Kontak Kami

Sekolah | Strategi & Tata Kelola

108 Tahun Yayasan Kanisius: Melayani 17.674 Murid di Empat Cabang dengan Arah Cerdas, Aman, dan Peduli

21 Oct 2026

SEVIMA.COM – Lebih dari seabad berkarya, Yayasan kini melayani lebih dari 17.674 murid dengan dukungan sekitar 1.095 guru dan lebih dari 206 karyawan nonkependidikan, berdasarkan data yayasan per 19 Oktober 2026. Sekolahnya tersebar di empat cabang, yakni Semarang, Magelang, Surakarta, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dari perkotaan hingga pelosok pegunungan.

Di kantor pusatnya di Semarang, Ketua Pengurus Yayasan Kanisius, Romo Yohanes Heru Hendarto, SJ (Serikat Yesus), bercerita tentang perjalanan, nilai, dan arah yang tengah dirumuskan bersama. Arah itu dirangkum dalam tiga kata, yaitu cerdas, aman, dan peduli.

“Perjalanan n 108 tahun itu bukan sekadar rentang waktu, melainkan untaian dedikasi dari begitu banyak pihak,” ujar Romo Heru.

Dari Tukang Timbang Beras hingga Memimpin Yayasan

Romo Heru lahir dari keluarga sederhana di Sleman, salah satu dari delapan bersaudara. Semasa kecil, ia pernah membantu orang tuanya berdagang beras sebagai tukang timbang. Sosok yang paling membekas darinya adalah guru-guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang pandai bercerita di kelas.

Keinginan menjadi imam tumbuh sejak ia duduk di bangku SMP. Namun, saat ia berpamitan, sang ayah tidak langsung merestui. Beliau justru menantang, “Kamu serius? Kalau tidak, tidak usah.”

“Justru itu yang menginspirasi saya untuk tidak setengah-setengah. Pilihan itu adalah pilihan saya.”

Romo Heru masuk Serikat Yesus pada tahun 1980 dan ditahbiskan pada tahun 1990. Hampir seluruh karyanya ia jalani di dunia sekolah, mulai dari Kolese Loyola, Semarang, Kolese Gonzaga Jakarta, hingga Kolese Kanisius Jakarta. Sejak akhir tahun 2022, beliau memimpin Yayasan Kanisius di Semarang.

Alasan kepindahannya ia sampaikan dengan jenaka. Setelah 22 tahun di Jakarta, ia mengaku sudah jenuh dengan kemacetan. Selain itu, kuliner Jawa Tengah cocok di lidahnya dan ia punya banyak teman di sana.

Baca Juga: NISN Siswa Pindahan Tidak Terbaca di Sekolah Baru, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Cerdas, Aman, Peduli: Arah Menuju 110 Tahun

Menurut Romo Heru, perubahan paling berharga dalam tiga tahun terakhir adalah tumbuhnya kesadaran untuk bersatu. Dengan ribuan guru dan murid yang tersebar, setiap sekolah bisa saja berjalan sendiri-sendiri jika tidak hati-hati. Oleh karena itu, Kanisius merumuskan Arah bersama untuk tahun 2025 hingga 2028, menyambut perayaan 110 tahun pada tahun 2028: Kanisius yang cerdas, aman, dan peduli.

1. Cerdas Berarti Menyeluruh

Kecerdasan bukan hanya soal otak dan pengetahuan. Kecerdasan emosi, spiritual, dan kinestetik juga dipupuk. Semangat ini diterapkan sejak jenjang paling awal. Kanisius mengelola kelompok bermain, taman kanak-kanak (TK), bahkan tempat penitipan anak di Yogyakarta.

2. Aman Berarti Anak Merasa Dihargai dan Dilindungi

Rasa aman mencakup aspek fisik dan nonfisik, termasuk aman dari perundungan siber ( cyberbullying ). Guru pun diajak bermedia sosial dengan baik dan tidak menyebarkan kebencian. Bagi Romo Heru, keamanan harus masuk ke sistem penjaminan mutu internal sekolah.

“Mutu itu bukan hanya soal akademik, tapi juga soal apakah budaya mutual itu mencakup budaya aman,” tuturnya.

3. Peduli Berarti Belajar dari dan untuk Lingkungan

Di SD Kanisius Kenalan, lereng Menoreh, murid membentuk “Republik Anak Kenalan” dan belajar melintasi sawah. Lingkungan menjadi sumber belajar, lalu anak diajak berefleksi dan merencanakan aksi baru. Pendekatan ini dikenal sebagai Paradigma Pedagogi Reflektif. Hasil refleksi para murid dapat dibaca di situs yayasan (yayasankanisius.sch.id).

Tentu saja, arah ini dijalankan di tengah tantangan nyata. Menurut pengamatan Romo Heru, di daerah pinggiran dan pegunungan, jumlah anak usia sekolah menurun akibat urbanisasi dan angka kelahiran yang kian rendah. Sekolah negeri pun ada yang kekurangan murid. Ia menerima sebagai bagian dari pelayanan risiko.

“Kalau memang dibutuhkan, kita siap,” ucapnya.

Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti

Romo Heru tegas soal posisi teknologi. Teknologi harus tetap menjadi alat, sedangkan faktor utamanya adalah guru. Murid masa kini adalah Generasi Z dan Generasi Alfa, sehingga guru tidak bisa lagi sekadar bercerita panjang lebar di depan kelas. Sarana teknologi perlu dimanfaatkan agar pembelajaran lebih interaktif, menarik, dan menyentuh.

Di tingkat yayasan, teknologi menopang prinsip tata kelola SENI, yaitu akuntabel ( akuntabel ), bertanggung jawab ( bertanggung jawab ), transparan ( transparan ), dan berkelanjutan ( berkelanjutan ). Melalui sistem manajemen satu pintu, data keuangan hingga kepegawaian terdokumentasi dengan cepat. Kepala cabang dapat membaca data wilayahnya masing-masing, sedangkan yayasan bisa melihat semuanya sekaligus.

“Dulu, kalau kami butuh data, perlu waktu dua bulan. Sekarang tidak sampai seminggu.”

Perubahan ini tentu tidak mulus. Tim memegang prinsip bahwa salah memasukkan data lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa, karena kesalahan bisa dilacak dan dikoreksi.

Meski begitu, Romo Heru mengingatkan sisi teknologi lain, terutama kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, pidato, tesis, bahkan disertasi kini bisa dibuat dalam lima menit.

“Gunakanlah secara kritis dan bertanggung jawab, jangan mentah-mentah. Pakai seperlunya, lalu kembangkan lebih jauh,” katanya.

Ia menolak dua sikap ekstrem, yakni menyerahkan segalanya kepada AI atau menutup diri sepenuhnya. Yang perlu dijaga adalah martabat manusia, kreativitas yang autentik, dan pendidikan yang tetap menuntut kerja keras.

Baca Juga: Kepemimpinan Baru STIE Widya Wiwaha: Strategi Sustainability Kampus Swasta di Tengah Persaingan 100+ PTS Yogyakarta

Guru yang Mendidik, Bukan Sekadar Mengajar

Di balik semua sistem itu, Romo Heru menempatkan guru sebagai jantung karya Kanisius. Ia mengapresiasi para guru, di ketinggian TK dan SD, yang sebagian besar perempuan, karena mendampingi anak dengan sepenuh hati. Ada yang menggendong anak yang butuh bantuan, bahkan mengantarkan anak yang terjatuh saat bermain ke rumah sakit.

“Kalau guru hanya sebatas guru, ‘kamu paham atau tidak, terserah’, itu bukan pendidik.”

Pesannya untuk guru dan karyawan Kanisius jelas. Jangan cepat puas diri, terus belajar, manfaatkan teknologi yang berguna, dan redakan anak tanpa setengah-setengah. Ia juga berharap para guru berani berimajinasi, bukan sekadar menjawab “iya, Romo” sehingga menyampaikan gagasannya sendiri.

Harapannya bagi murid sederhana, tetapi mendasar. Anak-anak gembira di sekolah, tumbuh tanpa kekerasan, dan pulang bercerita kepada orang tua tentang apa yang mereka pelajari. Dari situ, imajinasi mereka tumbuh untuk terus belajar lebih jauh.

Menjelang 110 tahun, cerdas, aman, dan peduli bukan sekedar slogan. Ketiganya menjadi cara Kanisius menjawab pertanyaan yang sama sejak awal: Pendidikan seperti apa yang ingin kami berikan kepada anak-anak?

 

Diposting Oleh:

ekasilviana

Tags:

pendidikan tata kelola sekolah yayasan kanisius

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.

Jadwalkan Diskusi
SEVIMA Platform

Regulasi

Lihat Semua

    Video Terbaru

    Membangun Kampus Bermutu dan Mendunia tanpa Meninggalkan Budaya | Rektor Unmas Denpasar