Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
Implementasi OBE di 33 Prodi IAIN Parepare: Dari Dokumen Kurikulum ke Pembelajaran yang Diukur
19 Oct 2026
Perguruan Tinggi | Teknologi, Data & AI
11 Oct 2022
SEVIMA.COM- Banyak cerita seru yang datang silih berganti saat proses sosialisasi Komunitas Gofeeder SEVIMA. Salah satu cerita datang dari Institut Sains dan Teknologi Annuqayah. Rachman Ats Tsaqafi, berbagi kisah yang dialaminya selama melakukan sosialisasi ini. Berikut kisahnya.
Rasanya tidak ada kebaikan lagi yang pantas dibanggakan di lingkungan akademik selain berjuang memudahkan kebaikan orang-orang sekitar. Termasuk memudahkan akses siakad Gofeeder Sevima Komunitas di kalangan pelajar di kampus pesantren.
Pagi itu, saya menggali menuju kampus . Beberapa mahasiswa baru tampak bersemangat menuju ruang laboratorium. Mereka terdiri dari santri santri yang berdomisili di pesantren. Mereka ingin menyimak bagaimana membuat KRS Online yang sudah disediakan oleh sistem informasi dan akademik kampus. Wajah mereka beraura matahari yang penuh dengan semangat membara.
Tak mau kalah, aplikasi yang disediakan oleh Sevima Community, meskipun gratisan menggelorakan semangat saya untuk melakukan sosialisasi di kalangan mahasiswa kampus swasta yang berada di lingkungan pesantren ini. Institut Sains dan Teknologi Annuqayah, sebuah kampus dibawah naungan pesantren tradisional PP. Annuqayah, Guluk-guluk, Madura.
Sebagai pelopor dalam sistem akademik dan informasi kampus, saya berusaha untuk memudahkan akses mahasiswa. Saya melakukan sosialisasi kepada santri pesantren sebagian mereka masih ada yang kolot tetapi sebagian lagi ada yang juga cerdas. Suatu tantangan bagi saya karena di kampus ini terpisah antara mahasiswa putri dengan mahasiswa putra.
Bisa dibayangkan berapa kali saya harus sosialisasi kepada mahasiswa mahasiswa itu. Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinga harus dibor untuk banyak mendengar aspirasi layaknya Dewan Perwakilan Rakyat saja.
Mula-mula saya sosialisasi Sevima Gofeeder di pelajar putra. Sampai di sini, ada tantangan lagi yaitu murid saya sebagian ada yang tinggal di Pondok Pesantren. Sehingga harus dilakukan sosialisasi secara tatap muka langsung.
Saat sosialisasi kepada pelajar yang ada di pesantren, ada tantangan yang cukup menegangkan. Sebab mereka masih belum sepenuhnya mengetahui sistem akademik kampus yang serba online, apalagi mereka adalah mahasiswa baru. Tetapi, saya yakin, sosialisasi ini adalah sebuah misi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga mereka bisa update terhadap informasi akademik kampus.
Tak jarang saya menemukan para santri yang masih belum update dengan dunia teknologi. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk selalu membimbing dan mengarahkan mereka agar tetap update dengan sistem perguruan tinggi yang dipermudah melalui online.
Ada juga beberapa mahasiswa pesantren yang berstatus kalong (tidak menetap di pesantren, tetapi kuliah di kampus yang berada di lingkungan pesantren). Mereka cukup mudah dimengerti ketika dijelaskan karena sudah sering bawa Handphone atau Android. Sehingga sosialisasi yang saya lakukan dengan memanfaatkan Google Meet.
Sementara untuk santri di pesantren mereka dilarang membawa HP Android tetapi mereka diperbolehkan mengakses internet hanya untuk kebutuhan tugas kampus dan administrasi lainnya.
Tantangan yang cukup menyebalkan saat sosialisasi di kalangan siswa putri. Siswa putri lebih antusias bertanya tentang administrasi ini dan itu dan lainnya. Kadang-kadang pertanyaan yang diulang-ulang oleh mahasiswi putri menjadi satu uji nyali bagi saya untuk membimbing mereka agar tetap mudah dalam adminitrasi online.
Nahasnya lagi, ternyata pertanyaan dan ketidakpahaman mereka tidak hanya dilontarkan di ruang laboratorium pesantren atau secara tatap muka saat saya mendampingi sosialisasi di tengah-tengah mereka. Ada banyak pertanyaan yang justru mereka tanyakan melalui nomor Handphone saya. Ada saja sedikit yang tidak bisa dalam sistem atau terkena gangguan sinyal, siswa ternyata sudah bermental bertanya dan konfirmasi ke nomor saya. Mahasiswa seolah sudah menjadi filsuf sejak dini saja.
Begitulah beberapa tantangan yang dialami oleh saya sebagai pengelola akademik di lingkungan kampus yang berada di bawah naungan pesantren. Tetapi, semangat siswa dalam bertanya dan ingin tahu membuat saya sadar bahwa perjuangan itu harus berniat bismillah barakah dan bismillah melayani dengan sepenuh hati. Semoga bermanfaat.
Diposting Oleh:
Seprila Mayang SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi