Event | Event SEVIMA

700 Dosen se-Kepulauan Riau Bahas Tips Menulis Buku Ajar di Kopdar Virtual SEVIMA Community 

SEVIMA.COM – Pandemi masih mewabah, pemerintah akhirnya masih membatasi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Namun, bukan berarti pandemi menjadi sebuah penghalang untuk bertukar informasi dan ilmu pengetahuan. Tercatat 750 peserta dalam absensi SEVIMA dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan yang tergabung dalam komunitas SEVIMA Kepulauan Riau mengadakan Kopi Darat Virtual melalui Zoom meeting pada Selasa (06/04) siang. 

Kopi darat virtual kali ini mengusung tema “Cara Menulis Buku Ajar Dosen dan Tendik” ini menghadirkan dua pakar yang kompeten di bidang ini. Antara lain, Dr. Suryo Hartanto, M.Pd.T., penulis sekaligus Wakil Rektor I Universitas Riau Kepulauan, serta Aruming Sekar Sukrani C.D.,S.E., konsultan penerbit Deepublish.

“Adanya diskusi hari ini tentang cara menulis buku ajar memang selalu menarik untuk diikuti. Acara ini sangat penting, terutama bagi para dosen agar lebih siap dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu mengajar, melakukan penelitian, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat,” jelas Naila Rohmaniyah, S.Psi, M.Pd., Wakil ketua II SPAI Assiddiqiyah. 

Langkah tepat menulis buku ajar

Dalam diskusi ini, Dr. Suryo Hartanto, M.Pd.T. mengungkapkan bahwa menulis sebuah buku tidaklah sulit. Menulis buku merupakan suatu hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tak dipungkiri, bahwa menulis sebuah buku juga bisa menjadi suatu mata pencaharian bagi seorang penulis. 

Sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti cara mudah menulis buku ajar ataupun buku referensi dengan tepat. Untuk itu, Dr. Suryo memberikan tips jitu yang bisa dilakukan saat menulis sebuah buku, terutama dalam menulis sebuah buku ajar.  Dr. Suryo membeberkan, bahwa ada empat hal yang harus diperhatikan saat menulis buku. Antara lain, menggali potensi diri, mengenali jenis buku, mengerti sistematika penulisan, dan standar kelayakan buku. 

Setiap menulis buku, seorang penulis harus menggali potensi diri mereka. Menulis bukanlah sebuah bakat dari lahir. Namun, menulis merupakan suatu proses dan latihan agar bisa menciptakan suatu karya tulis yang spektakuler. Maka, Dr. Suryo menyarankan agar seorang penulis harus terus melatih diri mereka dengan menggali bidang minat yang dikuasai.  

“Menulis buku merupakan suatu proses belajar. Penulis tak akan bisa menjadi hebat jika tidak menggali potensi diri mereka dan terus berlatih. Agar bisa sukses dalam menulis, seorang penulis wajib menggali bidang minat yang dikuasai serta terus menanamkan pikiran positif di dalam diri mereka,” ungkapnya. 

Dr. Suryo juga menegaskan bahwa sebagai seorang pengajar dan penulis, Dosen wajib mengetahui dan mengenali jenis buku yang akan ditulis. Terdapat dua jenis buku yang biasa ditulis oleh seorang dosen, yaitu buku ajar dan buku teks. Buku ajar disusun sebagai bahan ajar yang ditujukan kepada para mahasiswa. Sementara buku teks digunakan sebagai salah sumber informasi dan referensi berdasarkan bidang ilmu tertentu. 

Menurut Dr. Suryo, seorang penulis juga diwajibkan untuk memahami sistematika penulisan buku. Ini sangatlah penting, agar materi di dalam buku tersebut tersampaikan dengan baik kepada para pembaca. Bila hal ini diterapkan dengan baik, maka akan mencapai capaian pembelajaran pada suatu mata kuliah. 

Dalam proses pembuatan buku, seorang penulis juga harus memahami standar kelayakan buku. Standar kelayakan buku ini harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan, mulai dari ketentuan daftar pustaka hingga hak cipta. 

Di akhir pembahasannya, Dr. Suryo juga mengungkapkan bahwa dalam menulis sebuah buku seorang penulis harus memiliki empat pondasi kuat. Antara lain, selalu menguatkan niat, tak takut untuk memulai menulis, tak takut salah, dan memilih penerbit yang kompeten dan kredibel. 

“Jika seorang penulis memiliki empat pondasi ini, bisa dipastikan mereka akan sukses dalam menciptakan suatu karya,” simpulnya. 

Pentingnya dosen dalam menghasilkan suatu karya

Dosen  dan karya tulis memang dua hal yang tak dapat dipisahkan. Dosen dituntut untuk terus produktif dalam memperdalam ilmunya. Salah satu cara yang biasa dilakukan yaitu dengan menciptakan suatu karya tulis atau buku. 

Menurut Aruming Sekar S.C.D, S.E. konsultan penerbit Deepublish, Dirjen Dikti pun juga mewajibkan seorang dosen untuk terus berkarya membuat suatu tulisan. Tujuannya, agar bisa mendapatkan intensif penulisan oleh kampus dan DIKTI, kenaikan jabatan, dan meningkatkan kredibilitas kampus. 

“Pentingnya menulis sebuah karya, memang sangat dibutuhkan oleh seorang dosen. Dengan menciptakan suatu karya tulisan, dosen bisa mendapatkan intensif penulisan oleh kampus dan DIKTI, kenaikan jabatan, dan meningkatkan kredibilitas kampus,” ujar Aruming. 

Selain itu, agar terus berproses dan berkarya, para penulis juga harus memperhatikan empat modal penting yang diterapkan saat menulis. Empat hal tersebut antara lain, memiliki kemauan menulis dan menyadari manfaat menjadi penulis buku, komitmen meluangkan waktu 1-2 jam per-hari, memahami bidang ilmu dan kemampuan bahasa EYD, serta memiliki acuan penulisan dan sumber yang tepat. 

“Jika keempat hal ini bisa diterapkan dengan baik, maka bisa dipastikan bahwa Anda akan dengan mudah menciptakan suatu buku,” tutupnya.

Nah, tak hanya berenti di sini saja. SEVIMA akan kembali mengadakan WEBINAR ‘Strategi Perguruan Tinggi Menghadapi Kuliah Tatap Muka Terbatas’ pada hari Selasa, 27 April 2021 pukul 14.00 WIB- selesai.

Bagi Anda yang ingin gabung dalam diskusi kali ini, langsung saja klik link berikut ini bit.ly/Sevima-Tatap-Muka. 

Bagikan artikel ini

Komentar