Kontak Kami

Dunia Kampus

Strategi Keberhasilan Prof. Apriana Tingkatkan Kompetensi Dosen di Wilayah Timur

17 Mar 2026

“Bu, saya sudah publikasi di tiga jurnal nasional. Tapi kenapa skor SINTA saya masih nol?”

SEVIMA.COM- Prof. Apriana Toding sudah mendengar pertanyaan ini puluhan kali. Dari ruang seminar di Toraja hingga aula kampus di pelosok Papua. Sebagai Guru Besar Termuda di LLDikti Wilayah IX, beliau tahu betul bahwa di balik pertanyaan sederhana ini tersimpan masalah yang jauh lebih besar dari sekadar kesalahan teknis satu orang dosen.

Dosen yang bertanya bukan dosen malas. Dia sudah menulis, sudah meneliti, sudah mempublikasikan. Tapi sistem tidak mengenali kinerjanya. Dan tidak ada yang pernah menjelaskan mengapa.

Bagi pimpinan perguruan tinggi, pertanyaan ini seharusnya mengkhawatirkan. Karena kalau satu dosen mengalaminya, kemungkinan besar puluhan dosen lain di institusi yang sama juga mengalami hal serupa. Dan itu artinya potensi hibah penelitian yang tidak pernah diakses, output publikasi yang tidak terindeks, dan skor kinerja institusi yang tidak mencerminkan kapasitas sebenarnya.

Tiga Masalah yang Tidak Terlihat dari Ruang Rapat

Dosen di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tidak kalah kompeten. Ini perlu ditegaskan di awal, karena diagnosis yang paling sering muncul di level kebijakan justru sebaliknya. Ketika output riset rendah, asumsi pertama biasanya: dosennya kurang produktif. Tapi data di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda. 

Ada tiga masalah struktural yang jarang terlihat dari level pimpinan yang ditemukan oleh Prof. Apriana:

1. Sistem SINTA Kompleks

SINTA (Science and Technology Index) adalah sistem pemeringkatan nasional yang menjadi rujukan utama dalam mengukur produktivitas akademik dosen. Agar data terbaca dengan benar, dosen wajib menginput empat ID: Google Scholar, Garuda, Web of Science, serta Scopus ID. 

Tapi di lapangan, sistem SINTA yang kompleks menyebabkan kesalahan input jauh lebih umum dari yang diduga.

Dalam salah satu kegiatan sosialisasi, Prof. Apriana menemukan dosen memiliki publikasi di Jurnal Nasional dan memiliki beberapa Garuda ID. Sebagian dosen tidak menyadari bahwa hal ini menyebabkan potensi banyak publikasi yang tidak masuk dalam akun SINTA. 

Dibeberapa kasus juga pada dosen yang belum memahami alur kerja SINTA, beliau menemukan beberapa dosen yang sering meng-update akun SINTA memiliki score yang selalu nol (0). Setelah menggali akar permasalahannya, Prof. Apri menemukan kesalahan dosen melakukan input data Google Scholar ID, padahal yang dibutuhkan adalah judul publikasi. 

Akibat kesalahan input ini, sistem tidak bisa menarik data yang berakhir publikasi tidak terindeks. 

Masalah ini menjadi temuan sekaligus urgensi pentingnya sosialisasi intensif di perguruan tinggi bagi dosen dalam pengenalan terhadap sistem SINTA.

2. Standar Skor SINTA yang Tinggi

Selain kompleksitas sistem, standar skor SINTA juga menjadi kendala lain bagi banyak dosen. Beberapa skema hibah penelitian mensyaratkan skor SINTA sebagai prasyarat pengajuan proposal. Dalam praktiknya, ambang batas tersebut sering terasa sulit dicapai, terutama bagi dosen yang profil SINTA-nya belum optimal atau belum terkelola dengan baik.

Saat ini, regulasi persyarat mengajukan Hibah penelitian lewat laman BIMA telah dilakukan update. Skor SINTA menjadi salah satu persyaratan utama untuk melakukan pengajuan Hibah dimana ketua pengusul dan anggota memiliki jabatan fungsional maksimal lektor yang berasal dari perguruan tinggi klaster madya, pratama, binaan, utama dan mandiri, serta memiliki SINTA Score Overall maksimal 299 untuk bidang saintek dan 99 untuk bidang soshum dan seni untuk pengajuan PDP. 

Namun pada tahun 2026 skema Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) Afirmasi tidak dibuka. Skema ini sebelumnya ditujukan bagi dosen dengan jabatan fungsional maksimal Lektor, memiliki ID SINTA, dan berasal dari perguruan tinggi klaster Pratama dan Binaan.

Dosen dengan kemampuan riset yang mumpuni akhirnya tidak mengajukan proposal penelitian. Bukan karena tidak mampu meneliti, tapi karena tidak mampu menavigasi prasyarat administratifnya. 

Bagi institusi, dampaknya bukan hanya kehilangan satu atau dua hibah. Ini berarti kehilangan pendanaan riset secara sistematis, tahun demi tahun, tanpa menyadari penyebabnya. Karena di permukaan, yang terlihat hanya angka bahwa jumlah proposal rendah, skor SINTA institusi stagnan. Tanpa melihat akar masalahnya, intervensi yang dipilih pun menjadi tidak tepat sasaran.

3. Sosialisasi Tidak Berhasil

Sosialisasi yang sudah dilakukan tidak menghasilkan perubahan. Sebagian besar perguruan tinggi sudah menyelenggarakan webinar tentang SINTA. Panduan tertulis sudah didistribusikan. Secara checklist, semua sudah dikerjakan. Tapi di wilayah dengan koneksi internet terbatas, webinar menjadi pengalaman satu arah. Peserta mendengarkan tanpa bertanya, tanpa mencoba langsung. Kesalahan pengisian data tidak terkoreksi secara real-time.

“Secara daring, peserta cenderung pasif. Tatap muka, mereka berani bertanya, berani mencoba,” ujar Prof. Apriana.

Sosialisasi daring yang selama ini dianggap sebagai solusi efisiensi ternyata menciptakan ilusi pemerataan. Informasi tersampaikan, tapi pemahaman tidak terbentuk. Pimpinan yang hanya melihat laporan “sosialisasi sudah dilaksanakan” bisa merasa situasi sudah tertangani. Indikator proses terpenuhi. Tapi indikator dampak, yaitu apakah dosen benar-benar mampu mengoperasikan sistem setelah sosialisasi, jarang diukur. Akibatnya, gap tetap ada tapi tidak lagi dianggap sebagai masalah.

Inilah perbedaan mendasar yang perlu dipahami: sosialisasi menghasilkan peserta yang tahu teori. Pendampingan berkelanjutan menghasilkan dosen yang mampu eksekusi.

Strategi Prof. Apriana Tingkatkan Kompetensi Dosen di Indonesia Timur: Langsung Mendampingi Dosen

Prof. Apriana memilih jalur yang tidak populer di era efisiensi digital: mendatangi langsung. Ribuan kilometer, dari satu kampus ke kampus lain di Indonesia Timur, membuka ruang diskusi yang tidak mungkin terjadi melalui layar terkait permasalahan yang terjadi.

Dalam sesi tatap muka (workshop), dosen berani mengajukan pertanyaan yang tidak akan mereka tanyakan di forum daring. Penjelasan bisa diulang tanpa hambatan sinyal. Proposal dikoreksi secara detail di tempat, baris per baris, paragraf per paragraf.

Tapi yang benar-benar membedakan pendekatan ini bukan format tatap mukanya. Melainkan kontinuitasnya. Pendampingan tidak berhenti di satu sesi. Prosesnya berlanjut dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, hingga publikasi terindeks. Ini yang selama ini hilang dari kebanyakan program pengembangan dosen: tindak lanjut yang terstruktur sampai hasil tercapai. Model ini membangun sesuatu yang lebih mendasar dari keterampilan teknis: keyakinan bahwa mereka mampu.

Dosen yang sebelumnya tidak pernah mengajukan hibah mulai menulis proposal. Yang sebelumnya tidak paham SINTA mulai memperbarui profil dan memonitor skor.

Dan ada satu dinamika yang memperkuat dampaknya. Di komunitas akademik yang relatif kecil di wilayah 3T, ketika satu dosen berhasil lolos hibah, efeknya menjalar. Rekan-rekan melihat bukti nyata bahwa sistem bisa ditembus oleh seseorang dengan tantangan yang sama, di lingkungan yang sama. Satu keberhasilan menjadi proof of concept yang tidak bisa dihasilkan oleh sosialisasi massal.

Dampak Keberhasilan Pendampingan Prof. Apriana

1. Peningkatan Nyata Proposal Lolos Hibah

Dalam kurun dua tahun, jumlah proposal yang lolos hibah meningkat dari 30 pada tahun 2023 (dibawah 1 Miliar), setelah melewati pendampingan menjadi 219 pada 2024 (sekitar 3 Miliar) dan kemudian menjadi 383 pada 2025 kenaikan sebesar 75% (hampir 30 Miliar). Angka ini bukan sekadar statistik administratif, melainkan indikator peningkatan kapasitas yang nyata. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa ketika pendampingan diberikan secara tepat dan berkelanjutan, dosen di wilayah 3T mampu bersaing dalam kompetisi hibah nasional yang selama ini dianggap sulit dijangkau.

Sebagaimana disampaikan, “dengan dukungan yang tepat, dosen di wilayah 3T tidak hanya bisa bertahan tapi juga bisa menjadi unggul.”

Yang berubah bukan hanya jumlah proposal yang diajukan, tetapi kualitas perencanaan riset, ketepatan administrasi, dan keberanian untuk masuk dalam kompetisi nasional.

2. Pendampingan Mengalahkan Sekadar Sosialisasi

Perbedaan mendasar antara sosialisasi dan pendampingan terletak pada dampaknya terhadap eksekusi. Sosialisasi menghasilkan pemahaman teoritis; informasi disampaikan dan kegiatan dinyatakan selesai. Namun pemahaman belum tentu menghasilkan tindakan.

Pendampingan justru berorientasi pada hasil. Prosesnya berlanjut dari penyusunan proposal, penyempurnaan metodologi, pelaksanaan riset, hingga publikasi terindeks. Setiap tahap dikawal sampai menghasilkan luaran.

Transfer ilmu satu arah terbukti tidak cukup untuk mengubah perilaku akademik. Yang dibutuhkan adalah mekanisme berkelanjutan yang memastikan dosen tidak hanya mengetahui caranya, tetapi benar-benar melakukannya. Perbedaannya bukan pada durasi kegiatan, melainkan pada keberlanjutan hingga output tercapai.

3. Efek Domino

Keberhasilan satu dosen memiliki dampak sosial yang signifikan di komunitas akademik lokal. Ketika satu proposal lolos hibah, keberhasilan itu menjadi bukti konkret bahwa sistem dapat ditembus.

Seperti yang diungkapkan, “ketika satu dosen lolos hibah, itu motivasi luar biasa bagi yang lain.”

Success story ini bukan sekadar narasi inspiratif. Ia menjadi proof of concept yang mendorong dosen lain untuk mencoba, mengajukan proposal, dan percaya bahwa mereka memiliki peluang yang sama. Dalam konteks wilayah 3T, di mana komunitas akademik relatif kecil dan saling terhubung, efek domino ini jauh lebih kuat dibanding sosialisasi massal.

Apa yang Perlu Diputuskan di Level Pimpinan

Model Prof. Apriana membuktikan bahwa akselerasi kompetensi dosen itu mungkin. Tapi juga mengekspos kenyataan yang tidak bisa diabaikan: pendampingan yang bergantung pada dedikasi satu individu tidak bisa di-scale. Ini harus menjadi keputusan institusional.

1. Perbedaan Sosialisasi & Pendampingan

Institusi perlu membedakan sosialisasi dari pendampingan. Sosialisasi adalah satu sesi. Pendampingan adalah proses yang dikawal sampai output tercapai. Keduanya punya tempat masing-masing, tapi keduanya bukan hal yang sama.  Jika program pengembangan dosen berhenti di tahap “sudah diundang ke webinar,” hasilnya akan terus sama.

2. Sistem pengelolaan kinerja dosen harus memungkinkan visibilitas. 

Skor SINTA, output publikasi, dan pengajuan hibah adalah data yang saling terhubung. Ketika data ini tersebar di sistem yang berbeda atau hanya muncul saat akreditasi, pimpinan kehilangan kemampuan untuk melakukan intervensi tepat waktu. Yang terjadi adalah reactive management: baru bertindak ketika angka akreditasi sudah turun, bukan ketika pola masalah mulai terlihat.

3. Investasi pengembangan SDM

Investasi di pengembangan SDM dosen bukan biaya operasional. Ini investasi langsung untuk akreditasi, reputasi riset, dan daya saing institusi.

Pertanyaannya bukan apakah dosen di daerah mampu. Pertanyaannya adalah apakah institusi sudah menyediakan infrastruktur yang memungkinkan mereka membuktikannya.

Perjalanan Prof. Apriana membuktikan bahwa jawabannya ada. Tapi jawaban itu tidak bisa terus bergantung pada ribuan kilometer yang ditempuh satu orang. Butuh keputusan di level institusi, tentang sistem, infrastruktur pendampingan, dan komitmen jangka panjang.

Infrastruktur ini tidak harus dibangun dari nol. Platform akademik terpadu yang mengintegrasikan data kinerja dosen, output riset, dan indikator mutu dalam satu tampilan sudah tersedia dan sudah digunakan oleh 1.200+ perguruan tinggi di Indonesia. Termasuk di dalamnya integrasi pelaporan SISTER, sehingga data BKD, publikasi, dan kinerja dosen tidak lagi dikumpulkan manual menjelang deadline, tapi terpantau sepanjang semester. SEVIMA siap mendampingi institusi yang ingin membangun visibilitas ini.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

EdLink Terbaru: Kelola Materi, Tugas, dan Nilai Lebih Praktis