Kontak Kami

Dunia Kampus

Dari Nganjuk ke ASEAN: Kampus Kecil yang Memilih Tidak Menurunkan Standar

14 Apr 2026

SEVIMA.COM — Ada keputusan yang tidak pernah tercatat di rapat senat, tidak pernah diumumkan ke mahasiswa. Tapi dibuat hampir di setiap rapat pimpinan PTS kecil yang terhimpit: “Kita turunkan saja standarnya, toh kita tidak bisa dibandingkan dengan kampus besar.” Keputusan itu terasa logis. Bahkan terasa bijak. Sampai ada kampus di Nganjuk yang memilih jalan sebaliknya  dan hasilnya berbicara sendiri.

Sebuah universitas yang lahir dari merger dua institusi kini berkembang di kota kecil di kaki Gunung Wilis. Meski berlokasi di daerah, Universitas PGRI Mpu Sindok (UPMS) berhasil menunjukkan kualitas yang unggul.

UPMS sendiri adalah hasil penyatuan dua institusi berbeda: STKIP PGRI Jombang dan STIE Dewantara. Dua kultur akademik yang berbeda satu berbasis kependidikan, satu berbasis ekonomi-bisnis yang digabungkan dalam satu badan hukum. Di banyak kampus, merger seperti ini berakhir dengan konflik internal bertahun-tahun: rebutan kewenangan, dosen yang tidak mau tunduk pada rektor baru, budaya yang tidak pernah benar-benar bersatu. UPMS melewati proses itu. Dan dari sana lahir satu prinsip: kalau dua institusi dengan latar berbeda bisa bersatu tanpa kehilangan standar masing-masing, maka keterbatasan geografis pasti bisa diatasi dengan cara yang sama.

Aktivitas mahasiswanya pun tidak hanya terbatas di tingkat regional, tetapi telah menembus kancah internasional. UPMS tercatat menjalin kerja sama joint research serta mengikuti berbagai kompetisi inovasi bersama institusi dari Malaysia hingga Bangkok.

“Meskipun berlokasi di Nganjuk, yang dikenal sebagai kota kecil, dan kampus kami tidak seluas universitas swasta di kota besar, kualitas layanan kepada mahasiswa tetap kami jaga setara. Dalam pengelolaan perguruan tinggi, baik kecil maupun besar, standar yang digunakan tetap sama, yaitu mengacu pada standar BAN-PT,” ujar Dr. Indrian Supheni, M.Aks., CSRS, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UPMS.

Standar yang Tidak Pernah Diturunkan

Pertanyaan yang jarang berani dijawab dengan jujur oleh pimpinan PTS: seberapa banyak keputusan operasional kampus Anda yang sebenarnya adalah kompromi  dan sudah terlalu lama dianggap normal?

Universitas PGRI Mpu Sindok tidak melakukan kompromi terkait standarnya. Mereka berusaha memenuhi komitmen memberikan kualitas pembelajaran yang terbaik. Selain dosen, mahasiswa pun menjalankan penelitian dan pengabdian masyarakat.

Akreditasi BAN-PT berlaku seragam untuk semua perguruan tinggi tanpa memandang skala, mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti). Tidak ada versi SN Dikti yang diringkas untuk kampus kecil. Ketika sebuah kampus memilih menurunkan standarnya, itu bukan konsekuensi regulasi. Itu keputusan yang diambil secara sadar dan bisa dibalik dengan cara yang sama.

“Yang menjadi nilai lebih, mayoritas mahasiswa kami adalah mahasiswa yang juga bekerja. Jadi selain pengalaman akademik, mereka sudah memiliki pengalaman kerja nyata,” tambah Dr. Indrian.

Mayoritas mahasiswa UPMS memang bekerja sambil kuliah. Kondisi yang di banyak kampus dijadikan alasan untuk menurunkan tuntutan, di UPMS justru dioptimalkan mahasiswa masuk ke dunia kerja dengan pengalaman ganda yang tidak dimiliki mahasiswa reguler.

Aktif Mendorong Mahasiswa Terjun ke Dunia Industri 

Mahasiswa UPMS sudah mulai magang mandiri sejak semester 5, jauh sebelum mereka lulus. Magang bukan aktivitas formalitas untuk menggugurkan kewajiban akademik. Ini jalur rekrutmen langsung. BRI, BSI, dan BNI adalah beberapa nama yang sudah merekrut langsung dari program magang UPMS. Sebagian mahasiswa sudah bekerja sebelum ijazah dicetak.

Angka ini perlu dipikirkan pelan-pelan: mahasiswa yang masuk dari kota kecil Nganjuk, kuliah sambil kerja, dan sebelum ijazah dicetak sudah punya tawaran kerja dari bank nasional. Bukan karena kampusnya besar. Tapi karena kampusnya tidak menurunkan ekspektasi.

Di atas ijazah, lulusan UPMS membawa sertifikasi kompetensi dari BNSP yang hadir berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sertifikasi ini bukan pelengkap administratif, melainkan bukti kompetensi terstandar nasional yang langsung diakui industri. Hasilnya, waktu tunggu kerja lulusan sangat singkat. Permintaan tenaga kerja datang langsung ke kampus, terutama untuk lulusan FEB di bidang akuntansi.

Bahkan prestasi non-akademik masuk ke dalam narasi karier. Ada mahasiswa yang keunggulannya sebagai juara karate menjadi pertimbangan tambahan saat seleksi di BNI. Ekosistem kemahasiswaan UPMS tidak membuat dikotomi antara akademik dan non-akademik. Keduanya bagian dari profil lulusan yang utuh.

UPMS Konsisten Mengikuti dan Mengimplementasikan Regulasi Terbaru

UPMS menunjukkan komitmennya dalam memastikan setiap kebijakan pendidikan tinggi dijalankan secara utuh dan terintegrasi dalam sistem akademik. 

“Setiap regulasi yang ada, kami ikuti dan kami implementasikan. Untuk MBKM, kami mengacu pada tuntutan IKU (Indikator Kinerja Utama), terutama kegiatan mahasiswa di luar kampus seperti KKN dan PKL. Kami juga memfasilitasi magang mandiri melalui kerja sama dengan mitra industri maupun OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Kami bermitra dengan Pemda Nganjuk dan OPD-OPD di bawahnya, serta sektor perbankan, melalui MOU dan PKS. Kegiatan lain seperti pengabdian masyarakat dan kegiatan keagamaan juga berjalan aktif. Semua kegiatan di luar kampus itu direkognisi sebagai bagian dari perkuliahan,” jelas Dr. Indrian. 

Ambisi di UPMS tidak pernah dikalibrasi berdasarkan geografi, melainkan pada standar dan konsistensi dalam menjalankan regulasi yang berlaku.

Kembali ke pertanyaan di awal: keputusan untuk menurunkan standar bukan takdir — itu pilihan. UPMS membuktikan bahwa pilihan sebaliknya juga tersedia, bahkan dari Nganjuk. Yang membedakan bukan anggaran, bukan lokasi, bukan ukuran kampus. Yang membedakan adalah apakah pimpinannya bersedia mempertahankan standar di tengah tekanan untuk kompromi.

Kalau Anda mengenali tekanan itu di kampus Anda — Anda tidak sendirian. Dan cerita UPMS mungkin layak dibagikan ke satu atau dua rekan rektorat yang sedang menghadapi pertanyaan yang sama.

Mahasiswa Baru UPMS Bisa Daftar Gratis

Mendaftar ke Universitas PGRI Mpu Sindok tidak harus rumit. UPMS membuka dua jalur pendaftaran, online dan offline, agar calon mahasiswa bisa memilih cara yang paling mudah bagi mereka.

“Bahkan di car-free day setiap minggu, kami hadir dan memberikan gratis biaya pendaftaran bagi yang mendaftar di lokasi tersebut. Untuk pendaftarannya sendiri, kami menggunakan dua jalur, online dan offline. Secara online, di setiap media promosi tersedia barcode yang terhubung langsung ke tautan pendaftaran di website kami,” jelas Dr. Indrian.

Bagi yang ingin mendaftar secara online, cukup scan barcode yang tersedia di seluruh media promosi UPMS dan pendaftaran bisa dilakukan langsung dari mana saja. Ingin bergabung dan menjadi bagian dari kampus yang sudah menembus level internasional? Pendaftaran UPMS terbuka untuk semua jalur.

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

[LIVE] Strategi Penyusunan Artikel Jurnal Bereputasi untuk Indeks SINTA | Webinar SEVIMA Sesi 3