Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
02 Jan 2025
Mengetahui berbagai urgensi dan manfaat Outcome Based Education (OBE), tidaklah cukup. Kampus juga harus segera menyiapkan kuda-kuda, bagaimana mulai implementasi kurikulum OBE.
SEVIMA.COM – Untuk membagikan inspirasi bagaimana mengimplementasikan kurikulum OBE, SEVIMA melakukan Wawancara Khusus kepada Ibu Yulia, ST, M.Kom., Product Researcher SEVIMA & Dosen Universitas Kristen Petra Surabaya. Pengalamannya mengawal implementasi OBE selama beberapa tahun di kampus, tuntas untuk mengajak para perguruan tinggi sukses membekali para mahasiswanya dengan skill dan kompetensi yang mumpuni.
Wawancara khusus ini juga telah diterbitkan di Youtube SEVIMA dengan kata kunci “#Ngomik OBE”, dan bisa disimak segenap pembaca majalah.
Berdasarkan pengalaman Bu Yulia, bagi kampus yang ingin memulai penerapan OBE, apa yang perlu dilakukan?
Sesuai dengan namanya, Outcome Based Education adalah suatu pembelajaran yang berbasis pada luaran atau outcome . Jadi fokusnya adalah, menyusun perkuliahan yang tekanan pada apa yang siswa akan bisa lakukan di akhir masa pembelajaran.
Untuk memastikan fokus tersebut, kita bisa melakukan implementasi OBE dengan tiga bagian, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan ini sangat luas, tidak hanya merencanakan kurikulumnya, tetapi juga memahami dan memobilisasi civitas akademika, untuk sama-sama menyukseskan OBE.
Mengapa memahami bendungan mobilitas civitas akademika penting?
Karena merekalah yang akan menerapkan OBE. Mereka diantaranya ada program studi, karena dia yang akan merencanakan sekaligus mengimplementasikan. Selain itu ada tim kurikulum, yang biasanya dalam bentuk program studi, dan bisa beranggotakan struktural program studi, dosen, atau koordinator pengampu mata kuliah.
Mereka juga yang nantinya akan membuat Rencana Pembelajaran Semester (RPS). RPS ini perlu didesain dengan konsep OBE. Selain itu juga memastikan pelaksanaan OBE dalam perkuliahan. Para dosen pengampu akan melaksanakan proses pembelajaran berbasis OBE, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga setelah selesai, karena OBE bersifat Continuos Improvement (peningkatan/pembelajaran yang berkelanjutan).
Dalam tahap perencanaan, apa yang perlu dilakukan kampus?
Tentu diawali dengan rencana kurikulum. Untuk itu, kordinator pengampu program studi perlu membuat RPS. Di dalam RPS akan ada yang disebut Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), yang pembuatannya diturunkan dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Sehingga sebaiknya ada pemetaan dari CPMK ke CPL, agar muncul itu di mata kuliah: pmbelajaran, materi, dan aktivitas, yang bisa diukur hasilnya untuk capaian mahasiswa.
Selanjutnya perencanaan perlu dilakukan dengan menyusun rencana setiap pertemuan. Kita perlu merencanakan pertemuan satu sampai enam belas, yang di setiap pertemuan perlu materi apa yang akan diajarkan di hari tersebut. Dalam penyusunannya, nanti akan ditentukan capaian pembelajaran yang perlu diukur, ditambah metode dan teknik penilaian (penilaiannya). Baik itu metode pengajaran, metode penilaian.
Tujuannya, agar kita dapat mengetahui kompetensi siswa seperti apa yang didapat setelah mengikuti perkuliahan, dan dosen menjadi sistematis dalam mengajar.
Dosen pengajar saat ini tidak boleh hanya sekadar “ah saya mau ngajar apa”, karena harus bisa diukur kemampuan siswa sejauh mana, lengkap dengan targetnya hari ini bisa apa, besok bisa apa.
Untuk merencanakan OBE, ibu mengatakan bahwa perlu menyusun metode pembelajaran dan penilaian. Bagaimana caranya?
Biasanya kita menggunakan Taksonomi Bloom (hierarki keterampilan berpikir). Yang levelnya paling bawah itu ingat (mengingat). Kalau kita ingin pelajar kita mampu mengingat, maka metodenya mungkin ceramah.
Tapi ketika CPL dan CPMK kita ingin lebih tinggi, misal pelajar paham (memahami), maka ceramahnya agak susah, metodenya harus yang lain. Misalnya praktek. Penilaiannya juga tidak bisa tes tulis, tapi perlu kerja praktik, demo, presentasi.

(sumber: https://i.pinimg.com/originals/84/a2/a3/84a2a3869628b7806544396c5f530a85.jpg)
Berlanjut ke bagian kedua yaitu pelaksanaan, apakah artinya dosen pengampu yang mengajar harus mengikuti RPS?
Semua harus melakukan, mau tidak mau, bahkan dosen tamu dari luar pun ketika mengajar juga mengikuti kurikulum yang sudah dibuat koordinatornya, sesuai dengan tertulis
Idenya adalah, enggak tanya lagi, besok ngajar apa ya. Karena sudah ada rencana.
Tapi bukan berarti dosen ini hanya sebagai pengguna atau aktor. Konsep OBE menghadirkan perubahan paradigma, dosen tidak lagi berpikir saya hari ini mengajar apa. Tapi berubah konsep pemahaman dosen menjadi, hari ini saya mau mahasiswa bisa apa.
Keputusan atas “mau mahasiswa bisa apa” akan memberi tahu dosen untuk menentukan materi apa, metode apa, dan teknik penilaian apa untuk mengukurnya.
Tahap ketiga untuk monitoring dan evaluasi dalam OBE, apa yang perlu dilakukan?
Inti dari OBE adalah perbaikan berkelanjutan (perbaikan berkelanjutan). Secara bertahap kita lakukan, berguna menjadi perbaikan di perkuliahan berikutnya atau di semester berikutnya, agar sesuai dengan tujuan utama OBE: anak sukses bisa apa.
Evaluasi bisa dilakukan di setiap pertemuan, agar di pertemuan berikutnya kita tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama, dan diperbaiki di pertemuan berikutnya. Evaluasi juga bisa dilakukan di akhir semester, untuk melihat CPMK mana yang rata-ratanya masih kurang, agar menjadi evaluasi dan perbaikan di level berikutnya
Evaluasi berikutnya perlu dilakukan di tingkat program studi. Caranya bisa dilakukan dengan tim mutu program studi, melakukan evaluasi dari CPL tiap angkatan, rata-rata tiap angkatan, CPL mana yang masih kurang, dan dipetakan. Nanti program studi bisa melihat, mata kuliah mana yang menyebabkan CPL belum tercapai.
Dengan pendekatan holistik, evaluasi di tiap pertemuan, tiap semester, dan di tingkat program studi, perubahan bisa berlangsung secara paralel. Bisa berubah secara instan, langsung diubah pada pertemuan berikutnya, atau diubah secara bertahap di semester depan.
Bagaimana harapan ibu dari kampus dalam mengimplementasikan tahap-tahap OBE?
Implementasi OBE yang sukses tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa dan kampus itu sendiri, tetapi juga bagi industri dan masyarakat luas. Anak ketika lulus dari kampus bisa diukur dan jelas, kompetensinya apa saja, berapa persen kompetensi yang dicapainya, bukan hanya sekedar nilai transkrip ABC.
Katakanlah tim kerjasama, dia kompeten 100%, itu akan muncul di transkrip dan diberikan ketika lulus. Secara otomatis, berbasis data, dan diukur dengan angka.
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi