Dunia Akademik | Seputar Pendidikan | Siaran Pers

Ditjen Diksi: Link & Match Vokasi dan Industri, Bukan Sekedar MoU!

Surabaya (03/06/2021) – Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di pendidikan vokasi terus digalakkan. Berbagai upaya pun terus dilakukan agar pendidikan vokasi di Indonesia bisa menghasilkan kualitas lulusan yang unggul. Hal tersebut tentunya tak lepas dari salah satu visi-misi Presiden RI Joko Widodo, yakni peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Sejalan dengan itu, Komunitas SEVIMA mengadakan WEBINAR tentang “Strategi Pernikahan Massal Vokasi dan Dunia Industri”. Webinar ini menghadirkan langsung Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D. bersama Dr. Ir. Hetifah, Wakil Ketua Komisi X DPR RI- Ketua Forum Perempuan Insinyur Indonesia. Acara ini dihadiri 200 lebih perwakilan dari Pendidikan Vokasi yang dilaksanakan melalui Live Zoom pada Kamis, 03/06/2020.

Vokasi Siap Majukan Industri Di Masa Depan

Hetifah mengungkapkan, di masa yang akan datang pasti akan banyak sekali muncul jenis pekerjaan baru hingga teknologi yang semakin maju dan berkembang pesat. Adanya perkembangan seperti ini, membutuhkan perhatian yang cukup dari dunia pendidikan Indonesia. 

“Di masa yang akan datang diprediksi akan banyak sekali muncul jenis pekerjaan baru. Selain itu, munculnya teknologi yang semakin berkembang pesat akan menjadi PR khusus bagi dunia pendidikan,” ujar Hetifah. 

Sayangnya, pendidikan di Indonesia masih mengalami kendala yang harus diselesaikan. Terutama dalam beradaptasi dengan dunia industri. Pendidikan Vokasi di Indonesia masih kekurangan tenaga ahli untuk menuntun kesiapannya dalam meningkatkan dunia industri di tanah air. 

Menurut Hetifah, adanya “link and match” pendidikan Vokasi dengan dunia industri ini menjadi salah satu kunci berhasil industri masa depan. Bagaimana tidak, dengan pendidikan Vokasi ini Indonesia mampu mencetak kesiapan tenaga kerja dan SDM yang unggul di bidang industri. 

“Banyaknya impor teknologi di Indonesia, seharusnya menjadi suatu tantangan sendiri bagi bangsa Indonesia. Pendidikan Vokasi dinilai sebagai kunci untuk menciptakan kesiapan tenaga kerja yang unggul di bidang industri ini. Dengan demikian, teknologi di Indonesia akan lebih maju tanpa harus melakukan impor barang dari luar negeri,” tambah Hetifah. 

Pentingnya Lulusan Vokasi yang Harus Sesuai Kebutuhan Dunia Kerja

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto juga turut memaparkan pentingnya lulusan pendidikan yang harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. 

“Pendidikan Vokasi memang sangat berhubungan erat dengan dunia industri. Jadi, dengan adanya pendidikan Vokasi ini, perguruan tinggi bisa melahirkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri,” terang Wikan.

Menurut Wikan, mengapa ada “link and match” adalah untuk menyesuaikan lulusan dengan dunia industri, bukan hanya mengandalkan ijazah namun kompetensi. Lulusan yang mempunya kompetensi tujuanya untuk BMW yang merupakan kepanjangan dari (B) bekerja, (M) melanjutkan studi, dan (W) wirausaha. Ketiganya merupakan muara saat mahasiswa sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya. 

“Setelah lulus nanti, mahasiswa tidak hanya mengandalkan ijazah saja, namun mereka bisa mengembangkannya melalui berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan masa depan mereka. Misalnya saja seperti Bekerja (dengan melakukan training untuk menjadi tenaga ahli), Melanjutkan Pendidikan (Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi baik di dalam maupun luar negeri), dan Wirausaha (mengembangkan usaha dan bisnis),” jelas Wikan.

Untuk menunjang lulusan yang kompeten, maka sangat dibutuhkan kemampuan yang baik melalui hard skills, soft skills, dan karakter. Dengan memiliki ketiga kemampuan tersebut, mahasiswa yang lulus diharapkan bisa memenuhi dunia industri. 

Wikan juga menjelaskan yang harus dilakukan pendidikan adalah “link and match” yang bukan sekadar tanda tangan Mou saja. Namun, dengan adanya “link and match” ini bisa menjadi sebuah gerbang bagi lulusan Vokasi agar sukses bisa memenuhi kebutuhan pasar dan dunia industri. 

“Link and match” itu bukan sekadar tanda tangan Mou namun bisa dengan paket 8+1. Diantaranya mulai dari sinkronisasi kurikulum, pengembangan soft skills dengan project base learning, pengajar dari industri, magang minimal satu semester, sertifikasi kompetensi, pengajar belajar di industri, membuat produk yang dihilirkan ke pasar, hingga komitmen penyerapan tenaga kerja oleh industri,” tutup dia.

Bagikan artikel ini

Komentar