Perguruan Tinggi | Regulasi & Kepatuhan
Batas Pelaporan PDDikti 2025-2 Kian Dekat, Ini Urutan Kerja agar Data Kampus Tidak Tertahan
27 Oct 2026
Kinerja & Reputasi | Perguruan Tinggi
15 Apr 2026
SEVIMA.COM- Pare bukan kota besar. Tidak ada mal, tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada nama universitas yang sudah puluhan tahun tercetak di benak masyarakat nasional. Tapi di mana Universitas Kahuripan Kediri (UKK) memilih berdiri, dan dari sini pula lahir alumni yang bertanding di level internasional, mahasiswa yang proposal wirausahanya masuk penghargaan nasional tiga tahun berturut-turut, dan lulusan yang langsung diangkat karyawan tetap sebelum sempat mencari kerja.
UKK tidak lahir sebagai universitas. Institusi ini bermula dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi berdasarkan nilai-nilai koperasi: kemandirian, kolaborasi, dan kebermanfaatan untuk orang banyak. Ketika bertransformasi menjadi universitas, nilai-nilai itu tidak ditinggalkan. Benar saja.
“Kita menjadi universitas itu malah menambah atau mengembangkan,” ujar Siti Zaenab Nurul Haq ST, MT selaku Wakil Rektor UKK. “Kita mengkolaborasikan antara ekonomi ini ranahnya ke mana sih yang ada di Pare.”
Pare dikenal sebagai pusat pertanian daerah; sayuran dari berbagai kabupaten sekitar dipasok dari sini. Itu yang mendorong UKK membuka jurusan pertanian dan peternakan, bukan sekedar mengikuti tren kurikulum, tapi menjawab ekosistem nyata di sekitar kampus. Ekonomi, pertanian, teknik, pendidikan: kolaborasi lintas disiplin yang tumbuh dari akar lokal.
Yang tidak berubah dari era STIE hingga hari ini adalah satu prinsip.
“Mahasiswa kami di sini kami dorong untuk bukan hanya menjadi pencari kerja, tapi juga harus menjadi mahasiswa yang menciptakan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Pertanyaan pertama yang sering muncul soal kampus di kota kecil adalah daya tariknya: siapa yang mau datang?
Jawabannya di UKK lebih luas dari yang diperkirakan.
“Mahasiswanya yang paling jauh itu ada dari Nias dan Papua. Jadi memang dari Sabang sampai Merauke itu ada,” ujar Siti . Mereka hadir sebagai mahasiswa reguler, bukan pertukaran.
Keberagaman itu bukan tanpa tantangan. Bahasa menjadi nyata. “Ibu, kenapa mereka berbicara seperti ini? Saya tidak mengerti. Jadi dikiranya ngomongin mereka,” ujar beliau sambil mencontohkan keluhan yang sering diterima siswa pendatang. UKK menjawabnya dengan kebijakan tegas: di dalam kelas, dosen wajib menggunakan bahasa Indonesia. Di luar kelas, barulah didorong belajar bahasa Jawa.
“Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak,” katanya.
Keberagaman asal daerah, ketika dikelola dengan baik, justru menjadi aset.
“Universitas ini bisa menjadi tempat mahasiswa-mahasiswa yang kuliah itu tempat latihan. Karena kita tidak bisa mengingkari juga, belum tentu orang Pare itu kerja di Pare. Belum tentu orang Jakarta itu kerja di Jakarta. Kadang kita silang,” jelasnya.
Kemampuan membaca dan menavigasi berbeda karakternya adalah kompetensi yang tidak bisa diajarkan dari buku teks, dan UKK siswa dicapai sejak hari pertama kuliah.
Tidak ada kampus yang merancang alumninya menjadi atlet internasional. Tapi ketika itu terjadi, dampaknya berbicara sendiri.
Megawati Hangestri, atlet berkemauan keras yang menembus kompetisi internasional, adalah alumni UKK. Ketika namanya mulai dikenal masyarakat luas dan afiliasi kampusnya terekspos, UKK tidak perlu mengeluarkan anggaran kampanye tambahan.
“Beberapa siswa yang pernah saya wawancara, mereka termotivasi. Saya ingin menjadi seperti Mbak Megawati,” cerita Siti .
Yang lebih penting dari narasi alumni adalah sistem di baliknya. UKK tidak meminta atlet aktif memilih antara prestasi olahraga dan akademik. Ketika seorang siswa datang dan dengan jujur menyampaikan jadwal latihan dan pertandingannya, kampus tidak meminta menyesuaikan diri dengan sistem. Sistem yang menyesuaikan diri.
“Kami tidak meminta siswa memilih, kami membantu mereka berhasil di keduanya,” tegasnya. Dispensasi diberikan sebelum dan sesudah pertandingan, jadwal disesuaikan, dan melalui Peraturan Rektor soal diversifikasi skripsi, prestasi non-akademik termasuk di bidang bela diri dapat mengkonversi sebagai syarat memenuhi syarat kelulusan.
Tiga Tahun P2MW, Dua Tahun Nominasi Nasional
Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kemendikbud adalah kompetisi nasional yang tidak mudah ditembus. Dalam tiga tahun terakhir, UKK lolos seleksi setiap tahun, dan dalam dua tahun terakhir masuk penghargaan nasional.
Di balik angka itu ada kebijakan insentif yang jelas. “Sebetulnya akreditasi hanya penilaian saja. Yang kita perlu fokuskan itu bukan dalam mengejar akreditasinya, tapi kita buat dulu saja ekosistemnya, prestasi,” kata Siti UKK. Mahasiswa yang meraih juara 1 sampai 3 di kompetisi nasional dibebaskan dari kewajiban skripsi konvensional. Prestasi menjadi jalur sah menuju kelulusan, pengakuan bahwa wirausaha dan inovasi adalah keluaran pendidikan yang setara dengan penelitian akademik.
Mahasiswa didorong merancang karya yang layak dipublikasikan atau menciptakan produk yang sudah dapat diimplementasikan. “Kalau bisa, skripsinya bisa berdampak. Ada dampaknya bagi baik masyarakat maupun pribadi,” ujarnya.
Ketika program MBKM dari pemerintah mulai berkurang intensitasnya, UKK tidak menunggu. Kerja sama langsung dengan industri yang dibangun sebagai jalur pengganti. Dampak dari pengalaman MBKM sebelumnya sudah terekam jelas.
“Ketika siswa telah mengikuti program MBKM ini, mereka lebih percaya diri di kelas. Oh, bahwa saya ini punya pengalaman lebih,” kata Siti UKK.
Kerja sama industri yang kini memperluas jangkauannya. Mahasiswa Teknik Sipil diberangkatkan magang ke Jasa Marga. Tiga program studi, yaitu Teknik Elektro, Akuntansi, dan Manajemen, berkolaborasi dengan PT Teknologi Training & Consulting Center di Surabaya. SKS magang konversi ke mata kuliah semester berjalan sehingga mahasiswa dapat fokus penuh tanpa harus bolak-balik ke kampus. Satu mahasiswa dari angkatan tersebut langsung diangkat menjadi karyawan tetap oleh mitra magang.
Daya tarik UK tidak hanya soal prestasi, tapi juga soal siapa yang bisa mengakses pendidikan berkualitas.
Berbeda dengan kebanyakan perguruan tinggi yang menerapkan pembayaran per semester, UKK menawarkan skema cicilan per bulan tanpa bunga membuka akses bagi calon mahasiswa yang memiliki kendala ekonomi.
“Kalau di kampus-kampus yang saya telah jejaki itu kan bayarnya per semester. Kalau di kampus-kampus kami ini kami tawarkan per bulan. Jadi tidak ada bunga apapun,” jelas Siti . Skema ini dikombinasikan dengan program beasiswa KIP yang diseleksi melalui wawancara motivasi satu per satu.
“Kami menelepon satu-satu siswanya. Kami wawancara motivasi dan lain sebagainya,” katanya.
Untuk pelajar karyawan, sistem hybrid memberikan kekecewaan yang selama ini menjadi tantangan terbesar. Mereka tidak harus memilih antara pekerjaan dan pendidikan.
UKK bukan kampus tanpa batasan. Pare bukan Surabaya. Namun pilihan yang dibuat secara konsisten, yaitu mendorong prestasi, membangun ekosistem yang inklusif, dan tidak menurunkan ekspektasi hanya karena lokasinya bukan pusat kota, menghasilkan lintasan yang berbeda dari asumsi awal.
Dalam agenda lima tahun ke depan, UKK sedang membangun sistem berbasis OBE yang memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan regulasi.
“Kami berharap Universitas Kahuripan Kediri ini di lima tahun ke depan bisa menjadi kampus yang memang adaptif dengan segala peraturan,” tutur Siti . Targetnya bukan sekedar akreditasi Unggul, tapi pengakuan internasional, dibangun dari ekosistem prestasi yang dikerjakan satu langkah demi satu langkah.
Pencapaian peran digitalisasi kampus menjadi relevan: bukan sebagai gimmick modernisasi, namun sebagai fondasi yang memungkinkan standar tinggi dijalankan secara konsisten, bahkan di kampus dengan sumber daya terbatas.
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi