Dunia Dosen | Dunia Kampus | Info Sentra Vidya Utama | Lawan Covid-19

Efektifkah Metode Shifting dan Mix and Match untuk Praktikum Mahasiswa Kesehatan Selama Covid-19?

Kegiatan praktikum mahasiswa jurusan kesehatan adalah kunci keberhasilan dari mahasiswa tersebut. Semakin sering mahasiswa melakukan praktikum, maka semakin terampil pula mahasiswa tersebut dalam menghadapi pasien di lapangan. 

Namun, keadaan sekarang ini membuat kegiatan praktikum tidak mungkin dilakukan secara tatap muka. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan agar tidak menciptakan cluster baru Covid-19 di lingkungan laboratorium praktik. 

Menanggapi kegiatan praktikum mahasiswa kesehatan di masa pandemi, memang butuh solusi tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Jika masalah tersebut tak kunjung usai, maka masa studi mahasiswa kesehatan pun akan terancam. 

Tidak hanya itu, jika mahasiswa kesehatan tidak melakukan praktikum maka juga akan mempengaruhi performa mereka ketika terjun di lapangan. Kualitas lulusan dikhawatirkan akan tidak terjamin karena belum memiliki skill yang mumpuni. 

Sementara itu, di tengah wabah ini banyak sekali tenaga medis yang tumbang. Ini membuat SDM tenaga medis sangat dibutuhkan di masa mendatang. Menyedihkannya lagi, bila mahasiswa tidak segera menyelesaikan pendidikan tepat waktu, maka biaya kuliah mereka pun juga akan membengkak. 

Menanggapi permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini, SEVIMA mengadakan webinar dengan tema “Langkah Tepat Menyiasati Praktikum Prodi Kesehatan di Masa Pandemi”. Kegiatan webinar ini langsung disampaikan oleh pemateri berpengalaman, yaitu Dr. Susi Hartati, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.Anv (Ketua STIKes Mitra Keluarga) dan Kholid Fathoni, S.Kom., M.T. (Dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya).

Nah, pada artikel kali ini kami akan membawa Anda lebih dalam untuk menyelami materi yang disampaikan oleh Dr. Susi Hartati, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.Anv. Beliau akan mengajak Anda untuk mengulas solusi terbaik untuk melakukan praktikum mahasiswa kesehatan di masa pandemi. Apa saja solusi terbaik yang bisa Anda terapkan di kampus? Berikut pembahasannya. 

Permasalahan dan tantangan baru saat praktikum klinik

Memang, praktikum klinik mahasiswa kesehatan sangat sulit untuk dilakukan pada kondisi sekarang ini. Terlebih jika praktikum tersebut dilakukan di rumah sakit. Kesulitan tersebut dikarenakan jumlah pasien non Covid lebih sedikit ketimbang pasien Covid.

Tantangan pembelajaran lain yang muncul adalah kurangnya ketersediaan infrastruktur digital yang dimiliki kampus. Selain itu, tidak semua dosen dan mahasiswa memiliki keterampilan digital yang memadai. Ini yang akhirnya membuat pihak kampus harus memikirkan kegiatan praktikum secara matang. 

Baca juga: 5 Problem yang Dihadapi Dosen Saat Kuliah Online

Lalu, bagaimana mengatasi permasalahan tersebut?

Melakukan pembelajaran daring karena pandemi memang membutuhkan strategi yang tepat. Pihak kampus harus meningkatkan kualitas dari SDM dengan memberikan sosialisasi yang tepat. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Susi Hartati, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.Anv, kegiatan praktikum tersebut bisa dilakukan dengan  penggunaan simulasi praktikum melalui tele health atau virtual reality. Selain itu, penggunaan media melalui phantom (manekin) sebagai solusi pembelajaran klinik. 

Dalam keadaan pandemi sistem pembelajaran tidak bisa berjalan efektif. Maka perlu adanya standar pembelajaran untuk mengatasinya. 

Susi menuturkan, “Standar pembelajaran sangat dibutuhkan di masa pandemi. Selama pandemi pembelajaran tidak bisa dijalankan semaksimal mungkin, ini akan mempengaruhi hasil lulusan”. 

Untuk itu, agar meningkatkan kualitas pendidikan di masa pandemi, beberapa hal yang harus diubah agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan maksimal. Beberapa kegiatan yang wajib dilakukan perubahan antara lain: ketersediaan kurikulum pembelajaran yang memadai dan fleksibel, value Ijazah dan sertifikat kompetensi,dan jaminan kualitas pendidikan. 

Menurut Susi, pemilihan metode mix and match mata pelajaran selama pandemi ini harus difokuskan dalam masa pandemi ini. Dengan demikian, pihak kampus harus siap memiliki metode yang tepat selama pandemi. 

Salah satu pembelajaran yang bisa dilakukan adalah flip classroom (pekerjaan rumah dikerjakan di kampus, pekerjaan kampus dilakukan di rumah), discussion board sebagai media studi, proses penyampaian modul disampaikan harus beruntun, hingga melakukan simulasi pembelajaran selama pandemi ini. 

Baca juga: SEVIMA EdLink, Aplikasi LMS Terbaik Karya Anak Bangsa

Solusi permasalahan praktikum dan pembelajaran klinik selama pandemi

Dalam webinar ini, Susi menyatakan bahwa dalam menghadapi kondisi pandemi yang tak kunjung berakhir mengharuskan pendidik memiliki opsi pembelajaran baru. Adapun materi pembelajaran yang bisa dilakukan selama pandemi adalah

1. Melakukan kegiatan praktikum onsite dengan shifting metode

Praktikum ini memang sedikit beda dari praktikum biasanya. Mahasiswa dianjurkan untuk memilih materi yang sering digunakan dalam penelitian atau sering dilakukan saat melakukan pelayanan kepada pasien. 

Tidak hanya itu saja, pembelajaran praktikum tersebut dilakukan dengan menggunakan shifting metode. Ini dilakukan agar selama praktikum mahasiswa dan dosen masih bisa menjaga jarak sesuai dengan anjuran protokol kesehatan yang berlaku.

 2. Skill auskultasi dan Weekly task 

Med Edu Easy Auscultation merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mendalami skill auskultasi. Sementara pada weekly task, proses physical assessment dilakukan dengan melihat tanda-tanda vital dan kesehatan melalui keluarga atau teman yang ada di lingkungan mahasiswa. 

3. Simulasi virtual 

Media pembelajaran bisa dilakukan dengan menggunakan aplikasi, video, maupun media. Ini diharapkan agar mahasiswa mampu memahami materi praktikum yang akan dijalani secara nyata. 

Susi mengungkapkan, untuk memperdalam pembelajaran klinik, mahasiswa bisa diarahkan dengan melakukan proses bimbingan klinik secara daring tanpa perlu bimbingan tatap muka. 

Di musim pandemi seperti ini, jika kampus yang memiliki mahasiswa sebagai relawan Covid-19, maka kegiatan relawan tersebut bisa dimasukkan dalam SKS praktikum mahasiswa. Meskipun mereka tidak melakukan praktikum di kampus, namun bisa mendapatkan penilaian melalui kegiatan relawan tersebut. 

Untuk memastikan keamanan dan kesehatan mahasiswa, pihak kampus memberlakukan persyaratan tersendiri saat praktikum di rumah sakit. Dalam kegiatan ini, pihak kampus wajib memastikan bahwa rumah sakit memberikan fasilitas APD lengkap dan sesuai. Mahasiswa yang melakukan praktikum di rumah sakit pun, wajib ditugaskan di ruang perawatan umum, bukan pada isolasi Covid-19.  Di samping itu, setiap mahasiswa yang melakukan praktikum, wajib rapid test sebelum dan sesudah praktik. 

Jika kegiatan praktikum bisa dilakukan di rumah, maka mereka bisa mengambil kasus di lingkungan tempat tinggal mahasiswa. Seperti contohnya melakukan praktik keperawatan kepada keluarga yang sedang mengalami masalah kesehatan. 

Bagikan artikel ini

Komentar