Kontak Kami

Dunia Kampus

Bukan Menggantikan, Tapi Framing “AI Ancam Dosen” Salah Sejak Awal

11 Feb 2026

Artificial Intelligence (AI) akan menggantikan dosen.” 

Kalimat ini sudah sering muncul di beberapa grup WhatsApp fakultas, di obrolan sebelum rapat senat. Wajar jika kecemasan itu ada. Tapi bagaimana jika framing-nya yang salah sejak awal?

Sebelum bicara data, ada baiknya kita mulai dari satu cerita yang mungkin terasa familiar.

Cerita dari Sebuah Ruang Dosen: Ketika yang Melelahkan Bukan Mengajar

Awal Februari 2025. Bu Ratna, dosen tetap di sebuah universitas swasta di Jawa Tengah dengan sekitar 6.000 mahasiswa, membuka laptop di ruang dosen pukul delapan malam. Bukan untuk mempersiapkan materi kuliah besok itu sudah selesai sejak siang. Yang belum selesai adalah revisi RPS untuk tiga mata kuliah yang harus disesuaikan dengan format OBE terbaru.

File RPS semester lalu dibuka. Copy-paste. Ganti tanggal. Sesuaikan bobot SKS yang berubah. Lalu bagian yang paling menyita waktu: memetakan ulang Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) ke Capaian Pembelajaran Mata Kuliah, satu per satu, dan memastikan setiap pertemuan tersambung ke CPMK yang tepat dan metode asesmen yang sesuai.

Bu Ratna sudah melakukan ini setiap semester selama enam tahun terakhir. Prosesnya nyaris identik hanya angka dan format yang berubah. Tapi tetap saja, setiap kali semester baru tiba, menghabiskan dua hingga tiga minggu waktunya untuk mengotak ngatik ini.

Di sela-sela revisi, ponselnya berbunyi. Ada artikel yang di-forward di grup dosen fakultas: “AI Akan Menggantikan 80% Pekerjaan Dosen dalam 5 Tahun.” Bu Ratna membacanya sekilas, lalu menutup, ada perasaan campur aduk. Separuh khawatir, separuh skeptis. Lalu kembali ke spreadsheet mapping CPL-CPMK yang belum selesai.

Yang tidak disadari Bu Ratna saat itu bahwa kekhawatirannya tentang AI justru terjadi sementara ia sedang mengerjakan persis jenis pekerjaan yang seharusnya tidak perlu dikerjakan manusia.

Hal yang Tidak Diungkapkan di Seminar tentang AI

Di hampir setiap seminar yang membahas AI dalam pendidikan tinggi, ada dua narasi yang dominan. Narasi pertama AI akan mengambil alih peran dosen  membuat materi, mengoreksi tugas, bahkan menjawab pertanyaan mahasiswa lebih cepat dari dosen mana pun. Narasi kedua, yang lebih moderat bahwa dosen harus “beradaptasi atau tertinggal.”

Kedua narasi ini punya satu kesamaan, keduanya menjadikan dosen sebagai objek yang terancam. Seolah-olah dosen sedang berdiri di rel kereta, dan AI adalah kereta yang melaju.

Tapi ada satu hal yang nyaris tidak pernah dibahas di seminar-seminar itu seperti apa hari-hari dosen sebenarnya hari ini, tanpa AI.

Data dari riset Gallup dan Walton Family Foundation (2025) menunjukkan: pengajar yang menggunakan AI secara rutin menghemat hingga 6 jam per minggu setara 6 minggu dalam satu tahun ajaran. Waktu itu tidak menguap begitu saja. Ia teralokasi ulang ke pekerjaan yang jauh lebih substantif. Dari sembilan jenis tugas yang diteliti, pengajar paling sering menggunakan AI untuk menyiapkan materi ajar (37%), membuat lembar kerja atau aktivitas pembelajaran (33%), dan menyesuaikan materi sesuai kebutuhan peserta didik (28%).

Artinya pekerjaan administratif ini dapat dialihkan ke pekerjaan yang berkualitas. Burn-out di kalangan dosen meningkat bukan karena mengajar terlalu banyak. Ironinya, dosen kelelahan bukan karena AI. Dosen kelelahan karena tidak ada AI yang membantu.

Pertanyaan yang Salah

Ini mungkin bagian yang paling penting dari seluruh pembahasan ini.

Pertanyaan yang selama ini mendominasi diskusi adalah “Apakah AI akan menggantikan dosen?” Pertanyaan ini terdengar dramatis dan penting, tapi sebenarnya ia mengunci percakapan di tempat yang keliru pada ancaman, bukan pada peluang.

Pertanyaan kritis lanjutannya “Apa yang bisa dosen lakukan jika tidak lagi terbebani pekerjaan repetitif?”

