Waspada Penipuan Oknum Menelpon (Spam Call) Mengaku Kenal dan Miliki Data Pribadi
15 Jan 2026
19 Feb 2026

SEVIMA.COM — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan Profesor Rhenald Kasali menyebut artificial intelligence (AI) telah menghancurkan monopoli pengetahuan yang selama ini dipegang dosen. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan pimpinan perguruan tinggi dalam Executive Workshop SEVIMA bertajuk “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence (AI) dan Kurikulum Outcome Based Education.”
“Sekarang, dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. GenZ sudah punya orang cerdas kepercayaan di sini. Dia lebih percaya yang disini. AI bisa menjelaskan lintas disiplin. Jadi kalau kita tidak melakukan apapun, AI sudah siap menghancurkan monopoli pengetahuan dari dosen,” ujar Rhenald dalam Executive Workshop SEVIMA, Kamis (12/2/2026) di Rumah Perubahan, Jakarta.
Walaupun demikian, monopoli itu justru membuka peluang besar bagi dunia pendidikan. Jika dulunya pendidikan semata-mata bertujuan mentransfer konten, memindahkan pengetahuan, atau menyalurkan ilmu dari dosen kepada mahasiswa, menurut Prof Rhenald, kampus harus berubah tujuan. Untuk, mengonstruksi manusia, membentuk dan mengembangkan potensi individu sesuai dengan keunikan masing-masing.
Untuk mendiskusikan problematika ini, hadir Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Dr. Henri Togar H. T., M.A., Guru Besar Universitas Indonesia dan penggagas Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., serta para pakar sebagai narasumber. Acara ini juga dibuka secara hybrid oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, Menteri Agama, dan berbagai pejabat tinggi lainnya diikuti oleh ratusan rektor dari seluruh Indonesia.
Masalah Dasar Pendidikan
CEO SEVIMA Sugianto Halim, M.M.T dalam forum yang sama menunjukkan potret pendidikan tinggi Indonesia yang membutuhkan transformasi mendesak. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia pada 2020 tercatat hanya 32,89 persen. Artinya, dari 100 anak usia kuliah, hanya 32 yang mengenyam pendidikan tinggi. Sementara target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menuju Indonesia Emas 2045 menetapkan APK 60 persen.

CEO SEVIMA Sugianto Halim
“Kalau kita lihat, tiga puluhan persen itu sudah stagnan hampir delapan tahun. Untuk bisa naik ke 60 persen, kita harus tumbuh secara eksponensial. Ini bukan masalah gengsi, ini masalah daya saing bangsa,” kata Halim.
Kesenjangan akses antarwilayah memperparah situasi. APK di Yogyakarta mencapai 74 persen, sementara di Papua Pegunungan hanya 13 persen. “Anak-anak Indonesia punya mimpi yang sama, tapi akses mereka terhadap pendidikan berbeda jauh. Ini PR kita bersama,” ungkap Halim.
Di balik 9,9 juta mahasiswa yang terdaftar, terdapat anak muda lain dengan angka sama yang tidak kuliah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan, kelompok yang kerap disebut NEET (Not in Education, Employment, or Training). Jumlah yang setara dengan seluruh populasi mahasiswa aktif itu menjadi alarm tersendiri bagi masa depan demografi Indonesia.
Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr Henri Togar menegaskan bahwa pendekatan OBE menjadi instrumen strategis agar pemanfaatan AI tidak sekadar menjadi gimmick teknologi, melainkan benar-benar berdampak pada mutu lulusan.
“OBE memastikan bahwa teknologi tidak digunakan sekadar sebagai alat bantu, tetapi benar-benar mendukung pencapaian kompetensi yang dibutuhkan lulusan. Mahasiswa tidak lagi hanya diajarkan memahami konsep algoritma, tetapi diarahkan untuk menganalisis permasalahan data, mengolah data secara bertanggung jawab, dan mengambil keputusan berbasis data,” jelas Henri.
Menurut Henri, AI dapat dimanfaatkan dalam tiga tahap pembelajaran yakni perencanaan (memetakan capaian pembelajaran dan kebutuhan kompetensi), pelaksanaan (menciptakan pembelajaran interaktif dan adaptif), serta evaluasi (menilai capaian mahasiswa secara objektif dan berbasis bukti).
Ia mencatat kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi informasi dan komunikasi saat ini diperkirakan 2 juta orang. Pada 2030, angka itu diproyeksikan melonjak hingga 9 juta orang, dengan permintaan kuat di bidang AI dan pengolahan data.
Sementara itu, dari 244 perguruan tinggi swasta di bawah LLDIKTI Wilayah III, program studi yang secara spesifik dan eksplisit fokus pada kecerdasan buatan baru terdapat di 2 kampus. Lulusannya pun belum ada karena prodi AI baru berjalan sejak 2024.

CEO SEVIMA Sugianto Halim bersama Kepala LLDIKTI WIlayah III Dr. Henri Togar H. T., M.A
“Ini momentum strategis. Perguruan tinggi harus memperkuat kualitas dan relevansi pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan tenaga kerja digital, khususnya AI dan pengolahan data,” tegas Henri.
Namun tantangan implementasi tidak ringan. Perkembangan AI yang bergerak dalam hitungan hari atau minggu berbenturan dengan proses penyusunan kurikulum perguruan tinggi yang memakan waktu panjang. Kesiapan dosen menjadi krusial, pembelajaran AI tak cukup hanya menyampaikan teori, tetapi harus memahami penerapan teknologi di dunia nyata. Integritas akademik pun menjadi persoalan serius.
“Mahasiswa sekarang sudah terbiasa menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas. Teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan menggantikan peran manusia secara mentah. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa pemanfaatan AI tetap mendukung integritas akademik,” ucapnya.
Adaptif dan Kejar Kemampuan AI Seperti Gen Z
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj Himmatul Aliyah, M.Si. menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap AI bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Ia mengingatkan bahwa ketakutan serupa pernah muncul saat kalkulator hadir dan guru khawatir kehilangan kemampuan mengajar analitik.

Wakil Ketua Komisi X DPR RHj. Himmatul Aliyah, S. Sos., M.SiI
Namun Himmatul menegaskan tantangan terbesar ada di sisi kompetensi pendidik: dosen dan guru sendiri secara platform dan kompetensi AI masih kurang, sementara mahasiswa Generasi Z yang sudah terbiasa dengan ChatGPT sejak bangku SD justru minim pemahaman etika. “Ini lembah yang sangat dalam, dan di situlah peran SEVIMA maupun swasta lainnya, termasuk pemerintah, harus hadir,” tegasnya.
Integrasikan AI dalam pembelajaran
Pada kesempatan yang sama, dilakukan peluncuran SEVIMA Edlink Dosen Pro AI, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengangkat beban administratif dosen sekaligus menjadi akselerator implementasi Kurikulum OBE di level institusi.Edlink Dosen Pro AI mampu mengonversi presentasi PowerPoint dan bahan ajar menjadi video pembelajaran secara otomatis, menyusun draft Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang terstruktur sesuai framework OBE, serta menghasilkan bank soal ujian yang terpetakan ke taksonomi Bloom dan selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).

Peluncuran Edlink Dosen Pro AI
Peserta bisa melihat demonstrasi langsung rangkaian fitur AI SEVIMA yang mencakup AI Kurikulum OBE, AI Prediksi Kelulusan, AI Computer-Based Test, AI Content Generator, hingga sistem Presensi berbasis AI DeepFace, sebuah ekosistem teknologi yang dirancang mendampingi perguruan tinggi dari desain kurikulum hingga evaluasi dan tata kelola.
Forum ini bukan yang pertama kali diselenggarakan. Sejak 2023, SEVIMA secara konsisten menggelar forum serupa di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan sejumlah kota lainnya, menjadikannya agenda rutin yang dinantikan pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia. Setiap penyelenggaraan mengangkat tema yang relevan dengan tantangan terkini pendidikan tinggi, mulai dari digitalisasi kampus, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), hingga implementasi OBE.
Diposting Oleh:

Erna SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami