sebagai upaya mendukung program MBKM dan turunannya.

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen selama 18 tahun dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui sistem informasi siAkadCloud

TAGS :

Komentar