Kampus Inklusif Bukan Soal Dana, Tapi Soal Sistem yang Bisa Tumbuh
21 Apr 2026
21 Apr 2026
SEVIMA.COM- Tidak semua kampus punya kesempatan memulai dengan fondasi yang sudah kokoh. Institut Teknologi Bisnis (ITB) Swadharma punya hal itu.
Berdiri di atas warisan dua institusi yang telah lebih dulu mengakar, STMIK Swadharma dan Politeknik Swadharma, kampus ini membawa masuk puluhan tahun pengalaman, jaringan alumni, dan kepercayaan komunitas ke dalam satu entitas baru. Pada 15 April 2020, melalui SK Mendikbud No. 447/M/2020, keduanya resmi menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Swadharma di bawah naungan Yayasan Danar Dana Swadharma BNI.
Yang berubah bukan hanya namanya. Yang berubah adalah keberanian untuk tumbuh lebih jauh dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.
Hari ini, alumninya duduk di kursi Wakil Direktur maskapai penerbangan nasional. Mahasiswanya datang dari Nias dan Belitung. Dan kampus ini sedang menargetkan panggung regional pada 2033.
Begitulah cara kampus yang baik bekerja membangun di atas yang sudah ada, lalu tumbuh melampaui batas yang pernah dibayangkan.
Salah satu indikator kesehatan sebuah kampus adalah kemampuannya membaca sinyal pasar sebelum sinyal itu terlambat.
Di ITB Swadharma, sinyal itu terbaca dari arah yang tidak diduga: Bisnis Digital. Prodi yang baru dibuka dua tahun lalu ini tumbuh dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan pengelolanya sendiri. Dalam waktu singkat, peminatnya hampir tiga kali lipat prodi Akuntansi yang sudah jauh lebih lama berdiri.
“Tiba-tiba peminat Bisnis Digital ini hampir tiga kali lipat prodi Akuntansi,” kata Rachmat J.N. Wantogia, S.E., M.M., Wakil Rektor II ITB Swadharma.
Tidak berhenti di situ. Data Sains masuk sebagai prodi berikutnya dengan logika yang serupa: permintaan pasar nyata, sertifikasi profesional yang mahal, dan jendela peluang yang masih terbuka. Kampus yang masuk ke segmen ini lebih awal memanen kepercayaan mahasiswa yang tidak mudah dipindahkan ke tempat lain.
Di sisi teknik, Teknik Informatika dan Sistem Informasi sudah meraih akreditasi Sangat Baik, jadi pembuka jalan untuk program RPL. Bagi ribuan calon mahasiswa kelas karyawan yang sudah punya pengalaman kerja bertahun-tahun tapi belum punya gelar, jalur ini adalah jembatan yang selama ini mereka cari.
“RPL memang sangat dibutuhkan. Di mana-mana banyak calon mahasiswa membutuhkan program itu, tapi banyak perguruan tinggi tidak sadar,” kata Teddy Rochendi, S.E., M.M., Wakil Rektor I.
Ada fakta yang terasa tidak biasa untuk kampus yang berlokasi di Pondok Cabe, Jakarta: kelas karyawan ITB Swadharma hari ini diisi mahasiswa dari Nias dan Belitung.
Ini bukan hasil kampanye iklan yang masif. Ini hasil dari dua hal yang bekerja bersamaan dari reputasi yang sudah terbangun, dan ekosistem akses yang memungkinkan mahasiswa dari daerah untuk menjangkau kampus ini secara finansial.
Beasiswa BAMUIS BNI, warisan dari akar kelembagaan kampus bersama Bank BNI, menjadi salah satu jangkar. KIP Kuliah dari pemerintah melengkapinya. Kombinasi keduanya menjadikan ITB Swadharma bukan hanya pilihan bagi mereka yang tinggal di Jabodetabek, tapi juga bagi mereka yang tinggal di daerah dengan akses pendidikan tinggi yang terbatas.
“Di sana kampus-kampus susah banget. Makanya mereka ke kita,” ujar Teddy selaku pengurus di Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.
Ada sesuatu yang bermakna di balik kalimat itu, yaitu kampus yang baik tidak hanya menjadi pilihan ketika tidak ada pilihan lain. Ia menjadi pilihan pertama bagi mereka yang cukup jauh untuk punya banyak pertimbangan.
Lulusan yang Berbicara Lewat Jejak
Ukuran reputasi sebuah kampus pada akhirnya bukan di brosur penerimaan mahasiswa baru. Kampus ini ada di perjalanan alumni setelah meninggalkan kampus.
Lulusan Teknik Informatika ITB Swadharma rata-rata mendapatkan pekerjaan pertama mereka dalam tiga sampai enam bulan setelah wisuda. Untuk konteks fresh graduate di pasar kerja yang kompetitif, angka itu bukan hal yang bisa diklaim sembarangan.
Lebih dari 10.000 alumni telah meluluskan diri dari berbagai program di bawah naungan institusi ini sejak awal berdirinya. Sebagian besar lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis terserap di sektor perbankan, sementara lulusan Fakultas Teknik mengisi industri IT yang terus tumbuh.
Dan sesekali, ada yang melompat lebih jauh dari rata-rata yaitu seorang alumni kini menjabat Wakil Direktur di maskapai penerbangan nasional. Bukan untuk dipamerkan, tapi sebagai penanda bahwa kampus yang berakar kuat di satu ekosistem pun bisa melahirkan pemimpin di industri yang sama sekali berbeda.
Tidak banyak kampus swasta dengan student body 1.200 mahasiswa yang berani menuliskan milestone institusional dalam horizon 15 tahun ke depan.
ITB Swadharma melakukannya. Di mana kampus ini mengejar Akreditasi Unggul di Tahun 2029, Unggul regional di 2033, dan World Class di 2039.
Ini bukan retorika tahunan yang berganti setiap pergantian rektor. Ini peta jalan yang muncul dari kesadaran bahwa pertumbuhan tidak bisa dikelola secara reaktif. Teddy menyampaikan bahwa tanpa klaim berlebihan, dengan kejujuran yang justru menjadi tanda institusi yang matang. tahu di mana mereka berdiri, tahu ke mana mereka ingin pergi.
30 Tahun Bukan Angka, Tapi Bukti.
Kampus baru bisa membeli teknologi terbaru, merancang kurikulum paling mutakhir, dan merekrut dosen dengan portofolio paling impresif. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli yaitu puluhan tahun pengalaman membaca pasar, memperbaiki arah, dan tetap berjalan.
ITB Swadharma punya keduanya sekaligus, kedalaman sejarah yang sudah teruji, dan kecepatan membaca zaman yang tidak kalah dari kampus yang baru berdiri kemarin. Kombinasi itu yang paling sulit ditiru, dan paling lama bertahan.
Diposting Oleh:

Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami