Jadi Pilihan Puluhan Ribu Mahasiswa, Unjani Alami Lonjakan Total Mahasiswa Hingga 231%
09 Apr 2026

Ditulis oleh Sugianto Halim, M.MT.
CEO PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA)
SEVIMA.COM- Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah video dari Prof. Moses Laksono Singgih yang membahas tentang penjaminan mutu di perguruan tinggi yang bertajuk “Kualitas Kampus: Menghidupkan Siklus Penjaminan Mutu“. Dan ada satu kalimat beliau yang membuat saya berhenti sejenak dan berpikir cukup lama:
“Mutu adalah siklus harian, bukan status 5-tahunan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi buat saya yang sudah lebih dari dua dekade bekerja bersama kampus-kampus di Indonesia, kalimat itu merangkum sebuah masalah besar yang selama ini sulit diucapkan dengan tepat.
Di SEVIMA, kami bekerja bersama ratusan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dari universitas besar di kota-kota utama hingga kampus-kampus kecil di daerah yang jarang terdengar namanya. Dan ada satu pola yang kami temui berulang kali.
Setiap kali siklus akreditasi mendekat, kampus mendadak sibuk. Tim penjaminan mutu yang sebelumnya nyaris tak terdengar, tiba-tiba menjadi unit paling ramai. Data dikumpulkan.
Dokumen disusun. Rapat demi rapat diadakan.
Lalu setelah asesor pulang, semuanya kembali sunyi.
Prof. Moses menyebut fenomena ini sebagai “evaluasi semu” — dan saya rasa tidak ada istilah yang lebih tepat dari itu. SPMI yang seharusnya menjadi nafas keseharian institusi, pada kenyataannya hanya “hidup” setiap 3-5 tahun sekali.
Ada satu poin dari Prof. Moses yang menurut saya jarang diangkat oleh siapa pun, dan justru itu yang paling penting.
Beliau menyoroti bahwa banyak institusi yang cenderung memperindah laporan Audit Mutu Internal. Yang seharusnya menjadi cermin, justru dijadikan etalase. Area yang berada di bawah standar tidak dilaporkan apa adanya karena ada kekhawatiran terlihat buruk.
Ironisnya, justru area itulah yang paling butuh perhatian.
Saya teringat percakapan dengan seorang Wakil Rektor beberapa tahun lalu. Beliau berkata, “Kami tahu nilai kami belum bagus di bidang itu. Tapi kalau kami tulis apa adanya, nanti justru jadi masalah.”
Saya memahami posisi beliau. Tapi di saat yang sama, saya juga berpikir — kalau kita tidak pernah jujur mengakui di mana posisi kita sebenarnya, bagaimana kita bisa bergerak maju?
Hal menarik lain yang disampaikan Prof. Moses adalah konsep pelampauan standar. Beliau mendorong kampus untuk tidak berhenti pada pemenuhan Standar Nasional Dikti, melainkan merancang standar otonom yang melampauinya.
Ini adalah pergeseran cara pandang yang fundamental.
Selama ini, banyak kampus memperlakukan akreditasi sebagai ceiling — batas atas yang harus dicapai. Padahal sejatinya, standar nasional itu adalah floor — lantai minimum yang harus dipijak sebelum membangun sesuatu yang lebih tinggi.
Kampus-kampus yang benar-benar tumbuh adalah mereka yang tidak puas hanya dengan “memenuhi”. Mereka bertanya: “Standar sudah terpenuhi, lalu apa selanjutnya?”
Prof. Moses juga menekankan pentingnya digitalisasi dan integrasi data. Beliau menyebut data sebagai “mata uang baru” dalam penjaminan mutu.
Ini sangat resonan dengan apa yang kami alami sehari-hari.
Kami sering menemui situasi di mana sebuah kampus memiliki data yang tersebar di puluhan sistem dan spreadsheet yang berbeda. Ketika diminta menyusun laporan evaluasi, tim harus menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk mengumpulkan dan mencocokkan data— belum lagi memastikan akurasinya.
Dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) bisa berjalan secara harian? Bagaimana pimpinan bisa mengambil keputusan berbasis data jika datanya saja belum tentu tersedia saat dibutuhkan?
Di sinilah peran teknologi menjadi krusial — bukan sebagai pengganti proses mutu, tapi sebagai infrastruktur yang memungkinkan proses itu berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
Ada satu pesan penutup dari Prof. Moses yang ingin saya garis bawahi:
“Kualitas institusi yang unggul bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil rancangan.”
Saya sangat setuju. Dalam pengalaman kami, kampus-kampus yang berhasil naik kelas bukan karena keberuntungan. Mereka berhasil karena ada disiplin pada proses, ada kejujuran dalam mengevaluasi diri, dan ada komitmen kepemimpinan yang tidak berhenti pada formalitas.
Mutu bukan proyek. Mutu bukan dokumen. Mutu adalah keputusan harian yang diambil secara sadar oleh setiap orang di dalam institusi — dari rektor hingga staf administrasi.
Terima kasih Prof. Moses Laksono Singgih atas pemikiran yang sangat berharga ini. Semoga semakin banyak pimpinan perguruan tinggi yang tergerak untuk menghidupkan kembali siklus penjaminan mutu di institusi masing-masing.
Bukan demi akreditasi. Tapi demi mahasiswa dan masa depan pendidikan kita.
Diposting Oleh:

Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami