Kontak Kami

Dunia Kampus

Implementasi Kurikulum OBE Gagal 80% di Tahun Pertama

19 Jan 2026

SEVIMA.COMOutcome-Based Education (OBE) telah menjadi kerangka utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi dan pemenuhan regulasi sesuai Permendiktisaintek No.39 Tahun 2025. Pasal 6-8 menetapkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) wajib dirumuskan dan dijabarkan ke mata kuliah untuk memastikan ketercapaian kompetensi lulusan. Namun dalam praktiknya, banyak perguruan tinggi mengalami kegagalan pada tahap implementasi awal.

Dari analisis observasi pola implementasi di berbagai institusi, mayoritas 80% perguruan tinggi tidak berhasil menjalankan OBE secara fungsional pada tahun pertama. Kegagalan ini didefinisikan secara operasional sebagai ketidakmampuan institusi menyediakan bukti ketercapaian CPL yang valid dan terverifikasi saat proses akreditasi berlangsung.

Artinya, OBE telah diadopsi secara administratif, tetapi belum berjalan sebagai sistem manajemen pembelajaran berbasis data.

Mengapa OBE Jadi Kebutuhan Mendesak?

Jawabannya sederhana: akreditasi.

Prodi yang ingin peringkat Unggul harus menerapkan kurikulum OBE. Kampus yang ingin akreditasi Unggul harus memiliki prodi-prodi yang sudah OBE. Keduanya saling berkaitan tidak bisa meraih peringkat Unggul tanpa OBE.

Tekanan ini semakin kuat sejak instrumen akreditasi dan Permendikbudristek No. 39 Tahun 2025 menetapkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai tolok ukur utama. Perguruan tinggi yang mengejar akreditasi internasional seperti ACQUIN, IABEE, dan ASIIN pun tidak punya pilihan lain.

Masalahnya? Banyak kampus yang “sudah OBE” di atas kertas, tapi implementasinya masih tanda tanya. OBE sering jalan karena dipaksa atau diproyekkan, bukan karena kesiapan yang matang.

Meski Mendesak, 80% Perguruan Tinggi Gagal di Tahun Pertama

Setelah menganalisis pola dari ratusan institusi yang berdiskusi, kami mengidentifikasi lima akar masalah utama:

1. Pimpinan “Melempar” Target

Di lapangan, masih ada pimpinan yang berseru untuk implementasi OBE. Targetnya jelas. Namun, masih banyak yang belum mengetahui kondisi riil di bawahnya. 

Banyak kasus, target diturunkan tanpa pemetaan kesiapan. Tidak ada data berapa prodi yang sudah punya CPL, berapa yang masih dari nol dan yang ada hanya deadline.

2. Kaprodi Belum Paham Konsep

Kenyataan lain, ada juga kendala Kaprodi belum paham dengan konsep OBE. Ketika ditanya cara menyusun Profil Lulusan, CPL, dan mapping-nya. Jawabannya masih bingung. 

Bukan karena tidak mau belajar, tapi karena belum ada kesempatan memahami secara mendalam. Workshop satu hari tidak cukup untuk mengubah cara berpikir tentang kurikulum. Sehingga butuh pemahaman yang tepat agak konsepnya bisa dipahami sepenuhnya. 

3. Dosen Belum Siap Berubah

Dokumen kurikulum bisa saja sudah OBE. Tapi bagaimana dengan proses pembelajarannya? Kondisi di lapangan berbicara, ternyata ada sebuah mindset dosen yang belum berubah. 

Cara mengajar masih sama seperti sebelumnya. RPS ditulis dengan format OBE, tapi pelaksanaan di kelas tetap teacher-centered.

4. Data Kurikulum Belum Ada

Kondisi yang mungkin cukup fatal dalam implementasi OBE adalah data kurikulum belum ada. Ketika ditanya ” Apakah data CPL sudah ada?” Jawabannya: belum. Padahal KRS tinggal 2-3 bulan lagi.

Tanpa Profil Lulusan, CPL, CPMK, dan RPS yang tersusun rapi, sistem secanggih apa pun tidak akan bisa menghasilkan transkrip OBE.

5. Jalan Karena Terpaksa

Ada sebuah kondisi di mana perguruan tinggi terpaksa menjalankan OBE. 

“Yang penting bisa mengaktifkan OBE dulu. Nanti sambil jalan, dievaluasi.”

Prinsip ini terdengar pragmatis. Tapi realitanya? Evaluasi tidak pernah terjadi. Yang ada hanya akumulasi masalah yang meledak saat assessment.

Pola Keberhasilan 20% Perguruan Tinggi Implementasi OBE

Kabar baiknya, tidak semua institusi bernasib sama. Sekitar 20% perguruan tinggi berhasil mengimplementasikan OBE di tahun pertama. Apa bedanya?

1. Konsep Sudah Dipahami

Kaprodi dan dosen sudah mengikuti workshop atau webinar secara mendalam. Mereka paham cara menyusun Profil Lulusan, menurunkan CPL, memetakan CPMK, hingga merancang assessment yang selaras.

Bukan sekadar hadir di pelatihan, tapi benar-benar memahami filosofi dan teknis OBE.

2. Data Kurikulum Sudah Ready

Profil Lulusan, CPL, CPMK, dan RPS sudah tersusun sebelum sistem diaktifkan. Tim tidak perlu panik saat KRS dimulai karena semua data tinggal diinput.

Ini yang membedakan “OBE di atas kertas” dengan “OBE yang siap dieksekusi.”

3. Pimpinan Support Penuh

Bukan hanya menetapkan target, tapi juga menyediakan resources. Ada pelatihan berkala. Ada narasumber yang diundang. Ada pendampingan intensif untuk tim di lapangan.

Ketika pimpinan turun langsung membahas progress dengan tim teknis, pesan ke seluruh unit sangat jelas: ini prioritas institusi.

4. Kolaborasi Berjalan

Ada kerjasama nyata antara Kaprodi, dosen senior, dan tim teknis. Tidak ada silo. Kendala di satu titik langsung dikomunikasikan dan dicari solusinya bersama.

OBE bukan proyek satu orang atau satu unit, ini transformasi yang butuh kolaborasi lintas fungsi.

5. Proses Pembelajaran Ikut Berubah

Ini yang sering dilupakan. OBE bukan hanya soal dokumen kurikulum, tapi juga cara mengajar.

Dosen yang sudah “OBE sungguhan” mengubah metode pembelajaran dari teacher-centered ke student-centered. Assessment dirancang untuk mengukur capaian, bukan sekadar kehadiran atau hafalan.

Kriteria Memilih Sistem & Partner Implementasi OBE

Jika institusi Anda sedang mengevaluasi sistem atau mencari partner pendampingan, berikut kriteria yang perlu dipertimbangkan:

Dari sisi sistem:

  • Mampu mengakomodasi siklus lengkap OBE (profil lulusan → CPL → CPMK → assessment → transkrip)
  • Fleksibel terhadap perubahan mapping CPL yang dinamis
  • Terintegrasi dengan PDDIKTI untuk kemudahan pelaporan
  • Memiliki fitur portofolio lulusan untuk kebutuhan akreditasi internasional

Dari sisi pendampingan:

  • Tidak berhenti di pelatihan sekali jalan
  • Ada mekanisme monitoring progress berkala
  • Tim yang memahami konteks akreditasi (BAN-PT, ACQUIN, IABEE, ASIIN)
  • Responsif terhadap kendala teknis di lapangan

Pertanyaan yang perlu Bapak/IBu jawab sebagai pimpinan: di posisi mana institusi bapak/ibu saat ini?

Apakah sudah ada fondasi yang kuat—komitmen tertulis, tim yang terlatih, sistem yang siap? Atau masih di tahap dokumen rapi tapi implementasi jalan di tempat?

Institusi yang berhasil adalah mereka yang berani mengakui gap dan berkomitmen pada proses transformasi bukan sekadar kepatuhan administratif.

Transformasi OBE bukan proyek satu unit atau satu semester. Ia membutuhkan orkestrasi dari pimpinan menyelaraskan visi, tim, dan sistem dalam satu arah yang sama. Di tengah tekanan akreditasi dan perkembangan teknologi AI yang semakin cepat, pertanyaannya bukan lagi “apakah harus OBE” tetapi “bagaimana memimpin perubahan ini secara berkelanjutan.”

Bagi pimpinan perguruan tinggi yang ingin mendiskusikan tantangan ini langsung dengan praktisi dan pengambil kebijakan, SEVIMA bersama LLDIKTI Wilayah III membuka ruang diskusi melalui Executive Workshop “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan AI & Kurikulum OBE” pada Kamis, 12 Februari 2026 di Jakarta.

Eksklusif untuk pimpinan perguruan tinggi. Informasi dan pendaftaran: sevi.ma/executive-obe

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

🔴LIVE - Webinar Nasional: Persiapkan Sukses Karier & Jabatan Fungsional Dosen Tahun 2026