Dunia Akademik | Dunia Dosen | e-learning

12 Jenis Blended Learning dan Contoh Penerapannya

SEVIMA.COM – Apa saja model blended learning? Setelah kita mengetahui apa itu blended learning di tulisan sebelumnya kita perlu membahas bagaimana penerapannya dalam pembelajaran dan jenis model pembelajaran blended learning. Pelajari Apa saja aplikasi LMS.

Perkembangan model blended learning yang akhir-akhir ini semakin pesat tidak hanya meningkatkan fleksibilitas dan individualisasi pengalaman belajar pelajar atau mahasiswa, tetapi juga memungkinkan pengajar untuk mengefektifkan waktu yang mereka habiskan sebagai fasilitator pembelajaran.

Ada macam-macam model blended learning yang telah dikembangkan. Sebagian juga menyebutkan model ini juga sama dengan jenis-jenis blended learning. Langsung saja, berikut beberapa model blended learning yang sudah diterapkan oleh berbagai lembaga pendidikan di berbagai belahan dunia.

Baca juga : Cara Optimalkan Blended Learning Untuk Pembelajaran di Era New Normal

6 Jenis Blended Learning

1. Station Rotation Blended Learning

Station-Rotation blended learning adalah menggabungkan ketiga stasiun atau spot dalam satu jam tatap muka dibagi menjadi tiga. Misalkan satu tatap muka terdiri atas 90 menit, maka waktu tatap muka 90 menit itu dibagi tiga waktu untuk masing-masing tahapan dalam spot yang berbeda yaitu 30 menit. ketiga spot tersebut terdiri atas online instruction, Teacher-led instruction, dan Collaborative activities and stations.

2. Lab Rotation Blended Learning

Model Lab Rotation Blended Learning mirip dengan Station Rotation, yaitu memungkinkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk memutar stasiun melalui jadwal yang telah ditetapkan namun dilakukan menggunakan laboratorium komputer khusus yang memungkinkan dilakukan pengaturan jadwal yang fleksibel dengan dosen. Dengan demikian diperlukan laboratorium komputer.

3. Remote Blended Learning atau Enriched Virtual

Dalam pembelajaran Remote Blended Learning, fokus mahasiswa adalah menyelesaikan pembelajaran online, mereka melakukan pembelajaran tatap muka dengan dosen hanya sesekali sesuai kebutuhan.

Pendekatan ini berbeda dari model Flipped Classroom dalam keseimbangan waktu pengajaran tatap muka online. Dalam model pembelajaran Remote Blended Learning, mahasiswa tidak akan belajar secara tatap muka dengan dosen setiap hari, tetapi dalam pengaturan flipped. Siswa menyelesaikan tujuan pembelajaran secara individu.

Baca juga : Apa Perbedaan Blended learning dan Hybrid Learning?

4. Flex Blended Learning

Flex termasuk dalam jenis model Blended Learning di mana pembelajaran online adalah inti atau tulang punggung pembelajaran mahasiswa, namun masih didukung oleh aktivitas pembelajaran offline. Mahasiswa melanjutkan pembelajaran yang dimulai di dalam kelas nyata dengan jadwal yang fleksibel yang disesuaikan secara individual dalam berbagai modalitas pembelajaran.

Sebagian besar mahasiswa masih belajar di kampus, kecuali untuk pekerjaan rumah. Dosen memberikan dukungan pembelajaran tatap muka secara fleksibel dan adaptif sesuai kebutuhan melalui kegiatan seperti pengajaran kelompok kecil, proyek kelompok, dan bimbingan pribadi.

5. The ‘Flipped Classroom’ Blended Learning

Blended learning versi Flipped Classroom ini merupakan versi yang paling banyak dikenal, Flipped Classroom dimulai dari pembelajaran mahasiswa yang dilakukan secara online di luar kelas atau di rumah dengan konten-konten yang sudah disediakan sebelumnya. Setelah melakukan proses pembelajaran online di luar kampus mahasiswa kemudian memperdalam dan berlatih memecahkan soal-soal di kampus bersama dosen dan / atau teman kelas. Dengan demikian bisa dianggap peran pembelajaran tradisional di kelas menjadi “terbalik”.

Pada dasarnya pembelajaran ini masih mempertahankan format pembelajaran tardisional namun dijalankan dengan konteks yang baru.

Baca juga : LMS yang Cocok untuk Blended Learning di Perguruan Tinggi

6. Individual Rotation Blended Learning

Model Individual Rotation memungkinkan mahasiswa untuk memutar melalui stasiun-stasiun, tetapi sesuai jadwal individu yang ditetapkan oleh dosen atau oleh algoritma perangkat lunak. Tidak seperti model rotasi lainnya, mahasiswa tidak perlu berputar ke setiap stasiun; mereka hanya berputar ke aktivitas yang dijadwalkan pada daftar putar mereka.

6 Jenis Blended Learning yang Mungkin Belum Pernah Anda Dengar

Selain ke-6 model tersebut masih ada model lain lho, walaupun jarang digunakan tidak ada salahnya untuk kita bahas di sini. Model-model blended learning kemungkinan masih akan terus berkembang dan memiliki banyak varian. Setidaknya ada beberapa model yang sudah mulai banyak digunakan di beberapa lembaga pendidikan, diantaranya adalah :

1. Project-Based Blended Learning

Project-Based Blended Learning merupakan model pembelajaran di mana mahasiswa menggunakan pembelajaran online maupun pengajaran tatap muka dan kolaborasi untuk merancang, mengulang, dan menyelasiakn tugas pembelajaran berbasis proyek atau produk tertentu. Pembelajaran online bisa berbentuk pembelajaran online dengan bentuk atau materi yang sudah disiapkan atau akses mandiri pada sumber-sumber belajar yang dibutuhkan. Karakteristik utama dalam pembelajaran ini ada penggunaan sumberdaya online untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek.

Baca juga : 5 Tips Cerdas Jalankan Blended Learning Secara Optimal

2. Self-Directed Blended Learning

Dalam Self-Directed Blended Learning, mahasiswa menjalankan kombinasi pembelajaran online dan tatap muka dalam pembelajaran inkuiri dan pencapaian tujuan pembelajaran formal. Mereka terhubung dengan dosen secara fisik dan digital. Karena pembelajaran diarahkan sendiri, maka peran pembelajaran online dan dosen berubah, dan tidak ada pertemuan/pembelajaran online formal yang harus diselesaikan.

Salah satu hal yang menjadi tantangan dosen dalam pembelajaran ini adalah bagaimana ia menilai pembelajaran dan keberhasilan pengalaman belajar mahasiswa tanpa menghilangkan autentifikasi. Sedangkan tantangan bagi mahasiswa adalah bagaimana mencari model produk, proses, dan potensi yang dapat mendorong mereka untuk konsisen dalam belajar.

Selain itu mahasiswa harus memahami apa yang berhasil dan mengapa, dan untuk membuat penyesuaian yang sesuai atas kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau kondisi ideal. Beberapa mahasiswa tidak membutuhkan bimbingan, sementara yang lain membutuhkan dukungan melalui jalur yang sangat jelas sehingga mereka dapat menjalankan pembelajaran mereka mereka sendiri secara otonom.

3. Blended Learning Inside-Out

Dalam blended learning Inside-Out, pembelajaran dirancang akan selesai atau berakhir di luar kelas, dengan memadukan kelebihan-kelebihan tatap muka fisik dan digital. Namun dalam model Luar-Dalam dan Dalam-Luar, masih menonjolkan pembelajaran di kelas, sedangkan pembelajaran online berfungsi sebagai penguat. Komponen pembelajaran online dapat berupa inkuiri mandiri atau eLearning formal.

Bila dilihat dari pola pembelajarannya maka blended learning berbasis proyek merupakan salah satu contoh yang sangat baik dari model Inside-Out. Sama halnya dengan Outside-In, model ini masih membutuhkan untuk bimbingan ahli, umpan balik pembelajaran, pengajaran konten, dan dukungan psikologis dan moral dari interaksi tatap muka setiap hari.

4. Outside-In Blended Learning

Dalam pembelajaran Outside-In Blended Learning, pembelajaran diawali dari lingkungan fisik dan digital non-akademik yang biasa digunakan mahasiswa setiap hari yang kemudian diakhiri di dalam ruang kelas. Dengan demikian pembelajaran di dalam kelas akan lebih dalam dan kaya. Kelas tatap muka berpeluang menjadi ajang berbagi, berkreasi, berkolaborasi, dan saling memberi umpan balik yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa.

Bila dirancang dengan baik, masing-masing “area” pembelajaran dapat memainkan peran penting dari kekuatannya masing-masing yang saling melengkapi. Polanya pembelajaran ini tetap masih kebutuhan bimbingan, pengajaran, dan dukungan dari interaksi tatap muka setiap hari.

Baca juga : Tips & Kunci Sukses Implementasi Model Pembelajaran Blended Learning

5. Supplemental Blended Learning

Dalam model ini, mahasiswa menyelesaikan pembelajaran online sepenuhnya untuk melengkapi pembelajaran tatap muka mereka, atau pembelajaran tatap muka sepenuhnya untuk melengkapi pembelajaran yang diperoleh secara online.

Gagasan besar di sini adalah “pelengkap”. Pencapaian tujuan pembelajaran pada intinya dipenuhi sepenuhnya dalam satu “ruang” (tatap muka atau online) sementara “ruang” lainnya memberikan pengalaman tambahan yang spesifik bagi mahasiswa. Pengalaman tambahan ini tidak akan mereka dapatkan bila hanya menggunakan satu “ruang” saja.

6. Mastery-Based Blended Learning

Pada model Mastery-Based Blended Learning mahasiswa melakukan pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka secara bergiliran. Penyelesaian tujuan pembelajaran berbasis penguasaan. Desain dan proporsi pembelajaran online dan tatap muka dibangun atas dasar penguasaan kompetensi tertentu.

Desain asesmen sangat penting dalam setiap pengalaman pembelajaran berbasis penguasaan. Kemampuan untuk menggunakan alat asesmen tatap muka dan digital cukup rumit tergantung pada pola pikir perancang pembelajaran.

Itulah 12 Jenis model pembelajaran blended learning yang bisa anda terapkan di perkuliahan Anda. Apalagi saat ini metode pembelajaran blended learning ini disarankan oleh Kemendikbud-Ristek untuk semua perguruan tinggi dalam situasi pandemi. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi model perkuliahan yang efektif. Untuk memulai perkuliahan dengan blended learning kampus Anda bisa menggunakan LMS terbaik di Indonesia yaitu: edlink.id

Artikel disadur dari: 12 Of The Most Common Types Of Blended Learning

Bagikan artikel ini

Komentar