Dari Nganjuk ke ASEAN: Kampus Kecil yang Memilih Tidak Menurunkan Standar
14 Apr 2026
SEVIMA.COM- Dua puluh dua tahun berdiri. Ini bukan angka yang kecil, dan tidak setiap tahunnya berjalan mulus.
Selama di fase itu, Universitas Teknologi Surabaya (UTS) telah mengalami berbagai guncangan mulai dari COVID yang memukul ekosistem pendidikan untuk segera adaptasi, hingga perubahan aturan yang silih berganti. Dan di usia, kampus yang berbasis di Surabaya ini hadir dengan sesuatu yang belum pernah diraih sebelumnya yakni akreditasi seluruh institusi dan siap menetapkan visi yang mengunci target sampai 2045.
Ini menjadi laporan kemajuan pesat bagaimana puluhan tahun UTS berpengaruh aktif di dunia pendidikan Indonesia.
Ceritanya dimulai pada 1988 ketika UTS bukan sebagai Universitas Teknologi Surabaya, tapi sebagai Universitas Baptis Surabaya. Selama lebih dari satu dekade, kampus ini berjalan dengan identitasnya membangun reputasi, melayani mahasiswa, dan memutuskan perubahan nama pada tahun 2003 menjadi Universitas Teknologi Surabaya (UTS).
Dari sini terjadi alih kelola dari yayasan lama ke Yayasan Pendidikan Pembangunan Surabaya membuka babak baru, yang ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Pergantian manajemen ternyata membawa konflik yang terakumulasi perlahan prodi belum semuanya terakreditasi, sertifikasi dosen di angka nol, dan tekanan regulasi yang terus memperketat standar.
Ini bukan krisis dramatis yang selesai dalam semalam. Ini adalah beban yang menumpuk diam-diam, tapi nyata.
“Yang tadinya pola manajemennya kurang bagus, ini kita usakan untuk optimal,” kata Dr. Agus Purbo Widodo ST, MM. selaku Wakil Rektor UTS menggambarkan kondisi yang diwarisi saat pembenahan dimulai.
Di sinilah pertanyaan yang sebenarnya muncul: apakah revitalisasi sistemik hanya bisa dilakukan oleh kampus besar dengan sumber daya berlimpah? Atau ada cara lain?
Tahun 2017 menjadi jawaban UTS atas pertanyaan itu.
Tidak ada investor baru yang masuk di 2017. Tidak ada dana segar dari pemerintah. Yang berubah adalah cara UTS memandang dirinya sendiri dari institusi yang bertahan, menjadi institusi yang sedang membangun.
Otonomi pengelolaan dari yayasan diperjelas. Standar pengangkatan jabatan struktural mulai diatur dengan kerangka yang lebih terstruktur. Audit mutu internal dilakukan secara mandiri tidak lagi menunggu evaluasi eksternal sebagai pemicu.
“Kami sudah diberikan wewenang penuh untuk perencanaan, pembelajaran, pelaksanaan, audit mutu internal, dan sebagainya — sudah bisa kami lakukan secara mandiri,” jelas Agus. “Dan ini membawa atmosfer akademik yang sampai saat ini sudah cukup bagus.”
Langkah ini menjadi pondasi besar dalam UTS membangun dan berdiri kokoh. Hasilnya pun terasa di seluruh sistem.
“Sistem manajemen kami (UTS) mengedepankan transparansi, budaya mutu, dan pelaksanaan tridharma yang lebih optimal itu yang paling berkesan bagi saya,” kata Pak Agus.
Ketika Arlisa Indriawati S.S., M.M bergabung sebagai Wakil Rektor III membidangi SDM, Kerja Sama, Kemahasiswaan, dan Alumni pada 2018, salah satu tugasnya yang pertama adalah memetakan kondisi akademik kampus. Temuannya menjadi titik berangkat yang sesuai kondisi lapangan.Sertifikasi dosen adalah salah satu indikator paling kasat mata.
“Dari yang awalnya tidak ada sama sekali, kemudian ada tujuh, dan tahun ini kita tambah satu lagi menjadi delapan orang dosen mendapatkan sertifikasi dosen dari pemerintah,” ungkap Arlisa. Angka ini mungkin terdengar kecil dibanding kampus besar. Tapi dalam konteks kampus yang pernah memulai dari titik nol, ini adalah pertumbuhan yang direncanakan hasil dari audit.
Mekanisme yang dibangun berjalan di beberapa lini sekaligus. Beasiswa studi lanjut dari yayasan membuka jalur bagi dosen-dosen muda untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan kampus.
“Kami juga berusaha mendorong para dosen yang saat ini masih tenaga pengajar untuk bisa mengajukan sebagai asisten ahli, begitu juga yang sudah menjadi lektor, kami dorong untuk bisa maju mendapatkan lektor kepala,” tambah Bu Arlisa.
Hasilnya tidak terlihat di semester berikutnya. Tapi setiap langkah kecil satu dosen yang menyelesaikan studi lanjut, satu jabatan fungsional yang naik memperkuat struktur akademik yang sedang dibangun satu lapis demi satu lapis.
