Kontak Kami

Dunia Kampus

5 Strategi Menyusun Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang Terukur

09 Feb 2026

SEVIMA.COM– Sebelum bicara soal tabel, matriks, dan tumpukan dokumen untuk akreditasi unggul, satu pertanyaan fundamental perlu dijawab: apa sebenarnya makna lulusan “berhasil” bagi program studi ini?

Jawabannya sebenarnya sudah ada di Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dokumen yang sering ditempatkan sebagai komponen teknis kurikulum. CPL adalah janji program studi kepada mahasiswanya. Pertanyaannya lanjutannya, apakah janji itu benar-benar ditepati, atau hanya tertulis di atas kertas?

Ketika program studi menargetkan akreditasi unggul, asesor saat Asesmen Lapangan (AL) tidak sekadar memeriksa kelengkapan dokumen. Fokus mereka adalah membaca CPL sebagai desain dan bagaimana program studi membentuk mahasiswanya, serta memastikan bagaimana institusi proses itu terjadi.

Dokumen CPL yang terlihat rapi dan berkelas tidak cukup. Asesor akan menelusuri apakah yang dijanjikan sesuai dengan yang terjadi di ruang kelas? Bagaimana CPL diterjemahkan ke dalam pembelajaran dan penilaian? Dan yang terpenting bagaimana ketercapaiannya diukur dan dipantau?

Di titik inilah tim penjaminan mutu sering tersandung pertanyaan sederhana “Bagaimana membuktikan semua proses ini?”

Akibatnya, CPL menjadi salah satu temuan yang paling sering muncul dalam proses akreditasi. Untuk mencegah hal ini, berikut strategi penyusunan CPL yang terukur.

5 Strategi Menyusun Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) 

1. Penyusunan Kurikulum Didasarkan Regulasi Terbaru

Penyusunan kurikulum tidak dapat dilepaskan dari acuan regulasi terbaru. Tim dapat mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) 2025 yang menetapkan beberapa ketentuan yang sering terlewat dalam penyusunan CPL:

  • Penulisan integratif. CPL tidak boleh dipisah-pisah menjadi “CPL Sikap”, “CPL Pengetahuan”, “CPL Keterampilan Umum”, dan “CPL Keterampilan Khusus” sebagai daftar terpisah. Keempat unsur ini harus terintegrasi dalam setiap rumusan CPL. Pemisahan menunjukkan kesalahpahaman konseptual tentang capaian pembelajaran.
  • Jumlah maksimal 15 butir. Ini bukan aturan tertulis di regulasi, tapi best practice yang diterima luas di lapangan. Lebih dari 15 CPL menandakan rumusan yang terlalu granular atau tumpang tindih. CPL yang terlalu banyak juga menyulitkan tracking ketercapaian.
  • Adopsi dari berbagai sumber. Prodi boleh, bahkan dianjurkan, mengadopsi saran dari asosiasi prodi sejenis, lembaga akreditasi internasional, dan masukan stakeholders. Yang penting: adopsi harus dikontekstualisasi, bukan copy-paste.
  • Opsi detailing ke Indikator Kinerja. Untuk prodi yang ingin lebih presisi, CPL bisa dijabarkan ke Indikator Kinerja beserta bobotnya. Ini mempermudah penilaian dan agregasi data ketercapaian.

2. Mapping CPL ke Profil Lulusan

Setiap CPL harus bisa dijustifikasi: mengapa capaian ini penting? Jawabannya ada di Profil Lulusan (PL). Pemetaan wajib ada. CPL tanpa mapping ke PL adalah CPL yang “menggantung”, tidak jelas untuk membentuk profil lulusan yang mana. Asesor akan mempertanyakan relevansinya.

Bobot kontribusi. Beberapa kampus mengatur bobot kontribusi setiap CPL terhadap PL. Misalnya: CPL-1 berkontribusi 30% terhadap PL-1 dan 20% terhadap PL-2. Ini bukan kewajiban, tapi memperkuat argumentasi di LED.

Dokumentasi di LED. Matriks CPL-PL harus tercantum eksplisit di Laporan Evaluasi Diri. Tanpa dokumentasi, mapping dianggap tidak ada.

3. Mengetahui Posisi Program Studi dengan 8 Pertanyaan Validasi CPL

Sebelum CPL dikunci nantinya di LED, Bapak/Ibu tim penjaminan mutu dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut yang harus dijawab dengan YA.

NoPertanyaan ValidasiFokus
1Apakah CPL sesuai dengan profil lulusan yang relevan dengan profesi/bidang pekerjaan?Profil Lulusan
2Apakah CPL (Pengetahuan & Keterampilan Khusus) mengacu pada deskriptor KKNI sesuai jenjang?KKNI
3Apakah CPL (Sikap & Keterampilan Umum) sesuai standar minimum SN-Dikti?SN-Dikti
4Apakah CPL mengandung bahan kajian sesuai Body of Knowledge bidang studi?BoK
5Apakah CPL menyatakan kemampuan yang dapat diamati (observable) dan diukur (measurable)?Observable & Measurable
6Apakah matriks bahan kajian dan CPL dapat menjadi dasar pembentukan mata kuliah?Matriks MK
7Apakah CPL dapat menjadi dasar estimasi beban SKS sesuai keluasan/kedalaman materi?Beban SKS
8Apakah CPL jelas bagi mahasiswa dan dosen, serta dapat dicapai dalam kurun waktu studi?Achievable

Apabila Bapak/Ibu terkendala dengan pertanyaan no.5 artinya CPL bermasalah dengan kata kerja. Bersumber dari berbagai expert menyarankan CPL ditulis dengan sesuatu yang dapat diukur alias tidak rancu seperti kata Menghayati, Memahami. Adanya kata-kata yang tidak dapat memukur artinya otomatis gagal di pertanyaan ini karena tidak observable.

3. Validasi Lanjutan dari Praktisi Akreditasi

Selain 8 pertanyaan di atas, praktisi pendampingan akreditasi menyarankan dua validasi tambahan yang sering luput dari perhatian tim penyusun kurikulum:

Apakah SKS telah ditetapkan berdasarkan waktu tempuh pencapaian pembelajaran?

Banyak prodi menetapkan SKS berdasarkan kebiasaan atau benchmark prodi lain, bukan berdasarkan estimasi waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk mencapai CPL terkait. Padahal, SKS seharusnya mencerminkan beban belajar riil: berapa jam tatap muka, berapa jam tugas terstruktur, dan berapa jam belajar mandiri yang diperlukan untuk menguasai capaian pembelajaran tertentu.

Jika SKS tidak proporsional dengan kompleksitas CPL, dua masalah muncul. Pertama, mahasiswa kelebihan beban di semester tertentu. Kedua, asesor mempertanyakan dasar penetapan SKS saat visitasi.

Apakah CPL sudah ditunjang ketercapaiannya dengan Bahan Kajian?

CPL tidak bisa dicapai tanpa materi yang mendukung. Setiap CPL harus memiliki bahan kajian yang jelas, dan bahan kajian tersebut harus tercermin dalam mata kuliah yang relevan.

Validasi ini memastikan tidak ada CPL yang “kosong”, yaitu tercantum di dokumen tapi tidak ada substansi pembelajaran yang mendukungnya. Buat matriks CPL versus Bahan Kajian, lalu pastikan setiap CPL memiliki minimal satu bahan kajian penunjang. Jika ada CPL tanpa bahan kajian, rumusan CPL tersebut perlu ditinjau ulang atau bahan kajian perlu ditambahkan ke kurikulum.

4. Langkah Perbaikan untuk Pengembangan Kurikulum 

Jika CPL existing tidak lolos validasi, berikut langkah perbaikannya:

Audit dengan checklist. Jalankan setiap CPL melalui 8 pertanyaan dasar ditambah 2 validasi lanjutan. Tandai yang tidak lolos dan identifikasi pertanyaan mana yang gagal.

Prioritaskan pertanyaan #5. Observable dan measurable adalah fondasi. CPL yang tidak bisa diamati dan diukur tidak bisa dibuktikan ketercapaiannya, sehebat apapun sistem tracking yang digunakan.

Revisi kata kerja operasional. Ganti kata kerja abstrak dengan kata kerja yang menunjukkan tindakan konkret:

Tidak ObservableObservable
Memahami konsep akuntansiMenyusun laporan keuangan sesuai PSAK
Menguasai prinsip manajemenMerancang rencana bisnis dengan analisis kelayakan
Menghayati nilai profesionalismeMendemonstrasikan perilaku etis dalam simulasi kasus

Dokumentasikan mapping di LED. Pastikan matriks CPL-PL, CPL-MK, dan CPL-Bahan Kajian tercantum dengan jelas.

5. Tracking Ketercapaian CPL

CPL terukur di dokumen tidak sama dengan CPL terlacak implementasinya. Setelah rumusan CPL valid, tantangan berikutnya adalah membuktikan ketercapaian. Ini membutuhkan sistem yang bisa melacak rantai: CPL → CPMK → Sub-CPMK → Instrumen Penilaian → Nilai Mahasiswa.

Beberapa pertanyaan yang ditanyakan asesor lebih detail tentang data ketercapaian CPL: 

  • Berapa persen mahasiswa angkatan 2022 yang mencapai CPL-3?
  • Mata kuliah mana yang berkontribusi paling besar terhadap CPL-5?
  • CPL mana yang ketercapaiannya paling rendah, dan apa tindak lanjutnya?

Tanpa sistem terintegrasi, pertanyaan ini dijawab dengan estimasi, bukan data. Sistem informasi akademik yang terhubung dengan penjaminan mutu memungkinkan agregasi data nilai menjadi dashboard ketercapaian CPL secara otomatis.

Bagi prodi yang sudah melewati tahap penyusunan CPL dan kini menghadapi tantangan tracking ketercapaian, mengelola data dari ratusan mahasiswa lintas angkatan secara manual memang bukan pekerjaan sederhana. SEVIMA Modul OBE menyediakan sistem yang menghubungkan CPL, CPMK, hingga nilai mahasiswa dalam satu dashboard, sehingga data ketercapaian bisa langsung tersaji saat dibutuhkan.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Tidak dapat mengambil data RSS.