Kontak Kami

Dunia Kampus

Dari Pare ke Level Internasional, Universitas Kahuripan Kediri Membuktikan Lokasi Bukan Penentu Kualitas

15 Apr 2026

SEVIMA.COM- Pare bukan kota besar. Tidak ada mal, tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada nama universitas yang sudah puluhan tahun tercetak di benak publik nasional. Tapi di sinilah Universitas Kahuripan Kediri (UKK) memilih berdiri, dan dari sini pula lahir alumni yang bertanding di level internasional, mahasiswa yang proposal wirausahanya masuk nominasi nasional tiga tahun berturut-turut, dan lulusan yang langsung diangkat karyawan tetap sebelum sempat mencari kerja.

Dari Koperasi ke Universitas, Fondasi yang Tidak Pernah Dibuang

UKK tidak lahir sebagai universitas. Institusi ini bermula dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi berbasis nilai-nilai koperasi: kemandirian, kolaborasi, dan kebermanfaatan untuk orang banyak. Ketika bertransformasi menjadi universitas, nilai-nilai itu tidak ditinggalkan. Justru diperluas.

“Kita menjadi universitas itu malah menambah atau berevolusi,” ujar Siti Zaenab Nurul Haq S.T, M.T. selaku Wakil Rektor UKK. “Kita mengkolaborasikan antara ekonomi ini ranahnya ke mana sih yang ada di Pare.”

Pare dikenal sebagai pusat pertanian regional; sayuran dari berbagai kabupaten sekitar dipasok dari sini. Itu yang mendorong UKK membuka jurusan pertanian dan peternakan, bukan sekadar mengikuti tren kurikulum, tapi menjawab ekosistem nyata di sekitar kampus. Ekonomi, pertanian, teknik, pendidikan: kolaborasi lintas disiplin yang tumbuh dari akar lokal.

Yang tidak berubah dari era STIE hingga hari ini adalah satu prinsip.

 “Mahasiswa kami di sini kami dorong untuk bukan hanya menjadi pencari kerja, tapi juga harus menjadi mahasiswa yang menciptakan lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Mahasiswa dari Papua, Kuliah di Pare

Pertanyaan pertama yang sering muncul soal kampus di kota kecil adalah daya tariknya: siapa yang mau datang?

Jawabannya di UKK lebih luas dari yang diduga. 

“Mahasiswanya yang paling jauh itu ada dari Nias dan Papua. Jadi memang dari Sabang sampai Merauke itu ada,” ujar Siti. Mereka hadir sebagai mahasiswa reguler, bukan pertukaran.

Keberagaman itu bukan tanpa tantangan. Bahasa menjadi gesekan nyata. “Ibu, kenapa mereka berbicara seperti ini? Saya tidak mengerti. Jadi dikiranya ngomongin mereka,” ujar beliau sambil mencontohkan keluhan yang sering diterima mahasiswa pendatang. UKK menjawabnya dengan kebijakan tegas: di dalam kelas, dosen wajib menggunakan bahasa Indonesia. Di luar kelas, pendatang justru didorong belajar bahasa Jawa. 

“Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak,” katanya.

Keberagaman asal daerah, ketika dikelola dengan baik, justru menjadi aset. 

“Universitas ini bisa menjadi tempat mahasiswa-mahasiswa yang kuliah itu tempat latihan. Karena kita tidak bisa mengingkari juga, belum tentu orang Pare itu kerja di Pare. Belum tentu orang Jakarta itu kerja di Jakarta. Kadang kita silang,” jelasnya. 

Kemampuan membaca dan menavigasi perbedaan karakter adalah kompetensi yang tidak bisa diajarkan dari buku teks, dan mahasiswa UKK mendapatkannya sejak hari pertama kuliah.

Megawati Hangestri, Alumni yang Tidak Direncanakan Jadi Kampanye

Tidak ada kampus yang merancang alumninya menjadi atlet internasional. Tapi ketika itu terjadi, dampaknya berbicara sendiri.

Megawati Hangestri, atlet voli yang menembus kompetisi internasional, adalah alumni UKK. Ketika namanya mulai dikenal publik luas dan afiliasi kampusnya terekspos, UKK tidak perlu mengeluarkan anggaran kampanye tambahan. 

“Beberapa mahasiswa yang pernah saya wawancara, mereka termotivasi. Saya ingin menjadi seperti Mbak Megawati,” cerita Siti.

Yang lebih penting dari narasi alumni adalah sistem di baliknya. UKK tidak meminta atlet aktif memilih antara prestasi olahraga dan akademik. Ketika seorang mahasiswa datang dan jujur menyampaikan jadwal latihan dan pertandingannya, kampus tidak memintanya menyesuaikan diri dengan sistem. Sistem yang menyesuaikan diri. 

“Kami tidak meminta mahasiswa memilih, kami membantu mereka berhasil di keduanya,” tegasnya. Dispensasi diberikan sebelum dan sesudah pertandingan, jadwal disesuaikan, dan melalui Peraturan Rektor soal diversifikasi skripsi, prestasi non-akademik termasuk di bidang bela diri dapat dikonversi sebagai pemenuhan syarat kelulusan.

Tiga Tahun P2MW, Dua Tahun Nominasi Nasional

Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kemendikbud adalah kompetisi nasional yang tidak mudah ditembus. Dalam tiga tahun terakhir, UKK lolos seleksi setiap tahun, dan dalam dua tahun terakhir masuk nominasi nasional.

Di balik angka itu ada kebijakan insentif yang jelas. “Sebetulnya akreditasi hanya penilaian saja. Yang kita perlu fokuskan itu bukan di mengejar akreditasinya, tapi kita buat dulu saja ekosistemnya, prestasi,” kata Siti UKK. Mahasiswa yang meraih juara 1 sampai 3 di kompetisi nasional dibebaskan dari kewajiban skripsi konvensional. Prestasi menjadi jalur legitimate menuju kelulusan, pengakuan bahwa wirausaha dan inovasi adalah output pendidikan yang setara dengan riset akademik.

Mahasiswa didorong merancang karya yang layak dipublikasikan atau menciptakan produk yang sudah dapat diimplementasikan. “Kalau bisa, skripsinya yang bisa berdampak. Ada dampak untuk baik itu masyarakat maupun pribadi,” ujarnya.

Industri Sebagai Ruang Kelas Kedua

Ketika program MBKM dari pemerintah mulai berkurang intensitasnya, UKK tidak menunggu. Kerjasama langsung dengan industri dibangun sebagai jalur pengganti. Dampak dari pengalaman MBKM sebelumnya sudah terekam jelas. 

“Ketika mahasiswa telah mengikuti program MBKM ini, mereka lebih percaya diri di kelas. Oh, bahwa saya ini punya pengalaman lebih,” kata Siti UKK.

Kerjasama industri yang berjalan kini memperluas jangkauan itu. Mahasiswa Teknik Sipil diberangkatkan magang ke Jasa Marga. Tiga program studi, yaitu Teknik Elektro, Akuntansi, dan Manajemen, berkolaborasi dengan PT Teknologi Training & Consulting Center di Surabaya. SKS magang dikonversi ke mata kuliah semester berjalan sehingga mahasiswa dapat fokus penuh tanpa harus bolak-balik ke kampus. Satu mahasiswa dari batch tersebut langsung diangkat sebagai karyawan tetap oleh mitra magang.

Akses ke Pendidikan Tinggi Tanpa Tekanan, UKK Terapkan Cicilan untuk Perkuliahan 

Daya tarik UKK tidak hanya soal prestasi, tapi juga soal siapa yang bisa mengakses pendidikan berkualitas.

Berbeda dari kebanyakan perguruan tinggi yang menerapkan pembayaran per semester, UKK menawarkan skema cicilan per bulan tanpa bunga membuka akses bagi calon mahasiswa yang memiliki kendala ekonomi. 

“Kalau di kampus-kampus yang saya telah jejaki itu kan bayarnya per semester. Kalau di kampus kami ini kami menawarkan per bulan. Jadi tidak ada bunga apapun,” jelas Siti. Skema ini dikombinasikan dengan program beasiswa KIP yang diseleksi melalui wawancara motivasi satu per satu. 

“Kami panggil satu-satu mahasiswanya. Kami wawancara motivasi dan lain sebagainya,” katanya.

Untuk mahasiswa karyawan, sistem hybrid memberikan fleksibilitas yang selama ini menjadi hambatan terbesar. Mereka tidak harus memilih antara pekerjaan dan pendidikan.

Tidak Main-main Soal Standar yang Tinggi

UKK bukan kampus tanpa keterbatasan. Pare bukan Surabaya. Tapi pilihan yang dibuat secara konsisten, yaitu mendorong prestasi, membangun ekosistem yang inklusif, dan tidak menurunkan ekspektasi hanya karena lokasinya bukan pusat kota, menghasilkan lintasan yang berbeda dari asumsi awal.

Dalam agenda lima tahun ke depan, UKK sedang membangun sistem berbasis OBE yang memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan regulasi. 

“Kami harapkan Universitas Kahuripan Kediri ini di lima tahun ke depan bisa menjadi kampus yang memang adaptif dengan segala peraturan,” tutur Siti. Targetnya bukan sekadar akreditasi Unggul, tapi rekognisi internasional, dibangun dari ekosistem prestasi yang dikerjakan satu langkah demi satu langkah.

Di sinilah peran digitalisasi kampus menjadi relevan: bukan sebagai gimmick modernisasi, tapi sebagai fondasi yang memungkinkan standar tinggi dijalankan secara konsisten, bahkan di kampus dengan sumber daya terbatas. 

Diposting Oleh:

Liza SEVIMA

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Tidak dapat mengambil data RSS.