Mengenal Marketing Funnel & Flywheel untuk Tingkatkan Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus
17 Feb 2025
Hari ini - Event PELATIHAN – KOPDAR CIKARANG : Kupas Tuntas Aturan Automasi Akreditasi seputar Batas Penurunan Mahasiswa Baru, Rasio Dosen Mahasiswa, dan Strategi Promosi PMB Dimulai.
11 Dec 2024
SEVIMA.COM – Meningkatnya angka pengangguran di kalangan sarjana telah menjadi masalah yang mendapat perhatian dari perguruan tinggi. Masalah ini bagaikan efek domino bagi kampus, mulai dari kualitas pembelajaran yang dipertanyakan, ketidakmampuan memenuhi Indikator Kinerja Utama (IKU) pada poin pertama, yaitu Lulusan Mendapatkan Pekerjaan yang Layak, hingga Instrumen Penilaian Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 3.0 yang tidak terpenuhi.
Tren penurunan penyerapan lulusan di dunia industri sebenarnya telah dirasakan oleh Pimpinan sejak tahun 2022. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2022 terdapat 673.485 pengangguran berstatus sarjana, yang melonjak menjadi 871.860 pada Agustus 2024. Hal ini menjadi sinyal bagi Kemendikbudristek dan Pimpinan perguruan tinggi untuk mengevaluasi proses dan pengukuran tingkat Pencapaian Pembelajaran Lulusan (CPL) agar dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Permasalahan ini menjadi sorotan bagi Kemendikbudristek untuk segera melakukan perbaikan kualitas pembelajaran dan mutu pendidikan. Maka untuk mengatasi masalah ini, Kemendikbudristek meluncurkan Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT) sebagai perbaikan dari edisi kurikulum sebelumnya.
Baca juga: Strategi Tingkatkan Poin IKU 8: Program Studi Berstandar Internasional, dengan Kurikulum OBE
Kemendikbudristek meluncurkan Buku Pedoman Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) pada Senin (22/07). Melalui konferensi pers launching-nya buku pedoman ini, Dr. Ir. Syamsul Arifin, M.T. selaku penyusun buku pedoman mewakili Kemendikbudristek menyatakan kini penyusunan kurikulum pendidikan tinggi menggunakan paradigma Outcome Based Education (OBE) sebagai landasan.
“Buku KPT 2024 disusun untuk membantu Bapak/Ibu dosen di program studi dan perguruan tinggi mendesain kurikulum dan pembelajaran berdasarkan Permendikbudristek No.53 Tahun 2023 dengan paradigma pendidikan berbasis luaran yang kita kenal dengan istilah Outcome Based Education (OBE). Saat ini, OBE menjadi paradigma utama yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Dan paradigma ini sangat dibutuhkan terutama ketika program studi mengikuti akreditasi nasional maupun internasional,” jelas Syamsul pada acara konferensi pers.
Maka kini OBE bukan lagi menjadi sesuatu yang disarankan, namun menjadi kewajiban bagi program studi dan perguruan tinggi untuk memenuhi aturan yang berlaku. Lalu bagaimana penerapan OBE dalam merancang kurikulum program studi? Mari kita bahas.
Kurikulum OBE memang telah lama disarankan oleh Kemendikbudristek sebagai landasan mendesain kurikulum. Selain dinilai dapat menghasilkan outcome bagi mahasiswa, pelaksanaan kurikulum OBE juga menjadi syarat wajib dalam mengajukan akreditasi nasional dan internasional.
Berdasarkan penjelasan dari Syamsul bahwa buku pedoman kurikulum telah dirancang dan disesuaikan dengan kurikulum Outcome Based Education (OBE) sebagai standar untuk memenuhi aturan.
“Buku pedoman ini diharapkan dapat memandu pemangku kepentingan dalam mengembangkan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) hingga sampai pada tahap evaluasi. Selain itu, rancangan kurikulum juga diharapkan memenuhi standar untuk akreditasi nasional dan internasional,” jelas Syamsul pada acara Peluncuran Buku Panduan dan Pedoman Program Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada Senin, (22/07) melalui kanal Youtube resmi Ditjen Dikti.
Dokumen syarat akreditasi berdasarkan kurikulum dinilai melalui hasil evaluasi dan tracer study sebagai bukti outcome dan implementasi yang telah dirancang. Sedangkan untuk pengajuan akreditasi internasional, perguruan tinggi perlu memperhatikan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dalam standar melampaui SN-DIKTI.
Melihat urgensi perencanaan kurikulum yang tak hanya sebagai bahan ajar, pemangku kepentingan program studi perlu menganalisis setiap butir CPL yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa sebagai outcome ketika lulus.
Baca juga: Tahapan Implementasi OBE di Perguruan Tinggi
Rumusan CPL yang disarankan oleh Kemendikbud dalam rancangan kurikulum diantaranya memuat tentang kemampuan di era industri seperti:
Maka program studi kini tak dapat mengelakkan kewajiban melaksanakan penerapan kurikulum OBE. Namun disisi lain, selain bertujuan untuk memenuhi aturan, penerapan kurikulum OBE diharapkan dapat membentuk lulusan yang memiliki kompetensi unggul serta relevan dengan kebutuhan industri
SEVIMA Platform Telah Mendukung Kurikulum OBE
SEVIMA kini telah mendukung implementasi kurikulum OBE melalui Modul OBE SEVIMA Platform yang dirancang untuk mengakomodir implementasi kurikulum OBE dengan mudah. Berikut keunggulan OBE SEVIMA Platform:
Tampilan report evaluasi mahasiswa berdasarkan CPL menggunakan kurikulum OBE di SEVIMA Platform
Selain dari ketiga keunggulan tersebut, modul OBE SEVIMA Platform juga memiliki penilaian performa CPL (transkrip) untuk setiap mahasiswa. Melalui transkrip ini, perguruan tinggi menjadi lebih mudah untuk mengevaluasi proses keterlaksanaan kurikulum OBE dari hasil penilaian tersebut.
Jadi lebih memudahkan kan untuk mengimplementasikan kurikulum OBE dengan SEVIMA Platform? Nah, bagi Anda yang tertarik merasakan kemudahan implementasi kurikulum OBE dengan modul ini, yuk segera diskusi dengan tim SEVIMA untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut melalui Kontak Kami
Diposting Oleh:
Liza SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami