Berita & Artikel

Dunia Kampus

Nov

27

2020

...
Dunia Kampus | Liputan Media
Mencari Sistem Pembelajaran yang Tepat di Masa Pandemi

DI MASA pandemi, para pendidik harus mencari strategi yang tepat untuk diaplikasikan dalam sistem belajar mengajar. Hal itu diperlukan agar mahasiswa meraih hasil bagus di akhir perkuliahan. Di sisi lain, anggapan bahwa sistem pembelajaran online diterapkan karena pandemi Covid-19 dinilai kurang tepat. Sistem pembelajaran secara daring seperti ini dinilai sebagai salah satu potret pembelajaran di masa mendatang. “Pemerintah dan pihak pendidikan tinggi sudah merencanakan metode Pembelajaran Jarak Jauh dari beberapa tahun lalu. Dengan metode PJJ sistem belajar mengajar akan lebih mudah diaplikasikan dengan baik,” ujar Dr Uwes Anis Chaeruman, Dewan Penasihat Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI) dalam webinar ‘Langkah Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang diadakan PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA), Kamis (27/11). Baca juga: Cegah Corona, Beberapa Kampus Ternama Gunakan EdLink Untuk Kuliah Online Uwes membagi metode e-learning dalam dua jenis yaitu synchronous learning dan asynchronous learning. Synchronous learning merupakan metode yang digunakan para pengajar melalui pembahasan perkuliahan secara langsung baik melalui live synchronous learning (tatap muka) dan virtual synchronous (tatap maya), sedangkan asynchronous metode pembelajaran yang memanfaatkan teknologi modern seperti aplikasi dan fitur-fitur tertentu. “Asynchronous di bagi dua yaitu self directed asynchronous dan collaborative asynchronous. Self directed asynchronous merupakan metode pembelajaran yang bisa dilakukan secara mandiri dan bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Metode ini sangat cocok diaplikasikan selama masa pandemi,” ungkapnya. Baca juga: 5 Tips Tingkatkan IPK Saat PJJ Menurut Kemendikbud Sedangkan Dosen Hubungan Internasional dan Tim Pengembang Konten E-Learning IAIN Parepare, Syarif Iqbal mengatakan menemukan metode pembelajaran online yang tepat untuk mahasiswa tidaklah mudah. Menurutnya, di era digital, kesenjangan teknologi antargenerasi menjadi salah satu halangan terbesar. “Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui media yang sedang digandrungi mahasiswa,” ujar Iqbal. Menurut Iqbal, aktivitas pembelajaran online telah diimplementasikan dengan baik di kampus IAIN Parepare sejak 2010. Media pembelajaran yang digunakan IAIN Parepare adalah Edlink yang telah diunduh lebih dari 150 ribu mahasiswa dan 7 ribu dosen di seluruh Indonesia. “Adanya Edlink di sini sangat memacu semangat kami dalam melakukan pembelajaran onlen. Kami merasa sangat terbantu dengan penggunaan aplikasi ini,” tutur Muhammad Haramain salah satu Tim Pengembang E-Learning IAIN Parepare. (RO/R-1) Artikel ini telah tayang di Mediaindonesia.com dengan judul “Mencari Sistem Pembelajaran Yang Tepat di Masa Pandemi”

Nov

27

2020

...
Dunia Kampus | Liputan Media
Ini Cara Mudah Mengatasi Kebosanan Mahasiswa dan Dosen Saat PJJ

jpnn.com, JAKARTA – Pandemi COVID-19 memicu para dosen mengatur strategi untuk memenuhi capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK). Dewan Penasihat Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI) Dr Uwes Anis Chaeruman mengatakan, CPMK sangat dibutuhkan agar mahasiswa mampu mendapatkan hasil memuaskan di akhir perkuliahan. “Di masa pandemi, para dosen harus mencari strategi tepat untuk diiaplikasikan salah satunya metode e-learning,” kata Uwes dalam dalam webinar dengan Langkah Sukses Memenuhi CPMK, besutan SEVIMA, Kamis (26/11). Dijelaskan Uwes, banyak orang mengira, sistem pembelajaran online dilakukan karena adanya pandemi. Anggapan itu kurang tepat. Sebab, sistem pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah direncanakan sejak 2013 sebagai salah satu potret pembelajaran di masa mendatang. Uwes yang menulis buku tentang pembelajaran online berjudul PEDATI (Pembelajaran Daring Perguruan Tinggi) membagi metode e-learning dalam dua jenis: synchronous learning dan asynchronous learning. Pembahasan perkuliahan secara langsung, baik melalui live synchronous learning (tatap muka) dan virtual synchronous (tatap maya). Baca juga: Jangan Malas! Ini 12 Keuntungan Ikut Kuliah Online bagi Mahasiswa Sedangkan asynchronous merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan teknologi modern, seperti aplikasi dan fitur-fitur tertentu. Asynchronous dibagi menjadi dua, yaitu self directed asynchronous dan collaborative asynchronous. Self directed asynchronous merupakan metode pembelajaran yang bisa dilakukan secara mandiri. Selain itu metode pembelajaran ini bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Menurut Uwes, metode pembelajaran ini sangat cocok untuk diaplikasikan selama masa pandemi. Bahkan sangat cocok digunakan untuk memenuhi kriteria capaian pembelajaran. Sedangkan collaborative asynchronous adalah metode pembelajaran yang bisa dilakukan untuk belajar dan bertukar pikiran dengan satu dengan yang lain melalui media digital. “Dengan menggunakan metode ini, dosen dan mahasiswa akan lebih mudah melakukan diskusi dan kolaborasi untuk bertukar pikiran,” terangnya. Menurut Uwes, untuk mengatasi kebosanan tersebut, pengajar bisa menggunakan metode yang lebih menyenangkan saat mengajar, sepertii virtual synchronous, self directed asynchronous, dan collaborative asynchronous. Baca juga: Kuliah Online, Apa Saja yang Bisa Dijadikan Indikator Penilaian? Uwes menambahkan, jika dosen cenderung memilih cara untuk menstimulasikan pengalaman nyata, metode synchronous amat disarankan. Bila dosen menginginkan pembelajaran yang lebih fleksibel, metode asynchronous bisa diterapkan. Pada kesempatan sama Syarif Iqbal, dosen Hubungan Internasional mengatakan, menemukan metode yang tepat untuk mahasiswa tidaklah semudah membalikkan tangan. Dosen harus melakukan research sebelum mengajar. Iqbal memilih cara pendekatan sesuai kategori generasi kepada mahasiswanya. Cara ini dimaksud untuk melebur gap yang sering dihadapi, di antaranya gap sosial, teknologi, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Aktivitas pembelajaran online telah diimplementasikan dengan baik di kampus IAIN Parepare sejak 2010. Media pembelajaran yang digunakan oleh kampus ini adalah Edlink, yang merupakan salah satu media pembelajaran inovatif karya anak bangsa keluaran SEVIMA.(esy/jpnn) Artikel ini telah tayang di JPNN.com dengan judul “Ini Cara Mudah Mengatasi Kebosanan Mahasiswa dan Dosen Saat PJJ”.

Nov

27

2020

...
Berita | Dunia Kampus | Info Sentra Vidya Utama | Webinar
Kampus Wajib Terapkan Penomoran Ijazah Nasional Mulai Desember

Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkanperguruan tinggi menerapkan Penomoran Ijazah Nasional (PIN) mulai Desember 2020. Untuk itu, wajib bagi perguruan tinggi untuk menyiapkannya dengan sangat baik agar mencapai 100 persen eligible. Maraknya pemalsuan ijazah yang terjadi di Indonesia membuat miris semua pihak. Kejadian pemalsuan ijazah tersebut tidak hanya terjadi pada satu wilayah saja, namun terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini mendorong Direktorat Pebelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kebudayaan) melakukan perombakan dan inovasi baru untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya dengan meluncurkan nomor Ijazah yang disebut dengan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ketentuan Hukum PIN sesuai dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 2012, bahwa hukum pidana akan berlaku bagi perseorangan, organisasi, atau penyelenggara Pendidikan Tingg pabila terbukti melanggar ketentuan tersebut. Sanksi yang diberikan berupa hukuman penjara maksimal 10 tahun atau denda senilai Rp1 miliar rupiah.Ini tentu juga berlaku dalam hal pemalsuan ijazah yang terjadi di Indonesia. Perwakilan LLDikti VIII, Muhammad Veridy Samodra dalam siaran persnya mengungkapkan, bahwa PIN dan Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL) sangat penting diberlakukan di seluruh perguruan tinggi. Dengan harapan agar seluruh proses pengeluaran di perguruan tinggi bisa terorganisir sebaik mungkin. Menurut Veridy, berbagai upaya untuk menekan angka pemalsuan ijazah ini terus dilakukan agar tidak merugikan banyak pihak. Dalam hal ini, seluruh proses pemberlakuan PIN dan SIVIL bagi perguruan tinggi juga diatur dalam Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 59 tahun 2018. Seluruh sistem penomoran pada PIN ini nantinya akan langsung dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan harapan, seluruh ijazah yang keluar bisa terdeteksi dengan baik. Hasil proses PIN itu disebut sebagai Nomor Ijazah Nasional (NINA). Setelah NINA keluar, maka akan diverifikasi secara langsung melalui SIVIL. Metode PIN sendiri memang terbilang masih sangat baru di lingkungan perguruan tinggi, sehingga setiap kampus wajib mengetahui strategi yang tepat untuk menerapkannya. Pada surat edaran yang sudah dikeluarkan oleh PD Dikti. Prinsip Pengajuan PIN Menurut Kabag PDDikti Universitas Muhammadiyah Mataram), Ramli, terdapat dua prinsip yang bisa diterapkan dalam melakukan penerbitan ijazah. Pertama, prinsip kehati-hatian, bertujuan untuk menjaga keaslian ijazah, sertifikasi profesi, dan sertifikat kompetensi agar ijazah yang sudah dikeluarkan tidak mudah dipalsukan. Prinsip yang kedua yaitu akurasi, ini berfungsi untuk mengatur ketepatan data dan informasi yang dicantumkan di dalam ijazah, sertifikasi kompetensi, sertifikasi profesi sesuai dengan data NIK pada Kartu Tanda Penduduk. Seluruh data mahasiswa yang akan didaftarkan dan diinput dalam PIN wajib untuk dilakukan pengecekan ulang. Pengecekan tersebut utamanya dilakukan pada kolom NIM, NIK, nama mahasiswa, jenis pendaftaran, dan tempat tanggal lahir. Selain itu, data lain yang wajib untuk dilakukan pengecekan adalah jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) yang sudah ditempuh oleh mahasiswa. Langkah selanjutnya, pengecekan wajib dilakukan pada rekapan AKM. Pada rekapan AKM ini, data yang paling krusial untuk dilakukan pengecekan adalah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), SKS total, status mahasiswa, dan tentunya status masa studi mahasiswa. “Yang juga tak kalah penting, pengoreksian data wajib dilakukan sedini mungkin untuk menghindari kesalahan input,” terang Ramli Ramli menambahkan, apabila terjadi kesalahan dalam penginputan data, langsung saja lakukan pengecekan ulang data tersebut. Perbaikan dan pengoreksian data bisa dilakukan melalui feeder yang […]

Nov

27

2020

...
Berita | Dunia Kampus | Event SEVIMA
Cegah Ijazah Palsu, Penomoran Ijazah Nasional Dilakukan

MARAKNYA pemalsuan ijazah yang terjadi membuat miris semua pihak. Kejadian tersebut terjadi pada banyak wilayah di Indonesia. Mengutip data yang ada dari media terdapat 873 ijazah yang sudah diproduksi kampus swasta di Kota Tangerang, Banten. Padahal kenyataannya, kampus tersebut hanya meluluskan 145 mahasiswa. Dengan kata lain, sejumlah 728 ijazah tidak diketahui pemiliknya. Kejadian miris lainnya terjadi di Sumatera Utara. Seorang bakal calon Gubernur Sumatera Utara, juga melakukan pemalsuan legalisasi fotokopi ijazah. Akibatnya, Ia harus mundur dari pencalonannya karena telah melanggar ketentuan Pilkada. Dengan kondisi ini mendorong Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) melakukan perombakan dan inovasi baru untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan meluncurkan pengeluaran nomor ijazah. Aturan tersebut dinamai dengan Penomoran Ijazah Nasional atau yang biasa disebut sebagai PIN. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, SEVIMA menggelar.Webinar dengan tema strategi cerdas dalam pendaftaran PIN 100 Persen Eligible. SEVIMA mengundang para pembicara berpengalaman antara lain Muhammad Veridy Samodra (Perwakilan LLDIKTI VIII), Ramli, Kepala Bagiam (Kabag) PDDikti Universitas Muhammadiyah Mataram, dan Mahendri Winata (CTO SEVIMA). Webinar ini membahas tentang: ketentuan PIN, kegunaan pemberlakuan PIN, langkah cerdas untuk mencapai pendaftaran PIN 100% Eligible, serta strategi pendaftaran PIN dengan tepat. Seluruh informasi mengenai Penomoran Ijazah Nasional (PIN) dan Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL) dikupas tuntas melalui webinar SEVIMA kali ini. Sesuai Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 , bahwa hukum pidana akan berlaku bagi perseorangan, organisasi, atau penyelenggara Pendidikan Tinggi; apabila terbukti melanggar ketentuan tersebut. Sanksi yang diberikan berupa hukuman penjara maksimal 10 tahun atau denda senilai Rp 1 miliar.Hal Ini juga berlaku dalam pemalsuan ijazah yang terjadi di Indonesia. Perwakilan LLDIKTI VIII, Muhammad Veridy Samodra mengungkapkan, PIN dan Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL) sangat perlu dan penting untuk diberlakukan di seluruh perguruan tinggi. Dengan harapan agar seluruh proses pengeluaran di perguruan tinggi bisa terorganisir sebaik mungkin. Menurut Veridy, berbagai upaya untuk menekan angka pemalsuan ijazah ini terus dilakukan agar tidak merugikan banyak pihak. Dalam hal ini, seluruh proses pemberlakuan PIN dan SIVIL bagi perguruan tinggi juga diatur dalam Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 59 tahun 2018. Seluruh sistem penomoran pada PIN ini nantinya akan langsung dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dengan harapan, seluruh ijazah yang keluar bisa terdeteksi dengan baik. Hasil proses PIN itu disebut sebagai Nomor Ijazah Nasional (NINA). Setelah NINA keluar, maka akan diverifikasi secara langsung melalui SIVIL. PIN memang terbilang masih sangat baru di lingkup perguruan tinggi, sehingga setiap kampus wajib mengetahui strategi yang tepat untuk menerapkannya. Pada surat edaran yang sudah dikeluarkan oleh PDDikti, perguruan tinggi wajib menerapkan PIN mulai Desember 2020. Untuk itu, wajib bagi perguruan tinggi untuk menyiapkannya dengan sangat baik agar mencapai 100% eligible. Menurut Ramli, terdapat dua prinsip yang bisa diterapkan untuk melakukan penerbitan ijazah. Pertama, prinsip kehati-hatian, bertujuan untuk menjaga keaslian ijazah, sertifikasi profesi, dan sertifikat kompetensi agar ijazah yang sudah dikeluarkan tidak mudah dipalsukan. Prinsip kedua yaitu akurasi. Ini berfungsi untuk mengatur ketepatan data dan informasi yang dicantumkan di dalam ijazah, sertifikasi kompetensi, sertifikasi profesi sesuai dengan data NIK pada Kartu Tanda Penduduk. Seluruh data mahasiswa yang akan didaftarkan […]

Nov

27

2020

...
Dunia Kampus | Info Sentra Vidya Utama | Success story
Server Tidak Memadai, Universitas PGRI Adi Buana Sulit Melakukan Pelaporan PDDikti

SEVIMA.COM – Menuju persiapan pelaporan PDDikti, banyak perguruan tinggi yang dinilai masih merasa kesulitan. Ini menyebabkan masalah baru yang mengakibatkan pelaporan menjadi terhambat. Pelaporan yang terhambat, bisa menyebabkan sebuah perguruan tinggi mendapatkan kualitas yang menurun. Untuk itu perlu adanya upaya dalam mengatasinya. Sama seperti perguruan tinggi lainnya, kisah perjuang pelaporan PDDikti datang dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Kampus yang berlokasi di Kota Pahlawan tersebut mengalami problematika yang mirip dengan kampus lainnya.  Secara teknologi, Universitas PGRI Adi Buana memang sudah mengembangkan SIAKAD yang dimiliki. Dengan menggunakan pelayanan SIAKAD yang sudah dikembangkan sendiri tersebut.  Namun kenyataannya, sistem yang sudah digunakan oleh pihak kampus belum terintegrasi dengan ketentuan PDDikti. Sehingga pihak kampus harus menggunakan cara lain yang cepat agar pelaporan yang dilakukan bisa berjalan semestinya.  Awal mula kesuksesan pelaporan PDDikti UNIPA Perjalanan menuju kesuksesan pelaporan PDDikti tidaklah mudah. Banyak permasalahan yang harus diselesaikan oleh kampus ini. Mulai dari pembenahan server untuk dilakukan upgrade, hingga pembenahan data yang sudah dimiliki.  Pihak Universitas PGRI Adi Buana mencoba untuk melakukan perubahan terhadap sistem yang dimiliki. SEVIMA Profeeder dipilih menjadi satu-satunya solusi untuk melakukan pengolahan data tersebut. Seperti yang kita tahu, SEVIMA Profeeder merupakan layanan untuk para operator perguruan tinggi dalam melakukan import data dan pelaporan data ke PDDikti. Seluruh pelaporan data tersebut akan semakin mudah dan cepat, karena layanan ini sudah diintegrasikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  Nah, semenjak menggunakan layanan SEVIMA Profeeder, usaha yang sudah dilakukan oleh kampus ini berbuah manis. Universitas PGRI Adi Buana berhasil mencapai pelaporan 99% dalam beberapa periode.  Kesuksesan dari UNIPA, menjadi salah satu bukti bahwa koordinasi yang sangat baik antara SEVIMA dan pihak operator bisa membantu untuk memperbaiki penilaian yang ada pada kampus. Ini membuktikan bahwa dengan segala kesulitan yang dihadapi saat pelaporan PDDikti bisa diselesaikan dengan mudah melalui SEVIMA ProFeeder.  Jika kampus Anda masih menemukan kesulitan dalam melakukan pelaporan ini, SEVIMA ProFeeder bisa menjadi satu solusi tepat untuk kampus Anda. Memiliki pelayanan yang ultima, maka akan membuat kampus Anda semakin maju dalam pemenuhan pelaporan PDDikti.

Nov

27

2020

...
Berita | Dunia Kampus | Event SEVIMA | Info Sentra Vidya Utama | Webinar
Marak Pemalsuan Ijazah, Perguruan Tinggi Wajib Berlakukan PIN per Desember 2020

jpnn.com, JAKARTA – Pemalsuan ijazah di Pendidkan Tinggi masih marak terjadi. Ironisnya, kejadian ini tidak hanya terjadi pada satu wilayah. Inilah yang mendorong LLDikti (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi) melakukan perombakan dan inovasi baru untuk mengatasi masalah tersebut dengan meluncurkan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Perwakilan LLDIKTI VIII Muhammad Veridy Samodra, mengungkapkan, PIN dan Sistem Verifikasi Ijazah secara Elektronik (SIVIL) sangat penting diberlakukan di seluruh perguruan tinggi. Ini agar seluruh proses pengeluaran nomor ijazah di perguruan tinggi bisa terorganisir sebaik mungkin. “Berbagai upaya untuk menekan angka pemalsuan ijazah ini terus dilakukan agar tidak merugikan banyak pihak,” kata Veridy dalam webinar Strategi Cerdas dalam Pendaftaran PIN untuk mencapai 100% Eligible yang dibesut SEVIMA, baru-baru ini. Dia menjelaskan, seluruh proses pemberlakuan PIN dan SIVIL bagi perguruan tinggi juga diatur dalam Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 59 tahun 2018. Seluruh sistem penomoran pada PIN ini nantinya akan langsung dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan harapan, seluruh ijazah yang keluar bisa terdeteksi dengan baik. Hasil proses PIN itu disebut sebagai Nomor Ijazah Nasional (NINA). Setelah NINA keluar, maka akan diverifikasi secara langsung melalui SIVIL. “PIN memang terbilang masih sangat baru di lingkup perguruan tinggi, sehingga setiap kampus eajib mengetahui strategi yang tepat untuk menerapkannya,” ucapnya. Dalam surat edaran yang sudah dikeluarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), perguruan tinggi wajib menerapkan PIN mulai Desember 2020. Untuk itu, perguruan tinggi diminta menyiapkannya sedari sekarang agar mencapai 100% eligible. Pada kesempatan sama Kabag PDDikti Universitas Muhammadiyah Mataram, Ramli, S.AP,  mengungkapkan, ada dua prinsip yang bisa diterapkan untuk melakukan penerbitan ijazah. Pertama, prinsip kehati-hatian, bertujuan untuk menjaga keaslian ijazah, sertifikasi profesi, dan sertifikat kompetensi agar ijazah yang sudah dikeluarkan tidak mudah dipalsukan. Prinsip kedua yaitu akurasi. Ini berfungsi untuk mengatur ketepatan data dan informasi yang dicantumkan di dalam ijazah, sertifikasi kompetensi, sertifikasi profesi sesuai dengan data NIK pada Kartu Tanda Penduduk. “Seluruh data mahasiswa yang akan didaftarkan dan diinput dalam PIN wajib untuk dilakukan pengecekan ulang terutama pada kolom NIM, NIK, nama mahasiswa, jenis pendaftaran, dan tempat tanggal lahir,” terang Ramli. Selain itu, data lain yang wajib untuk dilakukan pengecekan adalah jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) yang sudah ditempuh mahasiswa. Langkah selanjutnya, pengecekan wajib dilakukan pada rekapan AKM. Pada rekapan AKM ini, data yang paling krusial untuk dilakukan pengecekan adalah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), SKS total, status mahasiswa, dan status masa studi mahasiswa. Yang tak kalah penting, lanjut Ramli, koreksi data wajib dilakukan sedini mungkin untuk menghindari kesalahan input. Jika terjadi kesalahan dalam input data, langsung saja lakukan pengecekan ulang data tersebut. “Perbaikan dan koreksi data bisa dilakukan melalui feeder yang sudah tersedia,” ucapnya. Agar data bisa terverifikasi dengan baik, Ramli menyarankan untuk memastikan dulu seluruh data mahasiswa yang dimasukkan benar-benar akan diwisuda. Pastikan bahwa seluruh acuan pengajuan reservasi dan pendanaan PIN setidaknya menggunakan SK Yudisium atau SK Wisuda yang mengacu pada eligible PIN. (esy/jpnn)   Artikel ini telah tayang di JPNN.com dengan judul “Marak Pemalsuan Ijazah, Perguruan Tinggi Wajib Berlakukan PIN per Desember 2020”.

Nov

24

2020

...
Dunia Kampus
Apa Itu Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi dan Bonus Rp 500 Miliar

SEVIMA.COM – Ada bonus 500 Miliar untuk kampus PTN berkinerja Baik. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan Merdeka Belajar episode keenam tentang Pendanaan untuk Perguruan Tinggi. Didalamnya ada tiga terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Salah satunya adalah delapan indikator kinerja utama untuk penetapan penyaluran bantuan dana. Menurut Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pada peluncuran Merdeka Belajar episode enam melalui siaran pers, ini adalah pertama kalinya, tambahan pendanaan PTN akan dihitung berdasarkan capaian delapan Indikator Kinerja Utama (IKU). PTN yang berhasil meningkatkan IKU atau mencapai target akan diberikan bonus pendanaan. Sebelumnya, perguruan tinggi hanya mendapatkan dana alokasi dasar dan dana afirmasi, khusus bagi perguruan tinggi yang tertinggal. “Selain alokasi dasar meningkat Rp800 miliar, tahun depan pendanaan pendidikan tinggi akan ditambah insentif yang berdasarkan capaian IKU. Kemendikbud menyediakan bonus Rp500 miliar bagi PTN yang berhasil meningkatkan capaian IKU terbanyak dan mencapai target yang ditetapkan Kemendikbud,” ujar Nadiem. Apa Itu Indikator Kinerja Utama (IKU)? Indikator kinerja utama atau IKU adalah ukuran atau indikator kinerja suatu instansi, utamanya dalam mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Setiap lembaga atau instansi pemerintah wajib merumuskan indikator kinerja utama, dan menjadikan hal itu sebagai prioritas utama. Dengan merumuskan indikator kinerja utama, instansi pemerintah bisa mengetahui kinerja mereka selama ini. Selain itu, indikator kinerja utama juga dapat meningkatkan kinerja mereka untuk ke depannya. Sehingga mereka pun bisa meraih tujuan, sasaran, dan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan Indikator Kinerja Utama (IKU) Setiap instansi pemerintah pasti membuat indikator kinerja utama karena ada tujuannya. Adapun beberapa tujuan dibalik pembuatan indikator tersebut adalah: Untuk mendapatkan ukuran sejauh mana keberhasilan dan pencapaian yang telah diraih organisasi tersebut selama beberapa waktu terakhir. Ukuran tersebut nantinya akan dijadikan patokan untuk meningkatkan kualitas kinerja instansi tersebut. 8 IKU yang Menjadi Landasan Transformasi Pendidikan Tinggi Lalu apa saja sih Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi bahan penilaian untuk mendapat bonus 500 milyar itu? Disini terdapat 8 IKU yang menjadi landasan transformasi pendidikan tinggi, yaitu: 1. Lulusan mendapat pekerjaan yang layak: Upah di atas UMR, menjadi wirausaha, atau melanjutkan studi. 2. Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus: Magang, proyek desa, mengajar, riset, berwirausaha, dan pertukaran pelajar. 3. Dosen berkegiatan di luar kampus: Mencari pengalaman industri atau berkegiatan di kampus lain. 4. Praktisi mengajar di dalam kampus: Merekrut dosen dengan pengalaman industri. 5. Hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat atau mendapat rekognisi Internasional: Hasil riset dan pengabdian yang dimanfaatkan. 6. Program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia: Dalam kurikulum, magang, dan penyerapan lulusan. 7. Kelas yang kolaboratif dan partisipatif: Evaluasi berbasis proyek kelompok atau studi kasus. 8. Program studi berstandar internasional: Memperoleh akreditasi tingkat internasional. Baca juga: siAkad Cloud Bantu Digitalisasi Pelayanan & Kegiatan Akademik Kampus Di tengah Pandemi Mendikbud mengatakan, IKU akan digunakan untuk mendorong kualitas PTN dan PTS melalui beberapa cara. Di antaranya memberikan alokasi insentif biaya operasional atau bantuan pendanaan bagi PTN dengan capaian IKU yang baik; memfasilitasi dana penyeimbang kontribusi mitra (matching fund) bagi PTN dan PTS; memilih program kompetisi Kampus Merdeka bagi PTN dan PTS (competitive fund); serta memantau kualitas PTS oleh Lembaga Layanan Pendidikan […]

Nov

18

2020

...
Dunia Kampus | e-learning | Tips & Trik
5 Tips Tingkatkan IPK Saat PJJ Menurut Kemendikbud

SEVIMA.COM – Di masa pandemi Covid-19 ini, rata-rata perguruan tinggi harus menjalankan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau kuliah online. Meskipun belajar di rumah, mahasiswa bisa meningkatkan nilai prestasi atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Penasaran? Dikutip dari instagram Ditjen Dikti Kemendikbud, Minggu (15/11/2020), ada lima cara yang bisa dilakukan mahasiswa untuk memperoleh nilai IPK tinggi ketika mekanisme pembelajarannya dilakukan di rumah. 5 Tips Tingkatkan IPK Saat Kuliah Online 1. Siapkan Perangkat, Aplikasi, dan Jaringan Hal yang pertama bisa kamu dilakukan adalah menyiapkan alat untuk mendukung proses belajar di rumah, seperti laptop, telepon genggam (handphone) dan jaringan internet. Selain itu, siapkan juga aplikasi pendukung belajar, seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Teams, SEVIMA EdLink atau aplikasi e-learning yang sedang digunakan perguruan tinggi. Baca juga: Ternyata Ini Fitur Favorit Para Mahasiswa di SEVIMA EdLink 2. Aktif di Kelas Walaupun perkuliahan dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau online, mahasiswa tetap harus fokus pada setiap materi yang diberikan dosen. Mahasiswa juga harus aktif dalam menyiapkan argumennya setiap proses pembelajaran. Dengan fokus dan proaktif di kelas, maka mahasiswa bisa mudah memahami materi dan biasanya menjadi perhatian dosen. Serta akan mendapat nilai plus di mata dosen. 3. Rajin Membaca Buku dan Jurnal Membaca sudah menjadi kewajiban semua pelajar. Dengan sering membaca buku dan jurnal, mahasiswa akan memiliki banyak ilmu pengetahuan. Lalu, bisa menjadi banyak landasan dalam menulis maupun berargumentasi saat kuliah online. 4. Jangan Menunda Tugas Ketika mahasiswa menunda pekerjaan, artinya tidak bisa menggunakan waktu secara maksimal. Pastinya, hasil yang dikerjakan juga tidak akan maksimal. Itu karena konsentrasi terbagi dengan tugas-tugas lain yang berdatangan dari dosen yang lain. Sebaiknya tugas yang baru diberikan langsung bisa dikerjakan. Bila tugas sudah selesai sebelum waktu yang telah ditentukan, maka banyak waktu luang untuk melakukan hal lainnya. 5. Jangan Titip Absen Kebiasaan titip absen harus ditinggalkan, bila ingin memperoleh nilai IPK yang baik. Para dosen sangat konsen pada jumlah kehadiran mahasiswa. Apalagi kuliah online ini kehadiran sulit untuk dilacak. Masalah absen juga harus dipikirkan, agar penilaian dosen terhadap mahasiswanya di posisi yang baik. Bila mahasiswa tidak pernah menitip absen, maka orang itu bisa menghargai waktunya di setiap kegiatan yang dilakukannya setiap hari. Itulah 5 tips tingkatkan IPK saat kuliah online dari Ditjen Dikti Kemendikbud, bisa kamu coba untuk ningkatin IPK saat pandemi seperti ini. Oh iya, mungkin ada teman kamu yang ingin tahu tips ini, jangan lupa untuk dishare ya!

Nov

18

2020

...
Dunia Kampus
Webinar: Langkah Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Matakuliah (CPMK)

SEVIMA.COM – Seluruh dosen di Perguruan Tinggi dalam perkuliahannya dituntut agar memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Namun karena adanya pandemi, kita dipaksa untuk melakukan perkuliahan secara online. Tentu saja, banyak dosen yang kesulitan mencapai CPMK. Lalu bagaimana metode yang tepat untuk mencapai CPMK di masa pandemi melalui kuliah online? Agar menjawab pertanyaan tersebut, SEVIMA yang telah berpengalaman selama lebih dari 10 tahun dalam sektor Pendidikan Tinggi mengundang perwakilan dosen di Perguruan Tinggi untuk mengikuti Panel Diskusi berjudul “Langkah Sukses Memenuhi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) Melalui Online Learning” yang diadakan pada: Hari : Selasa, 24 November 2020 Waktu: 13.00 WIB Via: Zoom Panel diskusi tersebut akan diisi oleh pemateri terbaik yaitu: Dr. Uwes Anis Chaeruman (Dewan Penasehat Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI)) Syarif Iqbal, S. Sos, M.A (Dosen Hubungan Internasional) Tim Pengembang Konten E-Learning IAIN Parepare Segera daftarkan diri Anda karena Panel Diskusi ini GRATIS dan kursi terbatas hanya 80 saja. Silahkan daftarkan diri Anda disini: https://bit.ly/cpmk-online-learning

Nov

09

2020

...
Berita | Dunia Kampus | Info Sentra Vidya Utama
Bagaimana Jika Terjadi Permasalahan NIK Kurang Lengkap pada PIN? Berikut Solusinya

Dari sekian banyak permasalahan yang muncul ada pengisian PIN, permasalahan NIK kurang lengkap pada PIN adalah permasalahan yang kerap kali terjadi. NIK adalah salah satu komponen yang paling krusial dalam pengisian data pada PIN. Untuk itu pengisiannya harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.  Permasalahan ini biasanya dilatarbelakangi karena terjadi kesalahan dalam proses input data yang diisikan. Di dalam proses input data, para penginput data sering kali kurang teliti dalam melakukan pengisian data tersebut. Akibatnya, data yang sudah dimasukkan tidak bisa terekam pada Feeder PDDikti.    Apakah solusi yang bisa dilakukan jika terjadi kesalahan input? Pada permasalahan kali ini, solusi yang bisa diambil dalam permasalahan berikut adalah dengan melakukan proses editing pada NIK. Penginput data cukup melakukan koreksi NIK yang sudah dimasukkan, lalu melakukan pengecekan ulang pada NIK yang sudah dimasukkan.  Setelah berhasil disimpan dan sinkron feeder anda hingga 100%, maka anda akan menerima pemberitahuan untuk menunggu hasil verifikasi dalam kurun waktu 1-2 hari.  Dengan terselesaikannya verifikasi pembaruan data tersebut, maka PIN anda akan bisa kembali muncul pada sistem.  Apakah ada permasalahan lain yang biasa muncul dalam pengisian PIN? Tentu saja ada, masih banyak permasalahan yang biasanya muncul dalam pengisian PIN ini. Nah, bagi anda yang ingin mengetahui penyelesaian dari masalah tersebut, jangan lewatkan Webinar SEVIMA seputar PIN dan SIVIL. Disana anda akan mendapatkan informasi seputar PIN dan SIVIL yang akan dipandu oleh para pembicara terbaik kami, yaitu Bapak Mahendri Winata (CTO SEVIMA), Bapak Muhammad Veridy Samodra (Perwakilan LLDIKTI VIII), dan  Bapak Ramli, S.AP. (Kabag PDDIKTI Universitas Muhammadiyah Mataram). Informasi lebih lanjut mengenai Webinar bisa diakses pada laman berikut ini.