Kontak Kami

Dunia Kampus

Ketika Asesmen RPL Menjadi Bottleneck,  Mengapa Sistem Reguler Tidak Cukup?

19 Jan 2026

SEVIMA.COM- Bagi pimpinan perguruan tinggi, pembukaan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) umumnya berangkat dari niat strategis: memperluas akses pendidikan tinggi bagi pembelajar berpengalaman kerja sekaligus merespons kebutuhan masyarakat akan pembelajaran yang relevan dengan dunia nyata. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit pimpinan yang belum sepenuhnya menyadari titik-titik kritis yang justru menentukan keberhasilan program ini, khususnya pada proses asesmen. Setiap pendaftar RPL yang masuk kerap menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah seluruh rangkaian asesmen benar-benar berada dalam kendali institusi, atau sekadar berjalan apa adanya?

Berdasarkan wawancara kami dengan sejumlah perguruan tinggi, proses asesmen RPL masih didominasi oleh pemantauan manual dan pengelolaan dokumen yang terfragmentasi. Sebanyak 80–90% responden mengakui kewalahan menyiapkan dan menata dokumen asesmen untuk setiap mahasiswa RPL, terutama karena seluruh bukti tersebut wajib dilaporkan ke SIERRA. Untuk satu mahasiswa saja, dokumen asesmen dapat mencapai puluhan lembar—mulai dari portofolio, rubrik penilaian, hingga berita acara—yang semuanya berfungsi sebagai bukti sahih ketika audit mutu maupun evaluasi eksternal dilakukan. Ketika dokumentasi ini tidak terkelola dengan baik, risiko institusional pun meningkat secara signifikan.

Dalam konteks tersebut, RPL tidak lagi dapat diposisikan semata sebagai program akademik tambahan. Ia telah menjadi cermin kualitas tata kelola perguruan tinggi. Persoalannya bukan hanya seberapa cepat asesmen dapat diselesaikan, melainkan seberapa tenang pimpinan dapat memastikan bahwa setiap keputusan asesmen dapat dipertanggungjawabkan secara utuh saat evaluasi mutu internal maupun ketika masa akreditasi tiba. Di titik inilah, kendali proses menjadi sama pentingnya dengan niat baik membuka akses pendidikan.

Sistem Tidak Sesuai Jadi Masalah Calon Mahasiswa RPL & Admin

Hasil wawancara internal menunjukkan dua titik kelelahan utama yang kerap diabaikan pada saat pembukaan jalur RPL. Pertama terjadi di sisi calon mahasiswa RPL. Mereka dihadapkan pada kewajiban menyiapkan dokumen dalam jumlah besar melalui sistem yang tidak dirancang untuk program reguler bukan RPL. 

Ketidakjelasan struktur dan alur unggah membuat banyak camaba kesulitan memahami dokumen apa yang relevan. Akibatnya, proses pendaftaran terhenti, kualitas bukti menurun, dan waktu asesmen menjadi semakin panjang karena klarifikasi berulang.

Ketika jumlah pendaftar mencapai ratusan bahkan ribuan, beban ini meningkat secara eksponensial dan sulit dikendalikan secara manual.

Pengisian LED Menjadi Beban Struktural Bagi Calon Mahasiswa & Admin

Tingginya beban LED RPL bukan terjadi tanpa sebab. Asesmen RPL dilakukan pada level Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) untuk setiap mata kuliah yang direkognisi. Setiap CPMK membutuhkan bukti pembelajaran, penilaian, justifikasi akademik, serta keputusan konversi yang terdokumentasi. Akumulasi proses ini membuat satu mahasiswa RPL dapat menghasilkan 90 lembar dokumen pelaporan ke SIERRA. Bayangkan jika ada 300 mahasiswa yang mendaftar? Jelas ini menyebabkan berbagai permasalahan. 

Tanpa sistem yang terintegrasi, seluruh dokumen tersebut harus dikompilasi secara manual. Kondisi ini bukan hanya menyita waktu, tetapi juga meningkatkan risiko inkonsistensi data, keterlambatan pelaporan, dan lemahnya keterlacakan keputusan akademik yang berdampak langsung pada audit mutu dan evaluasi eksternal.

Sering Gagal Akibat Dibuka Tanpa Desain Sistem

Banyak perguruan tinggi membuka jalur RPL dengan asumsi bahwa prosesnya dapat mengikuti pola jalur reguler. Padahal RPL memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks. Ketika sistem tidak dirancang sejak awal untuk asesmen berbasis CPMK dan pelaporan skala besar, beban kerja berpindah ke individu, bukan ditangani oleh sistem institusi.

Dalam jangka pendek, hal ini mungkin masih tertutupi oleh komitmen tim. Namun dalam jangka menengah, kelelahan operasional, penurunan kualitas asesmen, dan risiko kepatuhan menjadi sulit dihindari.

Pendekatan Sistemik: Bagaimana Interface yang Tepat Mengubah Alur Kerja

Dalam konteks RPL, interface bukan sekadar tampilan digital, melainkan instrumen kendali strategis. Interface yang tepat membentuk alur kerja standar dari hulu ke hilir. Di sisi camaba, sistem memandu penyiapan dan pengunggahan bukti secara terstruktur. Di sisi asesor, penilaian berbasis CPMK dilakukan dalam satu alur kerja yang konsisten. Di sisi hilir, seluruh keputusan dan evidence terdokumentasi dan siap digunakan untuk LED serta pelaporan ke SIERRA.

Dengan pendekatan ini, kompleksitas RPL tidak dihilangkan, tetapi dikendalikan secara sistemik.

1. Memangkas Waktu Asesmen Hingga 60% Tanpa Mengorbankan Mutu

Berdasarkan implementasi di lebih dari 50 perguruan tinggi mitra, pendekatan sistem terintegrasi mampu memangkas waktu asesmen hingga 60%—bukan karena penyederhanaan penilaian, melainkan karena eliminasi friksi administratif. Asesor tidak lagi berpindah antar dokumen, penanggung jawab RPL tidak lagi menyusun ulang LED per mahasiswa, dan pimpinan memperoleh visibilitas terhadap proses yang sebelumnya tersembunyi di level operasional.

Efisiensi ini memungkinkan institusi meningkatkan kapasitas layanan RPL tanpa penambahan sumber daya yang signifikan, sekaligus menjaga konsistensi dan akuntabilitas akademik.

2. Dibangun untuk Skala dan Akuntabilitas

SEVIMA RPL dikembangkan berdasarkan realitas implementasi di perguruan tinggi. Interface dirancang untuk mendukung asesmen berbasis CPMK, memudahkan pengelolaan bukti pembelajaran, serta menghasilkan dokumentasi yang siap digunakan untuk LED dan pelaporan ke SIERRA, bahkan ketika jumlah peserta mencapai ribuan.

Pendekatan ini memungkinkan pimpinan mengelola RPL sebagai sistem yang berkelanjutan, bukan sebagai proyek administratif jangka pendek.

3. Menjadikan RPL sebagai Keunggulan Institusional

Membuka jalur RPL adalah keputusan strategis. Namun keberhasilannya ditentukan oleh kesiapan sistem yang menopangnya. Tanpa interface yang tepat, RPL berpotensi menjadi beban administratif dan sumber risiko institusional. Dengan pendekatan yang benar, RPL justru dapat menjadi keunggulan yang memperkuat tata kelola, mutu akademik, dan daya saing perguruan tinggi.

Pertanyaan bagi pimpinan: apakah fondasi sistem RPL institusi Anda saat ini cukup kuat untuk menopang pertumbuhan yang direncanakan, atau masih bergantung pada komitmen individu?

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

🔴LIVE - Webinar Nasional: Persiapkan Sukses Karier & Jabatan Fungsional Dosen Tahun 2026