Riset dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa ketika AI digunakan sebagai asisten bukan pengganti produktivitas knowledge worker bisa meningkat hingga 40-45%. Waktu yang dihemat tidak menguap begitu saja. Waktu itu dialokasikan kembali ke pekerjaan yang bernilai tinggi: riset, mentoring mahasiswa, pengembangan metode pengajaran yang lebih baik.

Analoginya sederhana. Kalkulator tidak menggantikan matematikawan ia menghilangkan friction agar matematikawan bisa fokus pada pemecahan masalah yang sesungguhnya. Spreadsheet tidak menggantikan akuntan. Spellcheck tidak menggantikan penulis. Alat yang baik tidak menggantikan profesional ia membebaskan profesional untuk mengerjakan hal yang hanya manusia bisa lakukan.

Pembagian Peran yang Sebenarnya Antara Dosen dan AI

Jika kita berhenti sejenak dari perdebatan “AI vs Dosen” dan melihat secara jujur, pembagian perannya sebenarnya cukup jelas.

AI bisa mengerjakan draft RPS otomatis dari input mata kuliah dan learning outcome, mapping CPL ke CPMK berdasarkan kurikulum yang sudah ada, penyesuaian format agar comply dengan standar SNPT, dan auto-grading untuk soal-soal objektif.

Tapi ada hal-hal yang AI tidak bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan: evaluasi efektivitas pembelajaran secara kontekstual, mentoring dan pembimbingan mahasiswa yang membutuhkan empati dan pengalaman, judgement pedagogis untuk soal-soal kompleks yang tidak bisa dinilai dengan rubrik biner, inovasi metode pengajaran yang lahir dari pengalaman mengajar bertahun-tahun, dan riset yang membutuhkan curiosity serta kedalaman intelektual.

Prinsipnya sederhana: AI menangani volume dan repetisi. Dosen menangani judgement dan relasi.

Kembali ke cerita Bu Ratna. Tanpa bantuan AI, prosesnya seperti ini: buka file RPS lama, copy-paste, ganti tanggal, sesuaikan format baru, cek ulang mapping CPL-CPMK satu per satu secara manual. Total: 15 hingga 20 jam per mata kuliah per semester.

Dengan bantuan AI yang dirancang untuk keperluan ini: input mata kuliah dan learning outcome, draft RPS ter-generate dengan CPL-CPMK yang sudah tersambung, dosen cukup mereview dan mengedit bagian substantif. Total: 3 hingga 5 jam.

Waktu yang kembali: 10 hingga 15 jam per semester per mata kuliah. Dikalikan tiga mata kuliah, itu 30 hingga 45 jam yang bisa dialokasikan untuk mengajar dengan lebih baik, membimbing mahasiswa, atau akhirnya menyelesaikan paper riset yang sudah tertunda dua semester.

Satu Hal yang Sering Dilupakan, Perubahan Ada di Tangan Pimpinan

Ada satu poin kritis yang sering terlewat dalam diskusi tentang AI untuk dosen transformasi ini bukan keputusan individu.

Seorang dosen yang secara mandiri mencoba menggunakan ChatGPT untuk membantu draft RPS-nya akan mendapat manfaat tapi terbatas. Karena format RPS ditentukan oleh prodi, mapping CPL-CPMK harus konsisten di tingkat fakultas, dan compliance SNPT adalah kebijakan institusi.

Adopsi AI di level mata kuliah tanpa dukungan institusi adalah tambal sulam. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi dari pimpinan perguruan tinggi untuk memastikan infrastruktur teknologi siap, kurikulum OBE terintegrasi dalam sistem, dan dosen mendapat pelatihan serta dukungan yang memadai.

Realita yang perlu dihadapi dengan jujur yang akan “menggantikan” dosen bukan AI. Tapi dosen di institusi lain yang sudah memanfaatkan AI karena pimpinan kampusnya sudah mengambil keputusan lebih dulu.

Satu Langkah Konkret untuk Minggu Depan

Jika Anda seorang dosen yang membaca ini, coba hitung berapa jam per semester yang Anda habiskan untuk pekerjaan repetitif revisi RPS, mapping CPL-CPMK, penyesuaian format. Catat angkanya. Lalu bayangkan jika 70-80% dari waktu itu bisa dikembalikan ke Anda.

Jika Anda pimpinan perguruan tinggi, pertanyaannya bukan “apakah dosen kami siap menggunakan AI” tapi “apakah kami sudah menyediakan infrastruktur agar dosen kami tidak harus menghabiskan ratusan jam untuk pekerjaan yang bisa diotomasi.”

AI bukan pengganti dosen. AI adalah alat yang mengembalikan waktu dosen untuk menjadi pendidik bukan administrator. Pertanyaannya bukan lagi apakah, tapi kapan, dan siapa yang memulai.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

3 Strategi Dari Renald Kasali tentang Disrupsi Pendidikan