Di era ketika hybrid learning bukan lagi pilihan tapi keharusan, UTS memilih untuk tidak setengah-setengah. Smart classroom dibangun khususnya untuk program Magister Manajemen, yang menuntut fleksibilitas tanpa mengorbankan kualitas pengajaran.
“Perkuliahan offline dan online bisa dilaksanakan secara bersamaan, kita menggunakan sistem di classroom itu cukup efektif,” kata Pak Agus.
Digitalisasi di UTS bukan tentang memiliki teknologi paling canggih. Ini tentang memastikan sistem yang dipakai benar-benar mendukung cara kerja sivitas akademika — bukan menambah lapisan birokrasi baru. Data akademik yang tersentralisasi, proses yang tidak perlu diulang dua kali, pelaporan ke PDDIKTI yang tidak menyita waktu administratif yang seharusnya bisa dipakai untuk hal lain.
Teknologi dalam perjalanan UTS diposisikan sebagai akselerator bukan penyelamat, bukan sekadar pelengkap citra modern.
Tiga pilar membuahkan hasil yang konkret.
2023 menjadi tahun yang paling terasa bagaimana hasil yang konsisten membuahkan hasil. UTS meraih akreditasi institusi, hasil dari pencapaian yang datang bukan sebelum prodi-prodinya terakreditasi, melainkan sesudahnya. Seluruh program studi S1 Manajemen, Akuntansi, Ilmu Hukum, Administrasi Negara, Teknik Elektro, hingga S2 Manajemen telah lebih dulu melalui proses akreditasi ulang. Satu per satu. Sampai selesai. Baru kemudian akreditasi institusi diraih.
“Itu capaian yang menurut kami sungguh luar biasa,” jelas Agus. “Artinya dengan sumber daya yang ada, kita bisa memenuhi standar dari BAN-PT maupun Lembaga Akreditasi Mandiri.”
Di luar tembok kampus, kerja sama terus digemborkan untuk menghasilkan kualitas pendidikan, mulai dari kerja sama dengan Pemkot Surabaya berlangsung tiga tahun berturut-turut melalui program Sekolah Orang Tua Hebat — sebuah sinyal bahwa kampus ini dipandang sebagai mitra strategis oleh pemerintah kota, bukan sekadar institusi pendidikan yang mengurus urusan internalnya sendiri.
Beasiswa subsidi 50%, 100%, hingga beasiswa khusus anak yatim — dibuka setiap tahun dengan kuota yang dijaga.
“Setiap tahun pasti kita membuka kuota untuk subsidi beasiswa untuk anak yatim ataupun yang tidak mampu,” tegas Bu Arlisa. Ini bukan program charity yang muncul sesekali. Ini adalah komitmen yang direncanakan bahwa akses pendidikan berkualitas tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan finansial.
Adapun soal lulusan dan komposisi dosen yang masih berkembang UTS tidak menyebutnya sebagai kelemahan.
“Lektor kepala dan guru besar masih belum ada — kita masih membangun itu,” Agus mengakuinya tanpa menutupi. Dalam konteks kampus yang baru saja melewati fase restrukturisasi, itu adalah jawaban yang jujur dan itulah yang mereka sebut sebagai agenda yang sedang digarap.
“Sesuai dengan milestone yang kami sudah canangkan, harapan kami masuk pada periode bagaimana kita meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di UTS untuk mendapatkan mahasiswa yang sesuai dengan harapan kami,” kata Agus menggambarkan dari institusi yang berpikir dalam horizon jangka panjang, bukan reaksi triwulanan.
Di dalam kampus, tagline “UTS Pasti Cemerlang” bukan motivasi dinding. Ini menjadi reminder tujuan menjadi perguruan tinggi cemerlang dan berkualitas.
“Harapan kami di berbagai lini itu kita semakin cemerlang di bidang akademik, publikasi, pengabdian masyarakat, dan juga di jumlah mahasiswanya,” ujar Agus. Ini adalah pernyataan tentang posisi — di mana kampus ini berdiri saat ini, dan ke mana ia sedang melangkah.
Dua puluh dua tahun bukan waktu yang singkat. Tapi bagi kampus yang pernah memulai ulang dari titik yang sangat dasar, yang paling relevan bukan panjangnya waktu melainkan cara mengisinya: dengan pembenahan yang sabar, investasi yang sistematis, dan keberanian untuk memulai ulang bahkan di tengah tekanan yang tidak mudah.
Bagi kampus-kampus swasta yang sedang berada di titik serupa yang merasa revitalisasi hanya mungkin bagi mereka yang punya modal besar atau momentum yang pas perjalanan UTS menawarkan perspektif yang berbeda kebangkitan bisa direncanakan, dimulai dari dalam, dengan sumber daya yang ada.
SEVIMA mendampingi perjalanan digitalisasi UTS sebagai bagian dari transformasi sistem akademik yang lebih besar karena revitalisasi yang sistemik, sebagaimana dibuktikan UTS, tidak pernah berjalan dalam isolasi.
Diposting Oleh:
Liza SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami