Menteri Minta Prodi Serumpun Digabung: Apa yang Diminta dan Apa Artinya bagi Kampus
12 Oct 2026
09 Apr 2026
SEVIMA.COM- Di tengah tekanan penerimaan mahasiswa baru yang semakin kompetitif, beberapa kampus justru berhasil tumbuh. Salah satunya layak dijadikan cermin adalah Universitas Jenderal Achmad Yani atau biasa disebut Unjani.
Berlokasi di Cimahi bukan Bandung kampus ini dalam tiga tahun terakhir mencatatkan pertumbuhan yang sulit diabaikan: dari kisaran 8.000 hingga 12.000 mahasiswa aktif, kini mencapai 26.500. Tumbuh 231 persen. Tanpa pindah lokasi, tanpa merger dengan PTN, tanpa intervensi luar biasa dari yayasan.
Universitas ini berbenah meningkatkan kualitas dan sistem di balik pergerakan pertumbuhannya.
Hampir semua perguruan tinggi swasta berkompetisi di dua hal yang sama yaitu fasilitas fisik dan nama program studi. Unjani memilih langkah yang berbeda sejak awal.
Berdiri sejak tahun 1990 sebagai penggabungan beberapa sekolah tinggi di bawah naungan Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat, Unjani mewarisi sistem nilai yang kemudian dijadikan landasan institusional: disiplin, setia, dan santun . Tiga kata yang tidak berhenti di brosur penerimaan mahasiswa baru ia masuk ke kurikulum, ke sistem pelatihan, ke budaya kampus.
Seluruh siswa baru wajib menjalani Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan (LDKK), yang dilaksanakan langsung di fasilitas militer. Bukan untuk mencetak tentara untuk mencetak pemimpin yang punya fondasi disiplin sebelum masuk ke ruang akademik. Dosen baru dan karyawan baru melewati jalur yang sama. Mahasiswa yang kemudian terpilih memimpin organisasi kemahasiswaan menjalaninya kembali setelah dilantik.
“Kalau dulu namanya Diksar Militer. Sekarang kita sebut LDKK atau Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan (LDKK). Tempatnya tetap sama, tapi intinya tetap satu yaitu disiplin ,” kata Prof. Damawidjaya Biksono, ST, MT, IPM., ASEAN Eng. Wakil Rektor II Unjani saat diwawancara oleh Tim SEVIMA pada Selasa (3/3) lalu.
Di luar LDKK, ada Mata Kuliah Wajib Universitas yaitu Ke-Achmad Yanian dengan bobot 2 SKS yang mencakup sejarah dan nilai-nilai Jenderal Achmad Yani, termasuk kunjungan wajib ke situs sejarah terkait. Konsep besarnya disebut smart military campus namun bukan militerisme, namun adaptasi nilai kepemimpinan Angkatan Darat ke dalam ekosistem akademik sipil.
Hasilnya bukan klaim brosur.
“Begitu ketemu mahasiswa Unjani, coba perhatikan sendiri,” ujar Prof. Damawidjaya Biksono “Mereka berbeda.”
Unjani merancang diferensiasi karakter semacam ini tidak bisa disesuaikan dengan anggaran promosi berapa pun. Ia dibangun bertahun-tahun, konsisten, dan menjadi alasan siswa merekomendasikan kampus ini kepada adik kelas dan rekan sebaya mereka.
Banyak kampus swasta menghadapi masalah yang sama yaitu dosen terbaik pergi begitu meraih gelar Doktor. Destinasinya sering kali adalah PTN atau kampus swasta besar dengan konfirmasi lebih kompetitif.
Unjani tidak menanggapi keluhan. Mereka merespons dengan kebijakan struktural.
Unjani mendorong dosen-dosen yang mengajar untuk ikut belajar hingga meraih gelar D oktor mereka. Bukan hanya sekadar diturunkan menjadi aturan, Unjani juga ikut memperkenalkan sistem izin sebagai penghargaan atas dosen. Penghargaan terhadap pendidik di Unjani berefek domino menghasilkan pembelajaran yang unggul.
Sistem izin berjenjang diperkenalkan: tunjangan D oktor Rp. 3 juta per bulan, tambahan Rp. 3,5 juta untuk Jabatan Fungsional Dosen Lektor Kepala (LK) . Kombinasi keduanya mendorong total pendapatan bulanan melebihi Rp10 juta.
“Kita kasih tunjangan Doktor, kita kasih tunjangan Lektor Kepala. Begitu Doktor dan Lektor Kepala, gajinya sudah di atas sepuluh juta. Tujuan satu: menjaga SDM Unggul . Karena aset utama kampus itu dosen,” kata Prof. Damawidjaya Biksono.
Sistem ini tidak hanya menahan orang, ia mendorong dosen untuk terus meningkatkan jenjang akademiknya.
“Kalau sudah Lektor Kepala, tinggal kita dorong dua tahun lagi jadi profesor. Itu bantu akreditasi juga. Jadi ini strategi, bukan sekadar pengeluaran,” lanjutnya.
Dampak dari kebijakan ini pun terlihat jelas, dari 600 dosen aktif, sekitar 350 sudah bergelar dokter. Dampak ikutannya langsung terasa pada kualitas akademik dari 44 program studi yang berjalan, lebih dari sebagiannya sudah meraih akreditasi Unggul. Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, termasuk program profesi, seluruhnya Unggul. Program Program Joint dan Double Degree sudah berjalan.
Selagi hampir semua perguruan tinggi berebut di jalur SNBT dan SBMPTN, Unjani membuka dua segmen yang nyaris kosong dari kompetisi.
Pertama: prajurit TNI Angkatan Darat aktif. Banyak anggota yang pangkatnya sudah Kapten tapi ijazahnya masih SMA tidak punya waktu untuk kuliah konvensional karena mereka di lapangan, di Kodim, di Batalyon. Unjani menjawab ini dengan kelas Dispersat: program Pendidikan Jarak Jauh berbasis satuan militer. Siswa belajar dari markas masing-masing, dengan sinkronisasi identik dengan kelas reguler. Bagi Keluarga Besar Angkatan Darat, ada diskon 20% yang berlaku langsung.
Kedua yakni jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL, yang menyasar lulusan D3 yang ingin melanjutkan ke S1, dan para profesional yang ingin mendapat pengakuan akademik formal.
“RPL itu sebenarnya pasarnya lebih besar dari mahasiswa baru reguler,” kata Prof. Damawidjaya Biksono . “Tahun kemarin kita dapat sekitar dua ribu dari jalur RPL saja.”
Dua segmen ini hampir tidak disentuh kompetitor. Keduanya bukan hasil improvisasi musiman, keduanya dibangun dari kemampuan membaca kebutuhan yang tidak terlayani, lalu meresponsnya dengan sistem yang serius.
Pertumbuhan mahasiswa tanpa pengelolaan infrastruktur yang mampu hanya menghasilkan kekacauan operasional. Unjani menyiapkan ekosistem digitalnya seiring pertumbuhan itu terjadi.
Aktivitas perkuliahan berjalan dalam sistem LMS terintegrasi. Fitur berbasis AI untuk pembuatan RPS dan pengelolaan konten pembelajaran sudah aktif digunakan, mengikuti arah kebijakan nasional yang mendorong penerapan teknologi di perguruan tinggi.
“Dari Arah Menteri dan Wapres, adopsi AI sudah jadi arah kebijakan. Kita harus mengikuti dan kita sudah bergerak ke sana,” kata Prof. Damawidjaya Biksono.
Bagi Unjani, ini bukan respon reaktif terhadap regulasi. Ia adalah kelanjutan logistik dari sistem yang sudah bergerak ke arah yang sama sejak beberapa tahun terakhir.
Milestone loncatan ini dimulai sekitar tahun 2023. Sebelumnya, total siswa tidak pernah menembus 20.000. Kini Unjani berada di posisi kedua kampus swasta dengan lembaga kemahasiswaan terbesar di kawasan Bandung Raya.
“Setiap tahun target kita tercapai. Tahun kemarin 7.000 masuk. Sekarang baru Maret, sudah 1815 Maba yang registrasi sudah registrasi,” kata Prof Damawidjaya Biksono . “Dulu di bulan yang sama hanya mencapai 800-an Maba yang Registrasi. ”
Tiga tahun. Tiga strategi yang saling menguatkan yaitu identitas karakter yang tidak bisa ditiru, SDM dosen yang dijaga dengan kebijakan konkrit, dan segmen pelajar yang selama ini diabaikan industri.
Unjani tidak menunggu siswa datang. Mereka membangun sistem yang membuat siswa mencari. Dan hasilnya sudah berbicara sendiri.
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi