Akademik & Mutu | Perguruan Tinggi
RPL Terasa Rumit? Bisa Jadi Masalahnya Bukan pada Aturannya, tetapi Cara Mengelolanya
06 Oct 2026
Perguruan Tinggi | PMB & Retensi
07 Oct 2026

SEVIMA.COM– Setiap menjelang musim penerimaan mahasiswa baru (PMB), ratusan perguruan tinggi swasta (PTS) mengambil keputusan yang sama: menaikkan anggaran iklan. Logikanya sederhana, lebih banyak iklan berarti lebih banyak pendaftar. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Qausya Faviandhani, S.E., M.M., Dosen Universitas Narotama Surabaya yang juga narasumber SEVIMA Private Mentoring: Strategi Marketing Kampus untuk PMB, melihat pola yang berulang di banyak kampus. Anggaran iklan terkuras bukan karena jumlahnya kurang, melainkan karena urutan langkahnya terbalik.
Datanya menjelaskan mengapa kesalahan urutan kini berbiaya mahal. Statistik Pendidikan Tinggi 2025 mencatat mahasiswa baru nasional mencapai puncak 2,10 juta pada 2021/2022, lalu turun hingga 1,84 juta pada 2024/2025. Di saat yang sama porsi kampus negeri membesar dari 34,4 persen pada 2014 menjadi 47,3 persen pada 2025, sementara rata-rata penerimaan PTS turun dari 533 menjadi 376 mahasiswa baru per kampus. Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Budi Djatmiko bahkan menyebut beberapa daerah kehilangan 30 sampai 40 persen calon mahasiswa.
Di sisi lain, calon mahasiswa mudah ditemukan. Survei Jakpat pada Desember 2025 terhadap 1.158 responden Generasi Z menunjukkan 83 persen aktif di Instagram dan 76 persen di TikTok. Masalahnya bukan di mana mereka berada, tetapi apa yang mereka temukan saat kampus sudah menghabiskan uang untuk menjangkaunya.
Baca Juga: Detik Terakhir PMB: Berkah atau Justru Titik Bocor Terbesar Kampus?
Ini kesalahan yang paling sering terjadi. Kampus memasang iklan, iklan mengarahkan calon mahasiswa ke akun Instagram atau situs kampus, dan yang mereka temukan adalah akun yang terakhir mengunggah tiga bulan lalu, informasi biaya yang tidak jelas, dan pesan masuk yang dibalas dua hari kemudian.
“Yang sering saya temui, iklannya sebenarnya sudah bekerja dengan baik. Calon mahasiswa benar-benar datang ke akun kampus. Masalahnya, yang mereka temukan adalah akun yang lama tidak diperbarui dan pertanyaan yang tidak dijawab. Di situlah biaya iklan itu pergi bukan ke platform, tetapi ke calon mahasiswa yang datang lalu pergi lagi,” ujar Qausya.
Iklan bekerja seperti pengeras suara: ia memperbesar apa yang sudah ada. Kalau akunnya kosong, yang diperbesar adalah kekosongan. Urutan yang benar adalah menghidupkan kanal milik sendiri lebih dulu, dengan frekuensi unggah yang konsisten, pertanyaan yang dijawab cepat, dan program unggulan yang dijelaskan dengan layak. Iklan baru masuk ketika ada sesuatu yang layak diperbesar.
Qausya menambahkan bahwa, “Organik yang wajar itu sederhana, akun cukup diperlakukan seperti kampus yang hidup, bukan papan pengumuman. Unggahan juga sebaiknya berjalan rutin tanpa menunggu momen, pertanyaan dijawab segera, dan program unggulan dijelaskan sejelas mungkin.”
Kesalahan kedua lebih halus. Setelah akun mulai hidup, tim pemasaran melaporkan kenaikan pengikut dan jumlah suka kepada pimpinan, dan laporan itu diterima sebagai keberhasilan. Padahal pengikut dan suka adalah metrik kesibukan. Metrik yang berkaitan dengan PMB adalah jumlah orang yang bertanya, jumlah yang membuka halaman pendaftaran, dan jumlah yang benar-benar mendaftar.
Kampus yang menentukan metrik pendaftar sejak awal akan mengelola kontennya secara berbeda. Unggahan yang memancing pertanyaan lebih berharga daripada unggahan yang hanya dipuji. Giveaway, misalnya, berguna bukan karena menambah pengikut, tetapi karena membuka percakapan yang bisa diteruskan ke pendaftaran.
Qausya menyampaikan, “Dulu saya juga senang kalau pengikut naik, rasanya kerja tim jadi terlihat. Tetapi lama-lama saya belajar bertanya satu hal sebelum angka masuk laporan, kalau angka ini naik, pendaftarnya ikut naik atau tidak? Ini biasanya jarang terjawab oleh pengikut dan jumlah suka. Jadi yang saya bawa ke pimpinan sekarang hanya tiga, berapa yang bertanya, berapa yang membuka halaman pendaftaran, dan berapa yang akhirnya mendaftar. Pengikut tetap saya catat, tetapi di bagian bawah sebagai konteks, bukan sebagai kabar baik.”
Baca Juga: Apa yang Harus Dilakukan Perguruan Tinggi Setelah PMB Selesai?
Kesalahan ketiga terjadi di ujung perjalanan calon mahasiswa. Setelah tertarik, ke mana mereka diarahkan? Kebanyakan kampus mengirim semua orang ke beranda situs utama, tempat informasi beasiswa bercampur dengan berita dies natalis dan pengumuman ujian. Calon mahasiswa yang datang dari iklan beasiswa harus mencari sendiri, dan sebagian besar berhenti mencari.
Urutan yang benar adalah menyiapkan halaman pendaftaran khusus untuk setiap program sebelum kampanye dijalankan. Satu halaman untuk beasiswa, satu untuk jalur prestasi, satu untuk prodi yang sedang didorong. Calon mahasiswa mendapat informasi yang tepat tanpa mencari, dan kampus mendapat data pendaftar yang terkumpul rapi per program, bukan tercecer di pesan pribadi admin.
Ketiga langkah di atas punya kesamaan: semuanya bisa dibetulkan tanpa menambah anggaran. Menghidupkan kanal organik butuh konsistensi, bukan uang. Menentukan metrik pendaftar butuh keputusan pimpinan, bukan alat mahal. Menyiapkan halaman pendaftaran per program butuh perencanaan sebelum kampanye, bukan setelahnya.
Angka nasional memang tidak ramah bagi kampus swasta. Namun penurunan menjadi 376 pendaftar per kampus adalah rata-rata, dan di balik rata-rata selalu ada kampus yang naik. Yang naik bukan yang beriklan paling besar, melainkan yang urutannya benar.
“Kami pun pernah berada di posisi itu. Dari situ kami belajar bahwa yang menentukan bukan besarnya anggaran, melainkan apa yang ditemukan calon mahasiswa setelah iklan diklik. Sekarang, setiap kali ada usulan menambah anggaran, pertanyaan pertama kami merujuk pada apakah orang yang datang nanti akan menemukan jawaban? Kalau sudah, anggaran itu akan bekerja. Kalau belum, pengalaman kami mengatakan urutannya yang perlu dibenahi lebih dulu, dan itu hampir tidak membutuhkan biaya,” pungkasnya.
Diposting Oleh:

metaayu
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform.
Jadwalkan Diskusi