10 Hari Lagi - Sebelum Event Webinar Executive Forum: Strategi Sukses Memimpin Kampus dan Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di Jawa Dimulai.

Selengkapnya
Kontak Kami

Opini • 23 Feb 2024

Pengenalan Kurikulum Outcome Based Education (OBE)

Erna SEVIMA

Penulis: Nelson Hasibuan, Dosen di Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta

Pengenalan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) dalam dunia pendidikan harus sesuai dengan kebutuhannya, karena dalam menghadapi percepatan dan pemanfaatan teknologi yang tidak dapat dibendung mewajibkan pendidik dapat mengimplementasikannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mewajibkan memiliki skills yang bermanfaat dan terampil di dunia kerja atau dapat membuka usaha baru harus dapat dipelajari dan dikembangkan oleh kampus dalam praktek pembelajarannya hal tersebut menjembatani kesenjangan antara proses pendidikan di perguruan tinggi (PT) dengan dunia kerja.

Saat ini, perguruan tinggi ditantang untuk bersiap menghadapi berbagai perubahan yang disruptif, baik dari segi kurikulum, pengajaran, maupun penelitian. Selain itu, kemajuan teknologi yang pesat memaksa perguruan tinggi untuk mengubah arah kebijakan strategisnya, baik dari segi kurikulum maupun proses belajar mengajar.

Untuk dapat bersaing dalam skala global, perguruan tinggi juga harus menjadi global. Tentu saja perubahan tersebut secara langsung mempengaruhi kebutuhan sumber daya manusia di perguruan tinggi, dalam hal ini guru besar, yang merupakan pemain kunci dalam sistem pendidikan tinggi dan mengkondisikan keberhasilan universitas, sebuah lembaga pendidikan tinggi. Universitas harus mempersiapkan pasar yang terpengaruh oleh perubahan mendasar dan “kekacauan” karena pasar pendidikan bergeser dari orientasi penawaran-permintaan.

Konsumenlah yang menentukan jenis pengetahuan apa yang akan dibelinya; mereka tidak lagi berminat pada paket mata kuliah yang belum disesuaikan dengan pasar untuk memperoleh tidak hanya ilmu, tetapi bersamaan dengan itu juga keterampilan yang diperlukan di pasar kerja. Keadaan tersebut berdampak pada komposisi mahasiswa dengan status purnawaktu, yang pada gilirannya juga akan berdampak pada keperluan akan dosen, yang kemungkinan besar juga tidak banyak dibutuhkan dosen tetap.

Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mengubah tujuan segmen pasar yang akan dilayaninya, yang berkemungkinan besar sangat berbeda dari sekarang. Perguruan tinggi juga diharapkan mampu melakukan penyesuaian pada kecenderungan keperluan belajar dan meneliti permasalahan secara multidisipliner, interdisipliner, dan bahkan transdisipliner.

Bagaimana mengenalkan Kurikulum OBE? Pertama adalah pembentukan mata kuliah disusun dalam kurikulum hal ini dilakukan untuk menetapkan capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraaan pada program studi di kampus masing-masing.

Kedua, disusun profil lulusan/Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) menyesuaikan dengan kearifan lokal dan kekhasan prodi. Hal ini dilakukan untuk membangun kekhasan program studi, dianjurkan untuk mengidentifikasi keunggulan atau kearifan lokal/daerah. Dengan langkah ini maka rumusan Capaian Pembelajaran (CP) akan memuat informasi mengenai kemampuan untuk menjawab persoalan dan tantangan yang berkembang atau muncul di daerah masing-masing, bahkan jika perlu menjadi nilai unggul dari lulusannya.

Terakhir, menyesuaikan Sumber Daya Manusia (SDM). Perguruan Tinggi sangat penting dalam mengembangkan inovasi dan solusi pada persoalan dunia nyata, kehidupan masyarakat, tenologi dan bangsa, termasuk didalamnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian, kompetensi untuk mengelola dan menyebarkan pengetahuan.

Dalam pengenalan kurikulum berbasis OBE ini, terlebih dahulu memilih capaian pembelajaran, pengalaman belajar dan penilaian serta menjabarkannya dalam Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) ke sub CPMK, bobot SKS dan pengembangan bahan ajar.

Prinsip dan konsep OBE dapat berjalan dengan maksimal apabila terdapat penerapan analisis, perencanaan/perancangan, pengembangan, pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi. Dalam Menyusun kurikulum juga, dosen memahami dan mengerti serta fokus terhadap ontology, epistemology, dan aksilogi. Pentingnya dosen memahami dan mengerti bahan baku dalam mengelola kurikulum, memiliki kualifikasi dalam membedakan jenjang studi, contohnya D3, D4, S1, S2, S3.

Artikel ini sebelumnya telah terbit di Kumparan.com.

Tags:

kurikulum obe obe Sevima sevima platform

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

×